Semua orang menganggap Gunung Sumber Abadi hanyalah tempat wisata gagal yang dikutuk, tetapi bagi Rizky Santoso, warisan yang dibuang oleh seluruh keluarganya ini adalah awal dari segalanya. Tepat saat ia menerima beban hutang dan kawasan wisata yang hancur itu, sebuah sistem misterius bangkit dan memberinya kekuatan untuk mengubah gunung tandus menjadi destinasi kelas dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Matahari perlahan tenggelam menyisakan warna jingga gelap di ujung langit barat.
Suara ribuan orang mengobrol terdengar seperti dengungan lebah raksasa dari area bawah.
Wunggg wunggg.
Antrean pengunjung mengular rapi di depan delapan palang mesin tiket elektronik Pusat Kontrol Wisata.
Tit. Tit. Tit.
Suara pindaian tiket digital terus berbunyi bersahutan tanpa henti setiap detiknya.
"Tolong siapkan kode batang di layar ponsel Anda agar antrean berjalan cepat!" teriak Siska melalui pelantang suara portabelnya.
"Anak di bawah umur lima tahun bebas masuk tanpa perlu dipindai tiketnya Ibu-ibu!"
Rizky berdiri di balkon lantai dua memantau kelancaran arus masuk tersebut sambil meminum kopi hangatnya.
Sruput.
Dia sangat puas melihat kinerja tim lapangan yang dikomandoi oleh sang mantan preman.
Bagas dan teman-temannya berjaga di setiap sudut memastikan tidak ada pengunjung yang menyelak antrean.
"Mundur sedikit Mas, tolong hargai bapak-bapak yang sudah antre dari tadi sore," tegur Bagas sopan kepada seorang remaja.
"Maaf Pak Satpam, saya terlalu bersemangat mau lihat jembatan auroranya," jawab remaja itu sambil cengengesan mundur.
Rizky tersenyum mendengarkan interaksi tersebut dari alat komunikasi di telinganya.
Langit akhirnya benar-benar berubah menjadi hitam pekat tanpa cahaya matahari sama sekali.
Ini adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh lima ribu pengunjung pada malam itu.
Rizky menekan tombol sakelar utama di atas meja kontrolnya tepat pada pukul tujuh malam.
Klik.
Seketika, seluruh area Jembatan Kaca di Atas Awan memancarkan pilar cahaya hijau dan ungu yang sangat terang.
Bzzzt.
Cahaya itu menembak lurus ke atas dan membentuk ilusi tirai aurora raksasa yang menari-nari indah di langit malam.
Di saat yang sama, Air Terjun Pelangi juga menyala selaras memantulkan gradasi warna yang luar biasa memukau.
Ribuan pengunjung yang tadinya sibuk mengobrol mendadak terdiam membisu selama beberapa detik.
Lalu, suara sorakan histeris meledak mengguncang seluruh area Gunung Sumber Abadi.
Wuaaaahhhh.
"Astaga, indah sekali, ini benar-benar seperti keajaiban dari surga!" jerit seorang ibu sambil menutup mulutnya.
"Aku belum pernah melihat pemandangan sehebat ini seumur hidupku, uang tiket ini terasa sangat murah!" teriak pengunjung lain kegirangan.
Prok prok prok.
Suara tepuk tangan menggema bersahutan memuji keindahan atraksi malam pertama di provinsi tersebut.
Siska berlari menaiki tangga spiral menuju ruang kontrol dengan wajah berseri-seri.
Tap tap tap.
"Bos Rizky, kau dengar sorakan mereka, kita berhasil memecahkan rekor malam ini!" lapor Siska dengan napas terengah-engah.
"Bahkan ada belasan pembuat konten terkenal yang sedang melakukan siaran langsung memuji acara kita."
Rizky meletakkan cangkir kopinya dan mengangguk pelan menerima pujian tersebut.
"Ini baru permulaan Siska, pastikan genset tenaga surya kita terus beroperasi maksimal sampai jam sepuluh nanti," perintah Rizky.
"Siap Bos, aku akan berjaga di ruang bawah tanah untuk memastikan semuanya aman," hormat Siska penuh semangat.
Namun, di tengah kemeriahan festival tersebut, sebuah mobil sedan hitam berhenti sembarangan di area parkir bawah.
Cittt.
Pintu mobil didorong terbuka dengan sangat kasar hingga nyaris membentur tiang.
Brak.
Anton keluar dari mobil itu dengan penampilan yang sangat berantakan dan jauh dari kesan elegan asisten direktur.
