Diawali dengan kisah percintaan Anggita Nindya sejak duduk di bangku SMA, yang sangat amat menyukai kakak kelasnya yang bernama Rama. Cintanya tak terbalaskan dan terlupakan ketika Rama lulus sekolah. Rama adalah cinta pertama Gita.
Mereka di pertemukan lagi di perusahaan tempat Gita bekerja. Perusahaan itu adalah milik keluarga Rama. Hingga akhirnya, mereka pun bertemu lagi. Bagaimanakah kisah cinta mereka selanjutnya? Akankah cinta mereka bisa bersatu? Sedangkan, Rama telah memiliki tunangan. Namun, perasaan Gita pada Rama tak berubah sedikitpun.
Akankah cinta pertama itu bisa terwujud? Atau malah sebaliknya?
Staytune terus ya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isi hati
Sepulang kerja Gita ingat akan bertemu Gilvan, mengantarnya membeli SIM-card Malaysia untuk handphonenya. Ternyata Gilvan sudah ada didepan kantin. Ia melambaikan tangannya, dan tersenyum kearah Gita.
"Maaf, sudah lama membuatmu menunggu, Gilvan." Gita terlihat canggung.
"Tidak apa-apa. Aku juga belum lama menunggu kok. Ayo!" Ucap Gilvan.
Gilvan mengendarai motor. Gita mau tak mau ikut naik ke motor Gilvan. Rasanya canggung sekali. Ia malu. Mengendarai motor seperti ini, Rasanya? Teringat seseorang yang membuatnya jatuh hati. Teringat seseorang yang membuatnya melambung tinggi. Teringat akan senyum dan ketulusannya.
Hatiku sakit. Jiwaku sungguh terluka. Kini, aku sadar setelah jauh denganmu. Aku merasa sangat kehilangan. Hatiku terkikis, cintaku terbesit. Aku sangat merindukan saat-saat kita bersama. Aku rindu memelukmu ketika naik motor, aku rindu makan berdua denganmu, aku rindu melihat senyummu, aku rindu suara merdu mu ketika bernyanyi, aku rindu ketika kau menatap mataku dengan tulus. Sungguh, aku merindukan mu Rama Hanggara, hatiku tak akan bisa berbohong. Aku sungguh mencintaimu. Hatiku tetap untukmu meskipun raga kita tak bisa bersatu. Mencintaimu adalah hal terindah yang pernah aku lalui.
Tak terasa air mata Gita jatuh tak tertahan. Gilvan melirik kearah kaca spionnya, melihat Gita seperti bersedih. Gilvan pura-pura tak melihat. Mungkin, sama halnya dengan dirinya, Gita dan Gilvan sama-sama sedang sakit hati, pikir Gilvan.
Gita sampai di store handphone. Ia memilih kartu yang ingin dia beli. Ia tak mau berlama-lama, karena tak enak dengan Gilvan yang mengantarnya.
"Van, Thanks ya udah mau nganterin aku. Kamu pulang aja, ini udah sore." Suruh Gita
"Kamu pulangnya gimana? Emang kamu hafal jalannya?" Tanya Gilvan.
"Tahu kok, aku tinggal naik MRT disana aja." Ucap Gita
"Gak apa-apa. Aku antar kamu pulang. Kasihan kamu, kan masih baru disini." Ucap Gilvan
"Gak apa-apa, Van. Lagipula, aku pasti lama kok. Aku mau beli makanan untuk makan malam." Sanggah Gita.
"Udah, aku beliin. Ayo." Gilvan memaksa.
Gita mengikuti Gilvan. Tak dapat dipungkiri, meskipun raganya ada disini bersama lelaki lain, tetapi hati dan jiwanya tetap ada pada Rama. Gita tak bisa merasakan kehangatan yang selalu diberikan Rama padanya.
Gilvan mengajak Gita makan Bakso khas Indonesia. Karena, Gilvan ingin Gita makan makanan khas Indonesia dulu, agar ia tak terlalu kaget dengan makanan Malaysia. Mereka sampai di warung bakso khas Indonesia.
Entah kenapa, bukannya senang bisa menemukan bakso disini, Gita malah terlihat murung dan tak suka. Gita menahan rasa mualnya, ia sangat ingin muntah. Mencium aroma bakso membuatnya sangat mual. Gita mencoba menahan rasa mual itu.
