Kayla merajut kasih selama hampir dua tahun dengan seorang Dosen di Kampusnya bernama Radit sampai akhirnya mereka bertunangan dan berencana akan segera menikah.
Disaat kecelakaan maut menimpa tunangannya, Kayla baru mengetahui jika dirinya sedang hamil. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula, setelah tunangannya meninggal dia bahkan dibuang oleh keluarganya karena ketahuan sedang mengandung.
Sampai suatu hari saat Kayla sudah menikah, ada seorang pria yang mirip tunangannya yang sudah meninggal lalu pria itu menghancurkan pernikahannya.
"Bercerailah!" Dengan kearoganan nya, pria yang bernama Melvin itu menyuruhnya bercerai dari suaminya.
Yuk ikuti kisahnya~~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TINGGAL BERSAMA
Tristan meninggalkan Kayla di Apartemen dan keluar untuk membeli semua kebutuhan sehari-hari. Saat ia sudah kembali dengan membawa dua kantong besar di kedua tangannya, ia tak melihat keberadaan Kayla.
"Apa masih di kamar?"
Tristan membiarkan Kayla istirahat, ia memberesakan barang-barang yang baru saja dibelinya.
Sampai malam tiba, Kayla belum menampakkan wajahnya. Tristan berinisiatif akan memasak untuk makan malam.
Saat Tristan sudah setengah selesai menyiapkan bahan-bahan masakan dan mengiris bawang bombai serta tomat dan bahan lainnya, Kayla menghampirinya.
"Maaf Tris aku baru bangun, tubuhku sepertinya kelelahan. Ada yang bisa aku bantu?" Kayla melihat bahan-bahan masakan di meja dapur yang sudah tertata.
"Apa kamu belanja saat aku tadi tertidur? Lihat, kau beli udang juga dan sangat terlihat segar. Kamu benar-benar bisa memasak ini semua?"
"Aku sejak kecil hanya tinggal bersama Ibuku, Ayahku sudah lama meninggal. Jadi Ibuku harus bekerja dan sering meninggalkanku sendirian dirumah. Dari sejak itu, aku belajar mandiri dan akhirnya bisa memasak berbagai macam makanan. Tapi, aku belum pernah memasak untuk orang lain selain Ibuku. Kamu yang pertama, Kay."
Tristan meletakkan pisau di tangannya, menatap ke dalam mata Kayla penuh arti.
Kayla gugup dilihat seperti itu oleh Tristan, ia mengalihkan tatapannya. "Ah... kamu beli pakcoy juga. Aku suka sekali, aku bantu siapin sayurannya ya."
Kayla berjalan ke wastafel, ia mulai membersihkan sayur-sayuran yang akan dimasak.
Tristan memperhatikan Kayla yang membelakanginya. "Andaikan waktu berhenti saat ini," gumam Tristan.
Tristan melanjutkan kembali memotong bahan-bahan dan mulai menyalakan kompor listrik.
Setengah jam kemudian, mereka berdua sudah duduk di meja makan kecil di dapur.
"Tristan! Ini luar biasa... lidahku serasa dimanjakan dengan masakanmu. Uh Tris... lezat," Kayla mengacungkan kedua jempolnya.
"Kamu beneran suka?"
"Ya, sangat... " antusias Kayla, ia tak melebih-lebihkan masakan Tristan memang sangat enak.
"Yang paling kamu suka apanya? Udangnya, sayurannya, aku?"
"Tentu saja kamu, ah... mak-sudnya udangnya," seketika mulut Kayla kaku.
"Haha... aku hanya bercanda Kay. Ayo, makan," Tristan tertawa senang berhasil mengerjai Kayla.
Kayla menundukkan wajahnya, fokus memakan makanannya.
Setelah selesai makan, Kayla menawarkan dirinya mencuci piring kotor dan membersihakan dapur. Tristan sudah belanja dan memasak, ia merasa tak enak apalagi ia juga menumpang tinggal.
Tristan yang tak ingin Kayla merasa lebih tak enak lagi, membiarkan Kayla melakukannnya.
"Kay, aku harus memeriksa tentang pekerjaan. Aku masuk kamar duluan dan mungkin aku akan langsung tidur."
"Ya, pergilah. Serahkan bersih-bersih padaku."
"Ok, jangan capek-capek. Kalau merasa lelah biar aku yang lanjutkan besok."
Kayla hanya tersenyum.
"Nite, Kay... "
"Selamat malam, Tris."
Tristan masuk ke kamarnya dengan senyuman lebar mengembang di bibirnya.
*
Di Perusahaannya, Melvin menunduk melihat berkas-berkas yang harus ditanda tangani.
Ketukan di pintu tak membuatnya mengangkat kepalanya.
"Masuk!" ucapnya masih sambil memeriksa berkasnya.
Rian masuk membawa sebuah dokumen, "Bos."
"Hm."
"Ada kabar buruk dan juga kabar tak menyenangkan."
Melvin mengangkat kepalanya, "Rian, biasanya hanya ada dua kabar. Kabar baik dan kabar buruk, kenapa dua-duanya seperti kabar buruk?"
Rian membuka mulutnya tapi Melvin mengangkat tangannya. "Katakan yang kurang menyenangkan dulu baru berita buruk."
"Berita kurang menyenangkannya tentang Nona Kayla. Anda mau mendengarnya?"
"Tidak! Ya... cepat katakan!"
Rian menahan senyumnya, ia tau Bosnya berkata tidak di bibir tapi dalam hatinya tak bisa memungkiri.
"Nona Kayla pergi ke Paris, dan Tuan Tristan juga pergi kesana."
Melvin pura-pura sibuk melihat berkasnya lagi, tapi tangannya yang memegang pulpen bergetar saat mendengar Kayla pergi bersama Tristan.
