NovelToon NovelToon
DEWA PERANG NAGA TERLARANG: Menantu Sampah Yang Mengguncang Langit

DEWA PERANG NAGA TERLARANG: Menantu Sampah Yang Mengguncang Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam / Robot AI / Anak Yang Berpenyakit / Kultivasi Modern
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Zen Feng

Baskara—menantu sampah dengan Sukma hancur—dibuang ke Jurang Larangan untuk mati. Namun darahnya membangunkan Sistem Naga Penelan, warisan terlarang yang membuatnya bisa menyerap kekuatan setiap musuh yang ia bunuh. Kini ia kembali sebagai predator yang menyamar menjadi domba, siap menagih hutang darah dan membuat seluruh kahyangan berlutut. Dari sampah terhina menjadi Dewa Perang—inilah perjalanan balas dendam yang akan mengguncang sembilan langit!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zen Feng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: PEDANG DI LEHER

ARENA KELUARGA CAKRAWALA

Dua bilah pedang tajam menempel di leher Baskara. Dinginnya logam menusuk kulit, namun tidak sedingin tatapan pemuda itu.

Di kiri, Patriark Dharma. Wajahnya merah padam, urat lehernya menonjol, Prana-nya meledak-ledak karena amarah. Di kanan, Tetua Satriya. Ekspresinya beku, namun niat membunuhnya setajam silet.

Arena sunyi senyap. Ribuan penonton menahan napas.

Di tribun, Larasati menutup mulutnya dengan tangan gemetar. 'Baskara... jangan mati...'

Di sebelahnya, Nyonya Ratih tersenyum tipis. 'Akhirnya. Binatang itu akan mati di tangan suamiku.'

Namun, Baskara tidak bergerak. Tidak panik. Tidak berkedip.

Ia berdiri santai di tengah puing arena, darah Wibawa masih menetes dari belati di tangannya.

"Kau berani menghancurkan masa depan keluarga ini?!" desis Patriark Dharma. "Kau berani mencacati jenius kami?!"

"Jenius?" Baskara memotong datar. "Dia menggunakan pil terlarang. Dia memasang formasi curang. Dia mencoba meracuniku. Dan kau menyebut sampah itu jenius?"

"DIAM!" Tetua Satriya menekan pedangnya lebih dalam. Setetes darah mengalir dari leher Baskara. "Kau akan mati di sini, Budak!"

Baskara menoleh perlahan ke arah Satriya. Bibirnya menyunggingkan senyum iblis.

"Kalian pikir dua pedang tua ini cukup untuk membunuhku?"

BOOM!

Baskara melepaskan sedikit tekanan auranya. Udara di sekitar mereka bergetar hebat.

"Jika salah satu dari kalian bergerak..." mata Baskara menyala merah darah, "...aku akan membantai seluruh klan ini sampai ke akar-akarnya."

Patriark tersentak. Itu bukan gertakan. Itu janji.

WUSH! WUSH! WUSH!

Puluhan kultivator melompat ke arena. Dua puluh prajurit elit dan lima Tetua senior mengepung Baskara rapat. Tombak dan pedang terarah padanya.

Jalan keluar tertutup.

[Tuan,] bisik Sistem. [Satu-satunya cara menang adalah menggunakan Cakar Naga penuh. Tapi itu artinya...]

'Membunuh semua saksi. Termasuk penonton tak bersalah.'

Baskara melirik Larasati di tribun.

'Membunuh semua orang, kecuali Larasati dan dua orang itu...'

Di bawah bajunya, sisik hitam mulai tumbuh di lengan Baskara. Ia bersiap meledakkan arena menjadi neraka darah.

Namun tiba-tiba—

WUSH!

Dua bayangan jatuh dari langit, mendarat tepat di samping Baskara, membelah kepungan.

Anjani dan Bharata.

Arena ternganga. Siapa mereka? Kenapa mereka melindungi si Menantu Sampah?

Anjani berdiri anggun, jubah putihnya berkibar. Lambang awan biru di dadanya bersinar memukau.

