Di balik gemerlapnya Los Angeles, Lara Giger (24) terjebak dalam neraka pernikahan bersama suaminya yang posesif dan manipulatif, Billy Davidson (29). Setiap malam tubuhnya disiksa, namun Lara memilih pasrah.
Alih-alih melarikan diri, Lara memilih bertahan di bawah siksaan suaminya demi menghindari caci maki keluarga besarnya yang sejak lama melabelinya sebagai "Anak Sial" dan pembawa petaka jika ia bercerai.
Namun, rahasia masa lalu perlahan mengusik belenggu pernikahan itu.
Di universitas tempatnya belajar, Lara harus berhadapan dengan Darion Vale Knight (25), dosen hukum muda sekaligus pria masa lalu yang memegang komitmen dengannya.
Darion, yang menyadari luka-luka fisik dan batin Lara, bertekad menggunakan keadilan hukum untuk membebaskannya. Sementara itu, Lara terus berjuang mendorong Darion menjauh demi melindunginya dari "kesialan" dirinya.
Di antara jeratan obsesi kejam sang suami dan perlindungan tulus sang mantan kekasih, mampukah Lara merobek sangkar emas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13
Malam yang dingin di Downtown Los Angeles tidak pernah terasa sedemikian kelam.
Rasa sakit yang menjalar di seluruh rusuk dan perut Lara seolah lenyap, tergilas oleh dinginnya tekad yang kini membatu di dalam dadanya. Ia berbaring di atas lantai marmer yang dingin, menatap langit-langit kondominium yang megah—sebuah penjara berlabel rumah yang telah memenjarakan jiwanya selama dua tahun.
Billy berdiri beberapa langkah di hadapannya, napasnya masih terengah-engah. Wajah pria itu dipenuhi oleh campuran antara kemurkaan, kecemasan, dan rasa bersalah yang coba ia tekan kuat-kuat.
Namun, bagi Lara, rasa takut itu sudah sepenuhnya mati. Ketika seorang wanita sudah tidak lagi memiliki alasan untuk bertahan, ketakutannya akan berubah menjadi senjata paling mematikan.
Lara menyapu darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Rasa asin darah membasahi lidahnya, namun hal itu justru memicu senyuman tipis yang teramat dingin di wajahnya yang memar.
Ia tidak tahan lagi dengan sandiwara ini. Ia tidak sudi terus-menerus menjadi korban pasif yang pasrah menerima penganiayaan verbal dan fisik dari pria yang mengaku mencintainya.
Pernikahan busuk ini harus berakhir malam ini juga, dan Lara telah memilih jalan keluar yang terlintas di luar pemikiran orang normal—sebuah keputusan nekat yang siap mempertaruhkan nyawanya sendiri demi menghancurkan Billy Davidson sampai ke akar-akarnya.
Lara secara perlahan mendorong tubuhnya untuk duduk, menyandarkan punggungnya pada pilar batu di dekat pecahan vas bunga. Setiap pergerakan mengirimkan rasa nyeri luar biasa ke tulang rusuknya, namun matanya tetap menatap Billy dengan binar provokasi yang terang-terangan.
"Kau pikir kau sudah menang, Billy?" bisik Lara. Suaranya serak, namun begitu tajam menembus keheningan ruangan.
Billy mengerutkan keningnya, matanya menyipit penuh rasa curiga dan kecemasan yang meningkat. "Tutup mulutmu, Lara. Masuk ke kamar sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaranku!"
Lara justru terkekeh pelan. Sebuah tawa sumbang yang sangat merindingkan. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya yang mulai kembali diselimuti iblis emosi.
"Kau tahu, Billy?" ucap Lara dengan nada suara yang hampir seperti berbisik, seolah-olah sedang membocorkan sebuah rahasia manis. "Tadi siang... aku telah tidur dengannya."
Kalimat itu terlempar ke udara bagaikan bom waktu yang mendadak aktif.
Langkah Billy terhenti seketika. Seluruh persendian tubuhnya menegang keras.
Udara di dalam ruangan terasa membeku. Binar kemurkaan yang tadi sempat mereda kini meledak kembali dengan skala yang jauh lebih dahsyat. Ego pria patriarki yang dominan dalam diri Billy Davidson dihantam tepat di titik paling krusial.
"Apa yang kau katakan...?" desis Billy, suaranya gemetar oleh rasa gila yang mulai menguasai akal sehatnya. Langkah kakinya bergerak mendekati Lara, penuh dengan ancaman mematikan. "Dengan siapa, sialan?!"
"Dengan pria... kekasihku di masa lalu," jawab Lara tanpa ada keraguan sedikit pun. Matanya menatap Billy dengan kilatan penuh kemenangan yang memprovokasi.
"LARA!" jerit Billy menggelegar, melangkah cepat hingga kini berdiri tepat di depan Lara.
