Gara-gara bola basket nyasar, Matahari Senja harus berurusan dengan si badboynya SMA Air langga, pentolan geng Atlantis yang terkenal hobi tawuran, playboy dan balap motor. Batara Matahari namanya
Matahari, nama mereka sama. Takdir keduanya pun hampir sama untuk dituntut sempurna. Tapi takdir tak semudah itu untuk membuat mereka bersatu. Matahari Senja dan Batara Matahari dengan luka mereka masing-masing, bisakah menyembuhkan satu sama lain?
.
Jangan lupa like, komen dan vote...🙏❤️
Follow ig author : @mukarromatul28
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukarromah Isn., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan
"Emang salah peduli sama teman kelas sendiri?" balas Peter
"Bukan salah, hanya saja kalau lo entah kenapa auranya agak beda"
"Lo kira gue makhluk apaan?" balas Peter tak terima
"Udahlah Peter, gue nggak tau sekarang trik lo apalagi. Cuma gue pastiin tahun semester ini gue yang juara" Peter tiba-tiba menarik tangan Senja dan mendorongnya hingga bersandar ke sandaran kursi
"Bisa nggak lo nggak anggap gue kayak musuh" Peter bersuara dengan nada yang ditekan. Senja sampai tak berani berkutik karena tak menyangka laki-laki itu berbuat seperti ini
"WOY WOY TENANG! TENANG!" Doni yang paling heboh, laki-laki itu langsung melepas handphonenya dan menarik bahu Peter menjauh. Bisa mati ia ditangan Batara, karena laki-laki itu menyuruhnya menjaga dan mengawasi Senja
"Gue nggak pernah nganggap lo musuh, lo yang ngerasa sendiri" balas Senja dengan berdiri dari bangkunya
"Lalu apa maksudnya yang lo bilang tadi?"
"Gue cuma pengen persaingan sehat, biar lo makin semangat aja" balas Senja, tak peduli walau dianggap sombong
"Lo berani taruhan sama gue?" Peter menyentak tangan Doni yang masih menahannya
"Taruhan apa?" Balas Senja, biasanya gadis itu tak tertarik sama sekali. Namun Peter seolah menginjak-injak harga dirinya dengan tuduhan itu
"Udah Senja, jangan diladenin" Putri berusaha menarik tangan Senja untuk duduk kembali, namun keras kepala gadis itu tak terkalahkan
"Lo yakin?"
"Gue, Senja Matahari nggak bakal mundur apapun taruhan lo" balas Senja tanpa takut
"Kalau gue berhasil jadi juara tahun ini, lo jadi pacar gue" Senja tersentak, hampir semua teman sekelasnya yang memperhatikan mereka dari tadi juga terkejut, tak akan ada yang menyangka sama sekali
"Tenang, tenang woy!" Doni kembali mendorong bahu Peter menjauh
"Gue setuju"
"SENJA" beberapa teriakan histeris keluar, paling keras tentu saja dari Doni. Habislah ia dimarahi Batara nanti
"Tapi kalau gue yang menang, apapun permintaan gue bakal lo turuti" ucap Senja
"Deal" Peter mengulurkan tangannya dan langsung dibalas oleh Senja
"Deal" balasnya menyambut uluran tangan Peter
"Senja, pokoknya sekarang gue dukung lo buat rajin-rajin belajar, gue nggak setuju lo sama si Peter" Putri memegang bahu Senja untuk duduk bahkan membuka kembali buku-buku gadis itu yang tertutup tadi diatas meja
"Kenapa? Gue ganteng, rajin, pinter lagi. Kaya juga iya" jawab Peter dengan pede nya
"Lo playboy" jawab Putri
"Kalau sama Senja, gue bakal tobat nggak sih?" Tanya Peter dengan pedenya menyugar rambut ke belakang, membuat beberapa siswi menjerit histeris termasuk Putri yang tadi mengatai
"Lo bukan tipe gue" jawab Senja singkat yang membuat tawa sekelas langsung meledak, dan Doni pemilik suara paling keras. Dia bisa melapor aman pada Batara kalau seperti ini
"Pokoknya gue bikin lo yang kalah"
"Nggak semudah itu" balas Senja walau dengan suara seraknya
.
