Jeany adalah gadis yang tak pandai bergaul karena memiliki fobia sosial. Hidupnya tak lagi sama sejak ia kehilangan kesuciannya.
Rasa bersalah karena telah merenggut kesucian Jeany membuat Kevin ingin selalu menjaga gadis itu sebagai seorang sahabat. Tanpa disadari, perhatian yang ia berikan membuat Jeany jatuh hati padanya. Gadis itu harus tersiksa karena sakitnya cinta sepihak. Namun ia tahu tidak mungkin memiliki Kevin, yang telah menambatkan hatinya pada kekasih cantik bernama Stevi.
"Apa aku gak boleh mempertanggungjawabkan perbuatanku? Kamu tahu aku selalu dihantui rasa bersalah!" -Kevin-
"Kamu egois. Kamu cuma mau ngilangin rasa bersalahmu. Tapi aku ... di sini aku sakit!" -Jeany-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rou Hui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersiksa dengan Rasa Bersalah Ini
"Pakai ini."
Jeany merasakan sesuatu menyentuh bahunya. Rupanya Kevin menyampirkan jaketnya pada pundak gadis itu, membuatnya tertegun. Pemuda itu begitu perhatian padanya, padahal tadi ia hanya berbohong.
Kevin ... Apa aku egois kalau berharap kamu bisa terus seperti ini?
"Kenapa gak dipake? Bau ya?" tanya Kevin sambil meringis. Ia baru sadar jaket tersebut memang sudah lama belum dicuci, hanya teronggok di kursi bagian tengah mobilnya. Entah mengapa ia selalu lupa membawanya ke binatu. Namun, ada untungnya juga ia lupa, karena ia jadi bisa meminjamkan jaket tersebut pada gadis di hadapannya.
Jeany otomatis menajamkan indera penciumannya. Namun ia justru mendapati wangi yang familiar. Ia memang tidak terlalu mengingat kejadian malam itu, entah obat apa yang Rika berikan padanya. Ia hanya mengingat ketika Kevin menciuminya, dan mengingat wangi segar menyenangkan yang membuatnya memasrahkan tubuhnya pada pemuda itu. Wajah Jeany seketika memanas.
"Kok muka kamu merah? Kamu gak enak badan? Apa mau pulang sekarang?" tanya Kevin khawatir. Gadis di hadapannya dari tadi tidak menjawab pertanyaannya, malah kini wajahnya memerah. Ia merasa ceroboh membawa Jeany makan di tepi laut dan membuatnya terkena angin malam. Bagaimana bila gadis itu sampai sakit?
"Gak, gapapa kok. Oya, tadi waktu kamu ke toilet Stevi telpon," kata Jeany sambil mengenakan jaket Kevin.
"Stevi telpon?"
Wajah Kevin langsung berubah sumringah. Ia segera membuka ponselnya, tetapi sejenak ragu-ragu saat melihat wajah Jeany.
"Kamu beneran gapapa? Kalau mau pulang ayo kita pulang sekarang."
"Gapapa kok. Beneran."
"Kalo gitu aku telpon Stevi dulu ya," ucap Kevin sambil tersenyum senang. Jeany memperhatikan pemuda yang ia sukai berbicara di telepon dengan kekasihnya.
"Halo, Stev? Sorry tadi waktu kamu telpon aku lagi di toilet."
"Belum tidur ini. Masih makan di Pluit."
"Sama Jeany."
"Iya berdua aja."
"Gak, aku yang ngajakin. Tadi habis beli kado buat Enzo juga."
"Oh iya oke met tidur ya mimpi indah."
Kevin mengakhiri panggilannya dengan wajah bingung. Ia melihat ke arah Jeany. "Kok Stevi agak beda ya?"
"Beda gimana?"
"Biasanya dia banyak ngomong. Tapi tadi suaranya kayak lesu gitu. Apa dia sakit ya?" ujar Kevin sambil menggaruk kepalanya.
Kenapa hari ini semua cewek pada sakit?
"Sakit hati kali, Vin."
"Hah? Kok bisa?"
"Ya habis tadi kamu bilang pergi makan berdua aja sama aku. Dia pasti gak sukalah," ucap Jeany tiba-tiba merasa simpati pada Stevi. Bagaimanapun ia juga seorang perempuan.
Kevin tertawa. "Enggalah. Stevi itu gak cemburuan orangnya. Lagian aku selalu bilang kalo kita sahabatan. Jadi dia pasti ngerti."
"Oh .... Stevi itu pacar pertama kamu kan?"
"Iya."
"Apa yang bikin kamu suka dia?"
Jeany bertanya dengan perasaan berdebar-debar. Ia tahu hatinya akan sakit setiap kali mendengar Kevin membicarakan sang kekasih, tetapi ia tidak dapat menahan rasa ingin tahunya.
"Hmm .... Apa ya? Mungkin karna dia cantik?" jawab Kevin sambil berpikir keras.
"Haah?"
Harus diakui, Jeany sedikit kecewa mendengar jawaban Kevin. Tadinya ia mengira akan mendengar jawaban super romantis dari laki-laki yang akhirnya menemukan tambatan hati setelah sebelumnya menolak berpacaran. Namun yang didapatinya adalah jawaban khas laki-laki hidung belang yang hanya memedulikan penampilan luar seorang perempuan.
