Masalah yang sili berganti, kejadian buruk yang hadir dalam bahtera rumah tangganya berhasil membuat Clarissa bahkan berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Gagal menikah di masa lalu dan rumah tangga yang dipenuhi oleh dendam suaminya membuatnya ingin lari dari kenyataan, namun dia harus tetap bersikap baik-baik saja di hadapan sang Ayah.
Felix, pria yang usianya tidak jauh berbeda dengan Clarissa, datang dalam hidupnya, bukan untuk serius kepadanya melainkan untuk membalas dendam. Kehidupan rumah tangga Clarissa terasa bak di neraka. Karma masa lalu ibundanya, kini datang menimpa dirinya.
"Kenapa mama yang berbuat, tapi aku yang menanggungnya? Kenapa tuhan? Kenapa?"
Jeritan keputusasaan itu selalu menggema saat tidak ada orang di rumah.
Bagaimana kelanjutan kisah kasih Clarissa? Akankah dia bertahan dan mendapatkan manisnya pernikahan atau malah berujung pada perceraian?
Ikutin terus perkembangan ceritanya🤗🤗
Sequel kedua dari "Tuhan, Beri Aku Kekuatan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ajeng Rizqita Bukowski, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan
Lauren turun dari kamarnya dan menyambut kepulangan sang adik tercinta.
"Kak, aku kangen." Karen memeluk Lauren dengan erat setelah seharian tak berjumpa.
"Lu sih pacaran mulu. Ehh jangan bilang semalam lu tidur berdua," celetuk Lauren.
"Apa sih kak? Aku tuh kan cuman bikin kue, terus ngobrol, terus..." celoteh Karen tak berujung.
Lauren memasang wajah tak pedulinya.
"KAK! DENGERIN AKU GA SIH?!" Pekik Karen langsung ditelinga Lauren.
Lauren mendorong wajah Karen dengan tangannya.
"Gue bisa budeg!" Seru Lauren.
"Ya habisnya sih kakak ga mau dengerin Alen," ucap Karen.
Karen tak sengaja menyenggol sudut bibir Lauren yang terluka.
"Shhh." Lauren merintih kesakitan.
"Kak, kenapa? Alen terlalu kasar ya..."
Karen memerhatikan tangan Lauren yang menyentuh bagian sudut bibirnya. Dia memerhatikan dengan saksama.
"KAKAK BERDARAH? KENAPA? OHHH HABIS BERANTEM YA? ATAU JANGAN-JANGAN..." celetuk Karen mengejutkan Lauren.
Ekspresi pria itu berubah seketika.
"Jangan-jangan apa? Jangan mikirin aneh-aneh. Kakak tuh ga ciuman sama siapapun." Lauren menghentikan Kalimatnya.
Gawat! Pakai acara keceplosan pula!~Batin Lauren.
"Alen ga ngomong kakak kissing lho. Wahhh, Alen bilangin ke papa nih," celoteh Karen menggoda sang kakak.
"Ja-jangan dong," ucap Lauren.
Mata Karen berbinar seakan mengirimkan sebuah kode kepadanya.
"Iya deh iya. Kakak kasih uang, tapi jangan bilang-bilang ke papa," ucap Lauren.
Lauren menyodorkan sejumlah uang yang ia miliki kepada Karen untuk membungkam mulut adiknya.
"Nahh gini dong kak. Thank u." Karen kabur dengan begitu cepat hingga lepas dari pandangan Lauren.
Sedangkan itu, disisi lain...
Jasmine mendapatkan pertanyaan yang sama setelah Clarissa menyadari sesuatu yang salah.
"Bibir kamu kok..."Clarissa menunjuk ke bibir Jasmine yang nampak memerah dan mengelupas itu.
"Haha. Aku hanya kurang minum," elaknya.
"Kurang minum? Itu apa?" Mata Clarissa melirik kearah dua gelas jus jeruk di hadapan mereka.
Jasmine, jasmine. Kenapa kau begitu bodoh? Kenapa pakai alasan kurang minum segala sih?~Batin Jasmine.
Jasmine tersenyum canggung menatap Clarissa. Ketahuan berbohong memang sangat memalukan. Rasanya dia ingin sesegera menghilang dari hadapam wanita di hadapannya itu.
"Sa, aku mau ke toilet dulu. Dimana ya?" Tanya Jasmine mencoba untuk melarikan diri.
Jasmine berdiri menjauh dari Clarissa, namun hal itu tentu saja dapat dibaca olehnya.
"Mau kemana? Jangan coba-coba kabur ya," ucap Clarissa menarik tangan Jasmine.
"Kissing siapa tuh, ngaku!" Desak Clarissa.
"Aku tadi terjatuh saat dikejar orang," Elak Jasmine.
"Benarkah?" Clarissa menyeringai membuat Jasmine semakin kelabakan.
"I-iya. Udah deh ga usah di bahas. Bikin sebel." Jasmine berlalu meninggalkan Clarissa.
"Yahh, ngambek dong," ucap Clarissa.
...*...*...
Malam semakin larut, sudah waktunya bagi semua orang tertidur. Namun, Karen dan Lauren masih disana menanti kedatangan sang ayahanda.
