"Aku cinta kamu. Meskipun kamu duda, aku enggak peduli. Aku pasti bisa membuatmu jatuh cinta padaku," ucap Berliana.
"Satu tahun. Jika kamu mampu bertahan dan membuatku jatuh cinta padamu, maka pernikahan kita berlanjut. Tetapi jika tidak, kita bercerai. Deal?" tanya Dion memulai kesepakatan.
"Oke, aku setuju. Aku yakin Mas Dion akan jatuh cinta padaku sebelum jangka waktu satu tahun pernikahan kita," jawab Berliana penuh keyakinan.
Berkat kekerasan yang selalu ia dapatkan, kematian kedua orang tua dan adik-adiknya serta dendam tak kunjung padam akibat ulah pihak ketiga, membuat dirinya tumbuh menjadi sosok Sadisme. Tidak ada wanita yang sanggup seranjang dengannya. Tanpa Berliana tahu bahwa suaminya itu tengah menyembunyikan identitas dan karakter aslinya.
Sanggupkah Berliana Cahaya Mahendra menjadi dermaga cinta terakhir suaminya, walau tubuhnya akan hancur dan terkoyak?
Simak kisahnya💋
Update Chapter : Setiap Hari.
🍁Merupakan bagian dari Novel : Bening🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Pengabdian di Desa Tapal Batas
"Saya_" ucapan Arumi seketika terpotong.
"Kalian berdua masih di sini toh. Rum, makasih banyak ya. Kamu pasti capek seharian masak segini banyak. Sudah malam, lebih baik kamu pulang dan istirahat. Pagi-pagi sekali kan kamu harus siapin konsumsi buat warga yang besok membantu irigasi sekaligus acara menanam padi secara massal," sela Bu Kades tiba-tiba masuk ke area dapur. Sontak membuat pembicaraan Arumi dan Berliana terputus.
"I_ya Bu Kades. Baiklah kalau begitu saya pamit pulang dulu. Permisi Mbak," ucap Arumi seraya berpamitan pada Bu Kades dan Berliana.
"Iya, Mbak Arumi. Hati-hati di jalan. Sampai jumpa besok," ucap Berliana seraya menatap kepergian Arumi.
"Hati-hati, Rum." Bu Kades mengantar Arumi hingga ke depan rumah. Berliana hanya bisa mengikuti di belakang Bu Kades sambil melihat Arumi pergi menaiki sepeda kayuhnya.
Selepas kepergian Arumi, Bu Kades pun menyuruh Berliana istirahat di rumah sebelah yang memang ia siapkan khusus jika ada tamu.
"Nah, ini tempat tinggal Neng Berliana. Kalau malam-malam ada keperluan mendesak, ketuk pintu rumah saya. Jangan sungkan. Dan ini kunci rumahnya, Neng Berliana pegang ya. Maaf jika rumahnya seadanya, maklum di desa." Bu Kades menyerahkan kunci rumah pada Berliana.
"Iya Bu, rumahnya nyaman kok. Udara di sini juga cukup sejuk terkadang hangat. Oh ya ngomong-ngomong rumah Mbak Arumi dari sini jauh atau enggak, Bu?" tanya Berliana.
"Enggak jauh. Kalau jalan kaki ya sekitar setengah jam. Kalau pakai sepeda kayuh lima belas menit juga sampai. Ada apa Neng?" tanya Bu Kades.
"Oh enggak, Bu. Masakan Mbak Arumi enak. Saya jadi ingin belajar memasak sama Mbak Arumi," jawab Berliana terpaksa berbohong. Faktanya ia ingin berbicara empat mata dengan Arumi. Ia yakin Arumi mengenal suaminya.
"Oh begitu toh. Memang Arumi itu di sini sehari-harinya jadi juru masak baik hajatan dan lain-lain, pokoknya dia jago urusan perdapuran. Kalau enggak ada hajatan ya dia tiap hari jualan gorengan sama kue keliling desa," tutur Bu Kades.
"Suami Mbak Arumi ke mana, Bu?" tanya Berliana sengaja memancing.
"Dia janda, Neng. Kasihan nasibnya. Sudah larut, sebaiknya Neng Berliana istirahat. Ibu permisi kembali ke rumah ya," ucap Bu Kades seraya berpamitan.
"Oh iya, Bu. Selamat malam," ucap Berliana yang dijawab anggukan oleh Bu Kades.
Setelah Bu Kades pulang, Berliana mengunci pintu utama tempat tinggal sementaranya di desa tapal batas. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ada sebuah pesan masuk.
Senyum ceria seketika terpancar di wajah ayunya saat melihat ponselnya ternyata ada pesan singkat dari suaminya.
My Husband : Sudah sampai? Jangan lupa istirahat. Miss you...
Akhirnya pesan itu pun baru dibalas oleh Berliana saat akan memejamkan mata di peraduan.
Berliana : Alhamdulillah sudah sampai. Selamat tidur suamiku. Jangan lupa mimpikan aku. Miss you too...
Mmuachh💋
Sepasang suami istri yang tengah berjauhan itu pun saling tersipu malu membaca pesan cinta sebelum tidur. Tanpa keduanya sadari saat berjauhan, justru benih-benih cinta mereka semakin tumbuh subur seiring semangat untuk sembuh yang dilakukan Dion di pondok Pak Kyai.
