Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.
Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18: Target Prioritas S-Grade
Malam belum benar-benar pergi ketika Arga mematikan mesin mobilnya di sebuah rest area yang nyaris kosong. Cahaya lampu jalan memantul di kap mobil yang masih hangat, sementara embusan angin dini hari membawa aroma aspal basah setelah hujan tipis. Di balik ketenangan itu, jantung Arga masih berdetak lebih cepat dari biasanya karena untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ia dipaksa mundur oleh seseorang yang benar-benar berada di tingkat kekuatan yang sebanding dengannya.
Tik...
Jam digital di dashboard menunjukkan pukul 02.17 dini hari, 24 Juni 2026. Arga menyandarkan kepala sejenak ke kursi, memejamkan mata, lalu mengatur napas hingga kembali stabil. Baginya, mundur bukanlah kekalahan, melainkan keputusan paling rasional agar tetap hidup cukup lama untuk memenangkan perang yang jauh lebih besar.
Ia mengangkat tangan kanan dan membuka Ruang Dimensi. Riak transparan berputar perlahan di udara sebelum beberapa hard drive, map dokumen, dan belasan kristal penelitian muncul di kursi sebelahnya. Kilau kristal berwarna abu-abu, hijau pucat, hingga kebiruan memenuhi interior mobil yang gelap dengan cahaya redup yang berdenyut layaknya napas makhluk hidup.
Hummm...
Sensor Dimensi merespons keberadaan kristal-kristal itu secara alami. Getaran halus menjalar dari telapak tangan Arga menuju pelipisnya, memperlihatkan bahwa sejak menjadi Awakener, ia tak lagi membutuhkan alat apa pun untuk mengenali kualitas energi sebuah kristal. Ia menyentuh salah satunya selama beberapa detik sebelum akhirnya menggeleng pelan.
"Belum stabil," gumamnya lirih. "Mereka sudah mencoba memodifikasi struktur energinya."
Arga mengambil laptop yang selalu dibawanya, lalu menyambungkan hard drive hasil curian dari laboratorium Bandung. Deretan kode enkripsi kembali memenuhi layar, tetapi kali ini lapisan keamanannya jauh lebih rumit dibandingkan data dari Sektor-9. Organisasi Hitam tampaknya benar-benar menyimpan rahasia terdalam mereka di cabang Bandung.
Ketik... ketik... ketik...
Jari-jari Arga menari cepat di atas papan ketik. Pengetahuan teknologi yang ia pelajari selama bertahun-tahun sebagai penyintas kembali bekerja, memanfaatkan setiap celah yang ditemukan dalam sistem keamanan digital lawan. Hampir empat puluh menit berlalu sebelum akhirnya sebuah folder tersembunyi berhasil terbuka perlahan.
Nama yang muncul di layar membuat napasnya tertahan.
PROJECT GENESIS.
Tidak ada lambang resmi organisasi, tidak ada identitas peneliti, bahkan sebagian besar isi dokumen telah dihapus secara sengaja. Yang tersisa hanyalah potongan laporan, diagram penelitian yang tidak lengkap, serta beberapa catatan eksperimen yang dipenuhi istilah ilmiah. Arga membaca setiap halaman tanpa berkedip, dan semakin jauh ia menelusuri isi dokumen, semakin dingin ekspresi di wajahnya.
Selama sepuluh tahun hidup di dunia yang dipenuhi zombie, ia mengira telah mengetahui hampir seluruh rahasia di balik Necrovirus. Namun malam itu ia menyadari betapa sedikit pengetahuan yang sebenarnya dimiliki umat manusia. Salah satu laporan menyebutkan bahwa Project Genesis sama sekali bukan bagian dari penelitian virus. Proyek tersebut berdiri jauh di atas seluruh laboratorium yang pernah ia temui, memiliki jalur pendanaan tersendiri, dan hanya dapat diakses oleh beberapa individu berkode Alpha.
Di halaman berikutnya hanya terdapat satu kalimat yang masih utuh.
"Genesis merupakan tahap sebelum Evolusi Global."
Arga mengernyit pelan. Kalimat itu terlalu singkat untuk menjelaskan apa pun, tetapi justru itulah yang membuatnya terasa jauh lebih mengerikan. Jika wabah zombie yang diingatnya hanyalah satu tahap menuju sesuatu yang disebut Evolusi Global, berarti kiamat yang pernah ia alami mungkin hanyalah awal dari bencana yang sesungguhnya.
Ia membuka dokumen lain yang masih berkaitan. Kali ini hanya ada gambar samar menyerupai struktur tubuh manusia yang dipenuhi jalur energi bercabang seperti akar pohon. Di bagian bawah gambar itu tertulis sebuah kalimat pendek yang nyaris terhapus.
"Subjek harus mampu bertahan terhadap Resonansi Genesis."
"Resonansi?" bisik Arga.