"Duhh. Papa kemana sih? Udah jam berapa ini?" Keluh Karen.
"Coba deh kakak telepon," tawar Lauren.
Belum sempat Lauren meneleponnya, mereka mendengar suara mobil memasuki halaman mereka. Mata Karen berbinar setelah mendengarnya. Dia benar-benar lega saat ini.
"Papa pulang," ucap Eren saat membuka pintu rumahnya.
"PAPA!" Teriak Karen heboh.
Karen langsung menerjang Eren yang baru saja pulang dengan pelukan eratnya.
"Alen kangen sama papa." Eren membalas pelukannya.
"Tch, baru sehari. Gimana kalau entar papa ada urusan mendadak?" Tanya Eren.
"Gak boleh. Pokoknya Alen harus ikut!" Seru Karen.
"Oh ya pa. Papa tau gak..." Karen melirik ke arah Lauren.
Lauren memelototinya, sedangkan Karen menjulurkan lidahnya.
"Tau apa?" Tanya Eren bingung.
"Kalau papa mau rahasia besar dari Alen, papa harus kasih Alen cuan dulu," bisik Karen. Lauren menatap bingung adiknya dengan jantung yang berdegup kencang seakan-akan melompat keluar dari tubuhnya.
"Mau berapa?" tanya Eren.
"500 dollars," jawab Karen.
"Tapi, apakah informasinya penting ga. Nanti ga worth it lagi."
"Mana dulu uangnya. Kalau ga penting, nanti Karen balikin deh," ucap Karen bernegosiasi.
Eren memberikan putri kesayangannya itu uang yang telah dimintanya.
"Nahh gitu dong pa," ucap Karen yang membuat Lauren semakin bingung sekaligus panik.
Jangan bilang nih anak mau bocorin.~Batin Lauren
Karen menatap Lauren dengan tatapan liciknya.
Bener. Perasaan gue ga enak ini.~Batin Lauren.
"Rahasianya adalah..."
Karen membuat persiapan untuk kabur dari ancaman sang kakak.
"KAK OLEN TADI CIUMAN SAMA CEWEK!" Pekik Karen sambil berlalu pergi.
"KAREN!" Pekik Lauren.
Eren menatap serius anak lelakinya itu. Lauren menelan ludahnya dengan susah payah.
Mampus! Papa terlihat marah besar. Dasar adik kurang ajar!~Umpat Lauren dalam hati.
"Apa itu benar, Olen?" Tanya Eren serius.
Lauren tak dapat mengelak lagi. Tatapan membunuh itu bisa sewaktu-waktu menjadi senjata baginya.
"I-iya," Jawab Lauren lirih.
"Tapi Olen ga sengaja pa. Olen berlari terus ga sengaja tabrakan terus ga sengaja kena itunya terus...," celoteh Lauren tanpa henti.
"Olen masih ingat yang diucapkan mama?" Tanya Eren.
"Iya. Maaf. Tapi, aku sudah besar. Aku... aku juga mau menentukan pilihanku sendiri," Protes Lauren.
"Ya, tapi apakah merusak anak gadis orang itu baik?" Tegas Eren.
"Tidak. Itu sama sekali tidak baik. Olen minta maaf," ucap Lauren lirih.
"Tch tch. Mama pasti akan kecewa kalau tau Olen seperti ini." Eren pergi dari ruang keluarga menuju ke kamarnya. Lauren terdiam mematung disana. Dia merasa bersalah karena telah menyia-nyiakan kepercayaan Ayahnya terhadapnya. Terlebih lagi, Kaira selalu menanamkan kepada mereka agar tidak pernah merusak diri sendiri juga orang lain. Adat dan kebudayaan yang telah mereka dapatkan di Indonesia sebelumnya, kini mereka tetap terapkan walau mereka telah tinggal lama di negeri orang dengan kebudayaan yang jauh berbeda.
...*....*...
Sejak hari itu, omset penjualan Karen dan Andrew sangat laris di pasaran. Berita mereka pun hingga viral ke seluruh pelosok negeri ini. Apalagi dengan nama Andrew yang lumayan terkenal akibat latar belakang dan ketampanannya.
Andrew dan Karen telah membuka cabang di 3 tempat di sekitar kota Massachusetts dalam waktu beberapa bulan saja. Hal itu membuat Karen tak perlu lagi meminta uang biaya kepada Eren sang ayah.
Hingga suatu hari, ada seorang investor yang tertarik untuk bekerja sama dengan mereka. Pria itu mengundang Karen dan Andrew untuk datang.
"Saya menyukai kreativitas kalian berdua. Kalian berdua memang adalah pasangan yang hebat, saling mendukung dan tidak pernah menjatuhkan satu sama lain. Semua dilakukan berdua," ucap pria itu.
"Saya juga tertarik dengan proposal yang kalian ajukan. Tak heran jika anda, tuan muda Andrew, adalah seorang anak konglomerat. Kemampuan anda bahkan jauh melampaui anak seusia anda," lanjut pria itu memuji.
"Terimakasih pak," ucap Andrew.
Pria itu menandatangani surat kontrak dan mereka pun resmi bekerja sama.