Lara sama sekali tidak gentar. Ia melanjutkan kebohongan yang telah ia rancang untuk meremukkan jiwa suaminya, menggunakan nama Darion sebagai pemantik api pembakar yang sempurna.
"Kau tahu, Billy? Dia begitu mendambakanku. Dia menginginkanku setiap saat!" ujar Lara dengan senyuman sinis yang melebar, menikmati setiap detik kepanikan dan kemurkaan yang membakar wajah Billy. "Dan sama sepertimu yang seharian ini bersenang-senang bersama kakak ipar tersayangmu itu... aku juga tidur bersamanya seharian penuh. Kita impas, suamiku."
"KAU WANITA IBLIS!"
Puncak kegilaan Billy Davidson meledak tanpa terkendali lagi. Pria itu berlutut dengan histeris, menyambar leher Lara dengan kedua tangannya yang besar dan kuat, lalu mencengkeramnya dengan tekanan yang sangat mematikan. Punggung kepala Lara terbentur keras ke pilar batu di belakangnya.
Oksigen di dalam paru-paru Lara terputus seketika. Pandangannya mulai memburam saat cengkeraman Billy di tenggorokannya semakin mengetat. Namun, alih-alih memberontak atau memohon ampun, Lara hanya menatap wajah Billy yang memerah padam oleh kegilaan.
"Kau milikku! Kau tidak boleh disentuh oleh siapa pun! AKU AKAN MEMBUNUHMU!" teriak Billy hysteris, suara erangannya menggema di seluruh sudut penthouse mewah itu.
Dengan tangan kanannya yang bebas, Billy melayangkan tinjunya yang brutal tepat ke arah wajah Lara.
BUGH! BUGH!
Hantaman keras mendarat di tulang pipi dan pelipis Lara. Rasa sakit yang memekakkan telinga menusuk otaknya. Darah segar menyembur keluar dari hidung dan bibirnya, membasahi wajah dan gaun yang dikenaikannya. Pukulan bertubi-tubi itu ditujukan untuk menghancurkan kebanggaan wanita di hadapannya.
Namun, di tengah kesadaran yang perlahan meredup dan darah yang mengalir deras memenuhi rongga mulutnya, sudut bibir Lara yang pecah masih sanggup membentuk seulas senyuman sinis.
Melalui sela-sela giginya yang ternoda darah, Lara membisikkan kata-kata terakhirnya sebelum kegelapan merenggutnya.
"Bunuh... aku..." bisik Lara pelan, namun teramat jelas di telinga Billy. "...agar urusanku... denganmu... selesai..."
Brak!
Tubuh Lara terkulai lemas saat kesadarannya benar-benar padam. Cengkeraman tangan Billy melonggar, dan tubuh mungil yang tak berdaya itu terjerembap ke lantai marmer bagaikan boneka kain yang patah.
Keheningan mendadak jatuh menghantam ruangan itu.
Suara napas Billy yang memburu dan berat menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar. Pria itu berdiri kaku, menatap kedua tangannya sendiri yang gemetar hebat dan diliputi oleh bercak darah segar milik istrinya.
Ketakutan yang teramat sangat mendadak menyergap jiwa Billy saat akal sehatnya perlahan kembali dari kegilaan emosi.
"Lara...?" bisik Billy dengan suara yang terputus-putus.
Ia berlutut di samping tubuh istrinya. Wajah Lara yang semula cantik kini dipenuhi oleh memar kebiruan yang mengerikan, luka robek di bibir dan pelipisnya terus mengalirkan darah yang membentuk genangan kecil di atas marmer putih. Lara sama sekali tidak bergerak. Dadanya membusung naik-turun dengan sangat lemah.
"Lara! Bangun, Lara!" jerit Billy panik, menepuk-nepuk pipi istrinya yang dingin.
Rasa penyesalan yang terlambat dan ketakutan akan kehilangan aset berharganya menyatu menjadi kepanikan yang luar biasa. Billy sadar ia telah bertindak terlalu jauh.
Kegilaannya malam ini telah menyeberangi garis yang bisa menutup rapat kasus ini dari publik jika wanita ini sampai tewas di tangannya.
"Tidak, tidak, tidak! Kau tidak boleh mati!" teriak Billy histeris.
Tanpa memikirkan hal lain, Billy langsung merengkuh dan memboyong tubuh Lara yang terkulai lemas ke dalam pelukannya. Pria itu berlari keluar dari penthouse-nya dengan langkah tergesa-gesa, mengabaikan pakaian jasnya yang kini ternoda oleh darah istrinya sendiri.
Ia menyambar kunci mobil, menekan tombol lift dengan panik, dan segera melarikan sedan mewahnya membelah kegelapan malam Los Angeles menuju St. Jude Memorial Hospital—rumahsakit swasta terdekat.
Selama perjalanan, Billy terus menoleh ke kursi penumpang belakang tempat Lara terbaring tak sadarkan diri. Tangan Billy yang memegang kemudi bergetar hebat. "Tahan, Honey! Jangan berani-berani mati!" erangnya penuh rasa cemas yang membutakan.
