Terkadang seseorang harus merasakan kehilangan terlebih dahulu untuk bisa menghargai kehadiran seseorang, yah seperti itulah kisah cinta seorang Aldi Nugroho, pewaris utama dari keluarga pembisnis besar di bidang property dan fashion retail.
Aldi harus merasakan kehilangan orang yang tulus mencintainya demi seorang wanita yang mengkhianatinya yaitu sang mantan kekasih. Aldi baru menyadari betapa berharganya seorang Kiandra Anastasya Darwin setelah mereka berpisah selama empat tahun lamanya. Disaat cinta sudah terkubur mati dalam hati Kiandra, Aldi datang kembali dengan ketulusan hati, mencoba memperjuangkan kembali cinta Kiandra yang sudah mati.
Akankah Aldi berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Arin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 - Villa Utama
"Anyway Dita, Papih mau tanya kapan kamu akan ke Djogja? Kalau bisa kamu percepat saja, Papih ingin dengar alasan kepergian Aldi ke Jepang dari Kiandra. Sebelum Papih menemui Om Richard." tanya Adam pada anak perempuannya.
"Tadinya Dita akan berangkat tiga hari lagi, tapi kalau Papih ingin menyegerakannya sebelum bertemu Om Richard, Dita akan berangkat nanti malam Pih. Dita akan pesan pesawat siang ini juga, semoga masih ada penerbangan kosong." ucap Dita.
"Baiklah, kau jaga diri disana, cepatlah pulang jika sudah selesai."
"Siap Pih, Dita mau siap-siap dulu ya Pih." Dita memghampiri Adam dan mencium pipinya.
"Dah Papih" Dita tersenyum dan berlalu pergi.
Ah senangnya tidak ada para pengawal sialan itu lagi, jodoh i'm coming..
Dita kembali ke kamarnya dan mulai mencari penerbangan Jakarta-Djogja malam hari. Dita menemukan satu maskapai yang terkenal dengan lambang negara Indonesia.
"Yes! aku dapat juga akhirnya." ucap Dita.
See you there Girls..
- - -
"Hallo Dam, aku menunggu teleponmu dari tadi, jadi gimana, Dam? apa anakmu setuju dengan perjodohan ini?" tanya seorang Pria tua ke Adam.
"Aku akan membuatnya tidak punya jalan lain selain menerima perjodohan ini, tapi aku membutuhkan sedikit pertolongan." ucap Adam, Papih Dita.
"Katakanlah, aku akan membantumu, jangan sungkan. Bagaimanpun aku ingin anak itu kembali dan mewarisi semua yang sudah aku bangun mati-matian, karena aku sudah tak lagi muda, dan lagi aku sungguh menginginkan anakmu menjadi menantuku, Dam." ucap Pria tua itu.
Mereka pun bertukar informasi, misi, dan opsi, seperti simbiosis mutualisme antar seorang figur ayah. Begitu alot pembicaraan mereka hingga tak menyadari bahwa Dita sudah turun menggunakan lift rumah utama. Lita menyikut tangan Adam, suaminya.
"Dita sudah di lift matikan teleponmu atau anakmu akan tahu semuanya." ucap Lita pelan, dan Adam pun menyudahi teleponnya.
"Sayang, Aldi sedang di Jepang, Dita akan ke Djogja." ucap Adam.
"Terus kamu mau ninggalin aku juga dirumah ini sendirian?" tanya Lita dengan sinisnya.
"Tentu tidak dong Sayang, aku akan disini menemanimu, sudah lama tidak berduaan denganmu, Sayang. Aku merindukan sentuhan jari jemarimu, Lita." Adam memeluk Lita dari belakang dan mencium leher istrinya itu.
"Ehem.." Dita berdeham melihat Mamih dan Papihnya seperti pengantin baru.
"Hai putri cantik Papih, sudah mau berangkat?" tanya Adam yang masih betah memeluk Lita.