Jas mahalnya terlihat kusut dan kancing kemejanya terbuka separuh memperlihatkan wajahnya yang memerah karena stres tingkat tinggi.
Matanya melotot liar menatap ke arah cahaya aurora yang menyinari seluruh puncak gunung.
"Tidak mungkin, ini semua pasti ilusi murahan atau trik kamera," gumam Anton dengan suara bergetar dan napas memburu.
"Taman Mega Ria lumpuh total, server kami hancur lebur, kerugian miliaran, sementara anak desa ini bersenang-senang di sini."
Anton mengabaikan teguran petugas parkir dan berjalan terobos menaiki jalanan setapak menuju gerbang utama.
Bruk.
Dia menabrak bahu beberapa pengunjung yang sedang berjalan pelan untuk mengantre.
"Hei Paman, kalau jalan pakai mata dong, ini bukan jalan nenek moyangmu!" protes seorang pengunjung merasa kesal.
Anton sama sekali tidak mempedulikan makian itu dan terus berjalan cepat menembus kerumunan.
"Rizky Santoso, keluar kau anak setan, aku tahu ini semua ulah licikmu!" teriak Anton meracau sepanjang jalan.
Rizky yang sedang berjalan turun ke area Air Terjun Pelangi mendengar suara keributan dari arah pintu masuk kaca.
Dia melihat Bagas dan dua petugas keamanan sedang menahan tubuh seorang pria berjas kusut yang meronta hebat.
"Lepaskan aku preman kampung, aku mau bertemu dengan bos kalian sekarang juga!" bentak Anton berusaha melepaskan diri.
"Mas Rizky, orang gila ini tiba-tiba menerobos palang elektronik tanpa memindai tiket," lapor Bagas sambil memegangi lengan Anton.
Rizky menyipitkan matanya dan tersenyum tipis mengenali tamu tak diundangnya tersebut.
"Lepaskan dia Bagas, dia adalah Bapak Anton, petinggi dari taman hiburan raksasa di kota seberang," ucap Rizky santai dan lantang.
Bagas dan teman-temannya melepaskan cengkeraman mereka namun tetap berdiri siaga mengelilingi Anton.
Para pengunjung di sekitar pintu masuk mulai berkumpul membentuk lingkaran karena penasaran dengan drama keributan itu.
Anton merapikan jasnya yang kusut dan menunjuk tepat ke wajah Rizky dengan jari gemetar.
"Kau yang mengirim virus sialan itu ke server kami kan Rizky!" tuduh Anton dengan suara melengking penuh amarah.
"Kau menghancurkan sistem Taman Mega Ria karena kau takut bersaing sehat dengan fasilitas modern kami!"
Rizky menatap Anton dengan raut wajah sangat tenang tanpa terpancing emosi amarah sedikit pun.
"Bersaing sehat?" ulang Rizky dengan nada mengejek yang sangat kentara.
"Apakah memutus pasokan listrik dan jalur pipa air bersih ke gunung ini semalam adalah contoh persaingan sehat menurut Anda Bapak Anton?"
Para pengunjung yang mendengar ucapan telak Rizky itu langsung berbisik-bisik kaget satu sama lain.
"Astaga, ternyata ada pengusaha kota yang mau menyabotase fasilitas wisata ini semalam," bisik seorang ibu kepada suaminya.
"Pantas saja tadi pagi ada berita Taman Mega Ria tutup mendadak gara-gara eror, ternyata karma karena bosnya sejahat ini."
Anton yang mendengar bisikan hujatan dari pengunjung itu semakin kehilangan akal sehatnya.
"Tutup mulut kalian semua orang miskin, kalian tidak tahu apa-apa soal persaingan bisnis!" bentak Anton ke arah kerumunan penonton.
Bugh.
Seorang pengunjung pria berbadan besar langsung mendorong dada Anton dengan wajah kesal.
"Jaga mulutmu Paman, kami bayar tiket pakai uang halal, bukan hasil menyuap dan menipu seperti perusahaanmu," balas pengunjung itu marah.
Rizky mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi memberi isyarat agar para pengunjung tetap tenang.
"Tolong jangan menggunakan kekerasan di tempat wisata saya Bapak-bapak, biarkan saya yang mengurus orang linglung ini," pinta Rizky dengan sopan.
Rizky kemudian berjalan selangkah lebih dekat ke arah Anton yang sedang mengatur napasnya yang tersengal parah.
