Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13 - Jawaban Valen
"Memangnya, rasa kak Valen ke Mila gimana?" Dengan keberaniannya, akhirnya Mila mengeluarkan pertanyaan yang sejak di bandara ingin ia tanyakan langsung pada Valen.
Mila menahan napasnya sesaat setelah pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Ia sendiri terkejut dengan keberaniannya. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah suaranya bisa terdengar sampai ke ruang tengah tempat keluarga besar mereka berkumpul.
Valen tidak langsung menjawab. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak hanya sampai di bibir, tapi juga terpancar di matanya. Pria itu sedikit mengikis jarak, membuat Mila bisa mencium aroma parfum maskulin yang bercampur dengan sisa aroma kopi yang samar.
"Rasanya?" Valen mengulang pertanyaan Mila dengan nada rendah yang menenangkan.
"Mila, kalau aku cuma sekadar kagum, aku cukup kirim biji kopi ke rumahmu lewat kurir. Kalau aku cuma sekadar ingin membantu, aku cukup kasih kamu referensi data lewat e-mail."
Valen menatap Mila lekat-lekat, membiarkan suasana hening sesaat untuk memberi penekanan pada kata-katanya. "Tapi berdiri di sini, menghadapi 'sidang' Oma Soimah, dan berjanji mempertaruhkan bisnisku hanya untuk melihat kamu lulus tepat waktu... rasanya lebih dari sekadar rasa suka biasa. Ada rasa tanggung jawab dan keinginan untuk selalu jadi orang pertama yang kamu cari kalau kamu sedang sulit. Itu jawaban Rasaku, Mil."
Mila terpaku. Pipinya yang tadi sudah mulai mendingin kini kembali terasa terbakar. Ia tidak pernah mengira Valen akan se-terbuka ini. "Kak Valen..."
"Jangan dijawab sekarang," potong Valen lembut. Ia tersenyum, lalu dengan gerakan yang sangat sopan, ia menyelipkan beberapa helai rambut Mila yang tertiup angin malam ke belakang telinga gadis itu. "Simpan dulu buat besok pagi. Fokus kita sekarang adalah membuktikan ke Oma kalau kamu bisa lulus dengan nilai terbaik. Ayo, kita masuk. Nggak enak kalau ditinggal lama-lama, nanti Oma makin curiga."
Mila hanya bisa mengangguk pelan, mencoba menetralkan degup jantungnya yang masih berpesta. Mereka berdua kemudian melangkah masuk kembali ke ruang tengah.
Begitu mereka masuk, suasana masih sangat serius namun sesekali pecah oleh tawa Billar. Di atas meja, beberapa lembar denah gedung dan contoh undangan sudah tersebar. Oma Soimah masih memangku Leshia yang sudah terlelap, sementara Levian tampak tertidur dengan kepala di pangkuan Papa Fildan.
"Nah, ini dia dua orang yang katanya lagi cari inspirasi udara malam," goda Lesti saat melihat Mila dan Valen masuk.
"Sini, Mil. Duduk sini samping Bunda," panggil Bunda Selfi sembari menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Valen memilih duduk di sofa tunggal, tidak jauh dari Ayah Faul. "Sampai mana bahasnya, Oma?" tanya Valen mencoba mencairkan suasana.
"Tasya baru saja memaparkan vendor bunga," sahut Oma Soimah tanpa mengalihkan pandangan dari draf acara. "Oma mau bunga lili putih yang dominan, jangan terlalu banyak mawar. April, kamu setuju?"
"Setuju banget, Oma. Kesannya lebih elegan," jawab April sembari mencatat sesuatu di tabletnya. Robi di sampingnya hanya mengangguk-angguk setuju, sesekali melirik Mila dan Valen dengan senyum penuh arti.
"Ibu," sela Tante Dewi sembari menuangkan teh hangat untuk Oma. "Tadi aku sudah cek juga untuk kateringnya. Mila bilang dia mau buatkan satu dessert corner khusus sebagai hadiah untuk kakaknya. Benar kan, Mil?"
Mila tersentak dari lamunannya. "Ah, iya Tante! Mila rencananya mau buat mini cake dengan berbagai varian rasa kopi dari kafe Kak Valen sebagai pelengkap."
Oma Soimah mengangkat kepalanya, menatap Mila lalu beralih ke Valen. "Boleh. Tapi syaratnya tetap sama. Skripsi jalan, toko jalan, dan persiapan ini juga harus kamu pantau. Jangan sampai gara-gara bimbingan besok, kamu malah lupa bantu kakakmu."
"Mila nggak akan lupa kok, Oma," jawab Mila mantap.
"Tenang saja, Oma. Saya yang akan jadi pengingat paling bawel buat Mila," timpal Valen yang memancing tawa dari Billar dan Papa Fildan.
"Nah, denger itu Faul! Menantu masa depanmu sudah siap jadi alarm pribadi anakmu!" canda Billar sembari menepuk bahu Ayah Faul.
__________
Ditunggu part selanjutnya ya, Guys
Love you All❤️