NovelToon NovelToon
DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Cerai / Pelakor / Roh Supernatural / Tamat
Popularitas:159.7k
Nilai: 5
Nama Author: AMY DOANK

DURI Di Dalam PERNIKAHAN ternyata bukan hanya PELAKOR saja. Ada banyak DURI-DURI lainnya yang bisa menjadi CUCUK TAJAM dalam PERNIKAHAN. Salah satunya adalah karma orang tua yang melakukan perjanjian gaib yang ternyata harus ditanggung pula oleh anaknya.

Seorang perempuan BIASA bernama LIANA WULANDARI, ketika berusia 32 tahun dan pernikahannya tepat 10 tahun justru harus mengalami PERCERAIAN karena ulah PELAKOR.

Tapi siapa sangka, LIANA yang hanya perempuan BIASA akhirnya justru berubah menjadi LUAR BIASA setelah suaminya resmi menceraikan dirinya.

Perjalanan hidup membawanya pada PERUBAHAN NASIB yang tidak pernah dia sangka sebelumnya.

Satu persatu tersingkap misteri yang berada di putaran hidup orang-orang terdekat.

Novel ini novel fiksi pernikahan yang unik. Genrenya beragam selain PELAKOR, CERAI, MENGUBAH NASIB, dan juga ROH SPIRITUAL.

Semoga pembaca Budiman terhibur dan juga bisa mengambil hikmahnya.

Please... LIKE, FAVORIT, KOMENTAR dari para pembaca yang baik hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 - AKU ATAU GEGE BOSS-NYA?

...[Liana! Aku matikan dulu ponselnya ya? Sudah mau sampai. Mami juga sudah menunggu di depan teras! Nanti malam Aku telepon kamu lagi. Boleh, ya? Setelah selesai berenang!]...

Aku terkekeh. Perkataan Jordan seperti anak kecil yang sedang merajuk ibunya.

"Iya, Jordan!"

Aku juga ingin keluar kamar. Mengobrol dengan Citra dan juga Genta. Ternyata dua manusia itu terlihat makin akrab satu sama lain. Aku bisa mengetahui dari cara Citra yang terpingkal-pingkal sambil memukuli bahu Genta karena canda yang adikku lontarkan.

Aku hanya tersenyum tak berani lanjut menghampiri mereka.

Kini tujuanku adalah pabrik besar yang berada lima belas meter di depan gerbang rumah Boss Gege.

Pabrik yang kokoh tapi dingin dan sepi.

Aku berjalan perlahan. Kemudian melempar senyum pada satpam jaga di pos depan.

Mereka telah mengenalku meski hanya beberapa hari. Mungkin Boss Gege yang mengatakannya pada mereka. Entah. Itu wajar saja bagiku.

"Mbak! Mau masuk kedalam?" tanya seorang sekuriti yang berada tak jauh dari tempatku berdiri.

"Cuma melihat-lihat saja, Mas! Kalau masuk, Saya tidak berani. Dan Boss Gege juga belum memberi instruksi untuk saya masuk pabrik. Saya di luar saja, Mas!"

Aku berjalan-jalan sekitar area pabrik. Sedikit bau amis karena pabrik memang mengolah hasil laut yang dikirim langsung dari pelabuhan. Itu yang kutahu.

Sedikit penasaran membuatku ingin tahu juga dengan apa yang ada di dalam. Aku mengintip dari balik rolling door yang bolong.

Puk.

Aku terkejut ketika bahuku merasa ada yang memegang.

"Boss?"

"Sedang apa, Liana?"

"Ah, hampir copot jantung saya!"

"Hehehe... Maaf! Kalau kamu kepo, kenapa tak bertanya sendiri padaku. Kalau perlu, aku akan tatar dan jelaskan produksi usaha pabrik rumahanku. Ayo!"

"Ini sih bukan pabrik rumahan, Boss! Boss terlalu merendah!"

Kami akhirnya masuk setelah Boss Gege Jonathan membukakan kunci pabrik dengan bantuan Satpam bernama Hidayat.

"Ini perusahaan joint venture antara Papa dan Papi."

