Dua keluarga ternama yang ingin memperkuat hubungan memutuskan untuk menjodohkan anak mereka. namun apakah rencana itu akan berjalan lancar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RayyanSA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memulai Yang Baru
Alden terus berusaha memasukkan Bola kedalam ring, namun tidak satupun bola yang masuk kedalam ring. semua tembakan yang dilakukan Alden meleset, hal itupun membuat Alden semakin meradang.
"berengs*k.. temen macam apa lu Saga? lu udah nikung gua. dan yang lebih parah, lu bahkan nyuruh Lesya gugurin kandungannya setelah Lesya hamil" Alden melempar bola basketnya dengan sangat kencang hingga terpental jauh dari lapangan.
"awas aja lu Saga, gua bakal kasih pelajaran biar lu kapok. gua bisa tu remukin semua tulang lu!" Alden terus mengumpat karna kekesalan dan kekecewaannya.
karena belum bisa meredam emosinya, Alden memikih pergi kesebuah klub. namu saat didepan pintu masuk, Alden di hentikan oleh orang-orang yang bertubuh besar dan terlihat garang.
"minggir gua mau kedalam"
"anak kecil tidak boleh masuk!" ucap salah satu dari mereka menanggapi Alden.
tanpa menunggu, Alden mengeluarkan kartu kependudukannya yang kebetulan ia dapatkan setelah ulang tahunnya yang ke 17 bulan lalu. melihat hal itu akhienya orang-orang tersebut membuka jaoan untuk Alden masuk.
didalam sana Alden telah menghabiskan banyak sekali minuman, hingga ia berjalan gontai saat keluar dari klub tersebut. Alden menyusuri jalanan dalam keadaan setengah sadar hingga,
brugh
saat berjalan di depan restoran, Alden menabrak seseorang yang baru keluar dari restoran tersebut. tanpa memperdulikan orang yang tertabrak oleh tubuhnya, Alden melenggang dengan jalan yang sempoyongan.
"Alden!" seseorang yang Alden tabrak akhirnya mengejarnya.
"lepasin tangan lo" bentak Alden seraya menghempaskan tangan orang tersebut.
"hei ada apa, lo terlihat kacau Alden. mendong lo ikut gue sekarang.
orang tersebut menghentikan taksi dan mengajak Alden masuk. selang beberapa saat orang tersebut membawa Alden kerumahnya. karena Alden yang masih mabuk, ia memapah Alden kedalam rumahnya.
"sebentar Alden, gue harus kedalam" Alden menatap kepergian orang tersebut. dan entag kenapa ia malah mengikutinya hingga masuk kedalam kamarnya.
brugh
Alden menjatuhkan orang tersebut di atas ranjang dan menindihnya. ia menatap lekat tiap inci wajah orang itu.
"menyingkir dari tubuh gue Alden, lo mau apa si?"
Alden justru semakin mengekang dan memegang tangan orang itu erat-erat. Alden kemudian tersenyum menyeringai dengan tatapan yang menakutkan. "Dengar Lesya, lo harus jadi milik gua!" ucapnya dengan nada ngelantur khas orang yang sedang mabuk.
💜💜
saat Saga hendak melajukan motornya dari area parkir sekolah, Dikta menahannya. hal itu membuat Saga mengernyitkan dahinya dan menatap Dikta penuh selidik.
"gua ikut sama lu Ga, gua mau jenguk mba Lesya!" ucap Dikta yang saat itu membuka kaca jendela mobilnya.
"lu ikutin gua"
selang beberapa saat Saga dan Dikta sampai di area rumah sakit. sesampainya disana, Saga segera berjalan denfan cepat karna ia sangat mengkhawatirnya istrinya yang ia tinggal sendiri di rumah sakit
klek
ketika Saga dan Dikta memasuki ruangan Lesya, tiba-tiba Saga meradang. ia meraih kerah baju dari seseorang yabg ada didalam bersama dengan Lesya!.
"Saga, ada apa denganmu?" Lesya memekik saat Saga hampir saja menjatuhkan pukulannya di wajah orang tersebut. namun Saga segera menurunkan tangannya mengingat istrinya yang tengah menjalani proses pemulihan.
"Saga dia ini sepupuku, kenalkan namanya Dylan."
"senang bertemu denganmu lagi Saga" Dylan menyunggingkan senyumnya meskipun masih terlihat tegang.
'jadi benar dugaanku, dia memang berbeda dengan Arvin. lalu kenaoa kemarin Lesya memanggilnya Arvin?' muncul tanda tanya besar di benak Dylan saat itu.
"dan itu Dikta teman Saga!" Dylan juga berjabat tangan dengan Dikta.
senyum yang tadinya terlihat di wajah Lesya, kini mulai menghilang saat dia menyadari sesuatu diwajah Saga.
"Saga, ada apa dengan wajahmu? kamu berkelahi?"
"ini masalah biasa Lesya!" sahut Saga.
Lesya saat itu mencari sesuatu yang ia butuhkan hingg, "Dikta, tolong ambilkan aku kotak obat itu!" Lesya menunjuk sevuah kotak obat yang ada di nakas didalam ruangannya.
Dikta oun segera mengambilkannya untuk Lesya.
