Rezza pria tampan dan mempunyai kehidupan cukup mapan sejak lahir dengan terpaksa harus menerima perjodohan dari ibunya dengan seorang wanita yang bernama Artiya sepupu dari kekasihnya sendiri,yang menurut Rezza wanita itu sama sekali tidak menarik dilihat dari segi manapun juga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon triy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AMEL MELAHIRKAN
Sudah hampir tiga bulan Rezza dirawat diSingapura,dan alhamdulillah dia sudah bisa membuka matanya.
Namun semenjak Rezza bangun tatapannya terlihat kosong,Rezza sama sekali tak mau berbicara ataupun menjawab pertanyaan dari siapapun,bu Sanusi dan Anapun selalu menyemangati Rezza supaya bisa pulih seperti dulu lagi.
Semenjak Amel dibawa pulang oleh pak Sudiman dan bu Suriyah,diam diam dia masih menemui Surya yang datang dari kota M seminggu sekali untuk melepas rindu dengan Amel.
Mereka bertemu dihotel,mereka memilih tempat yang agak jauh dari rumah Amel,sebab takut ketauan oleh kedua orangtua Amel ataupun orang yang dikenal oleh Amel.
Amel dan Surya selalu melakukan hubungan intim saat bertemu,Amel selalu beralasan kepada kedua orang tuanya jika ia menginap dirumah temannya saat menemui Surya.
Amel juga tak begitu menghiraukan jadwal pemeriksaan kandungannya,sehingga dia sering melewatkan jadwal pemeriksaanya,Amelpun tak pernah meminum vitamin yang diberikan oleh dokter untukknya,dia selalu mengabaikan anjuran dari dokter untuk kebaikan kandungannya.
Bulan ini kandungan Amel sudah memasuki bulan kesembilan,sudah waktunya Amel melahirkan,namun Amel tak menyadari hal itu,saat ini dia justru berada dalam perjalanan kehotel untuk bertemu dengan Surya.
Padahal Roni sudah mentransfer uang jatah bulanan dari Rezza untuk Amel semenjak Rezza sakit,
bukannya digunakan untuk merawat kandungannya ataupun ditabung untuk persalinannya nanti,Amel malah menggunakan uang itu untuk bersenang senang dengan Surya.
Sesampainya dihotel Amel mengeluh sakit dibagian perutnya,
"beb...perutķu terasa kurang enak" keluh Amel pada Surya,
"apa udah waktunya melahirkan sih beb?" tanya Surya menduga,
"nggak tau,sekarang udah 9bulan sih,aku melewatkan dua kali pemeriksaan kemaren" jawab Amel,
"yang kamu pikirin cuman main kuda kudaan aja sih beb" ledek Surya,
"mainnya kan juga sama kamu,lagian kamu nggak puaskan kalo ketemunya nggak pake gituan?" ucap Amel cuek.
"semakin hari kamukan semakin montok beb,ya aku nggak tahanlah liatnya"
"penginnya tancap gas muluk kalo aku liat kamu" ucap Surya penuh gairah.
"nggak kasian apa diperutku ini ada bayi kamu lho beb?",protes Amel,
"halah...dia pasti juga ngerti,bapaknya pengin nengokin dia muluk" ucap Surya cuek sambil mengelus elus perut buncit Amel.
"aku udah nggak tahan ini beb"desah Surya ditelinga Amel,
"tapi perutku sedikit sakit Surya" protes Amel,
"entar kalo keenakan juga ilang sendiri sakitnya" jawab Surya enteng,
Tanpa membuang waktu lagi Suryapun menubruk Amel yang duduk bersandar didinding ranjang,Amel merasa jengkel dengan kelakuan Surya yang brangasan(kasar),namun dengan kelihaian Surya akhirnya Amelpun menikmatinya juga.
Amel melupakan rasa sakit diperutnya sebentar tadi,kali ini Surya melakukan dengan pelan sebab Amel menjerit kesakitan saat Surya terlalu kuat mengayunkan senjatanya.
Mereka melakukan itu hanya sekali, sebab Amel merasa perutnya mulai mengeras dan muĺas,semakin lama rasa sakit itu semakin sering Amel rasakan,
sehingga Surya yang melihat keadaan Amelpun merasa tak tega juga,kemudian Surya menyudahi permainannya.
