Aku belum pernah bertemu atau pun berbicara dengan Komisaris di kantorku. Sampai kami bertemu di Pengadilan Agama, dengan posisi sedang mengurus perceraian masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertandingan Konyol
Tidak, tidak berhenti sampai di situ.
Pagi-pagi aku menghampirinya, niatku mau pamitan karena aku mau berangkat kerja. Hari ini kami tidak sekantor, ini jadwalnya ke Amethys Corp, sepertinya ada pertemuan penting pagi-pagi dengan pejabat salah satu BUMN. Kemeja yang semalam diserahkan padaku sudah kusetrika.
Karena ingin membalas perlakuannya padaku semalam, kubuka saja pintu besar itu tanpa mengetuk.
"Felix-"
Aku langsung balik badan.
Dia hanya pakai segitiga tipis, sedang menunduk untuk memasukkan celana panjangnya ke pinggang.
"Apa?" tanyanya. Nada suaranya seakan hal itu bukan sesuatu yang besar.
"Kamu jam segini belum siap? Bukannya seharusnya kamu sudah berangkat?!" tanyaku mengalihkan perhatian, berharap tidak ketahuan kalau aku kaget.
"Memangnya tanpa diriku, meetingnya bisa dimulai?" ia malah balik bertanya.
Sifat sombongnya itu benar-benar di luar batas, dia mau bertemu sekelas Menteri loh!
Kuberanikan diri membalik badanku dan kutatap dia.
Makhluk ini benar-benar menawan.
Hampir saja aku mengawang melihat tubuhnya yang terbuka.
Ia sedang mengancingkan celananya dan memeriksa kemeja yang tadi malam kusetrika.
"Bu Cin, kalau nyetrika tuh kerahnya jangan dilipat dulu, dilurusin dulu, setrika yang lama, baru dilipat terus setrika lagi. Ini jadi kelipet jadinya kan, nggak kaku!" ia tampak mengkritik pekerjaanku.
"Kamu setrika saja sendiri," gumamku.
"Dibilangin yang bener malah ngeyel," balasnya. Tapi dia pakai juga kemeja itu. Bukan salahku, memang bahannya saja yang kelewat lemas. Apalagi itu kan malam-malam. Mataku ini sudah 5 watt ngubek-ngubek ruang laundry.
"Aku berangkat duluan, hari ini mau kunjungan nasabah ke Kota Wisata," kataku.
"Sama siapa berangkatnya?"
"Sama Pak Dimas,"
"Nggak boleh,"
"Bodo amat ah,"
"Heeeeeh sini dulu sini," ia mengibaskan tangannya padaku, menyuruhku mendekat sambil mengerutkan dahinya.
"Aku hampir telat," dengan malas-malasan aku menghampirinya.
Tangannya merengkuh tengkukku dan menarikku mendekat.
"Kamu calon istri Komisaris, nggak bakal ada yang komplain kalau telat 5 menit aja," desisnya sambil menunduk dan…
ASTAGA! Dia bikin tanda di leherku!
"Perih, Felix!" aku mendorongnya saat kurasakan hisa pan kencang di leherku.
"Itu klaim,"
"Aku cuma pergi ke Kota Wisata sama Pak Dimas, cuma makan waktu sehari PP!"
"Justru karena kamu pergi sama dia, aku merasa kamu perlu dikasih tanda,"
Segera ku periksa leherku di kaca
Ya Ampun Felix!! Merah banget kayak alergi!
"Gila kamu!" seruku kesal.
"Asik kan cap-nya?" ia menyeringai.
Aku kembali ke kamarku ambil syal.
Dan sampai di kantor, Pak Dimas sambil mengernyit menatapku dan akhirnya dia bertanya :
"Kamu habis ritual Palasik? Pakai syal di leher segala."
Aku hanya mencibir karena masih kesal.
**
Aksinya yang diluar prediksiku semakin membuatku deg-degan saat kembali ke kantor sore harinya, tiba-tiba ada hampers besar sekali memenuhi kubikelku.
Bentuknya bunga mawar. Jenis yang seratus tangkai. Dan ada cake coklat bertabur emas di bawah bunganya.
Ada kartu di sana. Tulisannya : Awas kamu telat pulang, kukunciin di kamarku sampai minggu depan.
NB : bagi-bagi dah sana.
Aku memicingkan mata melihat kata-kata 'kamarku'.
Dikunci-innya kenapa harus di kamarnya?!
"Aku ambil banyak loh ini mawarnya. Sayang kalo dibuang soalnya!" kata temanku.
"Iyaaa, jangan lupa kuenya. silahkan loooh," desisku sambil mendorong lembut kotak kuenya.
"Halah, yang lagi kasmaran, nikah cepet sana!" seru salah satu temanku yang lain sambil makan cake.
"Iya nanti tanggal 20 akadnya,"
Dan semua terdiam.
"SERIUS LOOOO??!"
Loh? Aku belum memberitahu mereka ya?
Setelah itu aku habis ditanya-tanya ini-itu.