"Kabar buruknya?"
"Kabar buruknya, Tuan Tristan bukan hanya pergi dengan Nona Kayla tapi Tuan Tristan juga pergi kesana menjadi perwakilan dari cabang perusahaan tempatnya bekerja dan sedang mengincar proyek besar yang juga sedang kita incar disana. Dengan kata lain Bos... Perusahaan Tuan Tristan ingin bersaing dengan Perusahaan kita untuk mengambil proyek yang sangat menguntungkan di Paris."
Melvin menaruh pulpennya di atas meja, mengalihkan pandangannya menatap rintikan air hujan yang membasahi jendela besar kantornya.
"Segera siapkan semua dokumen yang sudah kita siapkan untuk proyek ini. Belilah tiket ke Paris secepatnya. Rian... aku kesana karena pekerjaan bukan karena hal lain, ingat itu."
Rian tak bisa menahan senyumnya lagi, mulut Bos-nya memang paling pintar berkelit.
*
Jarvis mengedarkan pandangannya di lampu remang-remang disko, apalagi sangat ramai orang-orang menari di lantai. Hiruk pikuk suara tawa dan musik memekakkan telinganya.
"Sial! Kenapa Renata kesini? Padahal dia belum pernah menginjakkan kakinya sekalipun ke tempat seperti ini."
Jarvis membuka jalan dengan kedua tangannya, menyelinap diantara orang-orang yang asyik dengan dunia mereka sendiri.
"Itu dia!" Jarvis akhirnya melihat sosok yang dicarinya.
Kepala Renata sudah terasa berat, ia hanya ingin memberontak dan mencari perhatian Melvin. Karena setelah kepergian wanita itu, Melvin tak pernah memperdulikannya lagi padahal pernikahan tinggal beberapa minggu lagi.
"Sialan kau Melvin! Aku membencimu! Kenapa kamu berubah! Dulu kamu sangat mencintaiku!" Racau Renata.
Renata meneguk sekali lagi segelas minumam berakohol, tapi karena tidak terbiasa di gelas keduanya dia mabuk.
"Hei cewek, sendirian aja nih," salah satu pria pengunjung menggodanya.
"Tidak! Dia adalah kekasihku. Pergi!" Tepat saat itu Jarvis datang.
Pria tadi segera pergi tak ingin mencari masalah, apalagi melihat wajah Jarvis yang menyeramkan seperti ingin memakannya.
"Ren... ayo pulang."
Renata menatap Jarvis dengan mata mabuknya, "Jarvis... "
"Ya, ini aku."
"Pergi! Aku hanya ingin kak Melvin. Bawa dia kemari!"
Jarvis tau Renata marah pada kakaknya, setelah kepergian wanita itu Kakaknya selalu menghindar dari Renata.
Tadi ia menerima telepon dari Kakaknya dan menyuruhnya menjemput Renata disini. Padahal Kakaknya yang di telepon Renata dan Kakaknya tau tempat ini bahaya tapi dia malah menyuruhnya datang.
"Abang tak bisa datang, ada kerjaan yang tidak bisa tinggalkan."
"Bohong! Seminggu ini dia menghindariku, teleponku pun jarang dia jawab dan sering dia tolak! Padahal sebentar lagi kami menikah!"
Jarvis bingung menjawabnya, ia akhirnya membopong tubuh Renata di pundaknya nekat membawanya pergi dari sana.
Renata memberontak di pundaknya, tapi Jarvis mengeratkan pegangan tangannya di tubuh Renata.
Tangan Renata memukul-mukul tubuhnya, tapi Jarvis tak menyerah ia memasukkan tubuh mungil Renata ke dalam mobilnya dan membawa mobilnya pergi dari sana.
"Aku harus bawa dia kemana? Tidak mungkin pulang ke rumahnya dengan keadaannya yang kacau. Tante dan Paman pasti mencurigai hubungannya dengan Abang bermasalah. Sebaiknya aku membawanya ke Hotel dulu sampai dia sadar," gumam Jarvis sambil sesekali melirik tubuh Renata yang tumbang di kursi depan, ia lalu mengemudikan mobilnya ke arah Hotel terdekat.
Masuk ke dalam kamar Hotel, Jarvis membaringkan Renata di atas ranjang. Ia bangun ingin mengambil air untuk Renata tapi pergelangan tangannya tiba-tiba ditarik.
"Jangan tinggalkan aku, cintai aku... aku mohon... hiks... cintai aku... cintai aku... hiks... "
Jarvis merasakan sakit di hatinya melihat Renata menderita.
"Aku ingin mencintaimu... aku sudah sangat mencintaimu... sejak dulu aku mencintaimu," ucap Jarvis dengan suara seraknya, menahan gairahnya agar tak menyentuh Renata.
Tapi Renata bangkit dan langsung mencium bibir Jarvis dengan setengah tak sadarkan diri.
Jarvis berusaha melepaskan pagutan bibir Renata dan mendorong tubuhnya tapi cekalan tangan Renata di bajunya sangat erat dan tak bisa lepas.
Lidah Renata menerobos masuk, pertahanan Jarvis akhirnya jebol. Ia mencium rakus bibir Renata, menahan dirinya selama bertahun-tahun membuat hasratnya tak terbendung lagi.
Jarvis membaringkan tubuh Renata, ciumannya turun ke leher. Renata mengerang dalam pelukannya. Jarvis melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuh mereka berdua lalu menyatukan milik mereka berdua melepaskan hasratnya yang sudah lama terpendam.
Malam itu menjadi saksi bisu, Jarvis bercinta dengan Renata dengan menyerahkan seluruh cintanya untuk Renata.
Mungkin krn episodenya pendek,
Tetap enak dibaca & menghibur siy,
thanks thor..