NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35: Getaran Hati yang Goyah

Sinar matahari sore menerobos celah-celah daun pohon mangga di taman belakang, menciptakan pendar cahaya keemasan yang menari di atas meja kayu gazebo.

Suara gemericik air dari kolam ikan koi berpadu renyah dengan gelak tawa empat remaja yang sedang asyik mendiskusikan naskah drama sekolah.

Di tengah riuhnya canda tawa itu, Lea duduk agak menyendiri di sudut bench gazebo. Jemarinya memangku dagu, menatap kosong ke arah kolam.

Setiap kali Maya, Nabila, Kiki, atau Rehan memuji kelezatan churros renyah atau kesegaran es markisa buatan Ayu, dada Lea serasa terhimpit. Ada pertentangan batin yang teramat hebat berkecamuk di dalam dirinya.

Di satu sisi, doktrin racun dari Tante Sintia dan janji kesetiaannya pada ingatan almarhumah Mamanya menuntut Lea untuk terus membenci Ayu.

Namun di sisi lain, kenyataan di depan matanya tak bisa dibohongi: Ayu memperlakukan teman-temannya dengan sangat mulia, tanpa sedikit pun berusaha mempermalukan atau memanfaatkan momen itu untuk mencari muka di depan Lea.

"Okey, jadi peran Antagonisnya diambil sama Rehan ya!" seru Maya riang seraya mencatat di lembar kerja kelompok. "Terus peran Protagonis utamanya... Lea aja gimana? Muka Lea kan sendu-sendu anggun gitu, cocok banget!"

"Setuju banget!" timpal Kiki semangat. "Lea pasti dapet banget emosinya."

Lea tersentak dari lamunannya, lalu mengulas senyum tipis yang dipaksakan. "Terserah kalian aja deh... Aku ikut apa kata kelompok."

Saat diskusi naskah mulai memasuki bagian puncak pertunjukan, suara langkah kaki mungil yang tergesa-gesa terdengar menepuk-nepuk lantai batu taman.

"Kakak Leaaa!"

Semua anak di gazebo refleks menoleh. Moana berlari-lari kecil melintasi jalan setapak taman. Piyama merah mudanya berayun lembut, dan perban kecil di kening kanannya masih menempel rapi. Di belakangnya, Ayu berjalan pelan menyusul seraya tersenyum cemas.

"Moana, pelan-pelan, Sayang... Nanti jatuhnya kena bekas jahitannya lagi," tegur Ayu sangat lembut.

Moana menghentikan langkahnya tepat di tangga gazebo, lalu memegangi tiang kayu dengan kedua tangan kecilnya. Mata bulatnya menatap polos ke arah teman-teman Lea.

"Wahhh! Lucu banget adiknya, Le!" pekik Nabila gemas, dan langsung berlutut di dekat tangga gazebo. "Halo, Cantik! Siapa namanya?"

Moana mengedipkan matanya, lalu tersenyum malu-malu. "Nama aku Moana..."

"Lucu banget sih kamu, Moana! Keningnya kenapa itu kok ada perbannya?" tanya Kiki prihatin, sambil mengusap pipi cabi Moana.

Sebelum Lea sempat menyela atau memotong pembicaraan karena cemas Moana akan menceritakan insiden kecelakaan itu, Moana sudah lebih dulu menjawab dengan kepolosan yang jujur.

"Kemarin Moana jatuh pas jalan-jalan," ujar Moana polos. "Tapi sekarang udah gak sakit, soalnya dipeluk dan dijagain terus sama Ibu!"

Mendengar ucapan polos Moana, Rehan dan Maya spontan menoleh ke arah Ayu yang kini berdiri tak jauh dari gazebo. Ayu membelai rambut Moana, merapikan poni anak kecil itu agar tidak menutupi perban.

"Anak pinter," puji Ayu pada Moana, lalu menatap teman-teman Lea dengan sungkan. "Maaf ya, anak-anak... Ibu tidak maksud mengganggu belajar kalian. Moana tadi baru bangun tidur dan langsung nyari Kakak Lea-nya."