Juga… Saat aku pulang kantor, dia ternyata sudah menungguku di ruang tamu.
"Malam banget sih pulangnya?" tanyanya.
"Macet, Boss," dengusku.
"Kan sudah kubilang jangan telat pulang,"
"Namanya juga kerja," desisku, "Performanceku dipertaruhkan di sini,"
"Sudah kubilang-"
"Pak Komisaris," aku menutup bibirnya dengan telunjukku, "Ini bulan terakhir Saya bekerja, mohon biarkan Saya menikmati saat-saat terakhir menjadi wanita karier sebelum menjadi Budak Cinta Anda, 24 jam," aku menyerangnya dengan nada men de sah sengaja biar kesannya seksi.
"Luar biasa…" kekehnya geli.
Ia mengambil tanganku dan mengecup jemariku dengan lembut.
Tatapannya itu… Bikin hatiku langsung mencelos meleleh.
Sesaat aku bagai melayang menyentuh plafon.
Plafon aja ya.
Karena berikutnya senyumnya yang lembut itu berubah sinis.
"Ganti baju sana, apek!"
Kucubit pipinya.
Dan aku berjalan ke kamar sambil menghentak-hentakkan kakiku.
Kesal tapi ingin.
Pingin ku-uyel-uyel mukanya!
Ke dadaku.
**
Tidak, serangan tidak berhenti di situ.
Malam-malam dia masuk lagi ke kamarku. Kali ini hanya pakai celana training, tanpa atasan. Dari aromanya dia baru mandi, karena tubuhnya wangi sabun mahal.
Aku mencoba sekuat tenaga menahan pesona menggoda iman yang seringkali ia lancarkan padaku.
"Kebiasaan mandi malem-malem nggak bagus, loh," desisku.
"Kan pakai air hangat, Bu Cin," Dia tiduran di ranjangku.
"Aku nggak terlalu suka, sebelum jam 8 sudah maksimal menurutku. Takut masuk angin,"
"Kan gerah habis di kantor,"
"Tapi kamu mandi selalu di atas jam 10,"
"Ya kan nge-Gym dulu di atas,"
Bagian atas memang ada ruangan yang dibangun menjadi tempat fitness khusus untuknya.
"Sana balik ke kamarmu," aku mengibaskan tangan mengusirnya.
"Lagi ingin di sini,"
"Nggak bakalan nubruk aku kan?!"
"Lagi mode kalem, udah keluar soalnya," ia menyeringai.
"Sukanya mainan sabun," gumamku.
"Dih, aku lebih elegan. Sabunku kan cair semua, mana bisa bolong tengahnya,"
"Ya kan bisa kalau-" Aku diam.
Aku tak melanjutkan kalimatku.
Obrolan macam apa sih ini.
Ia tampak cuek membuka-buka ponselku dan melihat semua isi WA.
Kubiarkan saja, emang dasar laki-laki gabut, malam-malam kerjanya jahilin orang.
"Ini siapa?" dia menunjuk profil laki-laki.
"Nasabah,"
"Ngapain tanya-tanya rekening Koran? Kan sudah dikirim sama Customer Service setiap bulan,"
"Ya namanya Nasabah kan lebih enak nanya langsung,"
"Kamunya bakalan nyontek laporan juga kok,"
"Ya iya tapi kan-" dan aku diam lagi.
Menyadari kalau di balik celana trainingnya, kembali ia tak mengenakan apa pun.
Berbayang soalnya, ada siluet yang kukenal bentuknya.
Sengaja banget sih.
Apa kemarin itu saat kutolak tawaran nikah sirinya, dia jadi dendam ya?
Kan dendaman dan ambisius memenangkan pertandingan seperti itu memang tipikal Felix Ranggasadono.
Aku pun menarik nafas panjang, mencoba bersabar. Aku berdiri, dan kuambil bantal.
Lalu ku pukulkan ke antara pahanya.
Dia langsung meringkuk sambil menepis bantalku. Melindungi 'asetnya'.
Salah sendiri tanpa lapisan pelindung!
"Aku nggak bakal kalah," desisku.
Ia menatapku.
Lalu mencibir.
"Yaaa kita lihat saja," dan tersenyum penuh kelicikan.
Aku memekik tak percaya dan kembali kupukul dia pakai bantal. "Kamu nggak ikhlas ya saat kutolak nikah sirinya!?"
"Ikhlas kok, dikit," ia beringsut turun dari ranjangku sambil menangkis pukulanku.
"Jangan kekanak-kanakan, Felix!"
Tanpa kuduga, dia dengan cepat mendekat, lalu menahan kedua tangaku di belakang punggung.
Ia mencium dahiku dengan lembut.
"Aku sayang kamu," bisiknya.
Ya Tuhan...
Aku sampai lemas.
Ia tempelkan dahinya ke dahiku, lalu tersenyum.
"Kamu lepas IUD ya besok, kutemani ke rumah sakit," bisiknya.
Sekujur lenganku langsung merinding.
salah satu dari mininovel madam yg paling aku suka.. 😍
sesuka itu aq pada karyamu thor