Latar Belakang : London
Genre: Comedy romance
Sansa Turner, gadis berusia 20 tahun itu cinta mati pada teman ayahnya yang bernama Alexander Ghan, seorang duda berusia 45 tahun.
Sejak kecil, ayah Sansa yang bernama Dorian Turner selalu menitipkan Sansa pada Alex saat ia memiliki pekerjaan di luar kota. Hal itu membuat Sansa dan Alex begitu dekat, keduanya jatuh cinta dan diam-diam menjalin hubungan di belakang Dorian.
Selama menjalin hubungan, Sansa selalu mendesak Alex agar memberi tahu ayahnya tentang hubungan mereka karena Sansa sudah tak sabar ingin menikah dengan sang kekasih hati. Namun Alex masih tidak punya cukup keberanian untuk memberi tahu Dorian, selain karena perbedaan usia, Sansa juga putri sahabatnya yang lebih pantas menjadi putri Alex dari pada kekasihnya.
Akankah hubungan Alex dan Sansa sampai ke jenjang pernikahan?
Akankah Dorian Turner mau menyerahkan Sansa Turner pada Alexander Ghan sebagai istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MTDF #29 - Her Jealousy Driving Me Crazy
"Good morning, Sweetheart...."
"Emmh..." Sansa melenguh saat mengecup pipinya dengan gemas.
"Sansa, ayo bangun, Sweetheart. Ini sudah jam 9," tukasku sembari mengusap pipinya namun Sansa hanya menggumam tidak jelas, sepertinya ia masih sangat mengantuk. "Baiklah, lanjutkan tidurmu, aku akan membuat sarapan," ucapku dan lagi-lagi Sansa hanya menggumam.
Aku segera pergi ke dapur, namun saat membuka kulkas, aku tidak menemukan sesuatu yang bisa ku masak untuk di jadikan menu sarapan yang enak.
Aku segera mengambil dompet dan kunci mobil, tak lupa aku pamitan pada istri tercintaku bahwa aku akan pergi berbelanja sebentar.
...***...
Aku membeli susu, roti, dan daging segar, aku sengaja hanya membeli sedikit saja karena nanti sore kami akan pulang ke rumah Dorian dan kemudian akan tinggal disana.
Setelah membeli beberapa barang yang aku butuhkan, aku pun segera pulang karena aku ingin sarapan sudah siap saya Sansa bangun.
Sesampainya di rumah, aku terkejut karena melihat ada mobil asing yang terparkir di rumahku.
Aku segera masuk dan ku rasakan atmosphere tak biasa dan terasa mencekam saat aku melihat raut wajah Sansa yang begitu tegang serta tatapannya nyalang padaku, dan Sansa hanya mengenakan piyama tipis, yang bahkan memperlihatkan bekas kemerahan di seluruh leher dan dadanya.
Sementara di sisi lain, aku melihat Elaine yang juga tampak tegang. Elaine menatapku penuh tanda tanya, aku tahu dia pasti terkejut dengan keberadaan Sansa apalagi melihat kondisinya yang seperti ini.
"Apa benar yang dia katakan, Alex? Kau sudah menikahinya?" Tanya Elaine kemudian padaku.
Aku memang tidak memberi tahu Elaine tentang pernikahanku dan Sansa, aku lupa karena aku sudah terbiasa tak berkomonikasi dengannya kecuali jika ada pekerjaan yang penting.
"Iya, Elaine. Dia istriku, Sansa," jawabku.
"Oh, maafkan aku, Alex. Aku tidak tahu," ucap Elaine sambil tersenyum miris.
"Jika kau tidak tahu, apakah berarti di benarkan kau masuk ke kamar seorang pria begitu?" Tanya Sansa dengan begitu tajam. "Kau sangat tidak sopan," sinis nya kemudian.
Sepertinya dua wanita ini sedang bersitegang, dan aku sangat mengenal Sansa, Oh God! Semoga ini tidak menjadi masalah besar.
"Maafkan aku, Sansa. Aku sungguh tidak tahu kau ada di dalam kamar Alexander..."
"Suami..." sela Sansa dengan cepat. "Aku ada di kamar suamiku." lanjutnya dengan nada yang menohok.
"Sweetheart, aku rasa ini bukan masalah yang besar. Elaine tidak tahu aku sudah menikah dan..."
"Oh, jadi kau membenarkan dia masuk ke rumah sembarangan, tanpa izin, kemudian masuk ke kamar dan duduk di tepi ranjang? Benar begitu?" Tuduh Sansa.
Aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi tapi sepertinya apa yang Sansa katakan itu benar, setiap kali Elaine datang ke rumah ini, dia akan menganggap rumah ini seperti rumahnya sendiri dan aku tidak masalah.
"Aku rasa lebih baik aku pergi, maaf karena sudah mengganggu," ucap Elaine kemudian yang membuatku merasa bersalah.
"Silakan! Pintu keluarnya disana...."
"Sansa...." tegurku namun Sansa langsung melemparkan tatapan tajamnya padaku yang membuat nyaliku langsug menciut.
Elaine pun pergi dari rumah dan aku merasa tak enak hati padanya.
"Seharusnya kau tidak bersikap seperti itu padanya, Sansa!" Tegasku setelah Elaine pergi.
"Apa ada yang salah dari sikap seorang istri pada wanita yang mencoba menggoda suaminya?" Tanyanya yang membuatku mengernyit bingung.
"Cemburumu terlalu berlebihan, Sansa. Tidak mungkin Elaine menggodaku, aku baru saja pulang dari berbelanja, Sweetheart." tukasku dengan kesal.
Lama kelamaan kecemburuanya itu membuatku gila.
"Kau tidak tahu 'kan kalau tadi dia masuk ke kamar kita, dan mungkin dia mengira aku itu kamu, kemudian dia menciumku dan berkata 'Good morning, Alexander'"
"Apa?!