Tahap Revisi🤗
Nama ku Aqila Dewi Karisma. Aku terpaksa menikah dengan calon kakak ipar ku sendiri karena suatu peristiwa.
Hari-hari ku berubah semenjak menikah. Tidak ada sayang atau cinta dari suami ku, yang ada hanya rasa benci dan ingin terus melihat ku menderita.
"Kamu hanyalah Istri Diatas Kertas tidak lebih. Jangan berharap mendapatkan cinta atau kasih sayang dariku, karena itu tidak akan terjadi." Arka mencengram kuat dagu Aqila dengan jemari kuat nya.
"Sakit... lepaskan...." Pinta Aqila meringis kesakitan dengan butiran bening jatuh karena kuat nya cengraman Arka.
"Sakit?" Kata Arka mengulangi perkataan Aqila dengan senyum puas melihat penderitaan nya.
_-_-_-_-_-_-_-_✨💞✨_-_-_-_-_-_-_-_-_
Apakah Aqila akan kuat dengan semua sikap Arka atau sebaliknya?
Mau tau kehidupan rumah tangga Arka dan Aqila?
Yuk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulia rysa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Hawa Dingin Kulkas
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
•
✨🌹💞🌹✨
Sekarang Aqila menuju ruangan kerja Dewi meminta dokumen sesuai perintah Pak Farel, langkah gontai Aqila dengan pikiran masih berkecamuk memikirkan alasan pembatalan yang saat ini masih belum dia ketahui.
"Masalah apa yah Pak Farel dengan dengan klien tadi? Kenapa secara mendadak membatalkan." Batin Aqila bertanya sendiri.
Semua karyawan menatap aneh kepada Aqila yang tidak fokus berjalan, hampir saja Aqila menabrak karyawan lain karena pikiran yang kini masih melayang menjadi pertanyaan sendiri.
Aqila tidak sadar saat tadi menjadi tontonan semua karyawan, pikiran nya dipenuhi pertanyaan yang belum bisa dia jawab. Namum saat mendengar teguran seorang karyawan yang hampir dia tabrak, Aqila langsung sadar dan segera minta maaf atas kecerobohan dia berjalan tanpa fokus.
Dan kini Aqila telah berada di ruang kerja Dewi.
"Tumben kesini." Menautkan alis penasaran."Ada angin apa gerangan ke ruang saya Baginda Ratu, jika tidak ada yang penting silakan Kembali ke ruangan, hamba masih banyak kerjaan yang harus di selesaikan hari ini." Ucap Dewi terkesan alay di telinga Aqila.
"Ishk apaan sih Wi, geli aku dengar nya, mending tarik kembali deh perkataan kamu tadi." Protes Aqila geli alay.
"Gak mau. Ngapain kamu kesini Aqila sayang? Jangan ngajak aku ngobrol dulu, sekarang aku harus kerjaan dokumen ini sebelum jam makan siang, atau tidak Pak Farel akan mengamuk kalau tau aku belum selesei." Kata Dewi.
"Maksud kamu Pak Farel kalau ngamuk seram menakutkan kayak hantu gitu ?" Tanya Aqila penasaran dengan penjelasan Dewi.
Aqila di buat penasaran sama penjelasan Dewi yang setengah-setengah menurut nya. Dewi menatap Aqila berubah serius dengan tampang kepo penasaran, mendapat ide untuk mengerjai Aqila.
"Iya Qila, Pak Farel kalau udah ngamuk seperti macan tutul, bukan itu lebih parah dari hantu Kunti." Ucap Dewi berbohong, saat ini Dewi ingin tertawa lepas, namun dia tahan dan memilih tertawa dalam hati.
"Rasain lho, siapa suruh kepo sama Pak Farel." Batin Dewi memandang Aqila yang kini mulai kemakan sama perkataan bohong nya.
"Tapi, kenapa selama ini aku gak tau?" Tanya lagi Aqila.
"Kamu gimana sih Qila. Apa kamu lupa kamu disini baru beberapa hari jadi gimana mau tau aslinya Pak Farel." Timpal Dewi berbohong lagi.
"Terus, kenapa aku gak pernah dengar gosip dari karyawan lain tentang Pak Farel?" Aqila terus mengorek informasi tentang Pak Farel.
Dewi terus menakuti Aqila dengan menjelek-jelekkan Pak Farel. Aqila karyawan baru hanya mengangguk percaya semua perkataan Dewi tanpa ragu, tanpa tau jika dia sedang di bohongi Dewi mentah-mentah.
Farel yang sudah lama menunggu Aqila belum menemui dia di ruangan bingung kenapa Aqila belum datang, apa ada masalah di ruangan Dewi, apa mereka lagi ngobrol, biasa yang dia ketahui perempuan kalau sudah ketemu teman sfrenkuensi kadang ngobrol jadi gak ingat waktu, semua yang lagi penting akan dilupakan karena keasyikan ngobrol.
