"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"
Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.
Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.
Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kemarahan pa elio
Udara di dalam ruangan itu mendadak berubah sepuluh derajat lebih dingin, seolah seluruh oksigen tersedot habis dalam sekejap.
Erik—yang masih memegang kendali penuh atas pinggang Aratala—tidak lantas melepaskan rangkulannya. Pria itu justru sengaja mendekatkan wajahnya sedikit, menatap manik mata Aratala dengan senyuman penuh selidik yang menyebalkan.
"Makanya, kalau jalan pakai mata, jangan cuma ngelamun. Untung ada aku yang sigap nangkep, kalau enggak... bisa remuk tuh badan mulus kamu," bisik Erik dengan nada santai yang terang-terangan mencari gara-gara.
Aratala, yang tadinya sempat terkejut, langsung mengerjap kaget. Ia buru-buru mendorong dada Erik dengan kedua tangannya, melepaskan diri dari dekapan pria itu dengan wajah memerah karena risih dan kesal.
"Lepas, Kak Erik! Saya bisa jaga keseimbangan sendiri!" desis Aratala tajam, buru-buru mundur selangkah untuk menciptakan jarak aman, merapikan gaunnya yang sedikit kusut.
Namun, peringatan itu terlambat.
Sebuah cengkeraman tangan yang begitu kuat dan bertenaga tiba-tiba mencengkeram kerah jas Erik dari belakang, lalu menarik tubuh pria itu dengan kasar hingga terhuyung ke samping.
Bugh!
Suara hantaman kecil akibat tarikan itu membuat beberapa orang di sekitar spontan menoleh. Elio sudah berdiri di hadapan mereka. Wajah pria itu benar-benar gelap, nyaris pias oleh amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Rahangnya mengeras kaku, dan tatapan matanya yang menghujam tajam ke arah Erik terlihat seperti bilah pisau yang siap mencabik-cabik siapa saja yang berani menyentuh miliknya.
"Jangan pernah sentuh istriku dengan tangan kotor itu, Erik," desis Elio rendah. Suaranya terdengar sangat berbahaya, bergetar hebat menahan emosi yang siap meledak kapan saja.
Erik yang baru saja ditarik kasar menegakkan tubuhnya kembali. Alih-alih takut, sepupu Elio itu justru terkekeh pelan sambil merapikan jasnya sendiri dengan santai. Ia melirik sekilas ke arah Elio, lalu melayangkan senyuman miring penuh ejekan kepada Aratala.
"Wah... santai, El. Cuma nolongin ipar sendiri yang hampir jatuh. Sensitif banget, kayak penjara aja," balas Erik sengaja memancing emosi, menikmati pemandangan bagaimana Elio kehilangan kendali atas posesivitasnya sendiri di hadapan keluarga besar.
Amarah Elio kian membuncah. Tanpa peduli bahwa mereka sedang berada di tengah-tengah acara keluarga dan menjadi pusat perhatian seketika, tangan Elio langsung menyambar pergelangan tangan Aratala dengan cengkeraman mutlak yang tidak bisa ditolak. Pria itu menarik paksa tubuh Aratala untuk merapat ke sisinya, lalu membawanya pergi meninggalkan area kerumunan keluarga besar tanpa memedulikan suara-suara panggilan dari belakang yang menanyakan kemana mereka akan pergi.
Langkah lebar Elio yang menyeret Aratala keluar dari kerumunan seketika terhalang oleh sosok Maria. Ibu kandung Elio itu bergerak cepat mencegat jalan mereka, sementara di sisi lain, Tante Maya langsung melangkah mendekati putranya dengan wajah geram.
"Elio! Mau dibawa ke mana Aratala?" seru Maria dengan nada cemas bercampur panik, berusaha menengahi ketegangan yang tercipta di antara para sepupu. "Kamu ini kenapa sih, main tarik-tarik istri sendiri di depan keluarga?"
Di tempatnya berdiri, Erik hanya terkekeh pelan, melipat tangan di dada sambil memasang wajah tak berdosa yang justru semakin menyulut kemarahan Elio. Melihat ekspresi putranya, Maya langsung mendengus tajam, melayangkan tatapan tidak suka ke arah Aratala.
