Ruri dan Zainudin adalah orang yang sama-sama punya kisah gagal dalam rumah tangga. Zai mempunyai putra yang menguak tabir rumah tangganya, sementara Ruri harus berjuang sendiri demi anak-anaknya.
Pertemuan keduanya tak terduga di sekolah anak mereka. Apa yang terjadi selanjutnya dengan mereka berdua? Yuk, ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabir Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LSC 29
Dua hari kemudian, Reni dan Brian beserta kedua anaknya, berangkat ke Indonesia di tempat kampung halaman Reni.
"Honey, makasih sudah menuruti keinginanku," ucap Reni bersandar di pundak Brian.
"Apapun itu, pasti akan aku turuti asal demi kamu dan anak kita," kata Brian lembut.
Selama di dalam pesawat, Reni selalu berdoa berharap ketika tiba nanti bisa bertemu Rere dan Gabriel. "Rere, Gabriel, Mama kangen." Rani berucap dalam hati.
Kemudian Reni lebih memilih memejamkan matanya dan memeluk Jordan karena perjalanan masih panjang. Sedang Brian, memangku Jodi yang sudah tertidur.
*
Di tempat berbeda, Zai datang kerumah Ruri untuk melamar. Tentu saja, orang tua Ruri sudah diberitahu sebelumnya oleh Ruri. Untuk Bobby hanya setuju saja dengan lelaki yang akan menikahi mamanya. Berry yang paling bahagia karena sebentar lagi akan punya Papa baru dan tentu senang karena ada Gabriel teman bermainnya.
Suasana rumah Ruri tampak ramai, walau hanya dihadiri keluarga Zai saja.
"Assalamualaikum. Niat kami datang ke rumah Nak Ruri adalah untuk melamar putri Bapak sebagai calon menantu kami," kata Pak Gatot tersenyum ramah.
"Kebetulan mereka berdua sudah saling kenal lama sejak sekolah. Kami pun baru mengetahui ini bila Zai tidak bercerita."
"Waalaikumsalam. Terimakasih atas kedatangan Bapak dan Ibu juga Nak Zai. Alhamdulillah, Saya sebagai orang tua Ruri sungguh bahagia dan senang bila ada yang datang melamar anak saya."
"Tentu saja, niat baik Bapak dan Ibu kami terima. Tinggal kita menentukan tanggal pernikahan untuk mereka berdua," kata Pak Dedi ayah Ruri.
"Alhamdulillah."
Ruri di dapur sedang membantu ibunya menyiapkan makan malam yang begitu mewah kali ini. Hatinya terasa berdebar sejak beberapa hari ini. Bagaimana tidak, Zai secara terus terang langsung memberanikan diri melamar saat berada di pantai dan kali ini datang bersama kedua orang tua juga anaknya.
"Ruri. Ibu merasa senang, akhirnya ada yang akan membawamu menuju hidup lebih baik lagi untuk kedepannya," ucap Bu Ria Ibu Ruri
Ruri hanya tersenyum dan berkata, "Alhamdulillah, Bu. Jodoh Ruri baru dapatnya sekarang. Yang penting sekarang, anak-anak tidak merasa kesepian lagi, Bu."
"Iya. Ibu ikut bahagia. Pilihanmu memang tepat kali ini. Bapak dan Ibu mendoakan, kalian hidup bahagia dan langgeng selamanya." kata Bu Ria seraya membawa menu makan malam di meja makan.
Disusul Ruri dari belakang yang membawa air minum dan segera Ibu Ria meminta calon besan dan calon menantunya untuk makan malam bersama di meja makan.
"Mari. Pak Bu. Ayo makan malam dulu? Makanan sudah tersedia di meja makan," ajak Bu Ria ramah menghampiri mereka yang sedang mengobrol.
Mereka pun segera beranjak berdiri dan mengikuti Tuan rumah ke meja makan. Kebetulan rumah orang tua Ruri cukup besar dan nyaman. Sehingga, suasana di meja makan pun terasa ramai dengan kehadiran anak-anak yang menambah kehebohan karena aksi tingkah lucu Gabriel dan Berry.
Zai duduk di samping Ruri. Malam ini, Ruri tampil cantik dan anggun dengan memakai busana gamis panjang dan kerudung warna merah senada dengan bajunya.
"Malam ini, kamu cantik banget," puji Zai berbisik di dekat Ruri.
"Terimakasih gombalannya. Kamu juga tampak berbeda dari biasanya, Zai." balas Ruri tak mau kalah dari Zai yang hanya tersenyum menanggapi perkataan wanita yang akan di nikahinya kelak.
Keduanya makan dengan tenang, tetapi sesekali ada obrolan kecil di meja makan. Begitu juga para orang tua mereka yang saling mengobrol hal-hal kecil agar silaturahmi ini terjalin erat di masa depan nanti.
"Papa, tambah lagi?" pinta Gabriel yang kali ini makan dengan lahap
”Berry juga Mama?"
Zai dan Ruri tertawa dengan dua anak kecil yang manis ini. Kenapa bisa mereka kompak sekali.
mampir y