Devo seorang pria tampan dan kharismatik.
Bos sebuah perusahaan tekstil dengan banyak cabang di Indonesia. Devo telah beristri namun ia jatuh hati pada seorang gadis berparas cantik, ramah dan juga perhatian. Yang tak lain adalah asisten pribadinya di kantor.
Aurel adalah istri yang dijodohkan dengan Devo oleh orang tua mereka. Dan Dareen seorang anak berusia 3 tahun hasil pernikahan mereka.
Menyatakan cinta nya pada Lisa dan menjalani hubungan secara diam-diam ternyata membuat hidup Devo lebih bahagia dan berwarna.
Karena kecerobohan, Lisa pun hamil. Akankah perselingkuhan mereka terbongkar oleh istri Devo? Apakah Devo akan bertanggungjawab dengan kehamilan Lisa?
Bagaimana perjalanan hubungan cinta terlarang mereka?
Ikuti ceritanya yaa..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R-na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
VOTE... VOTE...
Happy reading ya genks..😘😘
❤️❤️❤️
"Kenapa harus aku sih pah, anak buah papah kan banyak." pembicaraan Devo dengan papah Kevin tampak serius. Dan wajah Devo nampak tak bersahabat. Sang papah menghubunginya saat ia akan beranjak pulang, jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh malam, seperti biasanya jika menggunakan waktu untuk berlibur dihari kerja, maka ia akan menyelesaikan berkas yang menumpuk dimejanya. Devo mendengkus kesal sebelum ia menyudahi sambungan ponselnya.
Menuju apartemen sebelum ia kembali kerumah, karena ia belum mendengar kabar Lisa lagi sejak tadi malam ia meninggalkan gadisnya sendirian di apartemen.
❤️❤️❤️
Bersiap menyambut Devo dengan berita menggembirakan, Lisa membersihkan diri dan mengganti pakaian tentu saja ia menyemprotkan sedikit parfum, walau itu membuat perutnya agak mual.
Terdengar suara pintu terbuka, akhirnya laki-laki yang ditunggu sejak sore tadi datang. Devo masuk namun kali ini tanpa senyuman diwajahnya, mungkin terlalu lelah karena jalanan ibukota yang begitu padat setiap harinya, ditambah ada pohon tumbang disebabkan tabrakan beruntun yang terjadi sebelum ia melewati jalan tersebut.
"kakak..." Lisa memeluk Devo ketika lelakinya itu masuk keruang tengah dimana ia berada. Devo tersenyum walau tampak agak memaksakan sudut bibirnya meninggi, "udah ke dokter?" tanya Devo datar. Lisa mengangguk masih dalam pelukan.
"ohh iya kak, aku punya surprise buat kakak, bentar ya" Lisa berjalan agak cepat menuju kamar dan meninggalkan Devo yang masih berdiri untuk mengambil tespeck yang ia beli tadi siang.
Menyembunyikan kedua tangannya dibelakang badannya, tentu saja dengan memegang kedua tespeck yang sudah ada hasilnya.
"taraaa....kak, aku hamil, anak kita." ucap Lisa dengan senyum sumringah sambil menunjukkan kedua hasil tespeck pada Devo.
"lohh...memang pilnya gak kamu minum?" itu kalimat pertama yang Devo ucapkan setelah melihat hasil tespeck yang ada ditangan Lisa.
Lisa termangu mendengar ucapan Devo, senyum diwajahnya perlahan menghilang, hatinya mencelos begitu saja. Ia tidak menyangka akan mendapat respon seperti itu dari kekasihnya, perkiraan nya benar-benar salah.
Drrrt.... drrrrtt....suara ponsel Devo bergetar dibalik saku celananya, "apaa!!!" Devo langsung pergi begitu saja tanpa memperdulikan Lisa yang masih berdiri dihadapannya.
Lisa tak bisa berkata apa-apa, jantungnya seakan terjun bebas ke dasar perut, badannya terasa lunglai bagai tak bertulang, kedua tespeck yang dipegangnya pun terlepas begitu saja.
Devo meninggalkannya sendirian, ia tak menerima janin yang ada didalam perutnya. Pikirannya berkecamuk, badannya ambruk kelantai. Dadanya terasa sesak dan air matanya jatuh begitu saja.
Menangis,, Lisa menangis sejadi-jadinya. Ia pikir Devo akan senang mendengar kabar darinya.
❤️❤️❤️
Devo berlari setelah mobil yang ia parkir tiba di halaman rumah sakit, memasuki koridor IGD dan menanyakan pasien bernama Kevin Mahendra.
"Dev,,," suara mamah Rena memanggil namanya.
"Mah..papah kenapa?" tanya Devo panik.
Mama Rena menghubungi Devo saat di apartemen, memberi kabar bahwa papah Kevin tiba-tiba saja terjatuh sambil memegang sebelah kiri dadanya. Dan ponsel yang sedang digunakan pun ikut jatuh kelantai.
