Azkia dan Raffasya bagaikan tikus dan kucing yang tidak pernah bisa akur jika bersama. Kebencian Raffasya terhadap Azkia sudah tertanam saat masih duduk di sekolah dasar karena Azkia berhasil mengalahkan Raffasya yang saat itu sedang melakukan body shaming kepada Gibran, kakak kelas Azkia lainnya.
Dan setelah mereka dewasa, permusuhan itu tetap berlangsung. Azkia yang akhirnya menjalin asmara dengan Gibran terpaksa harus hidup dengan Raffasya karena suatu peristiwa buruk.
Akankah Azkia bisa bertahan dengan Raffasya atau memilih kembali bersama Gibran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menularkan Sikap Buruk
Setelah selesai menyiram tubuhnya dengan air hangat dan meminum obat yang disediakan oleh Mamanya, Azkia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Tok tok tok
" Kia, kamu sudah selesai mandinya?"
Ketukan pintu dan suara Yoga yang terdengar membuat Azkia kembali duduk di tepi tempat tidurnya.
" Sudah, Pa." Azkia dengan cepat menyahuti.
" Sudah diminum obatnya?" tanya Yoga setelah masuk dan ikut duduk di tepi tempat tidur putrinya itu.
" Sudah, Pa." sahut Azkia kembali.
Kini punggung tangan Yoga menyentuh kening Azkia.
" Tadi itu kenapa Kia bisa sampai menabrak motor Raffa? Katanya dia bantu kamu ganti ban mobil." Yoga menanyakan soal perseteruan yang terjadi antara Azkia dan Raffasya yang tadi sempat dia lihat.
" Kia nggak sengaja kok, Pa. Tadi 'kan Kia bersin-bersin jadi nggak konsen sama yang ada di depan." Azkia memberikan alasan bagaimana dia bisa sampai menabrak motor Raffasya.
" Lalu kenapa baju kamu bisa sampai basah seperti itu? Kan kamu bisa pakai payung atau kamu bisa saja menunggu di dalam mobil. Kamu itu 'kan alergi kalau kena hujan." Yoga yang merasakan ada hal yang aneh langsung bertanya kepada putrinya itu.
" Tadi itu ..." Azkia mengingat-ingat kenapa dia bisa kehujanan dan basah kuyup. " Tadi itu waktu Kia lagi pegangin payung ada bunyi petir jadi kaget terus payungnya lepas, Pa. Jadi kehujanan, deh." Azkia menceritakan apa yang terjadi tapi tidak menceritakan perdebatan yang dia lakukan dengan Raffasya.
" Ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja." Yoga merangkul pundak Azkia dan memberikan kecupan di kening putrinya itu. Setelah itu berdiri dan beranjak meninggalkan kamar putrinya itu.
Selepas kepergian Yoga, Azkia kembali merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia teringat kembali kejadian tadi, apalagi saat Raffasya merapatkan tubuh berotot liatnya dengan tubuhnya.
" Me sum banget sih itu orang! Ngapain juga nempel-nempel badan aku? Dia sudah lihat punyaku, terus nempel-nempel. Jangan-jangan dia kebayang terus sama punyaku yang dia bilang gersang, lalu terobsesi kepingin coba, terus perko sa aku, hiiii serem ...!" Azkia mengedikkan bahunya saat dia membayangkan hal itu jika sampai terjadi.
Sedangkan Yoga langsung kembali ke kamarnya setelah selesai menemui Azkia.
" Sudah tidur Kia nya, Mas?" tanya Natasha yang selesai mengoles night cream ke wajahnya yang masih tetap cantik di usia yang hampir mendekati lima puluh tahun.
" Belum, tapi sudah aku suruh istirahat," sahut Yoga kemudian duduk di tepi tempat tidurnya.
" Kenapa, Mas?" tanya Natasha yang melihat suaminya itu seperti sedang memikirkan sesuatu.
" Aku agak khawatir dengan Kia, Yank." Yoga menjawab pertanyaan istrinya.
" Memang Kia kenapa, Mas?" tanya Natasha serius. Dia pun ikut duduk di samping suaminya.
" Kita selalu mengajarkan semua anak-anak untuk selalu bersikap santun dan menghargai orang lain. Tapi kenapa Kia itu menuruni sifat kamu banget ya, Yank? Keras kepala, frontal, bar-bar. Aku takut hal itu akan merugikan dirinya sendiri." Yoga menyampaikan rasa cemasnya.