Mungkinkah ini efek kehamilanku? Lama-lama aku bisa ketahuan kalau aku hamil. Ya Tuhan, aku sangat menyukai bakso. Tapi, kenapa? Kenapa bakso ini sangat bau sekali? Rasanya aku ingin muntah. Aku tak sanggup harus mencium aroma ini. Mungkinkah ini bawaan kehamilanku?
"Huekkkssssss" Gita mual sekali.
"Gita, kamu kenapa? Kamu sakit ya?" Tanya Gilvan.
"Huekksssss.. hueksssss. Aduh, aku mual banget Van. Aku mau pulang aja. Aku gak mau makan bakso, perutku sakit kepala ku keliyengan gini." Ucap Gita.
"Kita ke dokter aja yuk?" Ajak Gilvan.
"Nggak usah, Van. Aku kalau nyium bakso yang kurang pas menurut aku pasti suka gini. Maafkan aku ya." Gita malu
Akhirnya, Gita dan Gilvan tak jadi makan bakso di kedai itu. Gilvan hanya membelikan Gita nasi lemak khas Malaysia, agar ia bisa makan malam nanti.
Gita diantar pulang sampai di rumah sewaannya. Gilvan memang lelaki yang sopan, ia tak mau masuk ke rumah kecil Gita, karena menurutnya bukan Muhrim. Gita mengerti untuk itu. Akhirnya Gilvan pun pamit pulang.
Kenapa? Kenapa aku sangat tidak suka mencium bau bakso? Aku sangat menyukai bakso. Tapi, ditempat tadi aku malah mual sekali dan ingin muntah. Apakah ini bawaan mu, bayi kecilku? Maafkan aku, aku tak tahu kalau kau belum terbiasa mencium bau-bau seperti itu. Kenapa mengingatmu sangat sakit sekali untukku? Bayi kecilku yang malang, Ayahmu tak mengetahui kehadiranmu, kan? Kalau saja Ayahmu tahu, mungkin ia akan sangat bahagia dan pasti mengerti apa yang kau inginkan. Kau harus kuat tanpa ayahmu, aku akan menjagamu sekuat hatiku. Hanya engkau yang aku miliki saat ini, bayi kecilku.
Selalu saja air mata jatuh ketika Gita mengingat hal itu. Gita sangat terpukul dengan keadaan ini. Gita sadar, inilah jalan yang telah dipilihnya. Ia harus menjalaninya.
Gita belum mengabari lagi Ibu dan Ayahnya. Gita segera memasukan no telepon Ibunya. Kemudian, Gita meneleponnya.
Tutt..tutt...tuutt
"Halo Bu, Assalamualaikum.." Sapa Gita
"Waalaikumsalam, Anakku. Apa kabarmu? Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Ibu diseberang sana.
"Gita baik bu. Gita kangen sama Ibu sama Ayah. Kalau Gita libur, Gita akan menemui Ibu." Ucap Gita
"Mess kantormu dimana, Git? Biar Ibu saja yang sesekali berkunjung kesana. Ya?" Pinta Ibu.
"Ja..jangan Bu. Disini ketat. Gita aja yang pergi kesana. Ayah udah baikan kan bu?" Tanya Gita
"Ayah sudah baikan, dan dia sudah mulai bekerja lagi. Baiklah, Ibu tunggu kedatanganmu kesini ya. Ini no handphone Malaysia punya kamu?" Tanya Ibu
"Iya, Bu. Segera simpan no Gita yang baru ya." Ujar Gita
"Tentu, Nak. Pasti akan Ibu simpan. Kamu jaga diri ya, hati-hati di sana. Jangan sampai melupakan makanmu." Pesan Ibu.
"Baik, Bu. Tentu Gita bisa menjaga diri."
Tutt..tutt..tutt. Telepon pun terputus.
Apa yang harus kukatakan pada Ibu dan Ayahku? Bagaimana kalau mereka tahu aku hamil? Aku tak bisa membayangkan betapa sakit hatinya Ayah dan Ibuku. Aku pasti dihukum oleh mereka. Oh, Tuhan. Tolong bantu aku. Aku harus bagaimana?
Gita hanyut dalam lamunan. Hatinya sakit tak tertahankan. Mengingat akan bagaimana kelanjutan hidupnya.
Ketika ia sedang melamun, tiba-tiba ia teringat akun facebooknya yang sudah lama tak dibukanya. Ia membuka kembali akunnya. Ia melihat potret kawan-kawannya di berandanya.
