Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.
Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.
Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.
Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23. Kerinduan yang belum usai
Mobil Louis berhenti di depan gerbang besar mansion Van Bodden. Lampu-lampu halaman menyala redup, memantulkan bayangan pepohonan yang bergerak pelan tertiup angin malam. Noa menghela napas panjang sebelum membuka pintu mobil.
“Terima kasih sudah mengantarku,” ucapnya lirih.
Mata Noa masih sembab, meski tangisnya sudah berhenti. Louis mengangguk pelan. “Istirahatlah. Besok, kalau kau belum siap, katakan saja. Jangan memaksakan dirimu.” Noa tersenyum kecil.
“Aku ingin kembali besok.” Louis tersenyum balik, hangat, sopan, tidak melewati batas.
“Baiklah, Sampai jumpa besok, Noa.”
Noa melangkah masuk ke mansion yang hening. Pintu tertutup di belakangnya dengan perlahan, seakan menandai bahwa dunia luar kembali tertinggal.
Di dalam, rumah itu terasa terlalu besar untuk seorang diri. Lampu-lampu koridor menyala temaram. Tidak ada suara Matilda, tidak ada langkah kaki siapa pun, hanya suara langkahnya sendiri yang terdengar memenuhi ruangan, ia berjalan pelan menuju dapur, ia hanya ingin segelas air untuk menenangkan dadanya yang masih sesak.
Disisi lain, Ia tidak tahu, jika Dari lantai dua, tepat di ujung tangga yang menghadap ke aula utama, sepasang mata memperhatikannya. Landerik berdiri diam, baru saja keluar dari ruang kerja untuk mengambil minum. Jasnya sudah dilepas, kemeja putihnya digulung sampai siku. Ia berhenti ketika melihat Noa masuk dari pintu depan. Ia melihatnya berjalan sendiri. Tanpa pengawalan. Tanpa Matilda.
Dan, diantar oleh pria lain.
Dari sudut pandangnya, ia sempat melihat mobil yang pergi menjauh. Mobil yang bukan milik keluarga Van Bodden tentunya. Rahang Landerik mengeras. Bukan karena cemburu, setidaknya itu yang ia yakini , melainkan karena sesuatu yang tidak ia pahami sepenuhnya. Perasaan asing, getir, dan tidak nyaman.
Noa berhenti di dapur, menuangkan air. Bahunya tampak turun, tubuhnya terlihat jauh lebih kecil daripada yang ia ingat. Tidak ada sisa kemegahan pengantin Van Bodden di sana, yang ada hanya seorang gadis rapuh yang sedang mencoba bertahan.
Landerik menggenggam pagar tangga tanpa sadar.
Ia ingin turun. Ia Ingin bertanya kenapa Noa pulang selarut itu. Ia Ingin tahu apakah ia baik-baik saja. Tapi langkahnya terhenti oleh satu pikiran yang selalu ia ulangi sejak awal, Ini pernikahan tanpa cinta.
Ia tidak berhak. Sementara itu, Noa meneguk airnya perlahan, tidak menyadari tatapan di atas sana. Setelah itu, ia berjalan kembali menuju kamarnya dengan langkah yang lelah, dan tidak menoleh sedikit pun.
Landerik menunggu sampai pintu kamar Noa tertutup. Baru setelah itu, ia menghembuskan napas berat.
Malam itu, di mansion yang dingin dan penuh jarak, dua orang yang terikat oleh janji tanpa cinta sama-sama terjaga, masing-masing dengan perasaan yang belum berani mereka beri nama.
Landerik berbalik sebelum mencapai dapur.
Langkah kakinya membawanya kembali ke ruang kerjanya yang gelap, hanya diterangi cahaya lampu meja yang belum sempat ia matikan. Pintu ditutup perlahan, seolah ia takut suara kecil itu akan memecahkan sesuatu di dalam dirinya.
Ia berjalan ke sofa panjang di sudut ruangan dan menjatuhkan tubuhnya di sana, satu tangan menutupi wajah, yang lain terkulai di sisi sofa. Pandangannya kosong menatap langit-langit putih, luas, dan dingin. Terlalu mirip dengan perasaan yang ia pendam sejak kepergian Istrinya, Riana. Bayangan itu datang lagi.
Senyum Riana. Tawa kecilnya. Cara ia menggenggam tangan Landerik seolah dunia bisa runtuh asal mereka tetap bersama. Dadanya sesak. Untuk pertama kalinya malam itu, Landerik membiarkan dirinya rapuh. Air mata yang selama ini ia tahan jatuh perlahan dari sudut matanya, menyusuri pelipis hingga menghilang di kain sofa.
“Aku sangat merindukanmu sayang, aku membutuhkanmu.” bisiknya pada ruang kosong. Tidak ada yang menjawab.
Di sisi lain mansion, di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Noa merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sepatunya masih di lantai, rambutnya terurai berantakan, pikirannya berputar tanpa arah. Ia menatap langit-langit kamar sama putihnya, sama dinginnya.
Bayangan Riana juga menghampirinya, tapi dengan cara yang berbeda. Suara lembut yang mendorongnya untuk hidup. Senyuman yang penuh dengan harap yang menitipkan masa depan keluarga padanya. Noa memejamkan mata. Tubuhnya terlalu lelah untuk menahan apa pun lagi. Tanpa sadar, napasnya melambat, bahunya mengendur, dan akhirnya ia tertidur lelap, tidur yang dalam, tanpa mimpi, seperti pelarian singkat dari semua rasa sakitnya.
Di bawah atap yang sama, dua hati yang sama-sama kehilangan terbaring terpisah oleh jarak dan keheningan. Dan malam itu berlalu membawa kesedihan yang belum menemukan jalan pulang.
To Be Countinue...