" Jadi Mas Yoga menganggap aku menurunkan sifat-sifat yang nggak baik ke Kia gitu?" Natasha protes karena Yoga menganggapnya sengaja menurunkan sifat-sifat negatifnya kepada Azkia.
" Kenyataannya Kia itu mirip kamu banget, Yank. Dari gaya bicara, ceplas-ceplosnya, juteknya, sombongnya, nggak menghargai kebaikan orang lain ...."
" Iya, iya, iya, Kia memang mirip aku. Semua sikap jelek Kia itu nurun dari aku!" Natasha langsung bangkit karena suaminya terus mengatakan hal buruk pada Azkia yang menuruni sikapnya. Dia langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur membelakangi suaminya. " Dia itu 'kan anakku, wajarlah sikapnya mirip aku! Masa harus mirip tetangga!" Natasha terus menggerutu, membuat Yoga tersenyum melihat istrinya yang langsung merajuk disamakan dengan sikap putrinya itu.
" Iya memang sikap Kia itu menular sikap kamu banget, kok! Nggak ada mirip-miripnya sama aku yang kalem, tenang dan sabar." Yoga malah lanjut meledek istrinya yang kini sudah menarik selimut sampai menutupi kepalanya.
Yoga kini ikut merebahkan tubuhnya menghadap tubuh Natasha yang memunggunginya tanpa menyentuh atau berkata apa-apa. Dan berlangsung beberapa saat, Yoga hanya memandangi tubuh Natasha yang bergelung selimut.
Natasha yang merasakan tidak merasakan pergerakan apapun dari Yoga langsung menarik selimut dan menoleh ke belakang untuk mengetahui apa yang dilakukan suaminya sekarang ini. Dan saat dia memutar kepalanya dia mendapati Yoga yang sedang memandanginya dengan mengulum senyuman kepadanya, membuat Natasha kembali memalingkan wajahnya dan menutup kepalanya dengan selimut karena merasa terjebak oleh suaminya.
Yoga yang melihat Natasha kembali menutupi kepada dengan selimut setelah ketahuan mengintip apa yang sedang dilakukannya langsung terkekeh. Dia merapatkan tubuhnya dan memeluk Natasha dari belakang. Dia kemudian menarik selimut yang menutupi kepala Natasha lalu menghujani ciuman ke wajah wanita yang sudah lebih dari dua puluh tahun menjadi istrinya itu.
" Kamu ini masih saja senang merajuk seperti dulu sih, Yank? Tapi anehnya aku kok semakin cinta ya sama kamu?" Yoga terus saja memberikan kecupan-kecupan di pipi Natasha hingga membuat Natasha memutar tubuhnya dan kini membalas memeluk tubuh suaminya.
" Itu karena aku ini belahan jiwa kamu, Mas." Kini Natasha merebahkan kepalanya di lengan Yoga.
" Aku berharap Gibran akan awet sampai berjodoh dengan Kia, Mas. Karena dia butuh pria seperti Mas Yoga yang super sabar yang bisa mengatasi sikap keras Kia," ucap Natasha.
" Aku harap juga seperti itu, Yank. Semoga Gibran benar-benar bisa menaklukan sikap keras kepala putri kita yang satu itu." Yoga membelai rambut Natasha.
" Untung cuma Kia saja yang seperti itu ya, Mas. Aulia sama Aliza lebih mirip kamu sifatnya."
" Iya, habisnya kamu itu bandel banget waktu hamil Kia, Yank." Kini Yoga menoleh ke arah istrinya. " Ingat waktu kabur ke mall sama Rara, sampai hampir menabrak mobil terus kena tilang polisi?" Yoga mengingatkan kelakuan Natasha ketika hamil Azkia beberapa tahun silam.
" Hahaha, iya aku ingat. Polisinya waktu itu ganteng banget lho, Mas." Natasha langsung melirik suaminya karena suaminya itu tidak mau jika dia memuji pria lain apalagi di hadapannya.
" Tapi kamu tetap yang paling ganteng di mataku dan yang terbaik di hati aku lho, Mas." Natasha kini menggeser posisinya hingga kini kepalanya bersandar di dada Yoga membuat Yoga membenamkan kecupan di pucuk kepala Natasha dengan penuh kelembutan.
***
" Raffa? Kok kamu ada di sini?" Seseorang menyapa Raffasya yang baru saja mengantar motornya ke bengkel.
