Sequel dari PRIA 500 JUTA.
Alvaro, pria berusia 30 tahun ini kerap dijuluki DUREN MATENG yang berarti duda keren, mapan, dan ganteng. Pria ini memiliki seorang anak laki-laki yang berusia lima tahun, bernama Bima.
Tiba dimana Bima meminta kepada Alvaro untuk mencari wanita yang hendak dijadikan pengganti ibunya, terpaksa Alvaro pun berkencan dengan banyak wanita dan diberikan penilaian secara langsung oleh putranya sendiri.
Akankah Alvaro menemukan wanita yang cocok untuk dijadikan ibu untuk anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririn Puspitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Karma
Alvaro tengah dalam perjalanan pulang mengantar Shinta. Pria tersebut menatap lurus ke depan tanpa mengucapkan apapun. Tangannya dengan kuat memegang setir mobil.
Ia marah mengetahui fakta yang sebenarnya. Ia kesal karena saudara kembarnya dikhianati oleh pria yang tak tahu malu seperti Andre.
Alvaro memberhentikan mobilnya saat tiba di rumah Shinta. Wanita tersebut tak berani berucap banyak, karena saat ini raut wajah Alvaro lebih menyeramkan dari pada hantu.
"Terima kasih. Besok aku akan datang tepat waktu," ujar Shinta yang langsung turun dari kendaraan tersebut.
Setelah memastikan Shinta turun, Alvaro pun kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat Shinta terkejut karena ulah pria itu.
"Benar-benar gila, menyesal juga aku mengatakannya padamu tadi," gerutu Shinta yang kemudian masuk ke dalam rumahnya.
Di perjalanan, Alvaro membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pria itu rasanya sudah tak sabar untuk menemui Andre dan memberikan pria itu pelajaran.
Setibanya di rumah utama, Alvaro langsung turun dari kendaraannya. Ia melihat Arumi yang saat itu tengah bersama Bima dan Fahri di teras rumah.
"Di mana Andre?" tanya Alvaro dengan berapi-api.
"Ada apa denganmu?" Fahri bertanya balik.
Alvaro tak menghiraukan ucapan ayahnya. Pria tersebut langsung berjalan menaiki tangga, menuju ke kamar Alvira.
Fahri menyusul putranya, ia menyuruh Arumi agar membawa Bima masuk ke dalam kamar, karena ia tak ingin cucunya melihat keributan yang dibuat oleh ayahnya itu.
"Andre!" seru Alvaro, tak ada jawaban dari pemilik nama tersebut.
"Andre!!" Alvaro lebih meninggikan suaranya, ia pun mendengar suara sahutan dari dalam kamar.
Alvira muncul dari balik pintu. Wanita itu sangat terkejut saat melihat saudara kembarnya menampakkan ekspresi yang tidak bersahabat.
"Mana suamimu?" tanya Alvaro.
"Varo, ada apa? Jangan memperkeruh keadaan," bisik Alvira. Namun, Alvaro tak mengindahkan ucapan wanita tersebut.
"Ada apa, Bang?" tanya Andre dari dalam .
Saat mendengar suara Andre, darah Alvaro serasa mendidih. Ia berlalu dari hadapan Alvira, menerobos masuk ke dalam kamar tersebut.
"Kenapa Bang?" tanya Andre menatap Alvaro dengan bingung.
Alvaro mendekati pria tersebut. Tanpa berbasa-basi, Alvaro melayangkan satu pukulan ke wajah iparnya itu.
Bughhh ...
Andre memegangi pipinya sembari menatap Alvaro tak percaya. Ia masih bingung apa yang membuat Alvaro marah besar dan bahkan memukulnya.
"Bang, ...."
Bughhh ...
Alvaro kembali melayangkan bogem mentahnya kepada Andre, hingga pukulan yang kedua kalinya itu membuat sudut bibir Andre berdarah.
"Hentikan Varo!" Alvira langsung memeluk Alvaro dari belakang, mencoba menenangkan saudara kembarnya itu.
"Ku mohon hentikan, jangan seperti ini." Air mata Alvira mengalir begitu deras, membuat Alvaro pun terdiam tanpa menghajar pria yang merupakan suami saudara kembarnya itu.
Fahri datang menengahi keduanya. Ia menatap putranya dengan tatapan tajam. "Apa kamu gila? Apa yang membuatmu mengamuk tak jelas seperti ini?" tanya Fahri menyalahkan Alvaro karena telah berbuat keributan.
Alvaro berbalik, pria itu membingkai wajah Alvira. "Berhenti mempertahankannya, hmmm ...." Dengan mata yang berkaca-kaca, Alvaro mengucapkan kalimat tersebut pada saudara kembarnya.
Alvira hanya terdiam dengan air mata yang semakin jatuh deras. Entah mengapa, ia merasakan bahwa Alvaro telah mengetahui semuanya. Saudara kembarnya itu seakan mengetahui bahwa yang dilakukan oleh suaminya bukan hanya perselingkuhan saja.