"Makanya, suruh istri kamu itu jalan pakai mata, El. Jangan tebar pesona dan caper ke sepupu sendiri sampai anak saya harus repot-repot menangkapnya!" sinis Maya tajam, sengaja memprovokasi suasana.
Aratala, yang pergelangan tangannya masih dicengkeram erat oleh Elio, merasakan dadanya naik-turun menahan amarah dan rasa risih. Ingin sekali ia membalas ucapan pedas Maya, namun cengkeraman tangan Elio di nadinya terasa semakin mengunci, menahan setiap pergerakannya.
Napas Elio memburu hebat. Kilatan amarah di matanya menatap tajam bergantian antara Erik dan sang bibi, siap meledak jika ada satu kata lagi yang berani merendahkan wanita di sisinya.
"Ma, Elio sama Aratala pulang duluan," ucap Elio akhirnya, mengambil alih kendali situasi dengan suara tegas untuk memecah ketegangan yang kian mencekam di antara keluarga besar.
Tanpa menunggu balasan, anggukan, atau persetujuan dari Maria yang masih tertegun, Elio tidak menyia-nyiakan kesempatan. Pria itu langsung menarik tangan Aratala dengan gestur absolut, membawanya melangkah cepat meninggalkan ruangan tersebut.
Di belakang mereka, sisa-sisa tatapan sinis dari Maya dan seringai provokatif dari Erik terabaikan sepenuhnya, tenggelam bersama derap langkah tegas Elio yang membawa sang istri keluar dari pusaran drama keluarga malam itu.
"Pelan-pelan, Pa... Elio, aku pakai heels," ucap Aratala terengah-engah, berusaha menyamakan langkah lebar sang suami yang berjalan begitu cepat, seolah pria itu sama sekali tidak peduli bahwa ukuran langkah mereka jauh berbeda.
panggilan dan protes itu diabaikan begitu saja. Elio tetap bergeming, menarik tangan Aratala dengan cengkeraman kokoh tanpa mengurangi kecepatan jalannya.
Di dalam kepalanya, api amarah dan pikiran-pikiran gelap bergolak hebat. Bastian, Erik, lantas siapa lagi yang bakal Aratala goda setelah ini? batin Elio bergemuruh penuh kecemburuan yang tidak masuk akal, merasa seolah seluruh dunia sedang berusaha merebut satu-satunya hal yang kini sah menjadi miliknya.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba di area parkir privat. Tanpa memberikan aba-aba sedikit pun atau sekadar melontarkan sepatah kata pun untuk meredakan situasi, Elio langsung membuka pintu mobil bagian penumpang dan mendudukkan Aratala secara paksa di kursi sebelah pengemudi.
Begitu memastikan istrinya duduk di dalam, Elio membanting pintu mobil itu dengan kencang. Pria itu lantas memutari badan mobil, membuka pintu pengemudi, dan langsung masuk ke dalam kabin yang pengap oleh ketegangan.
Pintu kabin mobil tertutup rapat, mengunci rapat pula seisi udara dingin di dalamnya. Mesin mobil langsung meraung pelan begitu Elio menyalakannya dengan injakan pedal gas yang penuh emosi.
Di kursi sebelah, Aratala memilih diam sambil merenggangkan pergelangan tangannya yang terasa nyeri akibat cengkeraman keras Elio tadi. Napasnya masih memburu, bukan karena kelelahan berjalan, melainkan karena rasa sesak yang disebabkan oleh ledakan posesivitas sang suami yang kian tidak masuk akal.
Mobil mewah itu melesat membelah jalanan malam kota yang mulai lengang. Tidak ada satu pun dari mereka yang membuka suara. Di dalam keheningan yang pekat itu, aura dingin dan dominan dari Elio seakan menekan dinding-dinding kabin, menyisakan ketegangan yang siap meledak kapan saja begitu mereka tiba di tempat tujuan.
🌴🌴🌴
Laju mobil melambat seiring deru angin malam yang berbisik di luar kaca jendela, sementara penunjuk waktu di dashboard mobil telah menunjukkan pukul sepuluh lewat sepuluh malam. Merasa jenuh dan muak dengan atmosfer kabin yang terlampau menyesakkan, Aratala mengalihkan atensinya. Gadis itu merogoh ponsel dari dalam tas kecilnya, lalu mengetikkan pesan singkat kepada Bu Siti, memberi tahu pengurus panti asuhan tempat ia dibesarkan itu bahwa esok hari, sepuluh jam kuliahnya selesai, ia akan datang berkunjung untuk melepas rindu.
