Pada umur 27 tahun, Airin Humairah memilih menjadi ibu tunggal untuk anaknya yang berumur 3 tahun, karena dia menemukan bahwa suaminya semenjak menikah terus berselingkuh dan membohonginya.
Gagah Prasetyo adalah seorang pria perfeksionis yang memiliki banyak kriteria untuk menjadi wanita idamannya, walaupun banyak wanita yang mendekatinya, namun tidak ada satu pun yang berhasil menggugah hatinya, sehingga belum pernah berhasil untuk menikah.
Ketika dua orang yang sangat berbeda ini bertemu, Airin telah lama kecewa dengan pria. Oleh karena itu dia tidak peduli dengan Gagah yang penuh pesona. Wanita yang begitu unik membangkitkan rasa ingin tahu Gagah, dan keinginan pria itu untuk menaklukkannya membuat dia melupakan semua kriteria tentang wanita idaman.
Rasa penasaran mulai menumbuhkan tunas-tunas cinta, Gagah tidak menyangka bahwa ketika ia jatuh cinta pada Airin, semua standar kesempurnaan tidak lagi berlaku.
Akankah Gagah mampu memenangkan hati Airin?
Bagaimana hubungan keduanya akan berkembang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rileks Saja
Tak ada kalimat yang keluar dari mulut Gagah setelah Airin meminga maaf hingga akhirnya mereka sampai di tempat tambal ban. Namun, tempat itu terlihat ramai dengan beberapa orang yang juga mengalami masalah yang sama dengan Airin.
Gagah lalu turun dari mobilnya diikuti oleh Airin.
" Ini kuncinya, Mas." Driver ojol lalu menyerahkan kunci motor itu kepada Gagah.
" Terima kasih atas bantuannya, Pak." sahut Gagah pada driver ojek online yang sudah membantunya.
" Pa, mau tambal ban, kita-kira masih lama tidak?" Sementara Airin bertanya pada tukang tambal ban.
" Masih ada dua orang lagi, Mbak." jawab tukang tambal ban.
Airin melirik ke arlojinya. Mungkin dia akan telat jika dia menunggu bannya ditambal sampai selesai.
" Saya antar kamu ke kantor." Gagah kembali mengeluarkan dompetnya kembali mengeluarkan uang sejumlah lima ratus ribu dari dalam dompetnya.
" Pak, tambal ban ini tutup sampai jam berapa?" tanya Gagah pada tukang tambal ban.
" Sebelum maghrib, Mas." jawab tukang tambal ban.
" Kalau begitu saya titip motor ini. Nanti akan ada orang yang mengambil. Ini uangnya, ambil saja sisanya untuk Bapak." Gagah lalu memberikan uang itu kepada tukang tambal ban.
" Oh, siap, Mas. Matur suwun, Mas. Nanti setengah jam juga selesai, kok, Mas." Tukang tambal ban menerima uang yang disodorkan Gagah untuknya.
" Pak, motor saya mau ditinggal di sini?" Airin terkejut karena Gagah mengambil keputusan akan meninggalkan motor miliknya di tempat tambal ban tanpa persetujuan darinya. Gagah juga kembali memberi uang dalam jumlah yang besar pada tukang tambal ban itu.
" Nanti anak buah saya yang akan ambil motor kamu dan mengantar ke Central Bank." Gagah menyebut rencananya lalu berjalan ke arah mobil untuk membuka pintu mobil dan menyuruh Airin naik ke dalam mobilnya.
" Masuklah!" Gagah sudah seperti seorang suami yang memberi perintah kepada istrinya, membuat Airin mencebik karena merasa tidak diberikan kesempatan untuk memilih apa yang ingin dia lakukan. Karena dia harus menuruti semua perintah Gagah, padahal motor itu adalah miliknya.
" Dasar tukang perintah!" umpat Airin dalam hati, mungkin Airin lupa jika Gagah adalah seorang CEO yang sudah terbiasa memberikan perintah.
" Coba kamu tidak menghindar, tidak memberi alamat palsu. Mungkin kamu tidak akan mengalami ban bocor seperti ini." Gagah sengaja menyindir Airin.
Airin diam tak berani menjawab kalimat sindiran dari Gagah, karena sindiran itu memang tepat sasaran hingga Airin kehilangan kata-kata.
" Kamu memberi alamat kamu yang dulu karena ingin menghindari aku, ujung-ujungnya kita bertemu juga, kan? Dan aku benar-benar mengantar kamu ke kantor." Gagah melirik Airin seraya menyeringai. Dia merasa seluruh alam semesta mendukung niatnya pada Airin pagi ini.
Siapa yang menyangka? Ketika Airin memberikan alamat yang sudah tidak ditempat oleh Airin dengan maksud Airin ingin mengecohnya, secara tidak terduga, justru Gagah bertemu Airin di tengah jalan di saat Airin membutuhkan bantuan. Dia berpikir Tuhan memang adil kepadanya, atau mungkin itu adalah pertanda jika Tuhan memang sudah menetapkan Airin untuk menjadi jodohnya. Gagah mengulum senyuman saat dia membayangkan soal jodoh.