"ayo kita kerumah sakit beb!"ajak Surya cemas,
"jangan jangan udah mau brojol lagi"lanjutnya,
Amel hanya mengangguk pasrah dengan ajakan Surya sebab menahan rasa sakit diperutnya,lalu Surya bertanya kepada petugas hotel dimana rumah sakit terdekat.
Ternyata tak jauh dari hotel itu terdapat klinik bersalin,Suryapun memutuskan membawa Amel pergi kesana.
kemudian Suryapun memanggil taxi untuk mengantarkan Amel keklinik tersebut.
Didalam taxi Amel sudah menjerit kesakitan,Suryapun merasa panik dengan keadaan Amel,dia meminta supir taxi tersebut melajukan kendaraanya lebih cepat lagi,dia takut Amel akan melahirkan didalan taxi dan Surya tak akan bisa membantu Amel.
Sesampainya diklinik Amel langsung dibawa kedalam ruang bersalin,suster menawarkan Surya untuk menemami Amel namun Surya menolakknya sebab dia merasa takut dan tidak mempunyai pengalaman sama sekali untuk menemani orang bersalin.
Hampir dua jam Amel menjerit jerit kesakitan didalam ruang persalinan,terdengar suster dan bidan yang menangani Amel menenangkannya.
Setelah berjuang sekian lama,terdengar juga ucapan syukur para tenaga medis yang membantu Amel bersalin.
Surya bingung kenapa tak ada suara tangis bayinya yang terdengar,
setelah menunggu dalam kecemasan ada salah seorang suster yang keluar menemui Surya,
"selamat pak putri anda sudah lahir"
"mari silahkan masuk kedalam untuk mengazankan putri bapak" ucap suster itu dengan sopan,
Suryapun mengikuti arahan dari suster itu untuk masuk kedalam ruang persalinan,disana terlihat Amel yang masih terbaring lemas dan sedang ditangani oleh bidan,lalu salah seorang suster memberikan bayi perempuan yang cantik dan mungil kepasa Surya untuk diazankan.
Surya melihat tak percaya,saat ini yang ada dipangkuannya adalah bayinya yang baru saja dilahirkan oleh Amel,rasa takjub sebentar menghampiri hati Surya.
Lalu Surya kebingungan,dia tak tau sama sekali cara mengazankan bayinya,dengan isyarat lambaian tangan kepada salah seorang suster, Surya memanggil,setelah suster itu mendekat,dengan berbisik diapun berkata "maaf mbak..saya nggak tau caranya mengazankan bayi"
suster itupun tercengang dengan ucapan Surya barusan,lalu dengan ramah ia menawarkan bantuan untuk mencari orang yang bisa mengazankan bayinya.
Tanpa pikir panjang Suryapun mengiyakan tawaran tersebut.
Malu sebenarnya yang dirasakan oleh Surya,tapi Surya memiliki jiwa yang cuek sehingga dia tak menghiraukan pandangan orang laen terhadapnya.
Setelah selesai ditangani dan dipindahkan keruang rawat inap, Amelpun mengabarkan kedua orang tuanya bahwa dia baru saja melahirkan seorang putri.
Dengan perasaan yang gembira kedua orang tua Amelpun bergegas pergi
keklinik yang Amel sebutkan tadi.
Dikota J tepatnya dikampung,setiap hari Tiya membantu utinya membuka warung soto yang dibuka disebelah kantor kecamatan didaerah itu, tak jauh dari rumah mbah kakung dan utinya,
Sebelum Tiya datang, tidak setiap hari warung itu ramai dengan pengunjung,bukannya sebab tidak enak tapi sebab kalah saing dengan warung warung yang menyajikan menu menu moderen,maklum warung milik utinya Tiya adalah warung lama.
namun setelah Tiya membantu utinya, warung itu menjadi sangat ramai,kebanyakan pengunjungnya adalah kaum adam.
Terkadang Tiya sampai kwalahan melayani para pelanggan yang datang.
Tak bisa dipungkiri jika Tiyalah yang menjadi magnet dari warung soto utinya tersebut.
Kini kandungan Tiya sudah memasuki lima bulan lebih,namun perutnya yang sudah mulai membuncit itu tidak terlihat , sebab Tiya memang berperawakan langsing,apalagi setiap hari dia selalu mengenakan baju yang longgar dan kepalanya selalu tertutup hijab,jadi Tiya terlihat seperti wanita yang masih lajang dan tidak sedang mengandung.