"Yang jelas waktu aku memutuskan untuk pacaran, aku sudah menegaskan ke diriku sendiri harus dengan cewek yang baik. Karna aku mau pacaran serius. Ya Stevi itu baik. Plus dapat bonus dia juga cantik," jelas Kevin dengan mata menerawang, tetapi bibirnya membentuk senyuman.
"Kalo baik cewek lain juga banyak yang baik. Maksudku, kenapa harus Stevi?" Jeany masih tidak puas dengan jawaban Kevin.
"Entahlah. Cinta itu datang tiba-tiba. Aku juga bingung kalau ditanya kenapa bisa cinta dia."
Cinta dia .... Kata-kata itu terdengar begitu menyakitkan bagi Jeany.
"Lalu ... kenapa dulu kamu gak mau pacaran?"
"Ada rasa takut untuk pacaran."
"Oh. Rahasia yang mau kamu ceritain, bisa kamu ceritain sekarang?"
Kevin mengangguk. "Tapi jangan bilang siapa-siapa ya. Aku cuma cerita ini ke kamu."
"Stevi juga gak tahu?"
Kevin menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Oh. Iya aku gak bakal cerita siapa-siapa," janji Jeany. Perasaannya berbunga-bunga karena pemuda yang dicintainya mempercayakan rahasia padanya.
"Papaku pernah satu kali khilaf dalam hidupnya," ucap Kevin mengawali ceritanya.
"Eh?"
"Suatu hari dia pergi minum-minum dengan kolega bisnisnya. Sampai mabuk. Kolega bisnisnya menawarkan jasa wanita penghibur. Karena mabuk, papaku mengiakan."
Wajah Jeany jadi pucat. Sedikit banyak kisah papa Kevin memiliki kemiripan dengan kisahnya dan Kevin. Bedanya, ia bukan wanita penghibur.
"Karena merasa bersalah, papaku mengakui semuanya ke mamaku. Waktu itu aku masih kelas enam SD kalo gak salah. Mamaku jadi stres berat. Dia merasa jijik sama papaku dan gak mau tidur sekamar untuk waktu yang cukup lama. Selain itu ada ketakutan terkena penyakit juga. Setiap hari aku melihat mamaku marah-marah dan menangis. Jujur hal itu bikin aku takut menjalin hubungan dengan perempuan. Aku jadi berpikir s*ks itu sesuatu yang menjijikkan."
Jeany terperangah mendengar cerita Kevin. Pemuda itu benar-benar gamblang menjelaskan masa lalunya.
"Tapi aku justru melakukan kesalahan yang sama dengan papaku. Aku gak bisa nahan diri waktu sama kamu. Aku benar-benar merasa bersalah .... Kamu gak tahu betapa tersiksanya aku dengan rasa bersalah ini!"
Akhirnya Kevin mengeluarkan isi hatinya pada Jeany. Perasaan bersalah yang selalu menghantuinya benar-benar menyiksa. Ia sudah tidak bisa memendamnya lebih lama lagi.
"Aku harus gimana, Jean? Setiap lihat kamu aku jadi teringat malam itu .... Aku tahu aku berengsek karna gak bertanggung jawab ...."
Jeany melihat ke kiri dan ke kanan karena takut ada yang mendengar percakapan mereka. Untung saja tidak ada orang lain di dekat mereka. Sebagian besar pengunjung kafe telah pulang karena hari telah begitu larut. Gadis itu tidak sampai hati melihat Kevin yang begitu terpukul.
"Gak ada yang perlu disesali. Semua udah terjadi. Aku malah bersyukur itu kamu, bukan om-om mesum itu."
Kevin mengusap wajahnya penuh penyesalan. "Aku udah merusak kamu."
"Vin, sekarang aku tanya kamu. Seandainya Stevi udah gak perawan, apa kamu bakal keberatan dan mutusin dia?"
Jeany bertanya sambil melihat langsung ke mata Kevin. Entah sejak kapan pembicaraan di antara mereka berdua menjadi begitu terbuka tanpa ada rasa malu lagi. Ia melihat Kevin berpikir sejenak sebelum menjawab, "Engga. Aku tetap terima dia apa adanya."
Jeany memberi senyum tulus. "Jadi kamu gak perlu lagi merasa bersalah. Aku yakin di luar sana akan ada laki-laki yang juga mau menerima keadaanku." Ia ingin menghilangkan perasaan bersalah Kevin, walaupun tahu menyebut laki-laki lain mungkin akan membuatnya semakin jauh dari pemuda yang dicintainya itu.
"Kalo gak ada?" tanya Kevin sangsi.
"Kalo gak ada aku bakal cari kamu supaya tanggung jawab."
Jawaban Jeany membuat Kevin tertawa. Entah ia harus merasa lega atau tidak mendengarnya.
"Makasih banget ya, Jean. Aku tetap akan lakukan yang terbaik buat kamu." Kevin mengucapkan janjinya dengan sungguh-sungguh.
"Iya."
Mereka berdua menjadi pengunjung terakhir yang meninggalkan kafe. Di dalam mobil, Jeany teringat cerita Kevin yang belum tuntas.
"Trus, Vin, gimana akhirnya papa ama mama kamu bisa baikan?"
Yeahhh, sesuka ini aku sama novelmu🫠
novel " dipaksa bercerai"
sdh berapa tahun vacun Thor, sejak corona sampai sekarang