"Sama sekali gak mengganggu kok, Tante!" sahut Maya bersemangat. "Justru gemes banget sama Moana. Tante Ayu telaten banget ya ngurus Moana."

Ayu mengulas senyum manis. "Kalian kalau mau tambah es sirupnya atau kentang gorengnya, bilang ya. Ibu sama Moana ke dalam dulu biar kalian bisa fokus."

"Makasih banyak ya, Tante Ayu!" sahut keempat teman Lea kompak.

Ayu menggandeng jemari kecil Moana, dan menuntunnya kembali ke dalam rumah dengan langkah anggun dan tenang.

Sepeninggal Ayu dan Moana, suasana di gazebo mendadak menghening sejenak. Maya menatap punggung Ayu yang menghilang di balik pintu kaca, lalu menoleh menatap Lea dengan pandangan mata yang sangat dalam dan tulus.

"Le..." panggil Maya pelan, suaranya kini berubah serius. "Aku mau nanya sesuatu, tapi kamu jangan marah ya?"

Lea menegang, seraya meremas ujung rok seragamnya. "Nanya apa?"

Nabila dan Kiki ikut mendekatkan posisi duduk mereka, dan menatap Lea dengan simpati alami khas sahabat.

"Tadi pas di sekolah... Kamu kelihatan benci banget dan gak mau kita ke rumah kamu gara-gara ada Tante Ayu, kan?" tutur Maya berhati-hati. "Tapi pas kita sampai di sini... Tante Ayu tuh kelihatan tulus banget, Le. Caranya ngerawat Moana, caranya nyambut kita yang cuma teman-teman sekolah kamu... Semuanya kerasa hangat banget. Kenapa kamu benci banget sama dia, Le?"

Pertanyaan tulus dari Maya bagaikan anak panah yang menembus pertahanan tersembunyi di dada Lea. Lea membeku. Tenggorokannya terasa tersumbat batu besar.

"Dia... Dia cuma orang asing yang mau gantiin posisi Mamaku," bisik Lea dengan suara bergetar, dan berusaha mempertahankan benteng kebenciannya meski suaranya terdengar sangat rapuh.

Rehan, satu-satunya anak laki-laki di kelompok itu, menghembuskan napas pelan. "Le, jujur ya... Ibuku juga meninggal waktu aku kelas lima SD. Ayahku sempat mau nikah lagi, dan aku benci setengah mati sama calon ibu tiriku dulu. Aku pikir gak bakal ada yang bisa gantiin Ibuku."

Lea menoleh, dan menatap Rehan dengan mata membelalak tak percaya.

"Tapi pas aku coba buka hati pelan-pelan," lanjut Rehan tulus, "aku baru sadar kalau ibu tiriku gak pernah berniat menggantikan posisi Ibuku. Dia cuma mau menambah kasih sayang yang hilang di rumahku. Dan aku liat... Tante Ayu juga gitu ke kamu sama Moana, Le. Dia gak berusaha jadi Mama Ratna, dia cuma mau jadi Tante Ayu yang sayang sama kalian."

Kata-kata Rehan menghantam ulu hati Lea dengan sangat telak.

Lea tidak sanggup menjawab. Airmata hangat yang sejak tadi ditahannya mendadak merebak di pelupuk mata. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, dan berpura-pura sibuk merapikan kertas-kertas naskah drama untuk menyembunyikan getaran di wajahnya.

Sahabat-sahabatnya tidak menekan Lea lebih jauh. Maya hanya merangkul bahu Lea pelan, dan memberikan dukungan tanpa kata.

Pukul lima sore, kerja kelompok akhirnya selesai. Seluruh draf naskah drama dan pembagian peran telah tuntas diketik.

Saat kelima anak itu melangkah keluar dari gazebo menuju pekarangan depan untuk pulang, Kenzo baru saja tiba di rumah. Remaja laki-laki itu turun dari motor matic nya, dan masih mengenakan seragam SMA dan jaket seragam basketnya.

