Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Kangen
Ia meletakkan ponsel menghadap bawah, mengambil lakban, lalu melanjutkan mengemas sendirian.
Keesokan paginya, Jakarta belum sepenuhnya bangun ketika Keira meninggalkan apartemen.
Kopernya hanya satu. Tidak besar. Isinya pakaian kerja, beberapa buku catatan aroma, laptop, dokumen pribadi, dan satu foto lama dari Panti Asuhan Kasih Sayang. Semua hal lain sudah masuk kotak untuk dikembalikan. Tidak ada perhiasan Rayhan. Tidak ada kartu kredit. Tidak ada kunci mobil. Tidak ada sesuatu pun yang bisa membuat orang berkata ia pergi membawa hasil memanfaatkan Hartono.
Tari tidak tahu.
Keira mengirim pesan kepada Tari bahwa ia akan cuti satu hari untuk urusan administrasi keluarga. Itu bukan kebohongan penuh. Safira memang keluarganya. Pemindahan Safira ke Surabaya dijadwalkan siang nanti dengan ambulans medis, lewat jalur yang sudah diatur Kevin.
Di lobby apartemen, petugas keamanan membantu memasukkan koper ke bagasi taksi online. Keira menoleh sekali ke arah gedung. Jendela lantai tiga tertutup. Di balik salah satu jendela itu, ada sofa tempat Rayhan pernah tidur karena takut diusir. Ada dinding yang pernah terkena asbak kristal. Ada dapur kecil yang pernah menyimpan bubur gagal.
Keira masuk mobil.
"Bandara Soekarno-Hatta, Bu?"
"Ya."
Mobil bergerak.
Di Jerman, Rayhan berdiri di dalam atelier perhiasan tua yang jendelanya menghadap jalan batu basah. Pagi di sana masih dingin. Seorang maestro perhiasan pensiunan membuka kotak beludru biru tua di atas meja kayu.
Di dalamnya, cincin safir biru 3,14 karat memantulkan cahaya lembut. Batu itu tidak terlalu besar sampai tampak pamer, tetapi cukup dalam untuk membuat orang ingin melihat lebih lama. Di sisi rangka, ada detail merah kecil, hampir tersembunyi, seperti tanda di ujung mata Keira.
Rayhan tidak menyentuhnya langsung.
Untuk pria yang biasa membeli apa pun tanpa ragu, ia berdiri beberapa detik seperti orang miskin di depan doa yang terlalu mahal.
"Sesuai permintaan Anda," kata sang maestro dalam bahasa Inggris pelan. "Batu safir tua, detail merah, rangka dibuat ringan. Tidak ada ruang untuk perangkat apa pun."
Rayhan mengangkat mata.
Pria tua itu tersenyum tipis. "Asisten Anda menekankan itu tiga kali. Cincin ini hanya cincin."
Steven yang berdiri di belakang langsung batuk menahan tawa. William menatap langit-langit seperti tidak ingin ikut campur.
Rayhan mengambil cincin itu. "Bagus."
"Bagus saja?" Steven berbisik. "Lo terbang ke Jerman, maksa orang pensiun kerja lagi, dan komentarnya bagus?"
Rayhan menutup kotak. "Dia akan suka."
Di bagian dalam rangka, ada ukiran kecil yang hanya terlihat jika cincin dilepas dari jari: K. S. Tidak ada nama Hartono. Tidak ada tanda kepemilikan. Rayhan meminta itu semalam setelah membaca ulang pesan-pesan Keira. Ia ingin cincin ini menjadi tawaran, bukan stempel.
Sang maestro menyerahkan sertifikat batu dan sketsa akhir. Rayhan menyimpannya bersama kotak, berhati-hati seolah benda kecil itu bisa patah hanya karena napas yang salah.
William melipat tangan. "Sebelum kasih cincin, jelaskan dulu soal Vanessa."
"Aku jelaskan setelah pulang."
"Setelah pulang atau setelah melamar?"
Rayhan tidak menjawab.
Steven menghela napas. "Ray, cincin bukan pengganti percakapan."
"Aku tahu."
"Lo tahu banyak hal setelah telat."
