Cerita untuk 17+ ya..
Chika terpaksa harus menerima sebuah perjodohan dari orangtuanya. Perjodohan yang membuat Chika menolaknya mentah-mentah, bagaimana tidak? Dia harus menerima pernikahan tanpa cinta dari kakak pacarnya sendiri.
Kok bisa? Chika berpacaran dengan Ardi tapi dinikahkan dengan kakaknya Ardi yang bernama Bara. Seperti apa kelanjutan pernikahan tanpa cinta dari perjodohan ini? Mampukah Bara menakhlukan hati Chika? Lanjut baca Kak..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rena Risma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Visual Bara Alfarel, usia 29 tahun. Suami Chika yang begitu mencintai istrinya. Sosok laki-laki di masa lalu Chika saat Chika mendapatkan beasiswa kuliah diluar negeri.
Visual Chika Andita, usia 27 tahun. Wanita yang awalnya sangat membenci laki-laki bernama Bara. Pada akhirnya mulai mencintai sosok laki-laki yang kini menjadi suaminya.
Visual Ardi Alfian, usia 27 tahun. Pacar Chika, yang harus merelakan pacarnya menikah dengan Kakaknya sendiri. Tidak bisa move on dari cinta masa lalunya.
Ini visual versi Author ya, kalian bebas bervisual sesuai imajinasi kalian.
Pagi harinya, aku bersiap mengemas pakaian aku dan Bara. Setelah mendengar izin dari suamiku, rasanya hatiku sedikit tenang. Aku memasukkan semua pakaian kedalam sebuah koper besar.
"Sayang, kau sudah siap?" tanya Bara yang sudah rapi sambil menggendong bayi Alghi.
"Sebentar lagi," ucapku.
"Aku tunggu diruang tamu ya!" ucap Bara.
"Iya."
Bara lalu berjalan meninggalkan aku, aku masih membereskan semua barang-barang ku. Entah kenapa aku merasa bahagia, beban dipundak yang selama ini membebaniku akhirnya hilang.
Tapi tiba-tiba Ardi melangkah masuk kedalam kamarku. Aku terkejut, kembali detak jantungku berdegup kencang.
"Mau apa kau?" tanyaku.
"Aku merindukanmu," bisiknya yang begitu menjijikan.
"Jangan ganggu aku! Bukankah kau sudah memiliki kekasih sekarang. Jadi, lupakan aku!" ucapku.
"Kekasih mana yang sedang kau bicarakan?" tanya Ardi sambil memeluk tubuhku.
"Ardi, lepaskan aku! Aku ini istri Kakakmu. Aku mohon jangan lakukan ini padaku."
"Istri Kakakku? Tapi Kak Bara merebut mu secara paksa. Aku bahkan sampai detik ini belum bisa melupakanmu."
"Lalu wanita itu, wanita kemarin malam bercinta denganmu di kamar..."
"Dia wanita bayaran, yang sudah ku sewa untuk memenuhi hasrat ku. Karena wanita yang ku cintai, kini ingin melihat kehancuran ku."
"Apa maksudmu? Aku tidak ingin melihatmu hancur. Aku ingin lihat kau bahagia bersama wanita yang kau cintai."
"Tapi wanita yang aku cintai itu kau, Chika!" Ardi berteriak keras, membuat aku takut.
"Kalau kau ingin melihat aku bahagia, tinggalkan Kakakku dan menikahlah denganku. Aku akan kembali menjadi Ardi, kekasihmu yang dulu." Ucap Ardi lagi.
Aku menangis mendengar kata-kata yang diucapkan Ardi. Kenapa terdengar begitu menyakitkan? Kenapa aku harus dihadapkan dengan situasi serumit ini.
"Aku minta maaf, aku mohon lupakan aku!" ucapku diiringi tangis.
"Aku tidak akan pernah melupakanmu. Kau itu pacarku. Bahkan sampai kau menikah dengan Kakakku, kau tetap pacarku. Tidak pernah terucap kata pisah dari kita, kan!" ucap Ardi.
"Ya sudah. Mulai sekarang kita putus. Akhiri semua cinta kita dimasa lalu," ucapku.
"Tidak akan," ucap Ardi yang semakin memelukku erat.
"Ardi, lepas!"
Ardi melepaskan pelukannya, aku segera mengambil koperku keluar kamar. Tapi tangan Ardi kembali mencegahku.
"Mau kemana?" tanyanya.
"Aku akan keluar dari rumah ini. Kembalilah menjadi Ardi yang dulu. Jangan pernah kecewakan kedua orang tuamu," ucapku sambil melangkah meninggalkan Ardi.
"Aku tidak akan melepaskan mu! Walau kau meninggalkan rumah ini sekalipun. Aku akan terus mengejarmu dan menjadi bayang-bayang masa lalumu. Dengar itu Chika!" ucap Ardi.