Berkali kali kakung dan uti Tiya menanyakan kenapa Tiya tak kunjung dijemput oleh suaminya ataupun kembali ke kota S,Tiya selalu beralasan bahwa Rezza sedang sibuk dengan pekerjaanya dan Rezza membebaskan Tiya tinggal bersama kakung dan utinya seberapa lama yang Tiya mau.
Kakung dan utinya Tiya sebenarnya menaruh curiga jika ada masalah dengan hubungan Tiya dan suaminya,namun mereka tak memaksa Tiya untuk menceritakan masalah rumah tangga cucu perempuanya tersebut.
Mereka takut Tiya tidak akan merasa nyaman tinggal dengan kedua orang tua itu jika mereka tetap memaksakan Tiya untuk bercerita tentang masalah rumah tangganya dengan Rezza.
Jadi mereka berharap Tiya sendiri yang akan berterusterang kepada kakung dan utinya.
Diwarung utinya, banyak pelanggan laki laki yang masih bujang menaruh hati pada Tiya,mereka berlomba lomba untuk mendekati Tiya.
Ada yang sudah menyatakan cinta, malah ada juga yang ingin melamar Tiya lewat utinya,namun dengan tegas Tiya menjelaskan pada mereka bahwa Tiya sudah bersuami dan sekarang sedang mengandung anak dari suaminya.
Selama Tiya tinggal dengan kakung dan utinya dikampung itu,para kaum adam yang ingin mendekati Tiya tak pernah sekalipun melihat keberadaan suami dari Tiya, hal itu dijadikan alasan mereka untuk menyangsikan pernyataan Tiya yang telah bersuami.
Mereka mengira Tiya hanya ingin mencari alasan supaya mereka tidak mendekati Tiya,jadi ada dari para laki laki itu yang masih nekat mendekati Tiya,salah satunya adalah Herman.
Herman adalah pria bujang yang usianya menginjak 33tahun,dia bekerja dikecamatan sebagai seorang setaff.
Sebelum Tiya tinggal dan membantu utinya diwarung sotonya,Herman jarang sekali jajan diwarung soto utinya Tiya, sebab dia memang kurang suka dengan menu soto.
Semenjak dia tau,pemilik warung soto dekat tempat kerjanya mempunyai cucu yang lumayan ayu,sekarang diapun menjadi pelanggan tetap diwarung utinya Tiya.
Bahkan setiap hari Herman menjadi penikmat makanan soto.(cinta memanglah buta dan menjadikan orang bertingkah aneh hehehe)
Berkali kali Herman mengajak Tiya berkencan,dan Tiya selalu menolaknya, sebenarnya Tiyapun sudah berkali kali pula menjelaskan setatusnya kepada Herman.
Namun Herman masih ngeyel sebab dia belum pernah melihat keberadaan suami dari Tiya.
Tiya tidak bisa menunjukkan foto pernikahannya sebab sewaktu pergi dia tidak sempat membawanya,Tiya hanya bisa menunjukkan cincin yang melingkar dijari manisnya,tapi sayang itupun tak membuat Herman ataupun yang lain percaya.
Herman dan para penggemar Tiya banyak yang meminta nomor hendpone, namun Tiya tidak memberkannya sebab sewaktu Tiya kembali dari kota M handpone Tiya telah hilang dan sama sekali tak punya niat memberikanya juga,
waktu itu keadaan Tiya sangatlah kacau sehingga dia tak menyadari jika ponselnya telah hilang.
Jadi setelah kehilangan ponsel Tiyapun tak berniat membeli ataupun memiliki ponsel lagi,Tiya hanya ingin hidup tenang dikampung halaman almarhum ayahnya.
Bukannya mendapat ketenangan,justru Tiya malah mendapat masalah baru yaitu dipusingkan dengan tingkah laku para adam yang mengejar cintanya.
Seminggu telah berlalu,setelah Rezza sadar dan telah banyak menunjukkan kemajuan,Rezzapun sudah diperbolehkan pulang kembali keIndonesia,dengan catatan harus tetap rutin menjalani terapi dirumah sakit yang dirujuk oleh dokter Rezza dari singapura.
Bu Sanusi dan Anapun merasa gembira dengan kemajuan Rezza,tak henti hentinya mereka mengucap syukur kepada sang pencipta atas mukjizanya untuk Rezza.