Rayhan menatap kotak cincin di tangannya. "Aku tidak akan telat kali ini."
Di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta, Keira duduk dekat jendela besar. Pesawat-pesawat bergerak lambat di luar, seperti hewan logam yang menunggu giliran terbang. Ia memakai kemeja putih dan celana kain gelap, rambut diikat rendah. Tidak ada yang melihatnya dua kali. Untuk pertama kali setelah lama, menjadi tidak terlihat terasa seperti hadiah.
Kevin mengirim pesan.
Ambulans Safira sudah berangkat ke bandara medis. Tim Surabaya siap menerima.
Keira membalas.
Terima kasih.
Kevin tidak langsung membalas. Lalu muncul satu kalimat.
Kamu masih bisa berubah pikiran.
Keira menatap layar.
Tidak.
Panggilan dari Rayhan masuk sebelum ia sempat mengunci ponsel.
Nama itu memenuhi layar seperti pintu yang hampir ia tutup tetapi belum dikunci.
Keira membiarkannya berdering tiga kali.
Lalu ia mengangkat.
"Kei." Suara Rayhan terdengar jauh, sedikit serak oleh perjalanan dan kurang tidur, tetapi ringan. Terlalu ringan. "Kamu di mana?"
Keira menatap papan keberangkatan. Surabaya tertulis jelas dalam huruf terang.
"Di kantor."
Kebohongan itu keluar halus.
"Sudah makan?"
"Sudah."
"Aku pulang lebih cepat. Ada sesuatu untukmu."
"Aku tahu. Kamu bilang."
Di ujung lain, Rayhan tersenyum. Keira bisa mendengarnya dari cara napasnya berubah. "Kali ini kamu tidak akan marah."
Keira menutup mata.
Di pengeras suara, pengumuman boarding untuk penerbangan Surabaya mulai terdengar. Ia menjauhkan ponsel sedikit, menunggu suara itu selesai, lalu kembali menempelkan ponsel ke telinga.
"Rayhan."
"Hm?"
Keira ingin mengatakan banyak hal. Bahwa ia tahu soal Vanessa, tetapi tidak tahu alasan. Bahwa ia sudah mengembalikan semua barang. Bahwa Safira akan pindah. Bahwa enam bulan ini tidak sepenuhnya palsu, dan justru karena ada bagian yang nyata, ia harus pergi sebelum semua rencana dan perasaan saling menghancurkan.
Namun tidak ada kalimat yang cukup bersih.
Rayhan tiba-tiba bertanya, "Kamu kangen aku, nggak?"
Keira membeku.
Di sekelilingnya, orang-orang berdiri membawa koper. Seorang ibu membenarkan jaket anaknya. Seorang pria memegang kopi kertas. Dunia bergerak normal, tidak tahu bahwa satu pertanyaan kecil baru saja membuat waktu Keira berhenti.
"Kei?"
Keheningan panjang.
Rayhan hampir menyesal bertanya. Lalu suara Keira datang, sangat pelan, nyaris tertelan pengumuman bandara.
"Kangen."
Satu kata.
Tidak ada hiasan.
Tidak ada janji.
Di Jerman, Rayhan menutup mata. Kebahagiaan menghantamnya begitu kuat sampai ia harus memegang tepi meja. Steven melihat wajahnya dan langsung tahu sesuatu buruk akan terjadi, karena Rayhan yang terlalu bahagia biasanya membuat keputusan lebih berbahaya daripada Rayhan yang marah.
"Aku juga," kata Rayhan, suara rendah. "Aku pulang sekarang."
"Bukankah jadwalmu besok?"
"Aku majukan."
"Tidak perlu."
"Perlu."
Keira membuka mata. Petugas sudah memanggil barisan kursinya.
"Aku harus rapat," katanya.
"Nanti aku jemput."
"Rayhan..."
"Tunggu aku."
Keira tidak menjawab.
Ia memutus panggilan.
Beberapa menit kemudian, ia berjalan masuk ke pesawat. Saat duduk di kursinya, ia mematikan ponsel. Jakarta terlihat dari jendela, kabur oleh kaca dan cahaya pagi. Keira menempelkan ujung jari ke jendela sebentar, lalu menariknya kembali sebelum pesawat bergerak.
