Lanjutan novel SON OF THE RULER (S 1 & 2).
Cinta mempersatukan mereka untuk menjalani kehidupan yang disebut rumah tangga.
Kisah cinta romantis empat putra penguasa yang memiliki sisi gelap, yang sama sekali tidak di ketahui oleh masing-masing pasangan mereka.
"Kehidupanku penuh dengan rahasia, dan hanya bisa diketahui oleh beberapa orang tertentu. Aku tidak akan membuat keluarga kecilku ikut didalamnya, cukup aku saja," Revan Li.
"Jauh dari istri membuat aku belajar akan pentingnya kepercayaan, berbeda dengan orang yang LDR. Saling mempercayai adalah bagian penting untuk sebuah hubungan bertahan hingga maut memisahkan." Revin Li.
"Kehidupan, kematian dan rejeki, ditentukan oleh tuhan. Tapi hubungan yang bertahan hingga maut memisahkan hanya bisa ditentukan dengan kepercayaan satu sama lain." Carlos Sia.
"Penantian membuahkan hasil, jika kita sabar dan teguh dalam menjalaninya. Selesaikanlah masalah itu dengan kepala dingin dan hadapi masalah itu dengan keberanian yang kuat, maka kehidupan yang baik akan selalu bersamamu." Reon Sang.
***
Kisah rumah tangga yang sering kali membawa tawa bagi mereka.
Penasaran yuk liat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PANGGILAN DARURAT
Revan dan Revin hanya diam saat Rafael mendudukkan diri di sofa tunggal sambil menghela nafas kasar, di ikuti oleh sang ayah dan Carlson.
"Uncle baik-baik saja?" tanya Revan, memberanikan diri bertanya.
"Iya, Revan. Baik-baik saja," jawab singkat Rafael, sambil mengusap kepalanya yang masih panas karena ulah kedua sahabatnya.
Revan dan Revin saling menatap satu sama lain, serentak menatap bergantian pada ayah mereka dan Carlson.
'Pasti bukan hal yang baik-baik saja,' batin kedua saudara kembar itu bersamaan, lalu mengedikkan bahu acuh.
Revin berjalan mendekati sang suster, memberikan putra kecilnya pada suster itu. Sang suster menerima bayi itu dengan hati-hati, sedikit membungkukkan setengah badannya untuk membawa bayi laki-laki itu keluar dari ruangan tersebut, diikuti oleh salah satu suster yang membawa bayi perempuan yang sudah terlelap begitu pulas.
"Oh iya, Carl? Bagaimana keadaan Carlos?" tanya Arian, membuat semua pasang mata menatap ke arah Carlson.
"Sudah lebih baik, Arian. Setelah dari rumah sakit ini, aku dan Fania akan kembali ke rumah Carlos. Sepertinya dia sedikit kesulitan mengurus istri dan putranya," ucap Carlson, mengingat pesan yang dikirimkan oleh putranya itu semalam, yang memintanya untuk segera kembali ke Negara C.
Fania mengangguk mendengar ucapan sang suami, lalu beralih menatap putrinya yang tengah menatapnya dengan wajah memelas.
"Ada apa?" Tanya Fania, yang merasa aneh dengan ekspresi wajah putrinya yang kini telah menjadi ibu dari dua anak kembar.
"Tidak bisakah Mama tinggal di sini lebih lama? Aku rindu," lirih Vivian, menunduk sambil memainkan jari tangannya, tak lupa dengan mulut yang maju ke depan seperti bebek.
Fania terkekeh mendengar hal tersebut, mengusap rambut putrinya penuh kasih sayang, membuat Vivian seketika melingkarkan tangannya dan memeluk erat ibunya itu.
"Mama tidak pergi jauh, sayang. Hanya sebentar, Mama akan kembali lagi ke sini saat kakak ipar kamu sudah bisa bergerak leluasa. Di sini, ada mommy Ana yang akan menjagamu, ada juga Daddy Arian, kan? Sedang di Negara C tidak ada siapa-siapa yang membantu Carlos menjaga putra kecilnya dan kakak ipar kamu." jelas Fania, yang membuat Vivian mengangguk patuh di pelukannya.
"Sudah, jangan seperti ini lagi. Kamu sudah punya dua anak loh, harus lebih dewasa agar bisa menjaga mereka berdua, bersama dengan suamimu." ucap Fania lagi, mengusap lembut rambut panjang berwarna hitam milik putrinya.
"Iya mom," ucap Vivian, melepaskan pelukannya dari sang ibu lalu menyeka air mata di sudut matanya.
Carlson dan Fania tersenyum melihat tingkah putri kecil mereka, sedikit tidak percaya jika putri mereka sudah menikah dan memiliki dua bayi mungil. Padahal terasa bar kemarin mereka mengajarkan pada Vivian caranya berjalan dengan benar.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, menampilkan Reana yang melangkah memasuki ruangan dengan senyum di wajahnya, berjalan pelan mendekati sofa dan duduk di samping sang ibu.
