Area 21++
Kekerasan
"Ka-kamu pembunuh?" Bulan tercengang
"Akhirnya kamu sudah tahu juga. sekarang, tanda tangani ini!" sebuah surat perjanjian dilayangkan kepadanya
"Mengurus kebutuhan lahir dan batin ku sampai waktu yang ditentukan. jika menolak, kabur dan mengadu pada orang lain, kau dan keluarga kau akan ku lempar ke Neraka!" ancam Guntur
Terikat Perjanjian menjadi Pembantu di kediaman pria psikopat yang gemar menyiksa siapa saja yang telah mengusik kehidupannya, untuk kedua kalinya kehidupan suram untuk Bulan yang terjerat dalam perangkap ini.
Bulan terpaksa menjadi tawanan pria itu, mulai mengurus hidupnya, hingga menjadi bual-bualan hasrat gairah dan siksaan tanpa melakukan kesalahan.
Rembulan, nama indah yang bersinar terang, seketika menjadi lebih suram bak kelabu cenderung hitam, tatkala terperangkap dalam Obsesi Majikan Psychopath
Apa yang terjadi pada pria bernama Guntur itu?
Apa misinya menjadikan Bulan sebagai tawanan?
****
Fllw ig @cece_virgo24
Add fb, elce kha
Baca juga karyaku yang lain, tekan profilnya 😉🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cece Virgo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikahlah Denganku!
🌺🌺🌺
Bulan kembali ke ruangan Guntur yang berada di lantai dua. namun langkahnya terhenti tepat didepan pintu lift, mematung sejenak disana sembari memikirkan sesuatu.
"Ngapain ke ruangannya, mending ke taman aja deh." dengusnya, Bulan kembali berbalik badan dan mulai melangkah menuju area taman berada.
Bulan memandang kawasan Rumah Sakit yang cukup menyejukkan mata. ada air pancur ditengah-tengah taman, terdapat bangku memanjang disegala sisi, pepohonan rindang dan tanaman bunga yang tidak kalah pentingnya. ia menghirup dalam-dalam udara pagi yang masih bersih, terasa sejuk dan menyegarkan. Bulan kembali melangkah ingin mendekati sebuah bangku disamping pohon, berdiam diri disana sembari menikmati semilir angin segar yang menghantamnya permukaan wajahnya
"Hmmm ... sepertinya mau hujan, rasanya sudah lama nggak dengar rintikan hujan." gumamnya, mendongak menatap langit yang awannya tampak bergerak diatas sana
Sedangkan disisi lain, Guntur merasa lega karena telah memenuhi nutrisi pada tubuhnya. para cacing nya tidak lagi memberontak didalam sana. Guntur lebih dulu memilih duduk sembari menikmati kopi hangat, pandangannya sesekali mengarah ke Taman yang mulai sepi tatkala orang-orang pada meninggalkan taman tersebut. hingga tanpa sengaja, pandangan Guntur terpaku kepada sosok berbaju merah muda motif bunga tengah duduk membelakanginya.
"Itu Bulan, bukan, ya?" ia menerka-nerka, kembali mengingat pakaian apa yang dikenakan tawanannya tersebut.
Guntur merasa penasaran, ia habiskan cepat-cepat kopi miliknya dan bangkit berdiri ingin melangkah menghampiri sesosok itu.
semakin dekat dan dekat, hanya tersisa beberapa meter saja. Guntur menyipitkan mata, dari samping ia dapat melihat dengan jelas wajah sosok itu. ia akhirnya bisa bernafas lega, pasalnya lelaki ini telah menemukan wanita nakal yang ia cari.
"Disini kau rupanya!" tegurnya, sontak saja mengejutkan Bulan yang sedang memejamkan mata
"Kau--ngapain kesini!" Bulan melengos ke arah lain, tidak ingin melihat wajahnya
"Tentu saja menggoda suster-suster cantik sampai aku melihatmu ada disini." jawabnya, mendudukkan tubuh disamping Bulan
"Oh!" Bulan tak peduli, membulatkan bibirnya
"Jangan marah ... aku sudah ambil keputusan."