" Dasar pria egois! Sok mengatur! Dia pikir dia itu siapa berani mengatur ini itu!?" Sementara Indhira menggerutu dalam hati dengan melempar pandangan ke luar jendela mobil yang dikendarai oleh Gagah.
Airin merasa hidupnya tidak beruntung karena dipertemukan dengan pria-pria yang membuat dirinya merasa tertekan.
***
Dua puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Gagah sudah mendekati kantor Central Bank. Tentu akan menjadi tanda tanya besar jika sampai kedatangan Airin turun mobil mewah diketahui oleh rekan-rekan, apalagi jika ada rekan yang tahu jika mobil yang mengatarnya adalah mobil milik Gagah, CEO sebuah perusahaan raksasa retail dan nasabah besar di bank tersebut.
Airin juga khawatir jika beredar gosip dirinya diantar oleh pria lain, karena teman kerjanya menganggap dirinya masih berstatus istri Rey, sebab dia masih menyembunyikan statusnya saat ini yang sudah cerai hidup.
" Hmmm, maaf, Pak. Sebaiknya turunkan saya di sini saja." Airin meminta Gagah tidak mengatarnya sampai masuk ke halaman parkir Central Bank.
" Kenapa? Kamu malu saya antar?" tanya Gagah menoleh ke arah Airin.
Airin sontak menatap Gagah hingga mata mereka saling bertatapan. Namun, tak lama Airin langsung mengalihkan pandangannya.
" Tidak, Pak. Bukan seperti itu! Saya hanya tidak enak jika sampai beredar gosip di kantor, jika orang kantor tahu Bapak mengantar saya." Airin beralasan yang menurutnya cukup masuk akal.
" Biarkan saja mereka mau bicara apa!" Gagah tidak memperdulikan permintaan dan alasan Airin, pria itu justru membelokan mobilnya ke halaman Central Bank.
Airin menghempas nafas dengan kesal, karena lagi-lagi Gagah memaksakan kehendak kepadanya. Pria itu enak bertindak, sementara dia yang akan menanggungnya. Jika sampai terendus karyawan Central Bank jika dirinya diantar oleh Gagah, Gagah mungkin tidak memusingkan hal tersebut karena pria itu tidak ada di kantor Airin, sementara Airin, pasti dirinya yang akan diserang dengan pertanyaan-pertanyaan oleh teman kerjanya. Mengingat status Gagah yang seorang nasabah besar bank tempatnya bekerja, bukan tidak mungkin jika hal ini akan sampai terdengar ke telinga Pak Andika selalu pimpinan Central Bank.
Mobil Gagah berhenti tepat di depan lobby kantor Central Bank. Airin tidak langsung turun padahal Gagah sudah membuka kunci pintu mobil, karena dia melihat beberapa karyawan dari area parkir khusus karyawan berjalan ke arah pintu masuk kantor. Dan salah seorang dari mereka adalah Fani.
Airin spontan menutupi wajah dengan tangannya. Dia tidak ingin Fani sampai melihat keberadaannya di mobil itu.
" Kamu menolak saya antar, tapi sekarang kamu malah tidak ingin turun dari mobil saya." Gagah tersenyum menyindir Airin. Dia tahu Airin tidak cepat turun bukan karena mobil miliknya nyaman hingga membuat wanita itu bentah berlama-lama di dalam mobil, tapi karena Airin bersembunyi dari teman-teman kerjanya.
Airin melirik sebal ke arah Gagah. Jika saja tadi Gagah menurunkannya di luar kantor Central Bank, dirinya akan selamat.
" Kenapa kamu takut sekali teman-teman kamu tahu kalau saya mengantar kamu?" tanya Gagah heran.
" Kalau memang mereka ingin menggosipkan kita, tidak usah diperdulikan. Lagipula, tidak ada yang salah jika saya mengatar kamu. Kita sama-sama single, dan tidak terikat hubungan dengan siapa pun, jadi seharusnya kamu tidak perlu merasa khawatir jika sampai gosip itu beredar." Gagah meminta Airin untuk lebih rileks.
" Sekarang turunlah! Aku tidak mau ditegur nasabah lain karena terlalu lama berhenti di depan lobby sampai menghalangi mobil nasabah lain." Gagah menyuruh Airin segera turun dari mobil karena dia melihat sudah tidak ada karyawan di sana.
Setelah menoleh kanan, kiri, depan, belakang dia rasa cukup aman, Airin pun memutuskan untuk turun dari mobil Gagah
" Terima kasih atas bantuannya," ucap Airin membuka pintu mobil tak menoleh ke arah Gagah.
" Sampai jumpa nanti siang, Saya jemput kamu jam setengah sebelas ..." Gagah tetap melanjutkan rencananya ingin mengajak Airin makan siang bersama.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️