Arsel, pria tampan yang kini menjadi seorang pemimpin di sebuah perusahaan sukses milik keluarganya. Ia adalah pria yang memiliki 1 anak, eits walau pun begitu Arsel bukan duda loh.
Seperti alasan umum, ia terjerumus dalam ruang pertemanan yang salah.
Namun, hidupnya benar benar berubah kala ia dijodohkan oleh sang papa dengan alasan cukup umur. Betapa tidak percayanya, ternyata dirinya dijodohkan oleh wanita yang ditemuinya di toko kue miliknya dengan nama anaknya.
***
Dalam masa perevisian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eisode 27
"Oh." Ucap Arin begitu saja keluar karena dia tidak tau harus mengatakan apa.
"Marah sama m-mas?." Tanya Arsel bingung disertai cemas misterius dihatinya. Arin terdiam, dia bingung bahkan tidak mengerti tentang suaminya. Apakah rumor yang beredar tentang suaminya itu palsu? Atau ada alasan lain?.
"Hmm." Dehem Arin menstabilkan kegugupannya, sayangnya deheman itu disalah artikan oleh Arsel. Arsel menunduk dia ingin memeluk Arin, namun ntah kemana keberaniannya pergi. Akhirnya Arsel menarik Arin kedalam dekapannya sambil terus merapalkan kata maaf dengan gugup.
Arin kembali membisu, dihatinya terbesit kebahagiaan. Di perutnya seperti ada yang terbang dan dia ingin tertawa sedang jantungnya, ini adalah bagian yang sedang berdetak kencang. Arin perlahan membalas pelukan Arsel walau hanya sebentar karena sehabis itu dia mendorong Arsel agar melepaskan pelukan itu.
"Iya tidak masalah... t-tapi ada pak Dedeng... malu." Cicit Arin pelan, Arsel melengkungkan bibirnya membuat sebuah ukiran berupa senyum tipis. Arsel melirik kearah pak Dendeng, untungnya pria itu mengerti. Dia langsung keluar dari dalam mobil yang ada sepasang kekasih didalamnya dan keduanya sedang dimabuk asmara.
"Jadi?." Tanya Arsel lembut, Arin harus menahan godaan dari pria didepannya yang memasang wajah memohon.
"Hufh... kalau yang tadi malam aku gak marah mas, lagipula itu udah... ah itulah... tapi, aku boleh minta sesuatu sama mas?." Ujar Arin tanpa memandang Arsel yang sedang membuat pupy eyes itu.
"Apa?." Tanyanya penasaran.
"Aku cuma minta... m-mas tidak mabuk lagi... mas kalau mau minta maaf jangan sama Arin, lebih baik mas sholat, minta ampunan. Kalau Allah maafin mas pasti Arin juga maafin." Ujar Arin panjang lebar memberitahu apa permintaannya. Arsel terdiam, dia sudah berurusan dengan alkohol sejak sma dan dia harus melepaskan itu? baginya tidak mudah.
"Aku tau pasti mas berat untuk lepasin dunia mas saat ini. Tapi dalam Al-Qur'an, dengan mas meminum sesuatu yang memabukkan itu akan memberi kerugian. Lagipula ibadah yang mas lakukan beberapa waktu ini bisa saja tidak diterima." Jelas Arin panjang lebar dengan lembut. Arsel masih terus diam, dia bingung mau berbicara apa.
"Mas bisa perlahan kok untuk lepasin itu semua, pasti tidak bisa langsung instan bukan?." Sambung Arin menasehati. Arsel masih terus diam, dia terdiam dengan hati yang bercampur aduk.
Arin terkejut, perasaannya seperti tadi. Arsel tiba-tiba memeluk Arin tulus dan tentu dibalas oleh wanita itu. Arsel mengendurkan pelukan mereka, tatapan keduanya tidak terlekkan. Perlahan Arsel mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya.
Bibir eh ralat dahi mereka bersentuhan dan Arsel tersenyum.
"Makasih." Ujar Arsel kemudian. Arin tersenyum menanggapi, dia bahagia melihat suaminya yang ingin berubah menjadi lebih baik lagi.
"Sama-sama." Setelah itu hening menguasai keduanya, namun tidak membuat mereka gugup malah keduanya tidak sadar akan apa yang terjadi karena terlarut akan pandangan masing-masing.
Cup
Arsel dengan singkat mengecup bibir Arin lalu memanggil pak Dendeng untuk kembali masuk dan melajukan mobil ke perusahaan.
Jantung Arin tambah kencang berdetaknya namun itu membuatnya bahagia dan senang. Arin masih menunduk dengan sesekali melirik kearah Arsel.
Arsel yg merasa posisi mereka kian menjauh menarik pinggang wanita itu agar lebih mendekat ketubuhnya.
Pak supir tersenyum melihat perubahan tuannya, biasanya dia tidak akan segan dengan wanita lain tapi tidak dengan Arin. Bagi mata pak Dendeng sendiri keduanya sedang menjalani hubungan pacaran tingkat awal bukan pasutri.