Bisakah aku akan dapat suami penyayang seperti Papih ke Mamih? ku harap aku bisa sebahagia Mamih.
"Cih bermesraan dimanapun kapanpun sampai aku sebesar ini" cibir Dita.
"Karena Papih sangat mencintai Mamih, Dita. Jika Dita ingin maka cepatlah menikah dan berikan Papih cucu yang banyak." ledek Adam.
Adam memang sengaja bermesraan di depan Dita agar Dita tergugah untuk menerima perjodohan ini sesegera mungkin, dengan umur Dita yang sudah matang, Adam takut Dita salah dekat dengan seorang pria, sebab itulah Adam terpaksa menggunakan cara ini.
"Jalanku masih panjang Pih, sudahlah percuma menjelaskan di depan sepasang dewa dewi yang sedang dan terus di mabuk cinta." Dita membalas ledekan Adam dan mencium pipi mereka satu per satu.
"Aku berangkat, ingat ya Pih atas janji Papih." ancam Dita.
"Baik Boss kecil" Adam tersenyum.
Selamat menikmati liburanmu Boss kecilku.
Dita mulai pergi ke bandara, tiga jam sudah berlalu, ia sudah mendarat di Djogja. Saat menuju loby utama Dita terheran karena ada seorang pria yang memegang tulisan berisikan nama dirinya, di belakang pria itu berdiri sosok pria memakai masker untuk menutupi wajahnya.
Perasaan aku tidak menyewa seseorang untuk menjemputku, atau Papih? tapi Papih tidak mungkin ingkar janji ya kan.
Dita akhirnya mengabaikan pria tersebut, dan mencoba untuk menutup mukanya dengan apapun yang bisa menutupinya.
Tiba-tiba pria itu menarik tangan Dita.
"Kau Anindita Nugroho?" tanya si pria tersebut yang masih menggunakan maskernya.
"Eh, kita tidak saling kenal ya, jadi enggak usah pegang-pegang tanganku sembarangan, lepaskan atau aku akan teriak!" ancam Dita.
Pria itu akhirnya membuka maskernya, menampakkan wajah tampan dan angkuhnya.
"Kamu pikir aku jauh-jauh kesini menjemputmu karena aku ingin? tidak perlu senarsis itu, Nona. Kalau saja bukan karena si Tua bangka itu yang menyuruhku, aku tidak akan pernah mau menjemput wanita galak sepertimu." genggaman tangan itu semakin membuat Dita kesakitan.
Dita yang kesal akhirnya menggigit tangan pria itu.
Siapa sih pria ini membuat moodku rusak saja.
Dita berjalan cepat untuk keluar dari area bandara, tapi pria itu mampu menarik tangan Dita hingga jatuh kepelukannya.
"Menurutlah atau aku akan menciummu disini!" ancam pria itu.
"Lakukanlah jika kau mampu! akan ku tendang pusakamu jika kau berani." ucap Dita
Banyak yang melihat mereka ribut di area bandara, keributan yang mereka buat mampu menghadirkan gunjang ganjing dari berbagai orang yang melihat mereka, terutama ibu-ibu.
"Kau senang jadi bahan obrolan orang lain? aku tidak merasa rugi tapi bagaimana dengan keluargamu? Jika mereka mengunggah foto yang diambil dari ponsel mereka dan menguploadnya lalu media tahu kau adalah keluarga Nugroho, bagaimana reaksi orang tuamu?"
Dita akhirnya terdiam, benar juga apa yang diucapkan oleh pria aneh itu.
"Menurutlah atau aku akan merealisasikan ucapanku sekarang juga." bisik pria itu di kuping Dita.
"Oke fine! dengan syarat kau tidak boleh menyentuhku seujung kuku pun tidak boleh, jaga jarak denganku at least semeter." Dita menunjuk pria itu dan menatapnya dengan penuh amarah.