Aku tidak perduli, aku melangkah menuju ruang tamu. Bara sedang mengobrol dengan kedua orangtuanya, hingga kehadiranku menghentikan perbincangan mereka.
"Sudah selesai sayang?" tanya Bara.
Aku hanya mengangguk, Ibu memberikan Alghi yang digendongnya kedalam pelukanku.
"Apa harus pergi Chika? Bagaimana dengan Ibu? Kau tega membiarkan Ibu kesepian lagi?" ucap Ibu.
"Maaf Ibu," ucapku pelan.
"Ya sudah, tidak apa-apa! Ibu mengerti situasi yang kau hadapi," ucap Ibu.
"Ingat, jika kalian mengalami masalah, jangan sungkan meminta bantuan kami," ucap Ayah.
Aku dan Bara hanya tersenyum sambil bersiap keluar dari rumah itu. Tapi tiba-tiba langkah kakiku terhenti, saat Alesha keluar dari kamar.
"Kak Chika mau kemana? Aku ikut ya Kak," ucap Alesha.
"Alesha tinggal dengan Ibu dan Marcell saja disini," ucap Ibu.
"Tidak. Aku akan ikut Kak Chika!" ucap Alesha sambil memegang erat tanganku.
"Bagaimana Chika?" tanya Ibu.
"Biarkan Alesha ikut bersama kami. Tidak apa kan?" ucap Bara.
Ibu hanya mengangguk diiringi air mata haru yang jatuh di pipinya. Beberapa kali Ibu menciumi pipi Alesha, terlihat begitu menyayangi adikku seperti anaknya sendiri.
"Sering-sering main kesini ya! Ibu akan sangat merindukanmu," ucap Ibu sambil memeluk tubuh Alesha.
"Iya." Jawab Alesha singkat.
Kami masuk kedalam mobil, dan pergi meninggalkan rumah itu. Bara masih fokus menyetir, aku lihat Alesha sedang menatap kaca jendela mobil. Aku bahagia, akhirnya aku bisa menjauh dari bayang-bayang masa laluku.
Ada sejuta rasa bahagia yang tidak bisa ku ungkapkan. Ini adalah keinginanku sejak lama. Aku ingin pergi dari rumah itu, memulai semuanya bersama Bara, tanpa ada bayangan Ardi diantara kami.
Mobil itu berhenti disebuah rumah cukup besar, rumah sederhana dengan dua lantai. Aku keluar dari mobil masih menggendong Alghi yang terlelap tidur.
"Ini rumah kita?" tanyaku sambil tersenyum.
Bara mengangguk sambil memeluk tubuhku, menciumi pipiku penuh cinta.
"Ayo masuk! Alesha, kau juga masuk," ucap Bara sambil menggendong adikku.
Kami masuk kedalam rumah itu, rasanya aku merasa sangat bahagia. Bara menurunkan Alesha dari gendongannya.
"Kamarmu disana," ucap Bara sambil menunjuk pintu kamar yang terbuka.
"Asyik, aku punya kamar sendiri," teriak Alesha sambil berjalan masuk kedalam kamarnya.
"Aku juga penat, aku mau istirahat sambil menidurkan Alghi," ucapku.
"Kamar kita dilantai atas," ucap Bara.
Aku naik kelantai atas, lalu beristirahat dikamar itu sampai terlelap dalam tidur. Aku bangun, lalu menatap wajah Bara yang terlelap disampingku. Wajah tampan dan ramah yang selalu membuatku jatuh cinta dengan semua kebaikannya.
Aku bangun dari tempat tidur, lalu menatap ponsel Bara yang tergeletak di atas meja. Entah kenapa aku penasaran ingin membukanya. Aku duduk di sofa, lalu membuka ponsel itu. Aku menatap layar ponsel itu sambil tersenyum. Bara menjadikan foto kami sebagai foto layar di ponselnya.
Aku merasa senang sekali, ternyata Bara benar-benar begitu mencintaiku. Aku masih mengotak-atik ponsel itu. Lalu aku membuka pesan di ponsel itu. Tidak ada yang mencurigakan, hanya ada pesan dari klien-kliennya. Aku menutup ponsel itu, hatiku merasa bahagia. Kenapa? Hal sekecil itu saja bisa membuatku merasa bahagia.
Aku merasa beruntung bisa menjadi istri Bara. Kenapa denganku? Aku bahagia sekali, sangat bahagia. Terimakasih Tuhan telah menghadirkan Bara didalam hidupku.
Tetap tunggu kelanjutan cerita Chika dan Bara, jangan lupa beri dukungannya.
Terimakasih.💕
Pokoknya aku ga mau .............................
Tapi Kalo Ganteng, Baik, keren 👍👍👍 Aku mau 😂😂😂