11
Anggi Putri Nugroho, wanita cantik yang baru menyelesaikan pendidikan kedokterannya di usia 23 tahun. Memiliki kepercayaan diri tingkat tinggi membuat Dokter Anggi tanpa segan menerima tantangan dari kedua sahabatnya untuk menakhlukan seorang laki-laki asing yang mereka temui di club. Hingga akhirnya kisah rumit percintaannya 'pun dimulai.
Ig : Ratu_Jagad_02
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu jagad 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Kenapa mengajak ke sini? Aku rasa orang sepertimu tidak mungkin menyukai kedamaian semacam ini 'kan?" ucap Anggi sembari fokus menyuapkan bubur pada Naina.
"Tidak juga. Maksudku aku juga suka kedamaian, hanya saja kemarin-kemarin aku memang sedang sibuk."
Anggi mengangguk sebagai jawaban. Memang terdengar cukup aneh sebenarnya saat mendengar Morgan berbicara cukup serius dengan nada suara yang juga bersahabat, karena biasanya Morgan akan bicara kasar atau setidaknya sedikit mengumpat. Namun kali ini Morgan benar-benar terlihat berbeda.
"Sudah?" tanya Anggi saat Naina menolak suapannya.
"Hm hm dah dah."
"Kalau begitu, sekarang giliran bermain bersama Om." timpal Morgan cepat dan langsung membawa Naina menjauh dari tempat Anggi.
Morgan benar-benar terlihat berbeda hari ini, ia bahkan terlihat begitu lepas saat bermain kejar-kejaran bersama Naina. Tanpa terasa, Anggi juga ikut tertawa saat melihat Naina memekik girang saat dirinya tertangkap oleh Morgan. Ya, mereka tengah bermain kejar-kejaran sekarang.
"Nai tidak bisa lari lagi sekarang. Ayo sini." Morgan langsung menarik Naina ke pelukannya, lalu ia hujani wajah gembul Naina dengan ciuman bertubi-tubi hingga gadis kecil itu tertawa kencang.
Bugh!
"Huaaaa."
Morgan begitu panik saat Naina menangis kejar dalam pelukannya. Ia menatap tajam pada anak laki-laki yang baru saja menendang bola dan berakhir dengan mengenai Naina. Tidak sakit sebenarnya, Morgan yakin itu, hanya saja Naina pasti terkejut karena tubuhnya terkena hantaman bola secara tiba-tiba. Anggi yang melihat Naina menangis kencang langsung saja membawa Naina ke dalam gendongannya.
"Nai, sudah ya Sayangnya Aunty. Masa krucil gembulnya Aunty menangis? Sudah ya jangan menangis lagi, nanti cantiknya hilang lo." bujuk Anggi. Namun Naina justru menangis semakin keras.
Tawa bahagia yang sebelumnya sempat tercipta kini justru berakhir dengan kepusingan Anggi dan Morgan lantaran Naina masih tetap setia dengan tangisnya. Berbagai cara telah Morgan lakukan untuk menghibur Naina, tapi gadis kecil itu tetap saja enggan menghentikan tangisnya. Tidak jauh berbeda dengan Morgan, Anggi 'pun terus menimang Naina berharap Naina bisa berhenti menangis, tapi usaha mereka masih belum membuahkan hasil.
Bahkan ketika sudah tiba di rumah 'pun, Naina masih saja belum berhenti menangis. Jika tahu bahwa pergi ke taman akan membuat Naina menangis berkepanjangan seperti ini maka Morgan tidak akan mengajak Anggi dan Naina ke sana. Karena kini ia 'pun menjadi pusing dan panik karena Naina yang masih terus menangis. Hingga lama kelamaan suara tangis Naina kian mengecil bersamaan dengan matanya yang sudah mulai menyipit menandakan akan segera tidur.
Begitu Naina tidur, Anggi langsung menidurkan Naina dengan hati-hati di ranjang kecil Naina yang sengaja Anggi taruh di ruang keluarga. Setelah menidurkan Naina, Morgan dan Anggi saling lirik dan menghela napas lega bersamaan. Mereka menghempas tubuh lelah mereka di sofa panjang ruang keluarga dengan kepala yang sama-sama mengadah ke atas.
"Huh! Ternyata punya anak itu repot ya." ucap Morgan. Nmun Anggi sama sekali tidak menjawab.
Lama tidak mendapat sahutan, Morgan melihat ke sampingnya. Ia tersenyum saat melihat wajah lelah Anggi yang bahkan sudah terlelap. Melihat posisi Anggi yang mungkin tidak nyaman, Morgan langsung membenarkan posisi tidur Anggi di sofa panjang tersebut. Setelah memastikan Anggi nyaman, Morgan duduk di depan sofa dan menopang dagu demi melihat wajah Anggi lebih jelas.
"Ternyata kau jauh lebih cantik saaat tidur begini." ucap Morgan tersenyum.
Seakan tiada puasnya, Morgan benar-benar menatap wajah Anggi begitu lama. Bahkan tanpa Morgan sadari, semakin lama matanya mulai menyipit dan akhirnya ikut tertidur bersama Anggi dalam kondisi duduk. Bahkan, tidur siang kali ini jauh lebih terasa nyaman daripada semua tidur yang pernah Morgan lalui dalam hidupnya.