"Tuan Anton, jika Anda punya bukti bahwa saya meretas server Anda, silakan lapor ke kantor polisi sekarang juga," tantang Rizky tersenyum sangat dingin.
"Tapi kita berdua sama-sama tahu bahwa serangan siber pertama justru berasal dari jaringan internet kantor Anda sendiri."
Anton menelan ludahnya dengan susah payah karena ucapan pemuda desa itu seratus persen fakta.
"Jika polisi menyelidiki jejak digital kasus ini, peretas bayaran Anda yang bernama Rio itu pasti akan membusuk di penjara beserta Anda yang menyuruhnya," bisik Rizky pelan hanya agar didengar oleh Anton.
Wajah Anton seketika berubah pucat pasi seputih kertas saat mendengar nama peretas rahasianya disebut dengan santai.
Tubuh besar Anton bergetar hebat menyadari bahwa dia benar-benar telah kalah telak dan tidak memiliki celah membalas.
"Kau ini sebenarnya monster jenis apa Rizky," gumam Anton dengan pandangan kosong meratapi kekalahannya yang memalukan.
"Aku hanyalah pemuda desa biasa yang kebetulan mewarisi dan menjaga gunung ini," jawab Rizky merendah namun menusuk.
"Bagas, tolong antar Bapak Anton kembali ke mobilnya secara halus, sepertinya beliau butuh istirahat panjang di rumah sakit jiwa."
"Siap laksanakan Mas Direktur," jawab Bagas dengan senyum lebar menahan tawa.
Bagas dan seorang petugas keamanan menggandeng lengan Anton yang kini sudah tidak memberikan perlawanan sama sekali layaknya mayat hidup.
Pria paruh baya itu berjalan gontai diseret menuju area parkir dengan tatapan mata yang sudah kehilangan seluruh harapan hidupnya.
Sorakan cemoohan dari para pengunjung mengiringi kepergian asisten direktur sombong tersebut hingga hilang di balik turunan.
Huuuuuu.
"Pulang sana Paman, urus saja taman hiburan besimu yang sudah bangkrut dan karatan itu!" teriak seorang remaja mengejek puas.
Rizky berbalik menghadap ke arah kerumunan ribuan pelanggannya dan menepuk tangannya sekali dengan keras.
Plok.
"Maaf atas sedikit gangguan hiburan murahan barusan Bapak Ibu sekalian," ucap Rizky dengan suara lantang mengembalikan suasana ramah.
"Sebagai permohonan maaf, kami akan memutar musik instrumental khusus untuk menemani malam aurora magis Anda semua."
Rizky menekan tombol alat komunikasi di kerahnya dan memberi kode kepada Siska di ruang kontrol atas.
"Putar musik santainya sekarang Siska," perintah Rizky singkat.
Sret.
Alunan musik seruling bambu modern yang sangat menenangkan mulai terdengar dari puluhan pengeras suara yang tersembunyi rapi di pepohonan.
Suasana festival malam itu kembali meriah dan bahkan terasa jauh lebih syahdu dari sebelumnya.
Pengunjung kembali membubarkan diri menyebar ke area Jembatan Kaca dan Air Terjun Pelangi sambil mengambil ratusan swafoto ceria.
Ding!
[Pemberitahuan Sistem!]
[Tindakan balasan verbal tanpa kekerasan fisik yang Host tunjukkan sangat diapresiasi oleh banyak pengunjung malam ini.]
[Karisma Host meningkat drastis dan reputasi Gunung Sumber Abadi naik pesat ke tingkat Nasional.]
[Kompetitor bisnis Taman Mega Ria dipastikan tidak akan bisa pulih dari kehancuran finansial dan skandal ini.]
Rizky membaca rentetan notifikasi biru itu sambil berjalan menyusuri jalan setapak yang diterangi lampu temaram hangat.
Dia menatap tajam ke arah dinding tebing di sebelah barat air terjun yang masih tertutup rapat oleh kegelapan malam.
"Satu ancaman besar dari luar kota sudah berhasil disingkirkan dengan cara yang sangat memuaskan," batin Rizky sambil menarik napas dalam-dalam.
"Sekarang, saatnya bersiap untuk mengeksplorasi apa yang sebenarnya tertidur lama di balik celah mulut gua rahasia itu."
Festival Malam Seribu Bintang hari itu benar-benar menjadi titik klimaks yang mengukuhkan posisi puncak Gunung Sumber Abadi.
Tidak akan ada lagi pengusaha kota atau lintah darat kampung yang berani memandang sebelah mata pada tempat wisata dewa ini.