Matanya tertuju pada postingan Rama Hanggara. Memposting foto tangannya dan tangan Rama yang mengenakan gelang inisial. Gita menangis, sampai saat inipun kenang-kenangan yang Rama berikan masih melingkar ditangannya. Ia tak mau membukanya sampai kapanpun. Gita melihat foto gelang couple itu sambil menangis, Rama pun ternyata masih sangat mengingat dirinya.
Gita tahu Rama pasti sangat merindukannya. Gita ingin sekali bertemu Rama, tapi apalah dayanya. Ini jalan yang dipilih Gita, menghilang dan menjauh dari Rama. Terkadang, ada sedikit sesal didalam hatinya mengapa ia memilih jalan ini.
Gita tak mau jejaknya diketahui oleh Rama, ketika membuka facebook, Gita tak melakukan kegiatan apapun. Ia hanya melihat-lihat saja. Setelah itu, ditutupnya kembali akunnya untuk sementara, agar tak terlihat dia sudah online kembali.
***
-Di rumah besar kakek Prima-
Suasana rumah besar mulai terlihat seperti biasanya. Rama berangkat bekerja lagi, karena adik perempuannya yang meyakinkan Rama. Rama kembali semangat, ia yakin bisa menemukan Gita. Kapanpun waktunya, Ia akan tetap menunggu dan mencari.
"Rama, kamu merasa baikan?" Tanya Maya
"Aku sudah membaik. Tetapi, hatiku belum sepenuhnya membaik. Kuharap aku segera menyelesaikan masalahku." Jawab Rama
"Mami yakin, di manapun Gita berada, dia pasti akan baik-baik saja. Kita hanya perlu menunggu. Waktu yang akan menjawab semua." Maya tersenyum
"Semoga saja, Mi. Aku tak akan mencari wanita lain lagi didalam hidupku selain Gita. Kalau aku tak bisa menemukannya, aku pun tak akan menemukan cinta yang lain." Jawab Rama
"Mami yakin, Kamu akan bertemu kembali dengan Gita. Kita tetap berusaha sebaik mungkin untuk menemukannya."
"Terimakasih, Mi." Rama memeluk ibunya.
Perkataan ku barusan tak main-main. Aku tak akan menemukan cinta yang lain, aku hanya akan menemukan satu cintaku, yaitu dirimu Anggita Nindya. Wanita yang bisa membuatku tersenyum, wanita yang selalu menuruti perkataan ku, wanita yang sangat tulus mencintaiku. Jika kau ingin pergi dariku, pergilah. Bahagialah di sana, lakukan apapun yang kau mau selagi kau jauh dariku. Tetapi, jika suatu saat nanti aku menemukanmu, jangan harap kau bisa lepas lagi dariku. Ku pastikan kau akan menjadi milikku seutuhnya. Tak peduli kau sudah milik orang lain sekalipun, karena yang menjadi milikku lebih dulu, tetap akan menjadi milikku sampai kapanpun. -Rama dalam hati-
Sementara itu, tak ada yang peduli terhadap Siska di rumah itu. Hatinya sakit, ia serasa tak dianggap. Mereka sibuk dengan aktifitas masing-masing. Siska yang ngidam, mual, pusing pun terkadang tak dipedulikan oleh mereka. Jangankan membuat tanggal pernikahan itu terjadi, bertanya kepada Siska saja mereka sudah tak pernah.
**Mengapa mereka sekejam ini padaku? Aku harus bagaimana sekarang? Lebih baik aku merencanakan lagi sesuatu yang bisa membuat mereka melihatku. Tetapi, aku harus apa? aku harus bagaimana? Aku hamil, mereka tidak peduli padaku. Aku tak mengerti dengan keluarga ini. Janji si tua bangka itupun hanya omong kosong belaka. Kapan ia akan menikahkan aku dengan Rama? Kenapa ia tak pernah berbicara?
Apa aku pura-pura akan pergi saja dari rumah ini? Mereka kan sangat tak ingin aku pergi dari sini. Baiklah, kita rencanakan ide selanjutnya agar semua ini berjalan lancar. Suatu saat kalian semua akan berlutut memohon kepadaku, camkan itu. -Siska dalam hati-
*Bersambung**
liburan apa cari Gita .. heran aku .. mau diam kok lama lama ga tahan juga ya