Kenzo sempat tertegun melihat ramai anak-anak SMP di halaman rumahnya.

"Bang Kenzo!" sapa Lea pelan.

"Oh... Ada teman-teman kamu, Le?" tanya Kenzo datar namun sopan.

"Iya, Bang. Baru selesai kerja kelompok," jawab Lea.

Pada saat yang bersamaan, Ayu keluar dari pintu utama membawa sebuah kantong kertas tebal yang rapi. Ayu mendekati teman-teman Lea dengan senyuman hangat.

"Anak-anak... Sebelum pulang, ini Ibu sudah bungkuskan churros hangat dan kue-kue basah buat kalian bawa pulang ke rumah ya. Biar orang tua kalian di rumah juga bisa nyicipin," tutur Ayu lembut, sambil menyerahkan kantong kertas itu kepada Maya.

Mata keempat teman Lea kembali berbinar riang. "Aduh, Tante Ayu! Baik banget! Terima kasih banyak ya, Tante!" seru Nabila terharu.

Kenzo berdiri bersedekap dada di dekat motornya, menyaksikan interaksi tersebut dalam diam. Mata tajamnya memperhatikan bagaimana Ayu memperlakukan teman-teman adiknya dengan sangat mulia dan penuh etika.

Tidak ada riasan berlebihan, tidak ada sikap meluap-luap yang dibuat-buat. Hanya ketulusan murni seorang ibu rumah tangga yang ingin memuliakan tamu di rumahnya.

"Kami pamit ya, Tante Ayu, Lea, Bang Kenzo!" ujar Maya dan teman-temannya seraya menyalami tangan Ayu satu per satu dengan penuh takzim.

Setelah mobil penjemput teman-teman Lea menghilang di balik gerbang besi yang tertutup, suasana di halaman rumah kembali hening.

Ayu berbalik, menatap Lea dan Kenzo yang berdiri di area teras. Ayu mengulas senyum teduh yang sangat tulus, tanpa ada sisa-sisa dendam atas insiden gelas pecah di balkon kemarin.

"Lea... Terima kasih ya sudah mau ajak teman-temannya main ke rumah," tutur Ayu sangat lembut. "Rumah ini jadi terasa ramai dan hangat. Kalau ada teman-teman Lea yang mau main lagi, bilang ke Ibu ya... Nanti Ibu siapkan masakan yang lebih enak."

Lea terpaku di tempatnya berdiri. Ia menatap Ayu dengan lidah yang mendadak kelu. Bayangan celaan Tante Sintia, teguran jujur dari Rehan, dan kehangatan sikap Ayu yang tak pernah membalas kejahatannya berputar-putar hebat di dalam kepalanya.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Lea menundukkan kepalanya, lalu berjalan cepat melintasi teras dan masuk ke dalam rumah.

Ayu menghembuskan napas pelan, lalu menoleh ke arah Kenzo.

Kenzo masih berdiri terpaku di dekat motornya. Pandangan matanya bertabrakan langsung dengan mata Ayu yang teduh.

Untuk pertama kalinya, tidak ada kilatan amarah atau tatapan tajam yang biasa dipancarkan oleh anak sulung Yoga itu. Yang tersisa di mata Kenzo hanyalah pendar keraguan, rasa segan, dan kebingungan yang amat dalam atas kebaikan wanita muda di hadapannya.

Kenzo mengalihkan pandangannya, membetulkan letak tas ranselnya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Ayu kini berdiri sendirian di teras rumah yang sejuk ditiup angin sore. Meski kedua anak tirinya belum sepenuhnya membuka pintu hati mereka, Ayu bisa merasakan ada sesuatu yang mulai bergeser, sebuah celah kecil pada dinding es yang rapat, menandakan bahwa ketulusan yang disiramnya setiap hari perlahan-lahan mulai meresap ke dalam tanah hati mereka.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!