NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Sebut Mandul, Kini Menjadi Ratu

Istri Yang Kau Sebut Mandul, Kini Menjadi Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: @Pipin

Ditinggalkan tanpa harta yang sebenarnya adalah haknya, membuat Shella tidak mempunyai apapun, tapi siapa sangka, dia malah di dekati oleh pria yang lebih berkuasa dari suami lama nya, yang sudah ditemani nya sejak NOL..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Pipin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketukan Palu Terakhir

TOK! TOK! TOK!

"Dengan ini, pernikahan Shella Prasetya dan Bramantyo dinyatakan resmi berakhir dan putus karena perceraian."

Ketukan palu hakim bergema nyaring di dalam ruang sidang Pengadilan Agama, merobek sisa-sisa ikatan suci yang telah terjalin selama lima tahun.

Shella menghembuskan napas panjang, menatap lurus ke arah pria yang pernah menjadi pusat alam semesta dan seluruh tujuan hidupnya. Tak ada setetes pun air mata atau rasa penyesalan di raut wajah Bramantyo—pria itu justru menghembuskan napas lega seolah baru saja terbebas dari beban yang sangat berat.

Di samping Bramantyo, Saskia tersenyum lebar dengan mata berbinar penuh kemenangan.

Setelah persidangan selesai dan ruang sidang perlahan mengosong, Shella melangkah keluar dengan tungkai yang terasa gemetar. Di lorong pengadilan yang dingin, langkahnya terhenti saat berpapasan langsung dengan Bramantyo dan Saskia.

"Mas..." sapa Shella lirih, menyapa pria itu dengan sebutan yang sama untuk terakhir kalinya dalam hidupnya.

Saskia langsung memasang badan."Mau apa sih, Kak? Masih saja mendekati calon suamiku!" sembur Saskia sinis. "Kenapa? Tidak bisa menerima kenyataan kalau statusmu sekarang sudah resmi jadi janda?"

Shella mengabaikan cemoohan sepupunya, matanya terkunci rapat pada sepasang mata Bramantyo. "Aku cuma ingin bicara sebentar dengan Mas Bram. Bukan kamu."

Bramantyo menahan lengan Saskia yang hendak membalas. "Saskia, kamu tunggu di mobil dulu."

"Tapi Mas—"

"Tunggu di mobil, Saskia," perintah Bramantyo.

Dengan dengusan kesal, Saskia melangkah pergi, menyisakan Shella dan Bramantyo.Setetes air mata akhirnya lolos membasahi pipi Shella. Pria di depannya ini adalah pria yang dulu berjanji akan menyayangi, menjaga, dan meratukannya sampai maut memisahkan. Namun hari ini, pria yang sama pulalah yang paling kejam meremukkan hidupnya hingga tak tersisa.

"Aku dengar... kalian akan segera melangsungkan pernikahan bulan depan," ucap Shella, suaranya serak menahan getaran hebat di dadanya."Selamat ya, Mas... atas semua kebahagiaan barumu. Dan... terima kasih banyak untuk seluruh kehancuran hidup yang sudah kamu berikan padaku. Tapi aku janji, Mas... aku akan buktikan padamu, aku akan bangkit dan menjalani hidup yang jauh lebih baik dari apa yang bisa kamu bayangkan!"

"Lalu?" tanya Bramantyo singkat, tanpa empati sedikit pun.

"Jangan pernah lupa, Mas..Perusahaan besar yang kamu bangga-banggakan sekarang, dibangun dari miliaran rupiah uang warisan almarhum Papaku. Kalau suatu saat aku mengambilnya kembali..."

Bramantyo terkekeh hambar."Mengambilnya kembali? Kamu sudah menandatangani surat penyerahan seluruh aset dan saham itu secara sah atas namaku, Shella. Kamu tidak punya bukti, kamu tidak punya kuasa. Bisa apa kamu sekarang?"

"Aku akan merebut kembali apa yang menjadi hak milikku, dengan caraku sendiri," tegas Shella tanpa ragu.

"Coba saja kalau kamu memang bisa," balas Bramantyo dingin, lalu berbalik melangkah pergi tanpa sekali pun menoleh lagi ke belakang.

"Shella..." sebuah suara lembut yang sarat akan rasa bersalah menyapa dari arah belakang.

Shella menoleh dan menemukan Tante Sekar berdiri dengan sepasang mata yang berkaca-kaca. Wanita paruh baya itu melangkah mendekat, menggenggam jemari dingin Shella dengan gemetar.

"Maafkan anak Tante ya, Shella... Maafkan Tante..." ujar Tante Sekar lirih, air matanya menetes. "Sampai detik ini, Tante merasa sangat tidak berdaya... Tante tidak sanggup menghentikan kelakuan Saskia dan Bram..."

Shella menarik napas dalam-dalam, mengusap air matanya sendiri lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman rapuh yang memilukan. "Nggak apa-apa, Tante... Aku sudah jauh lebih baik sekarang," bisik Shella lembut.

Matanya lalu mengedar ke sekeliling lorong yang kosong, mencari-cari sesosok wajah yang sangat ingin ia lihat hari ini. Sesosok ibu yang sangat ia harapkan hadir untuk sekadar memberinya pelukan hangat saat dunianya runtuh, walau Shella tahu, ibunya kemungkinan besar hanya akan mencibir dan meledeknya habis-habisan karena telah menyia-nyiakan warisan demi pria yang akhirnya membuangnya.

"Mama... tidak datang ya?" tanya Shella.

Tante Sekar menatap Shella dengan tatapan yang semakin memelas dan serba salah.

"Mbak Helena sedang ada urusan bisnis mendesak di luar negeri, Shella... Om Galuh juga sedang banyak pekerjaan di luar kota," terang Tante Sekar, mengelus lengan Shella dengan iba.