"Kamu darimana sayang?" tanya Ana saat sang putri duduk di sampingnya.
"Em ... dari luar sebentar, Mom. Cari angin," kilah Reana dengan senyum di wajahnya.
Ana mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, mengusap lembut surai hitam sang putri. Sedang Revan yang duduk di hadapan ibunya, menatap penuh selidik pada adiknya itu. Begitupun dengan Revin yang berdiri di samping brankar, menatap penuh tanda tanya pada Reana lalu menoleh ke arah pintu ruangan yang tiba-tiba terbuka.
Tangan Revin terkepal kuat dengan rahang yang mengeras, ia sangat yakin jika mata sembab yang ia lihat pada adiknya itu ada hubungannya dengan pria yang baru masuk ke ruang rawat tersebut.
'Sialan!' batin Revin, mengumpat kesal pada Dion.
Sementara Revan menatap dingin pada remaja yang berbeda usia satu tahun dengannya itu. Bangkit dari duduknya tiba-tiba, hingga membuat para orang tua yang duduk di sofa, menatapnya penuh tanda tanya.
"Kita perlu bicara," ucap Revan pada Dion. Merangkul pundak Dion dan berbalik untuk keluar dari ruangan itu.
Sarah dan Rafael mengerjapkan matanya beberapa kali melihat hal tersebut, begitupun dengan Arian dan Ana. Sedang Reana mulai menelan kasar salivanya, takut jika kakak pertamanya itu bertanya atau memukul Dion. Meski benci, tapi tidak bisa Reana pungkiri jika masih ada perasaan cinta yang besar pada Dion.
"Tetap di sini, Revin!" ucap Revan, menghentikan langkahnya di ambang pintu, menoleh pada Revin yang berniat mengikutinya.
Orang-orang di dalam ruangan itu saling menatap satu sama lain, kecuali Reana. Revin yang mendengar suara tinggi nan dingin sang kakak, menghentikan langkahnya dan berdecak kesal sambil berbalik badan.
'Ada apa ini?' batin Ana, bertanya pada dirinya sendiri. Merasa aneh dengan hal yang terjadi di depan matanya.
Semua hanya diam menatap pintu ruang rawat yang perlahan-lahan tertutup rapat dengan sendirinya, serentak menatap ke arah Revin yang berwajah kesal di samping brankar Vivian.
Tiba-tiba ponsel Sarah berdering, membuat wanita itu dengan cepat mengangkat telfon dari putra pertamanya.
"Ma! Bisa segera ke Negara F?"
"Oke, Mama dan Papa akan segera ke sana. Tetap tenang, oke." ucap Sarah, lalu memutuskan panggilan sepihak dan menatap sang suami yang duduk di hadapannya.
Rafael yang mengerti arti tatapan sang istri, segera bangkit dari duduknya dan berlari cepat keluar dari ruang rawat untuk segera ke bandara.
"Sepertinya Liona akan segera melahirkan malaikat kecilnya," ucap Ana, yang diangguki oleh Fania.
"Sepertinya begitu," sahut Fania, masih menatap ke arah pintu tempat Sarah dan Rafael keluar.
Sedang di belakang rumah sakit.
"Aku tidak memberikanmu kesempatan hanya untuk membuat dia menangis, Dion." ucap dingin Revan pada pria di hadapannya, pria yang beberapa bulan lalu ia berikan kepercayaan untuk menjaga dan melindungi adiknya.
"Maaf, aku tidak bermaksud melakukan hal itu. Aku bersumpah, Revan. Aku tidak ingin melihat dia menangis, sungguh." ucap Dion, berusaha menyakinkan pria di hadapannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Dan kenapa hubungan kalian merenggang?" tanya Revan, tak ingin berbasa-basi pada Dion. Ia semakin yakin jika wanita yang ia lihat di taman tadi adalah adiknya.
Dion menunduk, tak dapat menjawab pertanyaan Revan. Ia takut, jika mengatakan hal itu akan membuat Revan membencinya.
"Katakan sebelum aku memukulmu, Dion!" geram Revan, saat Dion tak kunjung membuka suara.
Dion menghela nafas kasar, mengusap wajahnya lalu menatap wajah Revan.
"A-aku tidak sengaja melakukannya ... aku dalam pengaruh obat hingga tidak bisa mengendalikan diri. A-aku bisa saja tidak melakukan hal itu, ta-tapi jika aku pergi dan bertemu Reana hari itu ... sudah pasti aku akan melakukan hal tidak baik padanya." ucap Dion, menceritakan penyebab sesungguhnya lada Revan.
BUGH!
Satu pukulan keras mendarat di perut Dion sebelum pria itu berhasil menghindar, seketika kedua kakinya bersimpuh, sedikit mendogak menatap tatapan dingin Revan padanya.
"Kau sudah melakukan kesalahan besar!" ucap dingin Revan dengan tatapan yang menusuk.