Aku bingung. Hanya menatap kearah Boss tanpa berani bertanya.

"Hahaha... Bingung ya? Biar kujelaskan. Ayo, kita keluar. Bau amisnya agak menyengat padahal aku sudah menyuruh bagian kebersihan untuk mencari sumber bau amis ini! Ck! Kerja mereka makin tidak becus! Untung kamu kepo kepingin tahu dalamnya pabrik. Aku harus membersihkan ulang pabrik sebelum besok mulai beroperasi untuk dimasok kepada perusahaan yang bekerja sama dengan kita!"

Aku hanya diam termenung.

Boss sibuk dengan ponselnya. Menelpon orang-orang bawahannya dengan berkata ini dan itu. Aku tidak faham.

Bulu kudukku merinding. Seperti ada angin dari mulut yang ditiupkan ke tengkukku.

Tanganku meraih jemari boss mencoba minta perlindungan.

"Ada apa, Liana?" tanyanya kaget dengan spontanitasku.

"Seperti...hawa-hawa tidak enak!" gumamku yang langsung boss Gege mengerti.

Ia menarik tanganku menjauh. Tetapi...

Wusss

Benar-benar aneh tapi nyata. Tiba-tiba seperti ada angin yang sangat besar melintas di depan mata. Anehnya, hanya aku saja dan Boss Gege yang melihat. Para sekuriti yang terdiri dari tiga orang di pos penjaga keamanan justru kebingungan ketika Boss menanyakan.

"Tidak ada angin besa, Boss! Tidak ada apa-apa yang lewat!"

Aku dan Boss Gege berpandangan.

Treeet... Treeet... Treeet

Kami melonjak kaget.

Ponselku yang kukantongi ternyata berdering.

...Airlangga is calling...

...[Hallo, Kak Lian! Papa sakit keras. Cepatlah datang! Cepat! Kondisinya kritis! Papa sangat ingin bertemu Kakak dan Abang Genta!]...

^^^Klik.^^^

Aku termenung. Papaku ternyata sedang kritis. Tapi aku bingung, bagaimana untuk pulang ke kota Banten, tempat tinggal sekaligus tanah kelahiran Papa yang sudah lama sekali tak kami kunjungi.

"Ada apa, Liana?" tanya Boss Gege.

"Papa saya... Sakit keras. Kondisinya kritis, kata adik tiri Saya. Tapi Saya bingung untuk pergi ke sana!"

"Dimana memangnya?" tanya Boss Gege lagi.

"Banten, Ujung Kulon!"

"Ayo, kuantar. Mumpung masih sore!"

"Boss? Bagaimana mungkin? Ke sana itu butuh waktu tujuh jam lebih. Dan besok produksi pabrik harus sudah standby."

"Kamu fikir aku yang akan bekerja semuanya, Liana? Tentu para asistenku. Mereka sudah berkompeten dalam mengurus semua kinerja karyawan. Tenang saja! Aku khan Boss! Tinggal tunjuk-tunjuk! Hehehe... Ayo, cepat bilang Genta. Adikmu juga perlu ikut khan?"

Aku sangat terharu.

Tuhan Maha Baik mengirimkan aku Boss yang super baik.

"Genta! Genta! Ayo, kita harus ke Banten menjenguk Papa! Kata Airlangga kondisinya kritis!"

Genta yang sedang bercanda dengan Citra langsung pucat wajahnya.

"Gimana kita kesananya, Kak?"

"Aku yang antar!" sela Boss Gege membuat Genta menatap tak percaya.

"Ayo, kemasi yang seperlunya saja! Kita berangkat sekarang juga!" timpalnya lagi. Sangat sigap dan begitu dewasa.

"Bawa minum dan camilan!" tambah Citra yang ternyata juga sigap menyediakan sekantong tutebag penuh makanan ringan serta minuman.

"Terima kasih banyak, Mbak Citra!"

"Iya, Kak Liana! Hati-hati di jalan, Boss!" jawab Citra juga memberi nasehat pada Boss Gege seperti saudara.

Kami berangkat sore itu juga. Ponsel sengaja kumatikan. Demi untuk kelancaran perjalanan jauh ini.

...........