Walaupun terkadang dirinya harus menangis dan menahan sakit dengan terapi yang ia jalani, tetapi ia melakukan itu semua demi Berliana dan juga mendiang ibunya. Saat di pondok Pak Kyai, Dion sering bertemu mendiang ibunya dalam mimpi.
Titin menangis melihat dirinya yang jauh berbeda saat masih kecil. Bahkan ibunya itu seumur hidup tak pernah memarahinya. Akan tetapi justru dalam mimpinya itu ia dimarahi habis-habisan oleh Titin. Bahkan berhari-hari didiamkan oleh ibunya.
Dion menangis tersedu-sedu dalam tidurnya. Sehingga saat bangun, ia ingin menghapus semua kenangan buruk itu. Ia ingin ibunya kembali tersenyum padanya. Walaupun hanya dalam mimpi.
Usaha yang dilakukan Dion tak mudah, karena bayangan hitam selalu menghantuinya dengan dendam tak kasat mata. Akan tetapi berkat cinta dan doa dari Berliana untuknya, ia mampu bangkit secara perlahan walaupun harus tertatih-tatih meraihnya.
☘️☘️
Keesokan paginya, Berliana segera berangkat menuju sawah tempat dimulai pengabdiannya di desa tapal batas. Jumlah warga di desa terpencil ini tak begitu banyak.
Berliana pun antusias menanam padi sesuai arahan Pak Kades dan Bu Kades serta warga lainnya yang ikut membimbingnya.
"Fiuhh... akhirnya selesai juga. Wah padi saya kenapa tidak rapi begini? Enggak seperti punya Bu Kades dan warga lainnya, huft!" keluh Berliana saat menatap jejeran padi yang ia tanam berhasil tetapi masih kurang rapi.
"Ya wajar, kan Neng Berliana masih pemula. Bukan petani asli yang biasa menanam padi. Cukup bagus kok Neng, buat seorang pemula." Bu Kades tetap memuji hasil kerja Berliana seraya tersenyum.
Tiba-tiba obrolan keduanya tersela oleh warga lainnya yang mendatangi Bu Kades.
"Permisi, Bu. Di saluran irigasi sebelah sana ternyata ada sedikit masalah," ucap salah seorang warga desa pada Bu Kades.
"Oh, begitu. Baik, saya akan segera tinjau sama Pak Kades ke sana. Saya panggil Bapak terlebih dahulu. Nanti kami menyusul ke sana," ucap Bu Kades pada warga tersebut.
"Baik, Bu. Permisi dulu," ucapnya seraya berpamitan yang diangguki oleh Bu Kades.
"Neng Berliana istirahat saja di saung. Itu sudah ada Arumi barusan datang bawa makan siang. Saya sama Pak Kades mau meninjau area lain sebentar. Nanti, kami segera kembali ke sini lagi." Bu Kades memberi titah pada Berliana seraya menunjuk saung di mana Arumi sudah ada di sana.
"Saya ikut Bu Kades saja buat membantu di sana," ucap Berliana seraya menawarkan bantuan.
"Enggak perlu, Neng. Lebih baik Neng menunggu di saung sama Arumi. Kasihan Arumi sendirian enggak ada yang bantuin di sini," pinta Bu Kades.
"Oh begitu. Baiklah saya akan di sini bantu Mbak Arumi di saung," jawab Berliana.
Selepas kepergian Bu Kades, Berliana berjalan perlahan menuju saung di mana Arumi tengah sibuk menata makan siang untuk para warga yang telah kerja bakti di sawah dan juga ladang desa.
"Wah, masakan Mbak Arumi baunya harum. Tercium di bawah sana bikin perut saya keroncongan jadinya. Hehe..." ujar Berliana menyapa hangat Arumi di saung.
"Mari Mbak, silahkan makan siang. Maaf kalau isinya cuma masakan kampung sederhana," cicit Arumi.
"Masakan kampungnya mewah kok," ucap Berliana seraya tersenyum sambil mengambil piring dan menyendokkan nasi, sayur dan lauk pauk ke atas piringnya.
"Mewah apanya, Mbak. Ada-ada saja Mbak Berliana ini," cicit Arumi seraya tersenyum tipis.
"Mewah alias mepet sawah. Hehe..." kelakar Berliana seraya tertawa kecil.
"Wah, Mbak Berliana ini ternyata bakat melucu juga toh. Pantas saja wajahnya awet muda terus makin cantik jiwa raga," ucap Arumi memuji dengan tulus seraya tersenyum kecil.
Berliana pun dengan lahap menyantap makan siang hasil masakan Arumi di saung bersama beberapa warga. Tak berselang lama semua isi di atas piringnya tadi tandas tak bersisa.
Berliana pun membantu Arumi membereskan piring kotor milik beberapa warga yang usai bersantap siang di saung. Lalu menyapu dan membersihkan sudut-sudut saung agar terlihat rapi dan bersih. Dan kini suasana saung yang cukup sepi membuatnya leluasa bersama Arumi.
Beberapa warga yang usai makan siang, ada yang kembali ke rumah dan sebagian ada yang membantu di saluran irigasi lahan lainnya.
"Apa boleh aku bicara empat mata sama Mbak Arumi?" tanya Berliana to the point seraya menatap Arumi dengan sorot mata serius.
Bersambung...
🍁🍁🍁