Hari minggu seperti menjadi rutinitas Senja untuk pergi kerumah Langit, mengajar laki-laki itu materi matematika yang katanya pelajaran paling sulit. Satu bulan lagi adalah ujian akhir semester yang menjadi penentu kenaikan kelas 12. Senja harus belajar ekstra di tengah pekerjaannya sebagai waitres dan guru les untuk Langit. SPP yang ia bayar hanya tinggal untuk bulan ini, selanjutnya Senja berharap tak ada lagi hukuman dari ayahnya. Kalau sampai ia gagal mendapat peringkat pertama, bukan hanya mendapat amarah dari ayahnya, tapi juga menjadi pacar Peter si musuh bebuyutannya
"Selamat datang buk guru" Senja menaikkan sebelah alisnya melihat tingkah tak normal laki-laki didepannya. Mungkin bagi orang lain normal, tapi untuk seorang Langit Biru, yang tak bangun dari tempat tidur sebelum jam menunjukkan pukul sepuluh agak aneh, sebulan mengajar laki-laki itu membuatnya tau kebiasaan Langit
"Tumben banget lo udah bangun jam segini, biasanya kalau nggak diseret sampai disiram dulu nggak pernah mau" Senja menilai penampilan laki-laki itu yang hari ini seperti formal dengan kemeja biru dan celana kain hitam yang membalut tubuhnya
"Gue mau cerita sesuatu sama lo" Langit menarik tangan Senja untuk duduk disofa ruang tamu
"Cerita apa?" Langit membuka buku didepannya dan menunjukkan nilai seratus dibukunya
"Gue bisa ngerjain soal matematika sendiri dan dapat seratus. Bangga banget gue dipuji sama bu guru karena gue yang pertama jadi" Langit menepuk-nepuk dadanya seperti anak kecil membuat Senja ikut tersenyum
"Gue bilang juga apa, matematika itu seru kan?"
"Nggak seru juga sih, karena kadang-kadang perasaan gue berubah, kadang seneng kadang juga jengkel kalau jawabannya nggak ketemu"
"Kalau lo suka sama matematika, pasti lo juga bisa cepet pahamnya" ucap Senja membuka buku paket tebal didepannya
"Coba kerjain soal ini, gue ada sesuatu kalau lo bisa tau jawabannya" Senja menunjuk salah satu soal dibuku paket
"Hadiahnya apa?"
"Namanya juga hadiah, nggak mungkin dikasih tau"
"Gue pasti bisa" Langit dengan semangat membuka bukunya dan mengerjakan soal itu. Senja tersenyum, walau melelahkan namun saat orang lain paham apa yang kita ajarkan rasanya bahagia sekali. Mungkin itu yang dirasakan oleh guru-guru yang mengajar
"Kok aku agak ngeri ya liat Kak Langit tiba-tiba rajin kayak gitu" Amalia dan ibunya ternyata sedari tadi memperhatikan interaksi mereka dari balik tembok dapur yang terhubung langsung dengan ruang tamu
"Jangan ngomong gitu, harusnya kamu bangga kalau kakak kamu berubah jadi lebih baik"
"Tapi agak aneh liat dia bangun pagi terus udah siap pakek kemeja rapi gitu, kayak orang lain" jawab Amalia masih mengamati
"Jangan-jangan..." dua orang itu saling pandang dan tersenyum saat mereka seperti memikirkan hal yang sama
"Aku dukung banget kalau Kak Langit bareng Kak Senja"
"Ibu bisa pamer punya mantu yang pinter, cantik lagi" dua orang itu bertos ria, menghayal dengan pikiran mereka masing-masing
Senja memijit pelipisnya sedikit pusing, ia tidur semalam saat jam hampir menunjukkan pukul dua karena baru selesai belajar. Ia membuka buku yang dibawanya dan meletakkan diatas meja, mengerjakan soal yang sudah ditandainya semalam. Sedang fokus dengan kegiatan masing-masing, Langit tersentak kaget melihat tetesan darah yang jatuh diatas buku. Laki-laki itu dengan cepat mengangkat kepala Senja
"Senja! Woy lo kenapa?!" Tanyanya dengan panik
"Gue cuma mimisan doang Langit, nggak usah heboh gitu" Senja melepas tangan Langit yang memegang erat sisi kepalanya
"Lo sakit?"
"Cuma kurang istirahat"
"Astaga Langit, kamu apakan Senja sampai mimisan gitu?" Bu Yuli yang baru keluar membawa makanan ringan tersentak kaget melihat Langit yang mengguncang-guncang tubuh gadis itu. Karena kebiasaan bertarung Langit, ia jadi tak heran kalau sering mendapat panggilan entah dari sekolah atau ibu-ibu yang mengadu karena anaknya sering memukul anak lain. Jadi, ia pikir Langit juga melakukan itu pada Senja
"Langit nggak ngapa-ngapain bunda"
"Ini cuma mimisan biasa tante, bentar lagi juga berhenti" Senja tersenyum menenangkan, melepas tangan Langit yang dari tadi mengguncangnya entah karena panika atau apa