Bulan menoleh menatapnya, ia terkesiap. "Apa?"
"Kita mulai terapi, tapi setelah beberapa hari."
"Syukurlah."
"Tapi ada syarat yang harus kau penuhi." ucapnya lagi, menyeringai. sontak saja Bulan ternganga dan kembali menoleh menatapnya
"Apa lagi!" Bulan merasa jengah, lelaki ini terlalu banyak mengajukan syarat
"Menikahlah denganku, agar kita bebas untuk saling memuaskan tanpa takut dosa."
Dan kau tetap terus berada digenggamanku, Bulan.tubuhmu, semua yang ada pada dirimu adalah milikku. termasuk hatimu yang akan ku ambil secepat mungkin. batin Guntur bermonolog
"Hah?? tidak-tidak!" Bulan menggelengkan kepalanya
"Kau tidak ingat apa tugasmu bersamaku? surat perjanjian yang telah kau tanda tangani, hm? mengurus kebutuhan lahir dan batinku, memuaskan hasratku diatas ranjang. apa kau tidak takut sama dosa? aku hanya ingin membebaskanmu dari jeratan zina. ku pikir kau adalah wanita sholehah yang dekat sama Tuhan, ternyata--ah sudahlah." Guntur mengibaskan tangannya, merasa malas untuk mengingati wanita ini
Bulan terdiam mendengarnya, ada benarnya juga jika menikah maka status halal telah ia sandang dan bebas untuk melakukan apa saja kepada lelaki ini. malang sekali dirinya terjerat dalam surat perjanjian itu. jika ia tidak menyanggupinya, maka keluarganya yang akan menjadi tumbal.
Bulan menarik nafas dalam-dalam, menatap langit yang awannya sudah kelam pertanda hujan akan turun ke bumi
"Kita ke kamarmu, hari mau hujan." Bulan bangkit berdiri dan melangkah terlebih dulu dari Guntur. ia berjalan sembari memikirkan perihal pernikahan ini
Kini keduanya telah berada di ruang rawat yang ditempati oleh Guntur. begitu keduanya telah masuk, Guntur langsung menarik tangan wanita ini hingga tubuh mungil yang belum siap dengan serangan mendadak sontak menghantam tubuhnya. Bulan terkesiap, kedua tangannya sontak memegang kedua pundak lelaki ini. wajah mereka saling berdekatan, hanya beberapa senti saja jarak keduanya. Bulan ternganga menatap sepasang netra milik lelaki ini, wajah mereka sangat berdekatann. sedangkan Guntur tersenyum miring memerhatikan wajah kaget itu.
"Menikahlah denganku, Sayang." ulangnya, dengan suara yang lembut dan sensual, cengkraman pinggul gadis ini semakin ia ketatkan
"Bisakah aku berpikir?"
Guntur menggeleng, sapuan matanya turun ke bibir ranum wanita ini. nafasnya yang menguar tercium wangi oleh Guntur. Guntur semakin nakal, ia langsung membenamkan bibirnya pada ranum menggiurkan milik wanita ini.
"Eeemmh!" Bulan memukul salah satu pundak Guntur, ingin melepaskan pagutan itu namun nalurinya menolak. bagaikan sedang disihir, ia sudah jatuh kedalam lubang kenikmatan. Guntur ingin lebih dari ******* bibir, lidahnya mulai terjulur ingin masuk ke dalam rongga mulut. ia memaksa, Bulan membuka mulutnya dan membiarkan lidah lawan mainnya mulai menjelajahi area mulutnya.
Guntur menuntun tubuh mungil ini mendekati ranjang brankar, rasa yang menggelora sudah menjalar disanubari keduanya. salah satu tangannya yang bebas dari tusukan jarum infus tengah berusaha mengangkat bokong Bulan, menaruhnya diatas ranjang tanpa melepaskan pagutan mereka.
Ceklek!
🌺🌺🌺