"Aku nggak suka kamu goda laki-laki," ucap Elio tiba-tiba, memecah keheningan malam dengan suara bariton yang terdengar dingin, tajam, dan penuh penekanan.
Aratala mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ia menghentikan gerakan ibu jarinya di atas layar ponsel, lalu menoleh menatap tajam ke arah profil samping sang suami yang tetap fokus menyetir.
"Menggoda?" ulang Aratala dengan nada tidak percaya, api kekesalannya yang sempat surut kini kembali tersulut. "Sikap mana yang menggoda, Pa Elio? Jangan sembarangan bicara!"
"Makanya pakai baju itu yang bener, jangan kayak gitu," tukas Elio dingin, matanya melirik sekilas ke arah balutan gaun terbuka yang dikenakan Aratala malam ini, melimpahkan segala rasa cemburunya pada penampilan sang istri.
Mendengar tuduhan yang sama sekali tidak beralasan itu, Aratala hanya bisa terdiam lemas. Rasa lelah yang teramat sangat—baik secara fisik akibat insiden hak tinggi maupun secara mental karena harus menghadapi keluarga besar Elio dan keposesifan pria itu—membuatnya kehilangan seluruh sisa tenaga untuk mendebat. Gadis itu memilih membuang muka menatap ke luar jendela, membiarkan air mukanya menyembunyikan kekesalan yang sudah di ambang batas.
Tidak berselang lama, mobil mewah itu akhirnya memasuki halaman rumah dan berhenti sempurna di garasi. Begitu mesin dimatikan, Aratala tidak menunggu waktu lama. Tanpa memedulikan kehadiran Elio di sampingnya, gadis itu buru-buru mendorong pintu mobil dan keluar. Rasa lelah yang teramat sangat membuat kelopak matanya terasa begitu berat, seolah siap terpejam kapan saja.
Di belakangnya, Elio ikut menyusul turun. Pria itu mengekor langkah Aratala dengan tatapan yang tidak lepas dari punggung sang istri. Melihat bagaimana siluet tubuh Aratala bergerak dalam balutan gaun malam tersebut, Elio tanpa sadar menelan ludahnya susah payah, berusaha meredam gejolak lain yang mulai bergemuruh di balik keposesifannya.
Pantesan langsung jadi pusat perhatian, batin Elio dalam hati, masih terbayang bagaimana penampilan mencolok istrinya malam ini sukses mengundang mata keranjang dari pria-pria lain di acara tadi, termasuk sepupunya sendiri.
Begitu mereka tiba di depan pintu utama, derit pintu terbuka lebar. Bi Ratih, asisten rumah tangga yang bekerja di kediaman itu, menyambut kepulangan mereka dengan senyuman ramah. Namun, Aratala tidak membuang waktu untuk berbasa-basi. Rasa lelah yang teramat sangat membuat langkahnya tergesa-gesa menaiki anak tangga menuju kamar, ingin segera membuang tubuhnya ke atas tempat tidur.
Sementara itu, Elio memilih tidak langsung menyusul sang istri. Pria itu membelokkan arah langkahnya menuju ruang kerja pribadinya. Di atas meja kerjanya, masih ada beberapa tumpukan dokumen penting dan berkas kantor yang menuntut tanda tangannya malam itu juga sebelum ia bisa beristirahat.
Langkah kaki Elio yang tadinya mantap mendadak terhenti di ambang pintu ruang kerjanya. Baru saja ia hendak menyentuh tumpukan berkas, indra penciumannya lebih dulu disergap oleh aroma harum semerbak bunga kasturi yang begitu pekat dan familiar—bau khas yang langsung membuatnya tahu siapa penyusup malam-malam di dalam rumahnya.
Siapa lagi kalau bukan Angel.
🌴🌴🌴
Jangan lupa like 😁🤌🏻
aduh mau di apain si cegil jangan kokop pula biar liur najis angel ilang
ko bisa sih Thor angel bebas masuk apa ga ada bodyguard satpam gitu