"Dev..mamah takut." mamah Rena sangat khawatir dengan keadaan suaminya, ia terus saja meremas kedua tangannya.
"sabar ya mah, kita berdoa untuk papah" Devo merangkul pundak sang mamah yang sejak tadi menangis.
Setelah menunggu selama satu jam didepan ruang IGD, akhirnya pintu itu terbuka dan seorang dokter keluar dari sana.
"Keadaan papah saya gimana Dok?"
"Pak Kevin terkena serangan jantung, tapi sekarang keadaannya sudah aman. Hanya menunggu siuman, pasien bisa dipindahkan ke ruang perawatan.
Keluarga pasien boleh masuk, tapi hanya satu orang saja." ucap dokter.
"Baik, terima kasih dok." ucap Devo. Kini ia dan mamah Rena merasa lega setelah mendengar penjelasan dokter yang menangani papah Kevin.
Mereka memutuskan mamah Rena yang menemani papah Kevin didalam ruangan dingin itu. Devo menuju ke kantin, rasanya haus sekali karena sedari tadi ia belum memasukkan cairan apapun ke dalam tenggorokannya.
Menyesap secangkir kopi yang dipesannya, Devo teringat kejadian di apartemen tentang kehamilan Lisa, mencoba menghubungi gadisnya namun ponsel Lisa tidak aktif. Ada rasa bersalah dihatinya. Kepala Devo terus berpikir, tidak mungkin jika ia memberi tahu berita ini pada orang tuanya, bisa-bisa jantung papahnya berhenti mendadak.
Tapi ia harus memberi tahu pada Aurel, ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan segala resiko. Itulah sikap laki-laki sejati.
Menunggu papah Kevin dipindahkan keruang rawat inap, Devo tidak bisa memejamkan matanya, untung saja hari ini hari Sabtu, jadi ia tidak perlu ke kantor. Otaknya terus saja berpikir bagaimana cara menyelesaikan semua masalahnya.
Devo turut mendorong brankar bersama suster keruang rawat VVIP di rumah sakit itu. "Pah, maafin aku ya" Devo memegang tangan sang papah yang masih lemah.
"Kamu cuma perlu melaksanakan yang papah suruh" ucap sang papah dengan penuh harap.
"aku akan pertimbangkan pah" sahut Devo
"Cuma kamu harapan kami Dev, lihat keadaan papah kamu. Papah sudah gak sekuat dulu Dev."
Devo tertunduk, ia mencerna semua ucapan kedua orang tuanya.
"sekarang kamu pulang dan istirahat dulu, papah biar mamah yang nunggu."
Papah Kevin mengangguk setuju dengan yang dikatakan mama Rena.
"Aku pamit dulu ya pah..mah.." mengecup kening kedua orang tuanya secara bergantian dan segera keluar dari ruangan.
Sepanjang jalan menuju parkiran Devo terus berpikir cara menyampaikan masalah nya pada Aurel. Pokoknya ia ingin menyelesaikan semua hari ini, apapun yang akan terjadi.
❤️❤️❤️
"Rel..aku mau bicara" Devo langsung mengajak Aurel bicara ketika baru masuk kamar dan mendapati istrinya sedang bersantai disofa depan ranjang.
Aurel menjawab namun tatapannya masih terfokus pada majalah fashion yang ada dipangkuannya, "mau bicara apa? kamu sering gak pulang ya? semalem tidur dikantor lagi?"
Sekarang Devo di bombardir oleh pertanyaan dari Aurel yang berstatus istrinya itu.
"dirumah sakit" jawab Devo datar.
"haah..siapa yang sakit?"
"papah"
"kok kamu gak kabarin aku?"
"udah terlalu malem"
"gimana keadaan papah sekarang?"
"sudah membaik, bukan itu masalah nya rel." Devo menyudahi pertanyaan-pertanyaan Aurel.
"Lisa hamil"
Terdiam sejenak sambil berpikir, " ohh..bagus dong, masalah nya apa? kamu perlu asisten baru?" jawab Aurel diiringi dengan pertanyaan.
"anak aku"
Sontak saja dahi Aurel berkerut dan kini posisinya sudah berdiri berhadapan dengan Devo, ia masih belum yakin dengan apa yang dikatakan suaminya. "maksud kamu apa?"
"aku yang menghamili Lisa, dia mengandung anakku" Devo menjelaskan dengan tegas.
Memukul dada Devo dengan majalah yang sedang dipegangnya, "kurang ajar kamu Dev !..kita memang punya perjanjian, tapi gak begini caranya !" kata-kata Aurel penuh penekanan, ia emosi mendengar penuturan suaminya. Itu wajar saja, semua istri pasti akan melakukan hal yang sama bahkan bisa lebih parah dari itu.
❤️❤️❤️
segini dulu aja ya genks, komen yang banyak yaa..nanti kulanjut lagi deh..😀😘
kan Lisa gk punya jenggot thor 🤣🤣🤣