Sepuluh menit kemudian, mobil sedan hitam milik Billy membelakangi belokan jalan dan masuk ke area drive way darurat St. Jude Memorial Hospital dengan kecepatan tinggi. Decitan ban mobil terdengar nyaring saat Billy menginjak rem secara mendadak tepat di depan pintu masuk Utama Unit Gawat Darurat (UGD).
Billy meloncat keluar dari kursi pengemudi, membuka pintu belakang, dan kembali memboyong tubuh Lara yang bersimbah darah di dadanya. "Suster! Dokter! Tolong!" teriak Billy histeris saat melangkah maju.
Namun, gilanya, persis saat kaki Billy menyentuh trotoar depan UGD, kegelapan malam seketika terbelah oleh kilatan cahaya kamera yang membabi buta.
Cklek! Cklek! Cklek! FLASH! FLASH! FLASH!
Puluhan lampu kilat kamera dari berbagai sudut menghantam wajah Billy dan tubuh Lara secara bertubi-tubi.
Puluhan wartawan, fotografer tabloid berita hiburan, dan kru kamera televisi berita kriminal ternama di Los Angeles telah berdiri membentuk barikade ketat di depan pintu masuk UGD sejak sepuluh menit yang lalu.
"Mr. Davidson! Apa yang terjadi pada istri Anda?!"
"Apakah ini bentuk penganiayaan rumah tangga?!"
"Mr. Davidson, lihat ke kamera! Apakah Nyonya Lara menjadi korban kekerasan?!"
"Apakah benar ada dugaan KDRT parah di dalam pernikahan Anda?!"
Suara riuh teriakan wartawan dan berondongan pertanyaan tajam bersahut-sahutan memecah malam.
Kamera-kamera berlensa panjang dengan cepat menangkap setiap detail mengerikan dari pemandangan di depan mereka: Billy Davidson yang panik dengan kemeja bersimbah darah, dan tubuh Lara yang memar hebat, berdarah-darah, serta tak berdaya di dalam pelukan suaminya.
Billy membelalakkan matanya penuh kebingungan dan horor yang luar biasa. Wajahnya memucat pasi.
Bagaimana mungkin para wartawan berita terbesar di kota ini bisa berkumpul di pintu masuk UGD rumah sakit ini tepat beberapa menit sebelum ia tiba?! Siapa yang membocorkan informasi ini?!
Billy mencoba menerobos kerumunan wartawan sambil menutupi wajah Lara dengan panik. "Menyingkir! Menyingkir dari jalanku! Jangan mengambil gambar!" teriak Billy murka, namun kilatan kamera justru semakin gila mengambil dokumentasi visual yang akan menjadi skandal terbesar tahun ini.
Petugas keamanan rumah sakit akhirnya berlari keluar, mendorong mundur para wartawan dan membawa suster yang mendorong ranjang darurat UGD. Tubuh Lara dibaringkan di atas ranjang, lalu didorong masuk dengan cepat melewati pintu kaca otomatis.
Di atas ranjang darurat yang bergerak cepat menuju ruang perawatan intensif, di bawah sinar lampu UGD yang terang benderang, jemari tangan Lara yang terkulai lemas bergerak sangat tipis.
Di balik kesadarannya yang samar dan rasa sakit yang meremukkan tubuhnya, sebuah kemenangan mutlak telah diraih oleh Lara.
Inilah rencananya sejak awal.
Sebelum Billy melangkah masuk ke dalam kerumah malam ini, Lara telah mengirimkan pesan darurat terjadwal dan rekaman audio kepada Darion serta jaringan media berita investigasi paling berpengaruh di Los Angeles.
Lara tahu betul sifat asli Billy yang impulsif dan kasar; ia sengaja memancing iblis dalam diri suaminya hingga batas maksimal, mengorbankan fisiknya sendiri untuk menciptakan bukti Kekerasan Dalam Rumah Tangga paling tidak terbantahkan di depan publik.
Pria terpandang dari keluarga Davidson itu kini tidak akan pernah bisa bersembunyi di balik uang atau kekuasaannya lagi. Bukti visual wajahnya yang bersimbah darah bersama korban telah tersebar ke seluruh penjuru negeri dalam hitungan detik.
Lara akan menghancurkan reputasi Billy sampai ke dasar bumi, mendapatkan gugatan cerai mutlak atas dasar penganiayaan berat, dan menguras seluruh tunjangan perceraian bernilai jutaan dolar dari harta kekayaan pria brengsek itu. Pernikahan penjara ini telah berakhir malam ini—dan Lara adalah pemenangnya.
jadi gemes nih baca nya thor
ada pebinis, pembalap, doesen muda🥰🥰🥰kalo ini ada di dunia nyata, pasti sempurna banget nih🤔😄