NovelToon NovelToon
The Doctor’S Darkest Obsession

The Doctor’S Darkest Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Gangster / Dokter
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Sesampainya di Rumah Sakit Medika, mobil SUV hitam mewah milik Kenzo berhenti tepat di area parkir VIP khusus jajaran direksi dan dokter spesialis.

Gedung rumah sakit swasta megah itu tampak sangat sibuk pagi ini, dengan hilir mudik pasien dan para staf medis berpakaian rapi.

Kenzo mematikan mesin mobil, lalu melirik Liana yang masih bergeming di kursinya.

Liana mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat, matanya menatap lurus ke depan dengan guratan enggan yang teramat jelas.

Liana meminta agar Kenzo turun sendiri tanpa dirinya.

"Aku tunggu di sini saja," ucap Liana pelan, menolak untuk menginjakkan kaki ke dalam wilayah kekuasaan pria itu.

Kenzo menghentikan gerakannya yang hendak membuka pintu mobil.

Ia memutar tubuhnya menghadap Liana, menopang sebelah tangannya di setir mobil sementara tangannya yang lain perlahan merayap ke arah sabuk pengaman Liana.

Wajahnya mendekat, mengikis jarak hingga embusan napasnya terasa hangat di pipi Liana yang pucat.

"Turun atau..." desis Kenzo menggantung kalimatnya dengan nada suara bariton yang teramat tenang namun sarat akan ancaman mutlak.

Jari-jemari Kenzo dengan sengaja menyentuh kancing kemeja Liana, memberikan isyarat bahwa ia tidak akan segan-segan melakukan tindakan nekat dan memalukan tepat di area parkir yang ramai ini.

"Atau, aku harus membopongmu masuk ke dalam lobi seperti tadi pagi, Sayang? Kurasa seluruh dokter dan perawat di sini akan sangat senang menyapa calon istriku yang sedang meronta di pelukanku."

Mendengar ancaman gila itu, jantung Liana berdegup kencang karena panik.

Ia tahu persis Kenzo adalah tipe pria yang tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.

"Iya, iya, aku turun!" potong Liana dengan cepat dan gugup.

Ia segera menepis tangan Kenzo, dengan terburu-buru melepas sabuk pengamannya sendiri, dan langsung mendorong pintu mobil hingga terbuka.

Liana melangkah keluar dengan bersungut-sungut, sementara di dalam mobil, Kenzo hanya tersenyum puas melihat kepatuhan paksa wanitanya sebelum ia menyusul turun dengan langkah tegap yang berwibawa.

Kenzo menuntun Liana menyusuri lorong khusus para dokter spesialis, mengabaikan beberapa sapaan hormat dari para perawat yang mereka lewati.

Ia membuka sebuah pintu kayu jati yang kokoh, memperlihatkan ruang istirahat pribadinya yang sangat mewah dan luas, lengkap dengan sofa kulit empuk, televisi, lemari es kecil, dan kamar mandi dalam yang jauh lebih privat.

"Kamu tunggu di sini dan jangan kemana-mana," perintah Kenzo sembari menuntun Liana untuk duduk di sofa.

Pria itu merogoh dompetnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu yang cukup tebal dan meletakkannya begitu saja di atas meja kaca di depan Liana.

"Aku kerja dulu, Sayang," ucap Kenzo lembut.

Sebelum Liana sempat menghindar, Kenzo tiba-tiba berlutut di hadapan Liana.

Ia menundukkan kepalanya dan mendaratkan sebuah kecupan hangat yang lembut di atas perut rata Liana—tempat di mana benihnya sedang tumbuh.

Tindakan posesif itu membuat tubuh Liana menegang kaku.

Setelah melakukan itu, Kenzo bangkit berdiri, memberikan satu tatapan peringatan terakhir, lalu melangkah keluar dan menutup pintu ruangan itu rapat-rapat, menguncinya secara otomatis dari luar.

Liana menghela napas panjang, bersandar lemas pada sofa mewah yang terasa dingin.

Air matanya nyaris menetes lagi meratapi nasibnya yang kini sepenuhnya terkunci di sangkar emas milik sang monster.