Amel dan bayinya sudah dibawa pulang beberapa hari yang lalu, kini Amel sudah mulai pulih dan membuat bu Suriyah pusing tujuh keliling sebab Amel tak mau menyusui bayinya,Amel memang merasa malas dan beralasan putingnya terasa sakit jika dihisap oleh bayinya.
Amel menginap diklinik persalinan hanya sehari semalam.
Sewaktu orang tua Amel belum tiba diklinik tempat Amel bersalin,Surya sempat memberikan nama untuk bayi mungilnya yaitu Putri Sekar Mentari dan setelah itu dia pamit kepada Amel untuk pergi.
Bu Sanusi,Ana dan Rezza tiba diIndonesia pada sore hari,mereka dijemput oleh pak Jono yang sudah menunggu mereka sejak satu jam tadi.
Dengab diduduk dikursi roda Rezza didorong oleh Ana kakak perempuannya dan setelah melihat bu Sanusi dan anak anaknya pak Jonopun dengan cepat menghampiri mereka,
"pripun kabare bu(gimana kabarnya bu)?"tanya pak Jono sopan pada bu Sanusi,
"alhamdulillah pak,seperti yang pak Jono lihat" jawab bu Sanusi ramah,
kemudian bu Sanusi memberi isyarat kepada pak Jono untuk agak menjauh dari Rezza dan Ana,
"Tiya wis ono kabare urung pak?"(Tiya udah ada kabarnya belum pak)
"dereng bu!" ucap pak Jono sedikit menyesal.
mendengar jawaban dari pak Jono barusan, bu Sanusipun hanya menghela nafas panjang lalu mengajak pak Jono kembali menyusul Ana dan Rezza yang sudah menunggu bandara bagian luar.
Sesampainya dirumah, bu Sanusi langsung menghubungi Roni untuk menanyakan tentang perkembangan pencariannya dimana keberadaan Tiya,Roni yang masih berada diJakartapun menjelaskan jika dia sudah mendapat info dari orang kepercayaannya jika Tiya kemungkinan besar berada dikota J,sebab disana Tiya masih mempunyai kakek dan nenek dari almarhum ayahnya.
Mendapat titik terang tentang keberadaan Tiya, bu Sanusipun merasa lega,beliau berencana besuk langsung akan pergi mencari Tiya ke kota J.
Setelah makan malam Tiya dan kakungnya berbincang bincang ringan,kakung Tiya mencoba menasehati cucu perempuanya itu,
"nduk kamu sudah lama ninggalin suamimu!"
"ora apik wong wadon sik wis bebojoan nikninggalake bojone kesuen!"(ndak bagus kalo seorang wanita yang sudah mempunyai suami meninggalkan suaminya terlalu lama)
"nik bojomu ning atine nganti ora ridho koe lungo!,koe bakal nanggung doso sik gede nduk"(jika dihati suamimu tidak ridho kamu pergi,kamu akan menanggung dosa yang besar nduk).
Tiya hanya terdiam dan meresapi nasehat dari kakungnya.
"nik koe ndue masalah karo bojomu,dirembuk sik apik bareng bareng wong loro, goleki solusine"(kalo kamu ada masalah dengan suamimu,mesti dibicarakan dengan baik berdua,dicari solusinya"
"ora kok malah nglungani ngonokui nduk,ora apik!"(bukannya malah pergi seperti itu nduk,ndak bagus).lanjut kakungnya Tiya.
Mendengar nasehat dari kakungnya yang panjang lebar,Tiyapun tak bisa membendung air matanya,ada perasaan bersalah sebab pergi meninggalkan suaminya, namun rasa kecewa dan merasa dihianatipun masih terasa lebih menyakitkan bagi Tiya.
Melihat Tiya yang tak berkata sepatah katapun,dan malah berlinangan air mata,kakung Tiyapun menjadi tak tega.
"kakung karo mbah utimu kie seneng seneng wae nik koe ning kene nduk",(kakung sama mbah utimu itu sangat bahagia selama kamu disini) "wis rasah nangis meneh"(udah nggak usah nangis lagi).
Kemudian kakung Tiyapun merengkuh cucu perempuannya itu sambil menepuk nepuk punggung Tiya supaya Tiya merasa nyaman.
maaf ya guys,ceritanya loncat loncat,sbb aku lgi kurang sehat jadi nggak bisa fokus deh nyari idenya.