Agnes Nugraha gadis remaja yang ceria dari keluarga sederhana memiliki paras yang cantik pertemuannya yang tanpa di sengaja dengan seorang pemuda kota yang ternyata seorang CEO suatu perusahaan besar di kota membuat hidupnya berubah.
Seperti apa? ikuti ya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Radit datang sedikit terlambat sore ini di karenakan ada klien yang memaksa ingin bertemu sore itu. Namun, Radit sudah tau pasti jika klien tersebut ingin memperkenalkan putrinya kepada Radit membuat Radit jengah. Dengan tampang lelah Radit masuk ke dalam dan terlihat Mama Retno tengah berbincang bersama Papa Jamal.
"Sore Ma Pa."
"Loh, ada apa Dit?" Papa Jamal.
"Radit hanya lelah Pa. Radit ke kamar dulu bersih-bersih." Pamit Radit.
"O iya Ma. Dimana Agnes?" Tanya Radit mengingat jika kekasih hatinya ada di rumah orang tuanya.
"Di kamar bersama Raya dan Meli." Mama Retno.
"Randi sudah pulang?" Radit.
"Belum. Karena Ikbal terburu-buru maka Randi yang menyelesaikannya Dit." Papa Jamal.
"Hm.. Baiklah. Radit percaya Randi bisa menangani semuanya." Radit.
Kemudian Radit pun meninggalkan kedua orang tuanya untuk membersihkan diri. Sementara di dalam kamar tamu Agnes merasakan kedatangan Radit. Namun, beberapa saat menunggu kehadiran Radit tak jua datang.
"Kakak kenapa?" Tanya Raya yang melihat Agnes sedikit gelisah.
"Tidak kenapa-napa. Memangnya aku kenapa?" Ranya Agnes balik.
"Kakak terlihat gugup. Ada apa?" Meli.
"Hah... Hm... Ga ada apa-apa kok." Agnes.
"Kakak kangen Kak Radit ya?" Raya.
Agnes hanya tersenyum menjawab pertanyaan Raya. Meli merasa gemas melihat tingkah Agnes karena walau bagaimana pun Agnes usianya lebih muda darinya. Agnes memang selalu bersikap dewasa ketika berhadapan dengan Meli dan Raya namun Agnes akan bersikap manja ketika bersama Radit.
Tok.. Tok...
"Ya."
Pintu terbuka dan memperlihatkan Radit yang sudah terlihat rapi dan santai menggunakan kaos dan celana pendek. Agnes langsung bangun dan menghambur dalam pelukan Radit dan Radit pun menyambut dengan hangat. Meli dan Raya tersenyum melihat Agnes.
"Kak Agnes nya Kakak pinjam dulu ya." Radit.
"Oke." Jawab Raya dan Meli kompak.
Radit membawa Agnes ke taman belakang, mereka duduk berdua di bangku dekat kolam renang. Agnes terus menyandarkan kepalanya di dada bidang Radit. Radit dengan lembut mengusap punggung Agnes.
"Ada apa hm?" Tanya Radit yang mengerti akan sikap Agnes.
Agnes melerai pelukannya dan menatap Radit dalam.
"Ada apa? Ada yang mengganggu fikiran kamu sayang?" Tanya Radit lagi dengan lembut.
"Mas..."
"Iya sayang."
Kemudian Agnes pun menceritakan semua yang terjadi siang tadi pada Radit. Dan Radit hanya diam menjadi pendengar sambil mencoba memahami dan mencari jawaban atas apa yang Agnes tanyakan.
Begitulah Agnes terhadap Radit. Agnes akan menceritakan apapun yang terjadi padanya tanpa kecuali dan itu membuat Radit senang dan merasa di butuhkan. Radit semakin menyayangi Agnes dan Radit pun akan menceritakan semua yang terjadi padanya sepanjang hari tanpa kecuali.
"Jadi tadi belanja sama Mama?" Tanya Radit.
"Iya Mas. Mama memaksa. Maaf ya." Agnes.
"Tudak perlu meminta maaf sayang. Tidak apa-apa sesekali boleh kok. Kenapa ga pake kartu yang Mas kasih?" Radit.
"Kaya Mama itu di simpan saja Mama yang traktir." Agnes.
"Mungkin Mama merasa tak enak setelah kejadian itu sayang. Mama ingin menghibur kamu." Radit.
"Tapi aku kan ga apa-apa." Agnes.