Drrtt... drrtt...

Keheningan ruangan itu mendadak pecah saat ponsel di dalam tas kanvas Liana bergetar intens.

Liana dengan cepat mengambil ponselnya, berharap ada keajaiban. Namun, nama yang tertera di layar adalah Rista.

Begitu membuka aplikasi pesan, Liana membaca rentetan kalimat yang dikirimkan oleh sahabatnya itu.

Alih-alih dukungan, pesan itu penuh dengan racun kecemburuan dan rasa iri karena melihat Liana mendapatkan calon suami yang begitu tampan, mapan, dan seorang dokter terpandang.

[Kenapa kamu selalu beruntung sih, Liana? Dari dulu selalu saja kamu yang dikasih jalan mulus. Sekarang malah dapat calon suami dokter spesialis kaya raya kayak Dokter Kenzo. Kurang apa lagi hidupmu?]

Dada Liana terasa sesak membaca pesan itu. Air matanya benar-benar luruh.

Beruntung? Hidupnya hancur, ia disandera oleh sosiopat gila, dan sahabat satu-satunya justru mengira ia sedang berada di atas awan.

Dengan tangan gemetar, Liana mengetik balasan pesan dari Rista.

[Beruntung apa, Rista? Andaikan saja kamu tahu yang sebenarnya... Aku tidak bahagia. Pria itu...]

Belum sempat Liana menyelesaikan ketikannya untuk menceritakan penderitaannya, sebuah pesan baru dari Rista masuk dengan sangat cepat, memotong pembelaan Liana.

[Diam, Liana!! Aku muak dengar keluhan palsumu yang sok merendah itu! Mulai detik ini, hubungan pertemanan kita putus. Jangan pernah hubungi aku lagi!]

Liana membelalakkan matanya. Jantungnya mencelos membaca kalimat keputusasaan itu.

Rista adalah satu-satunya pegangan waras yang ia miliki di dunia luar setelah orang tuanya tiada, dan sekarang sahabatnya itu membuangnya begitu saja karena salah paham yang fatal.

Dengan panik dan air mata yang mengalir deras, Liana langsung mengetik balasan dengan cepat, mengabaikan rasa mual yang kembali menyerang ulu hatinya.

[Rista! Kamu kenapa? Ada apa, Rista?! Tolong jangan seperti ini... Dengar penjelasanku dulu! Rista!!]

Liana mencoba menekan tombol panggil, namun panggilan itu langsung ditolak.

Saat ia mencoba mengirim pesan lagi, tanda centang satu abu-abu muncul.

Rista telah memblokir nomornya. Liana perlahan menurunkan ponselnya, memeluk lututnya di atas sofa mewah itu, dan menangis tergugu dalam kesendirian yang teramat sunyi.

Liana menghapus air matanya dengan kasar. Rasa sedih karena kehilangan sahabatnya kini berganti menjadi tekad yang bulat.

Ia tidak boleh menyerah dan membiarkan dirinya terus-menerus dikurung seperti hewan peliharaan.

Liana bangkit dan mencoba memutar knop pintu ruang istirahat itu.

Alangkah terkejutnya ia saat menyadari pintu kayu tegap itu ternyata tidak dikunci secara digital oleh Kenzo dari luar.

Rupanya, pria itu terlalu percaya diri bahwa Liana yang sedang lemas tidak akan berani bertindak nekat.

Dengan langkah yang diatur sepelan mungkin, Liana mengendap-endap keluar dari lorong khusus dokter spesialis.

Melalui celah dinding kaca yang membatasi area poliklinik, ia sempat melihat punggung tegap Kenzo yang sedang sibuk menjelaskan sesuatu kepada pasiennya dengan stetoskop yang menggantung di lehernya.

Pria itu tampak sangat profesional, sangat jauh dari sosok monster posesif yang menyiksanya di kamar tidur.

Liana tidak membuang waktu. Ia setengah berlari menuju lobi utama, keluar ke area lobi luar rumah sakit, dan segera melambaikan tangannya ke arah sebuah taksi berwarna biru yang kebetulan sedang melintas mencari penumpang.

