NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang Bintang

Istri Rahasia Sang Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Cinta Seiring Waktu / Pernikahan rahasia / Dokter
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Udara pagi di Singapura pukul 06.00 terasa sangat dingin dan menusuk tulang, namun tidak bagi Selena. Ia merasakan kehangatan yang menjalar dari jemari besar yang menggenggam erat telapak tangannya sejak mereka keluar dari pintu apartemen.

Elvano Alvendra, pria yang semalam baru saja mengguncang panggung dunia, kini tampil dengan gaya sangat tertutup—mengenakan hoodie hitam mahal dan kacamata gelap, namun genggamannya pada Selena seolah menegaskan bahwa ia tidak akan membiarkan wanita itu menjauh meski hanya satu jengkal.

Selama perjalanan menuju bandara hingga proses check-in di jalur khusus jet pribadi, Elvano benar-benar tidak melepaskan tangan Selena. Bahkan saat mereka sudah duduk di kursi kulit pesawat yang empuk, tangan kiri Elvano tetap mengunci tangan kanan Selena di atas sandaran kursi.

“El, tanganmu tidak pegal? Aku tidak akan lari ke mana-mana,” bisik Selena sambil mencoba menggerakkan jarinya yang mulai terasa kaku.

Elvano hanya menoleh sedikit, memberikan senyum tipis yang hampir tidak terlihat di balik masker hitamnya.

“Biarkan saja seperti ini. Aku hanya ingin memastikan kau benar-benar nyata di sampingku sebelum kita kembali ke hiruk-pikuk Jakarta,” jawab Elvano dengan suara baritonnya yang berat dan menenangkan.

Selena hanya bisa mengembuskan napas panjang namun bibirnya tak bisa berhenti tersenyum. Ia menyandarkan kepalanya di bahu kokoh sang calon suami, menikmati sisa-sisa ketenangan sebelum drama kehidupan mereka di Indonesia kembali dimulai.

Beberapa jam kemudian, roda pesawat menyentuh aspal Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan mulus. Begitu mereka turun dari tangga pesawat dan baru saja menginjakkan kaki di landasan pacu menuju mobil jemputan, ponsel Elvano dan Selena bergetar secara bersamaan. Getaran yang begitu sinkron itu membuat keduanya seketika menghentikan langkah.

Mereka berdua merogoh saku masing-masing, mengeluarkan ponsel, dan membaca pesan yang masuk. Mata Selena membelalak saat melihat nama pengirimnya, begitu juga dengan Elvano yang raut wajahnya langsung berubah menjadi serius dan waspada.

Pesan itu datang dari Oma Ratna. Isinya singkat namun sangat tegas: Segera datang ke rumah besar sekarang juga. Oma tahu kalian baru saja mendarat. Jangan ada alasan.

Selena mendongak, menatap Elvano dengan tatapan penuh tanya. “El, kamu juga dapat pesan dari Oma?” tanya Selena dengan nada sedikit khawatir.

Elvano mengangguk perlahan, ia menunjukkan layar ponselnya kepada Selena. “Sepertinya radar Oma jauh lebih tajam dari yang kita bayangkan. Pesannya sama persis. Oma meminta kita untuk segera menghadap,” jawab Elvano sambil memasukkan kembali ponselnya ke saku celana.

Keduanya saling memandang selama beberapa detik, seolah sedang melakukan percakapan tanpa kata lewat tatapan mata.

“Apa kamu merasa takut?” tanya Elvano sambil kembali menggandeng tangan Selena, kali ini dengan pegangan yang lebih protektif.

Selena menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberaniannya sebagai dr. Sunshine yang biasanya selalu optimis. “Sedikit. Tapi selama ada kamu di sampingku, aku rasa aku akan baik-baik saja,” jawab Selena sambil mencoba tersenyum, meski hatinya berdegup kencang.

“Bagus. Jangan lepaskan tanganku apa pun yang terjadi nanti di sana,” perintah Elvano dengan nada absolut, gaya kepemimpinan seorang CEO yang tidak bisa dibantah.

Tanpa membuang waktu, Elvano mengajak Selena langsung menuju mobil sedan mewah berwarna hitam legam yang sudah menunggu di area parkir khusus.