"Maaf mengganggu drama keluarga," suaranya merdu namun otoriter. "Tapi orang ini milikku."

Patriark Dharma mengerutkan kening. "Siapa kau? Ini urusan internal Keluarga Cakrawala!"

Anjani tersenyum tipis, senyum seorang ratu yang menatap rakyat jelata.

"Perkenalkan. Aku Anjani. Putri bungsu Patriark Sekte Langit Biru, Benua Antara."

Hening.

Satu detik. Dua detik.

Lalu arena meledak.

"SEKTE LANGIT BIRU?!" "PENGUASA BENUA ANTARA?!" "PUTRI PATRIARK?!"

Tangan Patriark Dharma gemetar. Pedangnya turun sedikit. Sekte Langit Biru adalah raksasa yang bisa memusnahkan Kota Batu Karang dengan satu jentikan jari.

"Kau... putri Patriark?" suaranya ragu. "Apa buktinya?"

Anjani tidak menjawab. Ia hanya melirik Bharata.

Bharata menyeringai lebar.

"Bukti?"

DUARR!

Aura Bharata meledak.

Bukan Inti Emas. Bukan Jiwa Baru awal.

Ini adalah tekanan Ranah Jiwa Baru Bintang 6.

Gelombang energi transparan menyapu arena seperti tsunami.

BRUK! BRUK! BRUK!

Seluruh prajurit elit langsung jatuh berlutut, muntah darah. Lima Tetua senior terhuyung mundur, wajah pucat pasi. Tetua Satriya jatuh terduduk, kakinya lemas. Bahkan Patriark Dharma harus menancapkan pedangnya ke tanah agar tidak tumbang.

Ribuan penonton di tribun merasa dada mereka ditindih gunung. Sesak napas massal.

Bharata berdiri santai dengan tangan terlipat. "Cukup?"

Patriark Dharma menelan ludah susah payah. Ia mengangguk kaku.

"Cukup... Kami percaya."

Bharata menarik kembali auranya. Semua orang terengah-engah, menghirup udara rakus.

"Baskara adalah kandidat murid kami," kata Anjani tenang. "Aku harap Patriark bisa... memaafkan kekacauan ini."

Patriark Dharma menatap Anjani, lalu Bharata, lalu Baskara. Ia sadar. Ia kalah. Melawan berarti kehancuran total.

"Kami... mengerti," ucapnya pahit.

Bharata maju selangkah, menatap tajam ke mata Patriark dan Satriya.

"Satu hal lagi. Jika ada sehelai rambut pun yang jatuh dari kepala Baskara setelah ini... Sekte Langit Biru akan menganggapnya sebagai deklarasi perang. Paham?"

Kedua orang tua itu mengangguk kaku. Mereka mundur, memerintahkan pasukan bubar.

Anjani menoleh ke Baskara, berbisik.

"Kau hampir lepas kendali tadi. Untung kami datang. Membantai satu kota akan membuat reputasimu buruk."

"Terima kasih," jawab Baskara tulus.

RUANG PERTEMUAN VIP - 30 MENIT KEMUDIAN

Suasana di ruang rapat tertutup itu berat. Patriark, tujuh Tetua senior, dan Baskara.

"Pertandingan harus dibatalkan!" bentak Patriark. "Baskara terlalu kejam! Dia melanggar aturan dengan menghancurkan Sukma lawan!"

"Dan aku curiga dia pakai ilmu hitam!" tambah Satriya penuh dendam.

Baskara berdiri bersandar di dinding, menatap mereka bosan.

"Kejam?" tanyanya datar. "Wibawa menggunakan Pil Ledakan Darah. Itu ilegal. Dan soal curang..."

Baskara menatap Satriya.

"Ini... kecurangan yang sesungguhnya."

Baskara mengeluarkan serpihan lantai arena. Residu Prana muncul di udara, menggambarkan sisa-sisa energi formasi di lantai arena yang hancur.

Pola Formasi Penindas Aura.

Semua Tetua terbelalak. Buktinya tak terbantahkan.