Tepat saat Liana hendak membuka pintu taksi, ponsel di dalam genggamannya bergetar hebat.

Layarnya menyala, menampilkan panggilan video dari Kenzo.

Jantung Liana berdegup ekstrem, namun ia memutuskan untuk menggeser tombol hijau untuk mengangkatnya.

Layar ponsel menampilkan wajah tampan Kenzo yang kini menatapnya dengan senyuman miring yang teramat dingin dan mengintimidasi melalui kamera depan.

"Sayang, mau ke mana?" tanya Kenzo dengan suara bariton yang teramat tenang namun membuat bulu kuduk merinding.

"Masuk kembali ke dalam ruangan, dan tunggu aku selesai bekerja."

Liana tertegun. "B-bagaimana kamu tahu aku di luar?" gumamnya panik, menoleh ke kanan dan ke kiri mencari apakah ada anak buah Kenzo yang mengawasinya.

Kenzo terkekeh rendah di seberang telepon. "Kamu pikir aku akan membiarkan wanitaku tanpa pengawasan? Aku sudah memasang pelacak GPS mikro berkekuatan tinggi di ponselmu saat kamu pingsan kemarin, Liana. Ke mana pun kamu melangkah, titik merahmu selalu menyala di ponselku."

Mendengar fakta mengerikan itu, bukannya takut, amarah Liana justru mencapai puncaknya. Sosiopat ini benar-benar berpikir bisa mengontrol seluruh hidupnya!

Liana menatap tajam ke arah kamera ponselnya. Dengan senyum menantang yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya, ia mengangkat tangan kirinya dan melambai lambat ke arah layar.

"Bye, Kenzo..." bisik Liana tajam.

Prakkk!

Tanpa ragu-ragu, Liana melempar ponsel pintarnya ke aspal jalanan dengan sekuat tenaga hingga layarnya retak seribu dan mati total.

Ia bahkan sempat menginjaknya sekali dengan tumit sepatunya, memastikan alat pelacak itu hancur berkeping-keping.

Liana langsung membuka pintu taksi, melompat masuk ke dalam kursi penumpang, dan berteriak kepada sang sopir, "Pak, jalan sekarang! Cepat!"

Taksi itu langsung melesat membelah jalanan raya, meninggalkan area Rumah Sakit Medika dan meninggalkan ponsel Liana yang hancur di sudut jalan.

Liana bersandar di kursi taksi dengan napas terengah-engah, merasa untuk pertama kalinya ia bisa menghirup udara kebebasan, meski ia tahu monster seperti Kenzo tidak akan tinggal diam setelah ini.

1
Bunga Andthea
triple hp dungs kak
Bunga Andthea
yok yok bisa up lagi
seru ni
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
Alex
sweet bgts
Bunga Andthea
seru
up lgi kkak
Bunga Andthea
double up dungs kak
my name is pho: ok kak
total 1 replies
Muft Smoker
jgn terpengaruh dg omongan ulat bulu tu liana ,, org yg terpojok biasa ny akan melakukan berbagai macam cara tuk menang ,, meski dg cara licik sekali pun 😒😒😒😒
Muft Smoker
aaaaaa meleleh adek bang ,,
Alex
oh sweet bgtsss
Muft Smoker
nah kan di marahin ma mak ,, makany jgn punya fikiran mcm2
Muft Smoker
jgn mcm2 kania ,, liana mungkin org biasa ,, tp anggora black cobra semua melindungi serta menghargai dirinya ,,
Muft Smoker
lanjuuut kaak ,,
Muft Smoker
lanjuut kaak ,, makiin seruuuu
Muft Smoker
ngeri juga yx ,, jd incaran ketua gangster ,, 😲😲😲😲😲
Muft Smoker
lanjuuut kak
Bunga Andthea
ayok kak up lagi
Bunga Andthea
up lgi yuk kak
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
baru Kali ini dapet cerita ketua geng motor profesi ny dokter kandungan ,,
biasa ny kn CEO perusahaan ,,

tp aq suka ma cerita ny kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!