"Apa maksud dari ucapanmu?" tanya Fahri yang berada di belakang Alvaro. Pria tersebut memperhatikan anak kembarnya yang seolah tengah menguatkan satu sama lain.
"Jawab papa, Varo!" seru Fahri dengan keras karena tak mendapatkan jawaban dari putranya membuat dirinya menjadi geram.
"Mas Andre berselingkuh," ujar Alvira menjawab pertanyaan dari ayahnya. Melihat Alvaro yang masih bungkam, membuat Alvira mengatakan semuanya.
Seketika tubuh Fahri menegang. Begitu pula dengan Arumi yang tengah berdiri di ambang pintu. Sementara Bima, ia menyuruh pelayan untuk menjaganya di dalam kamar.
Arumi mendekati Andre, ia menatap menantunya itu yang hanya bisa tertunduk. "Andre, jawab jujur pertanyaan mama. Apakah benar kamu berselingkuh?" tanya Arumi.
Andre tak menjawab ucapan dari mertuanya itu. Membuat Arumi yakin jika memang yang dikatakan oleh anaknya itu benar adanya.
"Sejak kapan kamu mengetahuinya?" tanya Arumi beralih menatap ke arah putrinya.
"Sudah lama," timpal Alvira.
Alvaro membalikkan badannya, ia menatap Andre dengan tatapan penuh kebencian. "Pria itu ...." Alvaro menunjuk ke arah Andre.
"Dia bukan hanya berselingkuh saja. Bahkan ...." Alvaro mengusap wajahnya dengan kasar, ia tak kuasa mengatakan kalimat selanjutnya.
"Ada apa? Katakanlah!" tukas Arumi.
"Dia bahkan telah memiliki seorang anak dari hasil perselingkuhannya," lirih Alvaro.
Semua orang yang ada di sana langsung terguncang mendengar ucapan Alvaro selanjutnya. Tubuh Alvira bergetar hebat, napasnya tersengal mendengar semuanya dari mulut saudara kembarnya itu.
"Kamu, ...." Arumi menatap menantunya dengan tatapan tak percaya. Ia sungguh tak habis pikir jika Andre melakukan hal sekeji itu.
"Maafkan aku, Ma. Maafkan aku, Pa. Aku bersalah, tolong maafkan aku," ucap Andre yang langsung bersimpuh di depan Arumi serta Fahri.
Alvira berjalan mendekat ke arah suaminya, lalu tak lama kemudian ....
Plakkk ...
Satu buah tamparan ia hadiahkan di wajah tampan Andre. Saat ini kedua pipi Andre memerah akibat perlakuan dari si kembar tersebut.
"Sebaiknya kamu angkat kaki dari rumah ini! Tinggallah bersama wanita jal*ng itu!" tukas Alvira menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Vira, maafkan aku," lirih Andre.
Alvira mengacuhkan Andre. Kali ini kepalang tanggung, ia membukakan semua kelakuan bejat suaminya itu di hadapan kedua orang tuanya.
"Dan satu hal lagi, mulai detik ini, kamu jangan menginjakkan kakimu lagi ke perusahaan. Aku akan mengambil alih perusahaan, aku akan mengelolanya. Untuk sementara, biarkan Alvaro menghandle semuanya," ujar Alvira dengan lantang.
"Alvira, dia tetap suamimu," ucap Fahri.
"Tidak Pa! Setelah aku melahirkan, aku akan mengurus surat perceraian ku dengannya. Selama ini aku menahannya, tapi sekarang aku sudah tidak bisa diam lagi. Aku ingin bercerai darimu, Mas!" tukas Alvira.
Bak tersambar petir di siang hari Arumi mendengar ucapan dari Alvira. Ia tak menyangka, jika kedua anaknya harus menyandang status duda dan janda.
"Apakah ini karmaku? Karma karena dulunya aku juga perebut suami orang? Aku menghancurkan rumah tangga Mas Fahri terdahulu," batin Arumi.
Melihat Andre yang masih juga berlutut, membuat Alvira berjalan mendekati lemari pakaian. Gadis itu juga menarik koper yang ada di samping lemari. Ia mengemasi semua pakaian suaminya itu tanpa tersisa.
"Pergilah! Berhenti berlutut dan memasang wajah lugumu itu," protes Alvira.
Andre pun beranjak dari tempatnya. Pria tersebut menarik koper yang telah disiapkan oleh istrinya itu, berjalan keluar meninggalkan rumah tersebut.
Melihat kepergian suaminya, tentu saja membuat hati Vira bak disayat sembilu. Namun, yang lebih menyakitkan lagi adalah saat mengetahui bahwa suaminya telah memiliki anak dari hasil hubungan gelapnya. Membuat Alvira tak bisa mentolerir lagi kesalahan dari suaminya itu.
Bersambung ....
Bagiku👉 Semua boleh pergi, asal jgn ibu🙌