Keningnya berkerut semakin dalam. Istilah tersebut belum pernah muncul dalam kehidupan sebelumnya, bahkan tidak pernah terdengar di antara para Awakener terkuat yang pernah dikenalnya. Semakin ia membaca, semakin jelas bahwa Organisasi Hitam telah melangkah jauh melampaui seluruh pengetahuan yang dimiliki para penyintas.
Laptop itu perlahan ditutup. Arga menatap langit malam melalui kaca depan mobil yang mulai dipenuhi embun tipis. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ia merasakan dirinya berada dalam kegelapan yang sama seperti orang-orang lain.
"Bandung cukup sampai di sini," katanya pelan kepada dirinya sendiri. "Aku tidak akan kembali sebelum memahami Genesis."
Keputusan itu terasa pahit, tetapi pengalaman telah mengajarkannya bahwa keberanian tanpa informasi hanyalah bentuk lain dari bunuh diri. Musuh yang tidak dipahami selalu menjadi musuh paling berbahaya, dan kali ini ia memilih menahan diri daripada kehilangan kesempatan mengubah masa depan.
Ratusan kilometer dari tempat Arga berhenti, lorong bawah tanah markas cabang Bandung masih dipenuhi aroma logam dan bahan kimia. Lampu putih menyinari ruang rapat berbentuk bundar yang dijaga puluhan personel bersenjata. Di ujung meja panjang, pria bertopeng berdiri tegak sambil menyerahkan laporan kepada layar holografik yang menampilkan siluet seseorang.
"Konfirmasi," ucap suara berat dari balik distorsi elektronik. "Penyusup berhasil melarikan diri?"
"Ya."
Jawaban pria bertopeng terdengar tenang, tetapi kedua tangannya mengepal pelan di balik mantel. "Namun saya berhasil memperoleh residu energinya."
Beberapa ilmuwan segera mengaktifkan perangkat analisis. Tabung-tabung transparan memproyeksikan pola energi berwarna biru ke udara, membentuk struktur yang terus berubah seolah memiliki kehidupan sendiri.
Bip... Bip...
Seorang analis menatap hasil pemindaian dengan wajah yang perlahan memucat. Ia membandingkan data tersebut dengan seluruh basis data Organisasi Hitam, tetapi tidak satu pun menunjukkan kecocokan. Semakin lama hasil analisis berjalan, semakin jelas bahwa energi yang mereka hadapi sama sekali tidak sesuai dengan kemampuan yang pernah tercatat.
"Mustahil," katanya lirih. "Kemampuan ini tidak sesuai dengan klasifikasi penyimpanan spasial mana pun."
Ruangan mendadak sunyi. Semua mata tertuju pada pola energi yang terus berputar di udara. Semakin lama dipindai, semakin jelas terlihat bahwa kemampuan itu bukan sekadar memindahkan benda dari satu tempat ke tempat lain.
Pria bertopeng akhirnya memecah keheningan. "Kesimpulannya?"
Ilmuwan itu menelan ludah sebelum menjawab, "Kemampuan target memiliki karakteristik dimensi mandiri. Jika analisis ini benar, ruang yang ia gunakan bukan hasil manipulasi ruang biasa... melainkan dunia kecil yang benar-benar terpisah."
Suasana rapat berubah tegang. Bahkan beberapa peneliti senior saling berpandangan tanpa mampu menyembunyikan keterkejutan mereka. Jika kesimpulan tersebut benar, berarti Ghost Collector memiliki kemampuan yang berada di luar seluruh teori yang selama ini mereka bangun.
Pimpinan pusat yang sejak tadi diam akhirnya berbicara dengan nada rendah.
"Status Ghost Collector."
Beberapa detik tidak ada yang menjawab. Kemudian pria bertopeng mengangkat kepala dan berkata tanpa sedikit pun keraguan, "Naikkan menjadi Target Prioritas S-Grade."
Kalimat itu membuat seluruh anggota rapat saling berpandangan. Selama bertahun-tahun Organisasi Hitam hanya pernah menetapkan tiga Target Prioritas S-Grade, dan semuanya merupakan ancaman yang pernah mengguncang operasi nasional mereka. Kini, untuk pertama kalinya, seorang pria misterius yang bahkan identitas aslinya belum diketahui memperoleh status yang sama.
"Disetujui."
Suara dari layar terdengar dingin tanpa sedikit pun keraguan. "Kirim pemberitahuan ke seluruh cabang. Tingkatkan keamanan laboratorium, gudang, jalur pendanaan, dan fasilitas penelitian. Kumpulkan seluruh Awakener elit."
Hening sesaat menyelimuti ruangan sebelum perintah terakhir diucapkan.
"Ghost Collector tidak lagi dianggap pengganggu."
"...Mulai hari ini, dia adalah musuh organisasi."
Klik...