Pramugari lewat menawarkan bantuan menyimpan tas. Keira menggeleng. Tas itu ringan, tetapi ia menahannya di pangkuan lebih lama dari perlu. Di dalamnya ada dokumen Safira dan foto panti. Semua hidup yang akan ia bawa memang selalu muat dalam ruang kecil.
Ketika pesawat mulai bergerak, Keira mendengar seorang penumpang di belakangnya menelepon kekasih sebelum mode pesawat dinyalakan.
"Aku cuma pergi dua hari. Jangan kangen berlebihan."
Keira menutup mata.
Kata yang baru ia berikan kepada Rayhan mendadak terasa seperti benda tajam yang ia tinggalkan di tangannya sendiri.
Ia tidak tahu apakah itu kebohongan terakhir atau kejujuran terakhir.
Di Jerman, Rayhan mengubah jadwal penerbangan. Farel mengurus jet sampai kota transit, lalu penerbangan lanjutan ke Jakarta. Steven dan William ikut sampai bandara, masih mencoba memberi nasihat terakhir.
"Ray, begitu sampai, jangan langsung buka cincin," kata William.
"Aku akan lihat situasi."
Steven mendengus. "Situasi menurut lo biasanya berarti lo sudah memutuskan."
Rayhan memasukkan kotak cincin ke saku dalam jas. "Dia bilang kangen."
Tiga kata itu bagi Rayhan terdengar seperti jawaban semesta.
Ia bahkan mengirim pesan ke Farel agar apartemen Keira tidak diganggu sebelum ia tiba. Tidak perlu bunga. Tidak perlu dekorasi. Keira tidak suka ruangan yang dibuat seperti panggung. Cukup teh hangat, makan malam ringan, dan waktu untuk bicara.
Lalu ia menambahkan satu instruksi lain.
Pastikan semua akses keamanan apartemennya normal. Jangan ada pelacak, jangan ada perangkat tambahan.
Farel membalas cepat.
Baik, Pak.
Rayhan menatap balasan itu lama. Dulu ia akan menambah sepuluh lapis pengawasan saat Keira diam. Sekarang ia memaksa dirinya percaya pada satu kata: kangen.
Pesawat pertama lepas landas tepat waktu. Rayhan duduk di kursi dekat jendela, membuka kotak cincin sekali, lalu menutupnya lagi. Ia membayangkan Keira marah, lalu diam, lalu mungkin tersenyum kecil seperti di observatorium. Ia membayangkan menjelaskan semua tentang Vanessa, tentang perjodohan yang ia tolak, tentang Lilian, tentang kenapa ia menghilang seminggu. Semua akan berantakan di awal, tetapi setelah itu ia akan mengeluarkan cincin.
Ia tidak tahu bahwa di langit lain, pesawat Keira sudah meninggalkan Jakarta.
Ia tidak tahu bahwa Safira juga sedang dipindahkan ke Surabaya.
Ia tidak tahu bahwa apartemen yang ia tuju sedang kosong dari nama dan aroma Keira.
Sementara itu, pesawat Keira menembus awan di atas Jawa Timur. Ia tidak menyalakan ponsel. Ia hanya menatap sayap pesawat dan membiarkan Jakarta tertinggal tanpa saksi.
Di kota transit Eropa, badai datang sebelum jadwal penerbangan kedua. Papan informasi berubah merah. Penerbangan ke Asia ditunda tanpa kepastian.
Rayhan berdiri di depan layar, wajahnya mengeras. "Berapa lama?"
Petugas bandara meminta maaf. Cuaca buruk. Jalur ditutup. Tidak ada izin terbang.
Steven, yang menerima kabar melalui telepon, mencoba menenangkan. "Ray, cuma delay."
"Aku harus pulang."
"Gue tahu."
"Dia menunggu."
Di tangannya, kotak cincin terasa semakin berat.
Di Jakarta, malam turun di apartemen Keira yang sudah kosong.
Tidak ada siapa pun yang menunggu lagi.