Raffasya menoleh ke arah suara wanita yang menyapanya. Dia mendapati Gladys yang kini berjalan menghampirinya. Raffasya mendengus saat wanita itu mendekatinya.
" Kamu sedang apa di sini, Raf?" tanya Gladys kemudian.
" Lu pikir orang ke bengkel itu ngapain? Shopping?!" ketus Raffasya.
" Kamu bisa saja, Raf." Gladys malah terkekeh menganggap jika Raffasya sedang mengajaknya bercanda.
Raffasya memutar bola matanya menanggapi ucapan Gladys. Dia lalu mengambil ponselnya karena dia harus meninggalkan motornya di bengkel hingga dia berniat memesan ojek online.
" Motor kamu ditinggal di bengkel, ya? Kalau begitu pulangnya aku antar saja." Gladys yang menduga jika Raffasya akan pulang sendirian langsung menawarkan diri untuk mengantar pria itu pulang. " Lihat tuh baju kamu basah! Nanti kamu bisa sakit, lho!" lanjut Gladys yang melihat pakaian Raffasya yang terkena air.
" Nggak usah, makasih! Gue nggak mau ngerepotin lu!" Raffasya menolak, kemudian berjalan ke luar bengkel.
" Eh, Raf, Raf ... nggak apa-apa, kok! Aku antar kamu, ya?" Gladys terus membujuk Raffasya. " Ayolah, Raf ... jangan menolak terus ajakanku! Aku ini sedang berusaha agar kita bisa lebih dekat, Raf. Kamu tahu 'kan kalau aku ini suka sama kamu?"
" Dan lu juga tahu 'kan, kalau gue itu nggak suka sama lu?!" tegas Raffasya yang merasa risih selalu dikejar-kejar terus oleh Gladys.
" Tapi, Raf ...' Gladys mencekal lengan Raffasya yang ingin berlalu darinya.
Tin tin
Sebuah mobil berhenti di depan Raffasya.
" Butuh tumpangan, Mas? Saya driver ojol." tanya seseorang dari dalam mobil saat jendela mobil itu terbuka.
" Iya, sih! Tapi saya coba pesan dari aplikasi, posisi drivernya jauh." ujar Raffasya memperhatikan orang dalam mobil itu. Dia memang belum berhasil mendapatkan mobil yang dia pesan karena hujan masih saja turun.
" Mau saya antar, Mas? Saya dari G-car, bisa terima orderan offline, Mas. Tarifnya samakan saja sama yang diaplikasi," ujar orang yang mengaku sebagai driver ojol itu.
" Oke." Raffasya yang memang ingin menghindari Gladys akhirnya menerima tawaran driver ojol itu. " Sorry, Dis!" Raffasya melirik ke arah tangannya yang masih dicekal Gladys, meminta agar Gladys melepaskan tangannya.
Setelah berhasil melepaskan diri dari Gladys, Raffasya pun langsung menaiki mobil itu. Walaupun dia sendiri heran darimana supir itu tahu jika dia membutuhkan tumpangan? Namun dia tak pedulikan. Yang dia pikirkan adalah bisa menjauh dari Gladys.
***
" Mbak, dress ini ada yang warna putih, nggak?" tanya seseorang wanita kepada pegawai butik saat Azkia menuruni anak tangga yang menghubungkannya ke ruang kerjanya.
Azkia memperhatikan wanita yang dia ingat wajahnya mirip dengan teman SMA Gibran.
Ting
Suara sensor pintu butik berbunyi saat seseorang masuk ke dalam butik. Azkia lalu menoleh ke arah pintu, mengalihkan pandangannya dari teman Gibran ke wanita yang baru masuk, yang dia duga akan membeli koleksi pakaian yang ada di butiknya.
Azkia mengedar pandangan, butik yang saat ini terlihat ramai, membuat setiap pegawainya sibuk melayani pelanggan masing-masing. Akhirnya Azkia berinisiatif dia sendiri yang akan melayani pembeli itu.
" Selamat siang, Mbak. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Azkia ramah kepada wanita itu
" Saya cari dress warna putih tapi untuk semi formal ya, Mbak." ucap wanita itu.
" Oh, mari ikut saya, Mbak." Azkia kemudian mengajak wanita itu ke arah display beberapa gaun semi formal koleksi Alexa Boutique.
" Silahkan dipilih yang sesuai dengan selera. Ini hanya ada ada empat size, small sampai extra large, Mbak." Azkia menjelaskan kepada wanita di hadapannya itu.
" Oh, oke ..." Wanita itu kemudian memilih beberapa dress berwarna putih yang tersedia.
