🏆JUARA 2 (EVENT CINTA YANG TAK DIRESTUI-SEASON 3)
Kecelakaan 2 tahun yang lalu membuat rumah tangga Aslan hancur. Bagaimana tidak? Akibat kecelakaan itu dia mengalami difungsi ereksi atau impoten. Bahkan ia rela dan pasrah saat istrinya meninggalkannya dan menikah dengan pria lain. Di saat sedang terpuruk dia bertemu dengan seorang wanita malam yang bersedia membantu mengatasi masalahnya.
“Aku akan membayarmu 1 Miliyar jika kamu berhasil menyembuhkan penyakitku,” tegas Aslan.
“Berikan aku waktu 1000 jam untuk menyembukanmu!” balas Irina.
Lalu bagaimana kisah mereka selanjutnya? Simak terus kelanjutannya ya!
Jangan lupa subcribe dan beri bintang ⭐⭐⭐⭐⭐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Irina meninggalkan Aslan
Aslan mengerjabkan kedua matanya sembari meraba permukaan tempat tidur yang ada di sampingnya.
Kosong.
Tidak ada siapa pun di sana.
Aslan segera membuka kedua matanya, menatap ke arah sampingnya. Irina tidak ada di sana. Pria tampan dan gagah itu mendudukkan diri, lalu turun dari ranjang, meraih pakaiannya yang berserak di atas lantai lalu memakainya.
"Dia sudah pergi," gumam Aslan, mendessah kasar. Rasa kesal dan marah bercampur menjadi satu di dalam dadanya, saat melihat dua kartu yang diberikan kepada Irina tergeletak di atas nakas. Aslan memejamkan kedua matanya erat lalu mengumpat berulang kali sambil berjalan keluar kamar.
"Bi!!!" teriak Aslan sambil menuruni anak tangga memanggil kepala pelayannya.
"Iya, Tuan?" sahut Bi Inah dari arah dapur menghampiri Aslan dengan langkah terburu-buru.
"Apakah dia sudah pergi?" Aslan memastikan.
Bi Inah mengerutkan keningnya beberapa saat, seraya mencerna pertanyaan tuannya yang tidak dia pahami, tapi tak berselang lama dia menganggukkan kepala setelah paham dan tahu siapa yang di tanyakan oleh Aslan. Maklum Bi Inah sudah paruh baya, dan sudah sedikit pikun.
"Nona Irina berpamitan kepada kami semua dua jam yang lalu," jelas Bi Inah.
Aslan mengangguk paham, seraya mengibaskan tangannya, bertanda menyuruh Bi Inah pergi.
Akan tetapi wanita paruh baya itu tetap berdiri di tempatnya.
"Kenapa Bibi masih di sini? Sana pergi!" usir Aslan dengan nada datar dan sangat dingin.
Sepertinya pria tersebut mulai kembali ke setelah pabrik yang datar, dingin, dan sangat menyeramkan.
"Nona Irina sempat berpesan kepada saya, kalau harus menjaga Tuan dengan baik. Bahkan Nona Irina memberikan menu makanan kesukaan Tuan," ucap Bi Inah sembari mengeluarkan secarik kertas dari kantong celananya.
Aslan mendengus saat melihatnya. "Buang saja kertas itu!" titah Aslan dengan nada emosi, lalu kembali ke kamarnya.
Rasanya dia masih tidak rela di tinggal oleh Irina. "Akan aku pastikan dalam waktu beberapa bulan, kamu akan kembali ke pelukanku!" geram Aslan penuh penekanan.
"Kenapa kamu kembali, Rin? Nanti biaya rumah sakit dan sebagainya bagaimana?" tanya Bu Nining pada menantunya.
"Mau bagaimana lagi, Bu. Dari pada di sana aku kerja nggak tenang, karena Mas Yoga terus mencurigai aku, lebih baik aku berhenti dan mencicil hutangku kepada bossku saat sudah punya pekerjaan baru nanti," jawab Irina sambil mengupas buah apel untuk suaminya.
Bu Nining secara tidak langsung, tidak terima dengan keputusan Irina. Jika Irina berhenti bekerja, otomatis tidak akan ada pemasukan, sedangkan pengobatan Yoga sangat mahal. "Seharusnya kamu nggak usah pikirin perkataan Yoga!" omel Bu Nining kepada menantunya.
"Bu, rumah tanggaku di pertaruhkan, masa aku harus diam saja," balas Irina menatap ibu mertuanya lalu beralih menatap suaminya yang duduk di atas tempat tidur pasien.
"Aku sudah sembuh, tidak perlu pengobatan lagi! Ibu tenang saja, aku akan segera kembali bekerja untuk memenuhi biaya keseharian kita," jawab Yoga dengan nada penuh keyakinan.
"Jangan memaksa, Ga! Kamu belum sembuh total, dan masih membutuhkan perawatan!" Bu Nining tidak setuju dengan keputusan putranya.
"Biarkan dokter yang memutuskan," sahut Irina.
"Kok, kamu jadi mendukung keputusan Yoga, Rin?!" protes Bu Nining.
"Lalu aku harus bagaimana, Bu? Jika keputusan Mas Yoga kayak gitu," balas Irina dengan nada datar.
Pikirannya saat ini sedang bercabang ke mana-mana, dan moodnya hancur, bahkan baru kali ini dia berkata datar kepada suami dan ibu mertuanya.