"Omong kosong! cepat atau lambat seluruh tubuhmu itu hanya aku yang akan menjamahnya." pria itu menarik tangannya saat supir pribadinya sudah di loby utama penjemputan.
"What?" Dita semakin terheran dengan ucapan pria itu.
Kenapa banyak orang gila akhir-akhir ini, Papih benar-benar tidak memberikanku pengawal sama sekali, ah Papih Dita menyesal sekarang.
Dita memasuki pintu mobil pria itu.
"Ke Villa utama!" perintah pria itu.
Villa? astaga fix ini penculikan, terus aku harus bagaimana sekarang? bahkan menelepon Mika pun aku tidak bisa, tamat sudah!
"Tapi aku tidak memesan Villa! turunkan aku saja, aku akan naik taksi." pria itu hanya menatap kedepan tanpa menggubris ucapan Dita.
"Kenapa? kau menyesal tidak ada pengawal yang mengikutimu?" tanyanya datar.
"Kenapa kau bisa tahu?" Dita kaget siapa sebenarnya pria ini, datang tiba-tiba, tahu semua tentangnya, bahkan semua yang ia dan Papihnya bicarakan.
Tunggu! apa ini ulah Papih? arghhh belum memulai aku sudah kalah telak, sial!!
Mereka akhirnya sudah tiba di Villa utama pria itu.
"Silahkan Nona" ucap supir pria itu.
"Hmm boleh aku tahu ini rumah siapa?" tanya Dita.
"Ini Villa pribadi milik Tuan Muda, Nona." jawab sang supir.
Tidak perlu bertanya aku juga sudah tahu.
"Terima kasih atas jawabanmu itu." cibir Dita.
"Dengan senang hati, Nona." balasnya lagi.
Mereka sudah memasuki Villa utama itu, ada sebuah photo keluarga besar di ruang utama Villa.
Pasti ini keluarganya, tapi kenapa aku sepertinya pernah melihat sosok Orang tuanya, tapi dimana ya? ah sudahlah bukan urusanku. Aku harus berpikir bagaimana caranya bisa kabur dari sangkar emas ini.
"Berhentilah bepikir untuk bisa kabur dari sini."
"Ke, kenapa kau bisa tahu? apa kau seorang dukun?" tanya Dita.
"Kau tidak diizinkan bertanya, pergilah ke kamarmu, beristirahatlah aku akan mengantarkanmu ke tempat tujuanmu besok, jika kau telat bangun, aku akan mendobrak pintu kamarmu." pria itu berbalik dan ingin meninggalkan Dita untuk beristirahat.
"Tunggu! sampai kapan kau tidak mau memberitahuku namamu? bahkan kau sudah menculikku kesini." Dita berteriak hingga pria itu menghentikan langkahnya.
Pria itu berbalik dan terus mendekati Dita.
"Aku hanya akan memberitahumu satu kali dan dengarkan ini baik-baik Wanita Galak, agar kau ingat siapa pria yang katanya sudah menculik calon istrinya sendiri." pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Dita.
"Aku adalah Bayu Adi Wicaksono, calon suamimu, ingat itu baik-baik." nafas pria itu seperti aliran setrum yang menggetarkan tubuh Dita dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Apa? calon suami? jadi dia yang akan dijodohkan denganku? pria angkuh dan arogan ini? oh God..
🍂
Bersambung..
Thank you semua Good Readers and Authors yang menyempatkan diri untuk mengikuti perjalan kisah cinta mereka, aku tidak bosan-bosan untuk minta support kalian semua untuk vote, vote, vote, vote and vote. Give us ur boom like, comment, 5 rate karena itu gratis tapi sangat berarti bagi penulis.
See you on next chapter everyone, big love from the distance 🖤.
aq kangen mike and mika thor
smga bayi mereka kembar beneran thor
semangatt thor di tunggu up selanjuttnya..fighting.
huaaaakakakakakakakkakaka
semangatt thor di tunggu up selanjuttnya.
kuat macam kudaa😂