"Iya sayang. Tapi, memang mereka itu keterlaluan. Tidak sepantasnya kita membandingkan si miskin si kaya atau si kota dan si desa. Karena kita sama di mata Tuhan. Belum tentu orang desa kampungan bisa jadi orang kota yang kampungan. Benar?" Tanya Radit di akhir kalimatnya.
"Hm... Iya sih." Agnes.
"Jadi, Mama seperti itu bukan karena kamu. Mungkin saja Mama sudah geram sejak awal dan ini peluang dia untuk keluar dari sirkel itu." Radit.
"Tapi aku ga enak Mas." Agnes.
"Ngga apa-apa sayang. Teman Mama masih banyak bukan cuma mereka." Radit.
"Bukan itu."
"Lalu."
"Saat Mama membelanjakan aku terus aku malah memilih juga untuk Raya dan Meli. Aku ga mau mereka merasa terabaikan dengan Mama yang hanya membelikan semuanya untuk aku." Agnes.
Radit tersenyum kemudian membawa Agnes ke dalam pelukannya. Radit mendaratkan kecupannya di puncak kepala Agnes dengan penuh rasa sayang.
"Terima kasih sayang, kamu masih mengingat adik-adik tidak hanya memikirkan diri kamu sendiri. Pasti Mama merasa bangga dengan sikap kamu sayang." Radit.
"Mama bilang begitu juga Mas." Agnes.
Tidak ada lagi pembicaraan mengenai Agnes. Setelah tenang Radit pun menceritakan apa saja yang di lakukan nya hari ini termasuk pertemuan mendadak dengan klien yang bertujuan memperkenalkan putrinya pada Radit. Agnes cemburu tentu saja namun Agnes berusaha bersikap wajar dan menanggapinya dengan dewasa. Toh Radit sudah jujur padanya.
"Kakak, di minta masuk sama Papa." Teriak Raya.
Radit mengacungkan ibu jarinya sambil beranjak dari duduknya bersama Agnes. Radit memeluk Agnes dari samping sepanjang jalan memasuki rumah. Bibi merasa senang melihat perubahan Radit menjadi lebih hangat dan ramah setelah bertemu dengan Agnes.
"Sini sayang duduk." Pinta Mama pada Agnes.
Agnes pun duduk di samping Mama Retno yang sudah ada Meli di samping kanannya.
"Sudah selesai Ran?" Tanya Radit pada adiknya.
"Beres dong Kak. Hari senin nanti Kak Ikbal tidak ke kantor Kakak ya." Randi.
"Sip." Radit.
"Bagaimana Kakak tadi berbelanja dengan Mama senang?" Tanya Papa Jamal.
"Kakak belum perlu itu Pa. Tapi Mama memaksa." Rengek Agnes dan semua itu membuat Papa Jamal tertawa.
"Tidak apa-apa Nak. Jika Mama meminta kalian berbelanja manfaatkanlah situasi itu dengan baik." Papa Jamal.
"Tuh kan Kak Papa ga marah. Kak Radit juga pastinya ga akan marah karena uang dia aman." Raya.
"Hahaha... Kamu ini dek." Papa Jamal.
"Ma Pa. Bulan depan Mama Papa Meli akan pergi ke luar ada acara sekalian mengurus perusahannya di sana. Jadi, sebelum mereka pergi Randi akan melamar Meli." Randi.
Bukan hanya Papa Jamal dan Mama Retno yang terkejut melainkan Meli sendiri juga terkejut pasalnya Randi tak mengatakan apapun padanya perihal lamaran ini. Karena mereka berencana akan mengadakan acara setelah pernikahan Agnes dan Radit.
"Wah, bagus itu." Mama Retno.
"Kamu atur saja waktunya biar Mama persiapkan segalanya." Papa Jamal.
"Randi sudah bilang sama Papa Meli. Kalo kita akan adakan acara di akhir bulan ini Pa. Setelah ujian." Randi.
Mata Meli berkaca-kaca mendengar ucapan Randi. Meli benar-benar tidak menyangka jika Randi akan menikahinya. Karena selama ini Randi masih belok kanan dan kiri walau tak dapat di pungkiri semua juga atas ijin darinya.
"Selamat ya Kak Meli." Ucap Raya tulus.
"Selamat sayang." Agnes.
Mereka bertiga saling berpelukan dan butiran bening pun tak dapat di tahan lagi dari kelopak ketiganya. Agnes dan Meli merasa beruntung menjadi bagian dari keluarga Papa Jamal dan Mama Retno. Karena mereka tak membedakan kelas atau apapun. Terutama Agnes yang berasal dari keluarga biasa.
🌹🌹🌹