Supir pribadi Elvano segera membukakan pintu, dan keduanya masuk ke dalam kabin mobil yang terasa sunyi. Selama perjalanan menuju rumah besar, suasana di dalam mobil sangat mencekam. Elvano tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri, sementara Selena terus memikirkan kemungkinan terburuk yang akan Oma Ratna sampaikan.

**

Mobil sedan mewah yang membawa mereka akhirnya melambat, lalu berhenti tepat di depan pilar-pilar raksasa rumah besar keluarga Alvendra. Jantung Selena berdegup kencang, seolah-olah ia baru saja melakukan lari maraton. Ada perasaan tidak tenang yang menggelayuti hatinya, apalagi mengingat betapa mendadaknya Oma Ratna memanggil mereka berdua tepat setelah mendarat dari Singapura.

“Tenanglah, aku ada di sini,” bisik Elvano pelan seolah bisa membaca kegelisahan di wajah istrinya.

Elvano turun lebih dulu, lalu dengan gerakan elegan yang sudah menjadi ciri khasnya, ia membukakan pintu untuk Selena. Pria itu mengulurkan tangan, membantu Selena keluar dari mobil dengan penuh perhatian. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam rumah yang suasananya selalu terasa megah sekaligus mengintimidasi.

Begitu kaki mereka menginjak lantai marmer ruang tamu utama, pemandangan di depan sana membuat keduanya terpaku. Di sofa besar berbahan beludru, Oma Ratna sudah duduk dengan posisi tegak dan berwibawa. Namun, yang membuat mereka terkejut adalah sosok wanita tua yang duduk di sampingnya sambil tersenyum hangat.

“Nenek?” seru Selena hampir tidak percaya.

Elvano dan Selena saling berpandangan sejenak. Mereka mengira hanya akan menghadapi interogasi dari Oma Ratna, ternyata Nenek Asti pun sudah berada di Jakarta. Selena langsung mempercepat langkahnya, menghampiri kedua wanita tua itu dan memeluk mereka secara bergantian dengan penuh kerinduan.

“Nenek kenapa mendadak sekali ke Jakarta? Kenapa tidak bilang pada Selena kalau mau datang?” tanya Selena sambil menggenggam tangan neneknya dengan manja.

Oma Ratna berdehem pelan, memotong kemesraan cucu menantunya itu. “Sudah, simpan dulu rindu kalian. Elvano, Selena, duduklah dulu. Ada hal sangat penting yang harus kita bicarakan sebelum kalian pingsan karena kelelahan pasca konser,” ujar Oma Ratna dengan nada yang tidak bisa dibantah.

Elvano dan Selena pun menurut. Mereka duduk berdampingan di sofa seberang. Aura di ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat serius, khas pertemuan keluarga besar yang sedang merencanakan proyek raksasa.

“Pernikahan kalian tinggal satu minggu lagi. Dan mulai besok, kalian tidak boleh bertemu satu sama lain sampai hari H tiba. Istilahnya, kalian harus dipingit,” kata Oma Ratna dengan tegas.

Mata Selena membelalak lebar, ia menoleh ke arah Elvano yang juga tampak terkejut. “Kok cepat sekali, Oma? Bukankah persiapannya masih banyak yang belum selesai?” tanya Selena dengan nada cemas.

Nenek Asti terkekeh pelan sambil merogoh tasnya. Ia mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna krem dengan ukiran emas yang sangat mewah.

“Ini adalah undangan pernikahan kalian yang sudah jadi. Semuanya sudah disepakati, bukan? Tidak ada alasan untuk menunda lagi,” ujar Nenek Asti sambil meletakkan undangan itu di atas meja.

Elvano meraih undangan tersebut, membukanya perlahan, lalu mengernyitkan dahi saat membaca lokasi yang tertera di sana.

“Kita yang mau menikah, tapi kenapa kita sama sekali tidak tahu di mana tempatnya? Dan... Kepulauan Anambas?” tanya Elvano dengan suara baritonnya yang terdengar sedikit protes.

Oma Ratna langsung memukul bahu Elvano dengan gemas menggunakan kipas tangannya. “Awalnya Oma memang bilang mau di kapal pesiar, tapi setelah dipikir-pikir, itu kurang privat. Jadi, Oma dan Nenek Asti sudah membuat kesepakatan kalau kalian akan menikah di Kepulauan Anambas, tepatnya di sebuah resort pribadi yang sudah Oma sewa seluruhnya,” jelas Oma Ratna dengan bangga.