"Maafkan mamamu ya, Nak... Dan Tante mohon... tolong jangan pernah membenci Saskia ya, Shella..."

"Jangan membenci wanita yang sudah merusak rumah tanggaku?" Batin nya.

Shella perlahan melepaskan genggaman tangan Tante Sekar. Ia mengangguk pelan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Aku pergi dulu,Tan. Ini bukan akhir, ini adalah awal dari hidupku."

**

"Kamu memperhatikan apa dari tadi, Rey? Kamu tidak suka makanannya?" tanya Gladis sambil meletakkan garpunya, menatap calon tunangannya itu dengan tatapan menilai yang dingin."Kamu sendiri kan yang bilang kalau kamu sangat suka iga bakar di restoran ini? Mau pindah ke tempat lain?"

"Oh, tidak..." jawab Reygan tersentak kaget. Pria itu berdeham pelan, berusaha menguasai diri lalu buru-buru menaruh kembali ponselnya ke atas meja dengan layar menghadap ke bawah.

Gladis menyipitkan matanya. Tatapannya menajam, memperhatikan jemari Reygan yang tampak gelisah mengetuk-ngetuk paha.

"Kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Gladis lagi, nadanya mendadak naik satu oktaf."Ah... atau jangan-jangan, hari ini kan jadwal sidang perceraian terakhir Shella, adikku. Kamu ikut gelisah gara-gara ini? Kamu sendiri yang dulu bilang kalau aku adalah prioritas utamamu, Reygan. Tapi kenapa sekarang pikiranmu seolah melayang ke tempat lain?"

Sebagai wanita yang terbiasa dipuja, Gladis sangat membenci perubahan sikap Reygan belakangan ini.

Gladis menyukai sosok Reygan yang dulu—pria kaku dan tegas di luar, namun rela bersimpuh dan melakukan apa saja di depannya hanya demi membujuk agar dirinya tidak marah. Walaupun Reygan sangat kaku dalam urusan romansa, Gladis sangat menikmati bagaimana pria itu menjadikannya sebagai 'cinta pertama' yang suci dan tak tersentuh.

Gladis suka memegang kendali penuh. Ia suka memainkan perasaan Reygan melalui taktik tarik-ulur, membuat sang CEO bertelut di bawah telapak kakinya.

Namun beberapa minggu terakhir... segalanya bergeser. Di mana sosok Reygan yang dulu selalu menatapnya tanpa berkedip saat mereka duduk berdua? Ke mana pergi pria yang matanya selalu berbinar setiap kali Gladis memberi sedikit perhatian? Mengapa sekarang... jari-jemari pria itu justru terus-menerus gatal ingin memeriksa layar ponselnya setiap lima menit sekali—seolah sedang menunggu kabar dari wanita lain?

"Reygan!" panggil Gladis tegas.

"Ya? Kenapa, Gladis?" sahut Reygan, sedikit kebingungan melihat raut wajah Gladis yang menggelap.

"Jangan bilang kalau kamu mulai suka sama Shella?" tuduh Gladis."Kamu tidak lupa, kan? Beberapa hari lagi adalah acara pertunangan resmi kita. Kalau kamu bertingkah seolah-olah ada wanita lain yang jauh lebih penting dari aku... kita bisa sudahi hubungan ini sekarang juga."

DEG!

Kata "sudahi" menghantam kesadaran. Pria itu terdiam membisu di kursinya.

Sudahi? Dengan Gladis? Wanita yang benar-benar ia cintai selama ini?

Kepanikan seketika menjalar di dalam dada Reygan. Otak rasionalnya berteriak kencang, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Benar! Gladis adalah wanita paling cantik, paling sempurna, sekaligus cinta pertamanya sejak dulu. Gladis adalah sosok idealis yang membuat pria 'budak korporat' dan dingin seperti dirinya sanggup melupakan tumpukan berkas pekerjaan demi menyempatkan waktu untuk bertemu. Gladis adalah impian dan masa depannya!

‘Tidak... Aku tidak boleh begini,’ batin Reygan membentak dirinya sendiri secara brutal.‘Shella itu cuma asistenku! Rasa khawatirku padanya hari ini murni hanya sebatas rasa kasihan atasan pada bawahannya yang sedang tertimpa musibah perceraian! Tidak lebih!’

‘Gladis adalah masa depanku. Dan Shella hanyalah asisten yang kebetulan numpang lewat di hidupku!’

Reygan menarik napas dalam-dalam, mengubur dalam-dalam rasa cemasnya tentang bagaimana hasil sidang Shella di Pengadilan Agama siang ini.

"Jangan bicara sembarangan. Mana mungkin aku menyukai Shella? Dia itu cuma asisten pribadi yang sering membuatku pusing di kantor. Aku hanya merasa kasihan karena hari ini dia harus menghadapi sidang cerainya sendirian. Pertunangan kita minggu depan... akan tetap berjalan sesuai rencana."

Gladis menatap mata Reygan dalam-dalam, mencari kebohongan di sana.

"Pegang kata-katamu Rey."

1
Lili Inggrid
lanjut..
Pipin: mksih udh mmpir kk, siap ☺
total 1 replies
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
semoga shella dpt yg lebih² segalanya dari reygan
Pipin: Kedepan kita liat alur nya kak 😍
total 1 replies
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
shella shella bucin emang bikin orang bego sih
Pipin: Dmana aja sama kk 😂
total 1 replies
Adinda
semoga shella didekatin CEO ganteng biar Reagan cemburu
Pipin: kwkwkwk, apa msukin tokoh lain ya 😍
total 1 replies
Firmahadi
halo bos ku izin mampir
Pipin: hallo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!