Layar holografik padam. Para petugas segera bergegas keluar ruangan untuk meneruskan perintah ke seluruh cabang Organisasi Hitam di Indonesia. Di balik topengnya, pria bertopeng tetap memandang sisa residu energi Arga yang masih melayang di udara.
"Aku akan menemukanmu," gumamnya pelan. "Cepat atau lambat."
Menjelang siang, Arga akhirnya tiba kembali di kawasan perbukitan tempat vila barunya berdiri. Dari kejauhan suara mesin konstruksi telah memenuhi udara, berpadu dengan dentuman besi dan raungan alat berat yang bekerja tanpa henti. Pemandangan itu jauh berbeda dibanding dua hari sebelumnya ketika tempat tersebut masih berupa vila tua yang sunyi.
Drrr... Drrr...
Puluhan ekskavator bergerak bergantian menggali tanah, sementara truk-truk pengangkut baja terus berdatangan memasuki area proyek. Para pekerja berlalu-lalang tanpa henti, menciptakan suasana sibuk yang membuat kawasan itu perlahan berubah menjadi sebuah benteng raksasa.
Arga berjalan perlahan menyusuri area pembangunan. Pondasi bunker bawah tanah telah terbentuk dengan dinding beton bertulang yang tebal, jalur utilitas mulai dipasang, sementara pagar baja setinggi beberapa meter telah berdiri mengelilingi sebagian kawasan. Kemajuan pekerjaan itu membuatnya sedikit merasa lega karena setiap jam yang berlalu berarti selangkah lebih dekat menuju peluang bertahan hidup.
Direktur proyek segera menghampirinya dengan helm yang masih dipenuhi debu semen.
"Kami bekerja dua puluh empat jam sesuai kesepakatan, Pak Arga," katanya sambil menunjuk peta pembangunan. "Kalau cuaca mendukung, penyelesaian tahap pertama bahkan bisa lebih cepat."
Arga mengangguk pelan. "Teruskan."
Ia tidak menjelaskan alasan sebenarnya mengapa proyek itu harus selesai sebelum tiga minggu. Semakin sedikit orang mengetahui kiamat yang akan datang, semakin kecil kemungkinan kepanikan muncul sebelum waktunya. Kerahasiaan, untuk saat ini, sama berharganya dengan setiap ton baja yang sedang dipasang.
Dari titik tertinggi perbukitan, Arga memandang seluruh area pembangunan. Dalam benaknya, pagar baja itu telah berubah menjadi benteng yang dipenuhi para penyintas, bunker bawah tanah dipenuhi logistik, sementara menara-menara pengawas dijaga Awakener yang bertahan menghadapi gelombang zombie.
Namun bayangan itu perlahan berubah. Kini ia tidak hanya harus menghadapi gerombolan zombie yang pernah menghancurkan dunia, tetapi juga Organisasi Hitam, Project Genesis, dan pria bertopeng yang mampu melacak jejak Ruang Dimensinya. Ancaman yang menantinya jauh lebih besar daripada semua perkiraannya semula.
Menjelang sore, Arga kembali membuka peta digital hasil curian dari hard drive Sektor-9. Puluhan titik merah memenuhi layar, masing-masing menandai cabang, gudang, laboratorium, serta pusat pendanaan Organisasi Hitam yang tersebar di berbagai kota. Pandangannya akhirnya berhenti pada satu nama yang langsung menarik perhatiannya.
Surabaya.
Cabang itu jauh lebih besar dibanding Bandung. Selain menjadi pusat logistik kawasan timur Indonesia, lokasi tersebut juga memiliki fasilitas penelitian, gudang kristal, jalur distribusi dana, hingga pelabuhan rahasia yang menghubungkan operasi mereka ke berbagai wilayah. Setelah pengalaman pahit di Bandung, Arga memahami bahwa satu kesalahan kecil saja dapat membuat dirinya berhadapan dengan para Awakener elit dalam jumlah yang tidak sanggup ia hadapi sendirian.
Ia memperbesar peta tersebut perlahan sambil mulai menyusun strategi baru. Kali ini ia tidak akan mengandalkan keberanian semata. Ia akan memancing musuh bergerak ke arah yang salah, memutus jalur komunikasi mereka, menguras logistik sedikit demi sedikit, lalu menghilang sebelum mereka menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi.
Sudut bibir Arga perlahan terangkat membentuk senyum tipis. Tatapannya tetap tertuju pada titik merah yang mewakili Surabaya, sementara berbagai kemungkinan mulai tersusun rapi di dalam kepalanya. Bandung telah memberinya pelajaran berharga bahwa kekuatan saja tidak cukup untuk memenangkan perang yang akan datang.
"Bandung mengajariku satu hal," katanya lirih sambil menutup laptop. "Kalau mereka mulai bermain sebagai pemburu..."
"...maka aku akan membuat mereka lupa seperti apa rasanya menjadi mangsa."