Alea adalah wanita malang yang terpuruk dan hampir gila karena kehilangan bayi dan suaminya dalam satu waktu. Namun di saat itulah ia bertemu dengan seorang wanita asing yang memberikan bayi laki-laki padanya. Tanpa menaruh curiga Alea menerima bayi itu.
Siapa yang sangka jika bayi tersebut akan merubah masa depannya. Sebab bayi laki-laki itu ternyata adalah putra dari seorang konglomerat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29 Malu
Hari kedua Alea tinggal di mansion Fernandez, sejak kedatangannya kemarin. Di sini pekerjaan Alea lebih ringan, atau bisa dikatakan ia tidak bekerja. Sebab pekerjaan utamanya adalah bersandiwara menjadi pengasuh Shane. Sandiwara yang bukan sandiwara.
Ah ... bingung juga Alea menafsirkannya. Yang pasti ia hanya punya tugas untuk menjaga dan mengasuh Shane. Ia tidak diijinkan melakukan pekerjaan rumah apa pun sebab pelayan di rumah ini sudah terlalu banyak. Rutinitas paginya setiap hari masih sama. Ia menunggu Shane bangun untuk memberikan asi pada bayi itu.
Hari ini Shane sedikit terlambat bangun, semalam bayi itu mengajak begadang Alea. Mungkin karena tempat baru, Shane belum terbiasa karenanya ia belum bisa nyaman. Meski matahari sudah sangat terang, Alea masih belum beranjak dari kamar. Ia hanya duduk termangu menatap Shane yang masih pulas.
"Nyonya." Sena masuk membawa nampan berisi susu dan roti lapis untuk sarapan Alea. Gadis itu meletakkan nampan berisi makanan ke atas meja sofa.
"Makanlah, Nyonya, selagi susunya masih hangat," ujar Sena.
"Kau tidak perlu repot-repot begitu. Aku bisa ke dapur sendiri untuk mengambil sarapan."
"Ini memang sudah tugasku, Nyonya tidak perlu cemas." Sena pamit untuk kembali ke dapur usai meletakan nampan di meja.
Tak lupa Alea mengucapkan terima kasih dan meminta Sena untuk menutup kembali pintu kamarnya.
Alea menatap lapar pada roti lapis yang Sena bawa. Terlihat lebih besar dan menggiurkan dari yang biasa ia makan dulu. Alea pun mengambil satu dari dua roti lapis yang Sena sajikan. Rasanya kenyang sudah menghabiskan satu roti lapis dan segelas susu.
Dan Shane bangun di saat yang tepat. Saat Alea sudah kenyang. Gegas Alea menghampiri dan menggendong Shane. Alea meletakkan jarinya di dekat mulut sang bayi. Terlihat jelas Shane menginginkan makanannya. Alea pun segera melakukan tugasnya.
Aktifitas meny*sui Shane semakin hari semakin membuat Alea nyaman. Rasa kasih sayang di antara dirinya dan Shane pun semakin terbentuk kuat. Alea begitu menyayangi Shane, tapi di saat yang bersamaan ada ketakutan yang membayang. Saat nanti identitas asli Shane terbuka, apakah ia akan siap melepaskan bayi yang ia asuh ini.
Sembari meny*sui, sesekali Alea mengecup kening Shane. Mengungkapkan rasa sayangnya. Alea juga bersenandung kecil untuk menstimulasi perkembangan otak Shane.
Sementara itu di balik pintu kamar Alea yang sedikit terbuka, David sedang mengintip apa yang Alea lakukan.
"Sedang apa kau di situ?"
David tersentak. Seketika balik badan. Tubuhnya mendadak kaku mendapati Juan berdiri di depannya.
"A ... aku ...." David tergagap. Seperti pencuri tertangkap basah.
Mata Juan menatap tajam pada David. "Aku tidak suka melihatmu di kamar ini. Ini pertama dan terakhir kalinya aku peringatkan!"
Tanpa banyak bicara David segera pergi dari kamar Alea. Tentu saja dengan menahan marah yang bercokol di dada.
Setelah kepergian David, Juan mengetuk pintu kamar Alea. Si empunya kamar belum menjawab tapi Juan lebih dulu masuk. Membuat Alea terhenyak dari aktifitasnya.
Buru-buru Alea menyudahi mengasihi Shane dan menutup dadanya, membuat Shane kontan menangis karena belum ingin selesai minum. "Tu-tuan ...."
Alea berdiri. Bingung menatap antara Shane yang tengah menangis keras dan Juan yang berdiri menghadapnya.
"Lanjutkan saja, dia masih belum kenyang," ujar Juan.
Alea menepuk-nepuk pant*t Shane untuk menenangkan bayi itu, tapi Shane tak kunjung diam. Tangisnya semakin keras.
"Kau jangan keras kepala, shane masih lapar," ujar Juan dengan nada lebih tinggi.
"I ... iya, Tuan." Meski berkata demikian, Alea tak segera melakukan apa yang Juan suruh. Ia menunggu Juan pergi tentunya.
Sementara Shane tak mau berhenti menangis bahkan setelah Alea berusaha menangkannya.
"Apa kau tidak kasian dia terus menangis." Juan menunjuk Shane.
Entah apa yang ada dalam pikiran pria ini. Kenapa tidak peka sekali. Alea kasihan ... tentu saja kasihan, tapi Alea juga punya rasa malu jika harus mengasihi Shane di depan Juan.
"Alea!" sentak Juan saat Alea hanya bergeming di tempat.
"I-iya, Tuan."
"Cepat lakukan!"
Alea mengangguk takut. "Iya ...."
Namun, ia pun melanjutkan. "Tapi, saya mohon maaf. Bisakah Anda keluar."
Juan mengembuskan napas kasar. Heran dengan Alea. Kenapa tidak bilang dari tadi kalau seandainya dia malu.
Juan pun pergi, dan Alea segera mengunci pintu dari dalam agar tenang.