"Tetua Satriya..." desis Patriark, kecewa dan malu.

Satriya terdiam, wajahnya pucat. Skemanya terbongkar.

Patriark Dharma merosot di kursinya. Ia menutup mata, menarik napas panjang.

"Cukup."

Ia membuka mata, menatap Baskara. Kali ini, tidak ada lagi arogansi. Hanya kekalahan.

"Kami kalah. Jika kami membatalkan hasil, Sekte Langit Biru akan menghancurkan kami. Jika kami melawan, kau akan membunuh kami."

Patriark berdiri, berjalan ke jendela.

"Baskara Atmaja Dirgantara adalah pemenangnya."

ARENA - PENGUMUMAN RESMI

Patriark Dharma kembali ke podium. Wajahnya tua dan lelah.

"WARGA KOTA BATU KARANG!" suaranya serak. "SETELAH INVESTIGASI MENYELURUH... PEMENANG FINAL ADALAH..."

Jeda panjang.

"BASKARA ATMAJA DIRGANTARA!"

ROAAARRR!

Sorak-sorai membahana. Baskara bukan lagi sampah. Dia adalah legenda baru.

Baskara berdiri di hadapan Patriark.

"Hadiahku," tagihnya.

Dengan tangan gemetar, Patriark menyerahkan kotak giok berisi Pil Inti Emas.

Baskara mengambilnya, lalu berbalik menghadap tribun keluarga. Matanya menyala merah.

Suaranya diperkuat Prana, terdengar ke seluruh penjuru.

"Satu hal lagi."

Ia menatap Nyonya Ratih yang ketakutan.

"Larasati adalah istriku. Pernikahan dengan Adipati Lesmana atau siapa pun... DIBATALKAN."

Aura membunuhnya menyebar tipis.

"Jika ada yang keberatan... maju sekarang."

Hening mutlak.

Tidak ada yang berani bernapas. Bahkan Patriark pun menunduk.

Baskara tersenyum puas.

Ia bukan lagi menantu sampah. Ia adalah Raja yang baru saja memahkotai dirinya sendiri di atas darah musuh-musuhnya.

[BERSAMBUNG KE BAB 30]

1
Abil Amar
agak soplak ceritany wkkwkwkw mungkin otakny miring alur ceritany g msuk akal
Zen Feng: Ya gitu lah bang, ni novel intinya senggol bacok dibumbui romansa 😅
konsep memang unik absurd tapi geludnya mayan 🔥
total 1 replies
Santos
Anjirr makina seru thor 🔥
Aisyah Suyuti
good
Zen Feng
Silahkan tinggalkan komentar kritik dan saran untuk novel ini agar saya semakin semangat menulis, wahai para pembaca 😁
Luthfi Afifzaidan
baskara atau wibawa thor?
Zen Feng: Ah iya iya sorry typo
Harusnya wibawa.
Makasi makasi sudah saya edit 🫡
total 1 replies
Heavenly Demon
Anjani berhasil buat larasati cemburu 😅
Zen Feng: Konflik cinta tipis-tipis😅
total 1 replies
Heavenly Demon
Siasat apa lagi yang kalian buat 😌
Luthfi Afifzaidan
bukany tangan kanannya tdk bs dgunakan thor?
Zen Feng: Terimakasih sudah koreksi 🫡
Sudah saya edit dan perbaiki, saya lupa tangan kanannya dislokasi hehe
total 1 replies
Valentino
Ngeri cik😭
Valentino
Ey eyy 🥵
Meliana Azalia
Njirr badik arema 😭
Meliana Azalia
Naikin terus ranahnya thorr manteb
Subasa
Nyambung ke mimpi do prolog ya
Subasa
Teagis anjirr
Santos
Lu yg bodoh mbrong
Santos
Satu persatu yang dulu menyiksa Baskara mati mengenaskan 🔥
Ren
Bau bau saingan niih
Ren
Wwooohhh🫡
Dina Li
Uluu uluu wkwkwk
Valentino
Ntabs kiingg, balas dendam yang satisfying 👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!