“Apa?” seru Elvano dan Selena secara kompak.

“Kenapa harus jauh sekali, Oma? Oma pikir ke sana itu mudah? Perjalanannya harus menggunakan seaplane, belum lagi koordinasi logistiknya pasti rumit,” tambah Elvano dengan nada frustrasi. Sebagai seorang produser, ia tahu betapa sulitnya mengatur acara di lokasi terpencil.

Selena ikut menyahut dengan wajah memelas. “Kenapa tidak di Jakarta saja, Oma? Kan lebih mudah dan dekat untuk semua orang,” usul Selena pelan.

Nenek Asti menggelengkan kepalanya sambil tersenyum bijak. “Ini sekalian untuk liburan kalian, Sayang. Kalian berdua itu gila kerja. Selena sibuk dengan pasien dan kontennya, Elvano apalagi, baru saja selesai konser global. Kalian jarang sekali punya waktu pribadi. Di sana, kalian bisa bebas karena jauh dari sorotan media dan paparazi. Bayangkan jika di Jakarta, nama besar Elvano akan membuat acara kalian diserbu wartawan dalam hitungan detik,” jelas Nenek Asti dengan masuk akal.

Elvano menyandarkan punggungnya ke sofa sambil memijat pelipisnya. “Kita yang mau menikah, tapi kenapa Oma dan Nenek yang sibuk sekali mengatur semuanya sampai ke detail terkecil?” gumam Elvano pasrah.

Oma Ratna langsung mengomeli cucunya itu dengan mata melotot. “Kalau kami tidak sibuk, memangnya kamu akan menikah, hah? Lihat dirimu, sudah 34 tahun tapi kerjamu hanya syuting dan menyanyi terus. Harusnya kan Oma sudah menggendong cicit sekarang! Kalau tidak dipaksa begini, kamu mungkin akan melajang sampai ubanan!” omel Oma Ratna yang membuat Elvano hanya bisa mendengus pelan tanpa berani membalas lagi.

“Kalian tinggal mempersiapkan diri saja. Jaga kesehatan, jaga kulit agar tetap glowing, dan jangan banyak pikiran. Semuanya sudah Oma dan Nenek Asti urus, mulai dari catering gizi spesial permintaan Selena sampai jas pengantinmu, Elvano,” kata Oma Ratna final.

Nenek Asti kemudian berdiri, mengusap kepala Selena dengan lembut. “Sekarang, kalian pulanglah ke rumah masing-masing. Istirahatlah yang cukup. Nenek tahu Elvano pasti sangat capek setelah konser di Singapura kemarin. Jangan begadang hanya untuk saling menelepon, mengerti?” pesan Nenek Asti dengan nada menggoda.

Mereka berdua pun mengiyakan dengan lemas. Setelah berpamitan, Elvano dan Selena berjalan keluar dari rumah besar itu. Namun, tepat saat mereka berdiri di samping mobil, Elvano menarik tangan Selena, membawanya ke balik bayangan pilar agar tidak terlihat dari jendela ruang tamu.

“Satu minggu tidak bertemu? Itu terdengar seperti hukuman penjara bagiku,” bisik Elvano sambil menatap dalam ke mata Selena.

Selena tersenyum tipis, tangannya merapikan kerah hoodie Elvano. “Hanya satu minggu, El. Anggap saja ini ujian kesabaran sebelum kita benar-benar terikat selamanya,” sahut Selena menenangkan.

Elvano hanya bisa pasrah dengan ketentuan yang ditetapkan oleh nenek mereka.

***

1
Sri Murtini
elvano kau benar " cinta ya bukan akting
Sri Murtini
Elfano jatuh cinta se jatuh"nya dipelukan kekasih hati. ternyata tidak selamanya perjodohan itu berdampak buruk.... ini memang ketemu pasangan sejatì
Penta Ning Thiyas
luar biasa
Penta Ning Thiyas
karyamu selalu keren.. dan nagih😍👍 semangat kak
Hugo Hamish
kak up dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!