Waktu tempuh ternyata lebih cepat dari yang kuperkirakan. Lima jam kami sudah sampai di kota Banten berkat pengemudi handal yang baik hati, yakni Boss Gege. Ini sudah pukul sepuluh malam.

Aku atau Gege Boss-nya sekarang ini? Boss malah menyetir, anak buah malah duduk tidur enak-enakan!

Genta tertidur pulas di jok belakang. Tentu saja aku jadi geregetan dengan kelakuan adikku yang kekanakan itu.

Hiks! Dia pikir boss nya itu dia, apa! Rutukku dalam hati mengumpat Genta.

"Boss, Saya merasa sangat malu sekali. Boss terlalu baik!" tuturku tak enak hati.

"Liana! Hatiku yang menggerakkan. Jadi jangan sungkan selalu. Aku mau membantu jika aku mampu. Sudah, daripada kamu mengoceh kalimat itu-itu terus,... Labih baik kau jadi navigator dan harus siaga mendampingi aku!"

"Siap, Boss!"

"Aku lapar. Tolong suapi aku sandwich itu!"

Aku menerima perintah Boss Gege dengan senang hati. Menyuapinya hati-hati, juga membantunya membukakan penutup botol air mineral.

Hingga rumah Papa tujuan utama kami telah terlihat juga.

"Genta, bangun! Kita sudah sampai!"

Seorang pemuda bertubuh tinggi menyambut kedatangan kami di depan rumah. Ini sudah pukul sebelas malam.

"Kak Liana?"

"Airlangga? Kamu sudah besar, ya? Tinggi sekali!"

Aku memeluk adik beda ibu itu dengan hangat.

Usia Airlangga baru 16 tahun. Masih SMK kelas 11. Tetapi tubuhnya bongsor karena pertumbuhan yang cepat.

Genta adik kandungku tidak begitu menyukai adik tiri kami. Ia masih merasa kalau ibunya-lah perebut Papa dari Mama. Padahal, semua ini adalah Takdir Tuhan yang sudah digariskan. Toh Mama juga menikah lagi. Bahkan Mama juga punya dua anak dari suaminya yang sekarang.

Hhh...

Tubuh Papa begitu kurus dan kering. Aku baru tahu kalau keadaannya sangat menyedihkan seperti ini.

"Papa...! Ini Lian sama Genta, Pa! Papa...!"

Aku mengusap lengan Papa dengan lembut. Jatuh menetes air mata ini mengingat betapa dulu kami amat bahagia.

Aku, Genta, Papa dan Mama. Sebelum semua terjadi. Sebelum keadaan membalikkan keadaan kami.

BERSAMBUNG

1
syska
Luar biasa
Mio Indonesia Sulteng
makin ngelantur
Mio Indonesia Sulteng
huuu, dikasi hati minta jantung
Beast Writer
Tamat. 100 favo.
lina
serem amat si bun 😭😭
lina
kuntilanak kah bun?
lina
bner bgt, tau gitu nawar, kalung bae 4 gram 🤣🤣 buat mas jswin
lina
itu baru pria mateng. matrng pikiran. mteng isi dompet, mateng itu ya juga buat nina ninu 🤣🤣
lina
amiiiiin
lina
💃💃💃 pilih kakanya eyyy
lina
Liana jdi priamdona
lina
🤣🤣🤣 soplak
lina
kasian amat katlia
lina
bagus ni emak2 jagain anak mantu
lina
bagus jordan, sindir bae itu s irsad
lina
🤣🤣🤣 penyok dong
Osie
waaaaahhhh seruuuuuuu
Osie
Subhanallah keren bgt dpt ilmu kanurugan..teramat sgt jarang lho yg dpt langsung ilmu pamungkas dijaman now..hebaaatt
Embun Kesiangan: makasih banyak Kak 🙏 mood booster banget komennya
total 1 replies
Niswah
lanjut
Embun Kesiangan: terima kasih kakak😍lanjut sampai tamat🙏
total 1 replies
Video Song
Keturunan bule? bukannya si Jordan doank yg bule?
Embun Kesiangan: lha kan si jonathan juga blasteran😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!