Farel bangun dari kursi kebesaran keluar ruangan, pertama dia mengecek di ruangan Aqila, namun disana dia tidak menemukannya, lalu dia ke ruangan Dewi, dan ternyata benar saja Aqila berada di sana.
Tanpa mereka berdua sadari Farel diam mematung melihat mereka belum menyadari keberadaan nya. Dengan santai dan cool Farel melipat kedua tangan mengangkat sejajar pada dada tubuhnya. Telinga di pasang ketat mendengar perkataan Dewi terus menjelek-jelekkan dirinya menakuti Aqila.
"Jadi kamu harus hati-hati dengan Pak Farel, jangan pernah melakukan kesalahan atau kamu akan tau sifat asli Pak Farel seperti macan tutul." Kata Dewi tidak menyadari Farel berdiri di depan pintu memasang muka dingin menatap nya.
"Hmmm, apa sudah ngerumpinya?" Tanya Farel mengangetkan Dewi dan Aqila.
Mendadak tubuh Dewi menengang, bagaimana tidak semua kebohongan yang niat nya ingin mengerjai Aqila menjadi bumerang untuk dirinya sendiri sekarang.
Dewi bingung harus menjawab apa, mulut nya mendadak menjadi kaku. Dewi yang biasa sering mengoceh seketika diam beribuh bahasa jadi patung tak berkutik.
"Apa sudah puas menjelekkan atasan kamu sendiri?" Farel melempar tatapan tajam dan dingin kepada Dewi seakan mengatakan ayo ulangi lagi kenapa berhenti, bukan nya perempuan hobi ngerumpi dan jelekin orang? Terus kenapa saat orang yang di rumpi muncul di hadapan mendadak diam seperti patung.
"Maaf Pak." Ucap Dewi tunduk ketakutan, menatap wajahnya saja dia tidak berani, gimana yang lain.
"Sial kenapa aku gak nyadar kalau Pak Farel sejak tadi disini, kalau udah begini habis lah aku." Batin Dewi menyesal sudah mengarang cerita bohong kepada Aqila.
Niat mengerjai Aqila, malah kena batu hasil dari kebohongan mengerjai sahabat sendiri.
Memang benar kata orang, jika semua diawali dengan kebohongan atau apapun itu yang niatnya sudah tidak jujur, akhirnya akan mendapat balasan setiap dari kelakuan atau perkataan sendiri.
"Kenapa diam ayo lanjutkan, saya ingin mendengar penilaian kamu tentang saya! Mungkin saja saya bisa berubah setelah mendengar penilaian kamu selama bekerja di sini tentang saya." Kata Farel meminta Dewi untuk melanjutkan.
Aqila yang tidak tau apapun tentang ini, bingung mengerutkan kening, ada apa? kenapa mendadak Dewi diam ketakutan dan Pak Farel dingin seperti es batu.
"Ada apa ini kenapa sekarang aku berada di posisi kejepit seperti ini, posisi yang tidak menyenangkan dengan situasi aneh penuh dengan hawa dingin kulkas." Batin Aqila menjadi ngeri berada di tengah hawa dingin ini.
🌿🌺🌿
Arka sibuk mengurus berkas yang pernah dia tunda karena perubahan mood yang disebabkan Aqila saat itu.
"Semua ini karena perempuan ular itu, seandainya dia tidak masuk ke dalam kehidupan ku. Aku yakin saat ini semua tidak akan begini, pekerjaan ku tidak akan setumpuk gunung." Umpat kesal Arka kesal.
Lagi dan lagi dia menyalahkan Aqila yang tidak ada sangkut paut dengan semua ini. Kerjaan menumpuk ulah sendiri kenapa di lempar menjadi kesalahan Aqila. Otak Arka dipenuhi prasangka buruk tentang Aqila, tidak ada sekecil jarum kebaikan mengenai Aqila. Apa begitu rendah dan buruk Aqila Dimata Arka? Sehingga sekecil jarum saja tidak ada.
"Wanita itu harus menanggung semua perbuatannya, karena dia saat ini aku harus bekerja keras, karena dia juga aku menolak ajakan Papa dan Mama untuk pulang." Ucap Arka mengepal keras kedua tangan.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
✨_______________🌼🌼🌼_______________✨
🥀Di nilai buruk oleh orang lain bukan lah awal yang baru atau pertama dalam kehidupan semua manusia. Setiap orang memiliki penilaian berbeda tentang dia, dia dan dia, bahkan kita sendiri. 🥀~~~By: Aqila💞
...Jangan lupa dukung karya ini dengan Like, comment, gift🌹 and vote....
...Bantuan jempol mu membantu author untuk semangat menulis....