"duduklah disini" Lesya menepuk kasur yang ia tempati, ia menggeser tubuhnya agar Saga bisa duduk disebelahnya.
"tidak perlu Lesya, nanti juga akam sembuh sendiri"
"ini bocah ngeyel banget ya" Lesya menarik lengan Saga hingga Saga akhirnya terduduk di sebelah Lesya. perlahan Lesya mengobati semua luka yang ada di wajah Saga hingga seseorangpun bersuara.
"emm Lesya, aku harus kembali kekantor. kamu cepat sembuh dan jangan banyak stres"Lesya hanya mengangguki ucaoan Dylan. Dylanpun tersenyum, ia mengacak rambut Lesya seraya meninggalkan ruangan tersebut.
"oh ya mba Lesya, gua juga pamit"
"iya Dikta terimakasih kamu sudah menyempatkan datang kesini!" Dikta oun segera keluar dari ruang itu juga menyusul Dylan.
Lesya sedikit heran dengan Saga yang menatapnya tanpa berkata apapun."ada apa Saga? kenapa kamu-"
grep
Saga memeluk Lesya hingga membuat Lesya terhenyak dan tidak melanjutkan kata-katanya. "maafkan aku, aku tidak bisa menjagamu dan anak kita dengan baik! sampai-sampai kita harus kehilanagn dia bahkan sebelum dia lahir kedunia ini"
mendengar ucapan Saga, perlahan Lesya menjatuhkan airmatanya. ia pun ikut bersedih atas kehilangan yang ia rasakan. namun Lesya segera menyusut airmatanya. ia membuat Saga duduk tegap dihadapannya. perlahan telapak tangan lesya mengusap lembut airmata Saga yang jatuh tanpa Saga rencanakan.
"ini bukan salahmu Saga, ini semua salahku!"Lesya menatap nanar Saga yang saat itu menatapnya lekat.
"entah apa yang terjadi akhir-akhir ini sehingga aku tidak menyadari kehadirannya. ya mungkun saja kamu melakukannya tanpa cinta, tapi aku tidak pernah menyesali kehadirannya didalam sana!" Lesya mengusap lembut perutnya yang rata bahkan ia sampai menitikkan airmatanya.
"aku tau mungkin karna kita hanya menikah secara terpaksa, tuhan tidak mengizinkan aku untuk merawatnya. karna aku tidak pantas un-" Saga meletakkan jari telunjuknya dibibir Lesya hingga Lesya menghentikan perkataannya.
"jangan berbicara seperti itu Lesya! tuhan memberi kita ujian seperti ini itu tabpa alasan."
"apa maksud dari ucapanmu Saga?"
"tuhan ingin menyadaekan aku tentang sesuatu!" Saga menghela nafas dalam "dengan kejadian ini, aku juga merasa sangat kehilangan dan hancur. tapi karna kejadian ini juga, aku merasa sangat takut kehilangan kamu Lesya!"
"Saga, jangan main-main dengan ucapanmu! aku tau kamu mencintai perempuan lain dan kamu tidak perlu mengasihaniku dan menghiburku dengan kata-kata itu!"hardik Lesya
"aku tidak main-main Lesya. aku ingin setelah ini, kita mulai dari awal. aku akan membuang jauh-jauh semua tentang Liyora, dan aku harap kamu juga bisa melupakan Arvin." ucap Saga tegas.
Lesya masih bimbang dengan apa yang di ucapkan oleh Saga 'apa Saga benar-benar serius dengan ucapannya? tapi jujur aku merasa senang dengan ucapannya barusan. aku merasa saat ini ia lebih dewasa dari usianya.'
"tapi Saga, Arvin itu sebenarnya sudah tiada. dan ketiadaanya itu akulah penyebabnya. mana mungkin aku bisa melupakannya?"
"aku tau dia sudah tiada Lesya" seakan tidak percaya, Lesya membulatkan kedua netranya. "ya aku sudah tau. bukan untuk melupakan Arvin, tapi aku harap kamu bisa melupakan rasa cintamu untuk Arvin dan memulai yang baru denganku" lagi-lagi Saga memperlihatkan sisi dewasanya seperti saat ini. dan hal itu membuat Lesya mengukir senyum diwajahnya.
Lesya kini memeluk Saga kembali, bahkan ia sangat erat memeluk Saga. mendapat perlakuan seperti itu Saga pun membalas pelukan itu dengan hangat.
Disisi lain, Alden mengerjapkan matanya. ia tersadar dari tidurnya. saat ia bangakit ia melihat seorang wanita di sebelahnya dengan tubuh yang hanya tertutup oleh selimut.
"astaga, apa yang gua lakuin?" Alden memijat kepalanya yang oening akibat pengaruh minuman. sekelebat bayangan di atas tempat tidur membuat Alden mencak rambutnya frustasi.
"ini benar-benar gila! gua lakuin ini karna gua kira tadi dia itu Lesya.bodoh! kenapa gue bisa terobsesi seperti ini dengan Lesya, sehingga berbuat kesalahan begitu besar. "ck.." lagi-lagi Alden berdecak kesal.
"dan siapa cewe itu?" Alden menarik wanita yang belum sadarkan diri hingga ia dapat melihat wajahnya dengan jelas.
"astaga.." Alden meremas rambutnya dan mendengus kesal.
.
.bersambung
.