" Gladys? Hey, kamu Gladys, kan?" Tiba-tiba wanita yang Azkia duga sebagai teman dari Gibran menyapa wanita yang sedang dilayani oleh Azkia.
Wanita yang disapa Gladys pun menoleh ke arah orang yang menyapanya.
" Hei, kamu ... Shendy, ya?" Gladyn pun menyapa balik Shendy.
" Iya benar, kamu masih ingat aku juga. Apa kabar?" Shendy dan Gladys pun saling berpelukan.
Sementara Azkia yang mengetahui jika wanita yang sedang dilayaninya ternyata kenal dengan Shendy segera menyuruh pegawainya yang baru saja selesai melayani pelanggan untuk menggantikan posisinya saat ini, karena dia memang berniat keluar makan siang.
" Aku baik, kamu sendiri gimana?" tanya Gladys. " Sudah nikah belum?"
" Belum, masih cari calonnya dulu, kalau kamu sudah nikah?" Shendy balik bertanya.
" Belum juga, calonnya sih sudah ada, tapi agak susah ditaklukannya." Gladys terkekeh.
" Oh ya kamu tahu kalau sekolah kita mau mengadakan acara temu kangen pekan depan?" tanya Shendy.
" Iya aku tahu, makanya aku cari dress ke sini. dress codenya putih, kan?" sahut Gladys.
" Iya, sudah dapat gaunnya?" tanya Shendy.
" Sudah, ini ..." Gladys menunjuk dress yang dia pilih kepada Shendy. " Aku ambil yang ini saja, Mbak." Gladys lalu memutar tubuhnya mencari keberadaan Azkia.
" Mau ambil yang mana, Mbak?" tanya pegawai toko yang menggantikan Azkia.
" Lho, pelayan yang tadi mana, ya?" tanya Gladys masih mencari keberadaan Azkia.
" Mbak yang tadi melayani bukan pegawai, Mbak. Itu tadi pemilik butik ini. Tadi kebetulan semua pegawai sedang melayani pembeli jadi Mbak Kia turun langsung melayani Mbak nya." Pegawai butik itu menjelaskan.
" Oh, ya sudah. Saya ambil ini yang size M ya, Mbak. Beda harga nggak setiap ukuran?" tanya Gladys.
" Nggak kok, Mbak. Sama saja untuk model ini satu juta dua ratus dua puluh enam ribu rupiah." Pegawai butik tadi menjawab pertanyaan Gladys.
" Ya sudah, saya minta size M."
" Baik, Mbak. Saya ambilkan dulu barangnya." Pegawai butik langung mencari size yang diminta oleh Gladys.
" Oh ya, beberapa bulan lalu aku bertemu dengan Gibran. Kamu ingat Gibran?" Shendy kembali menyambung obrolan dengan Gladys.
" Gibran? Cowok cool yang kamu suka dulu, kan?" Gladys mengingat sosok Gibran.
" Iya, benar dia."
" Bertemu di mana? Di Jakarta ini atau di Jambi?" tanya Gladys penasaran.
" Jakarta sini, dong!"
" Wah, tandanya jodoh, nih! Sudah menyebrang pulau, ketemu juga di sini " Gladys terkekeh.
" I hope so." Shendy menyahuti seraya tersenyum namun senyumnya seketika memudar saat dia teringat sosok Azkia. " Tapi dia sudah punya pacar, sih!" lanjutnya.
" Baru cuma pacar, belum istri, kan? Yang punya sudah punya istri saja bisa direbut, apalagi yang masih pacaran," bisik Gladys seakan menyemangati membuat mereka berdua sama- sama tertawa.
Sementara itu Azkia yang melangkah ke luar butik menunggu di teras butik sekitar lima menit sebelum akhirnya mobil Gibran datang menjemputnya.
" Maaf telat," ucap Gibran seraya membukakan pintu untuk Azkia dari dalam sebelum kekasihnya itu mengomel.
" Sudah ayo cepat berangkat!" Azkia buru-buru masuk ke dalam mobil Gibran, karena saat ini Shendy berada di butiknya. Tentu saja Azkia tidak ingin Gibran tahu jika saat ini teman SMA Gibran berada dalam butiknya.
" Kamu lapar banget ya? Sampe terburu-buru gitu?" tanya Gibran tertawa kecil.
" Sudah cepetan, deh!" Azkia kembali menyuruh Gibran segera meninggalkan butiknya saat itu juga.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️