Siapa sangka bekerja di sebuah hotel akan mengantarkan kesucian yang di jaganya, Dhea harus kehilangan mahkotanya di saat seorang pria memaksanya untuk melayaninya saat mengantar minuman.
Hingga gadis itu hamil dan melahirkan anak kembar yang sangat cantik.
Arya Ghora prasida, bahkan pria itu pun tak tau siapa wanita yang sudah berhasil membuatnya puas hanya dengan satu malam, hingga rasa itu menjadi candu baginya, dan Arya tak bisa melupakannya walaupun sekejap.
Sampai lima tahun penantian yang hampa, akhirnya mereka di pertemukan kembali, meskipun tak saling mengenal, Arya merasa ada sebuah aliran listrik yang menyengat di saat ia berdekatan dengan Dhea.
apakah dunia akan mempersatukan mereka dengan hadirnya si kembar yang hebat?
ataukah Dhea memilih untuk hidup sendiri, dengan kedua putrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadziroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan
''Apa mas Arya adalah orang yang malam itu menyentuhku?'' cetus Dhea dengan tatapan tajam. Wanita itu menatap manik mata Arya. Berharap mendapat kejelasan tentang seseorang yang enam tahun lalau sudah merenggut keperawanannya.
Arya memejamkan matanya lalu mengangguk pelan. Ini waktu yang tepat untuk membuka apa yang sudah terpendam bertahun tahun, Arya tak mau hidup dalam bayang bayang rasa bersalah.
Plaaakkkk.... sebuah tamparan keras mendarat di pipi kokoh Arya. Dhea tak peduli dengan pria di hadapannya, yang pastinya ia ingin meluapkan amarahnya.
"Tampar lagi, Dhe!"
Plaaakkk.... lagi lagi Dhea melayangkan tangannya di pipi sebelah Arya.
"Lakukanlah sampai kamu puas," Arya memasang wajahnya tepat di depan wajah Dhea.
Dhea menitihkan air matanya, tak menyangka orang yang di gadang gadang istimewa adalah pria bejat yang pernah membuat hidupnya menderita.
Tak kuasa menopang tubuhnya, Dhea merosot dan duduk di lantai, begitu juga dengan Arya yang ikut berkongkok di depan Dhea.
"Aku minta maaf," ucap Arya penuh penyesalan, pria itu tak tega menatap wajah Dhea yang kembali di banjiri air mata.
Setelah menumpahkan air matanya, Dhea kembali mendongak, menyelaraskan wajahnya dengan wajah Arya.
"Apa kamu tau, bagaimana terlukanya aku waktu itu. Apa kamu tau bagaimana malunya aku harus mengandung dan melahirkan tanpa di dampingi seorang suami. Dan apa kamu tau, bagaimana rasanya harus hidup dengan beban yang berat. Kamu sudah menghancurkan masa mudaku. Kamu sudah merebut harta yang paling aku jaga. Kamu sudah menghancurkan semuanya."
Wanita itu terus memukul dada bidang Arya untuk melampiaskan kemarahannya saat ini.
Arya diam meresapi setiap kata yang meluncur dari mulut Dhea. Menerima pukulan demi pukulan dari Dhea, penyesalannya kini hanya sia sia dan tak berarti di mata Dhea.
"Aku minta maaf," lagi lagi Arya hanya mengutarakan bukti penyesalannya.
"Andai saja waktu itu kamu menungguku bangun, mungkin semuanya tidak akan seperti ini."
Dhea menyeka air matanya. "Apa mas nyalahin aku, Apa mas menganggap yang terjadi itu salah aku?" Cecar Dhea, tak terima dengan penuturan Arya.
Arya menggeleng. "Nggak gitu, Dhe."
"Sudahlah mas, aku nggak mau membahas ini, sekarang Reina dan Rania adalah putriku. Dan sampai kapanpun kamu nggak punya hak atas mereka." Jelas Dhea.
Dhea mencoba untuk berdiri, namun tangan Arya secepat kilat merengkuh tubuhnya dengan erat.
"Lepas, Mas! aku mau pulang."
"Dhe, dengerin dulu penjelasanku."
Dhea kembali luluh dan diam menunggu Arya untuk bicara.
Akhirnya Arya menceritakan apa yang terjadi malam itu, meskipun dirinya tak di terima Dhea sebagai ayah dari kedua putrinya, setidaknya Dhea tau penyebab terjadinya malam yang tak terduga itu, Bahkan Arya tak peduli, sebenci apapun Dhea padanya, yang pastinya Arya tetap bangga menjadi ayah dari Reina dan Rania.
"Aku mau pulang," lagi lagi Dhea mengucapkan keinginannya.
"Baiklah, aku antar kamu pulang."
Arya mengusap pipi Dhea yang di penuhi buliran bening.
Aku tau aku salah, tapi aku tidak bisa memutar waktu untuk mengembalikan semuanya.
Tak ada pembicaraan dalam perjalanan, Dhea memilih traveling dengan otaknya, begitu juga dengan Arya yang fokus menyetir, karena ia memutuskan untuk tidak memakai jasa Jojo menjadi supirnya.
''Dhe, aku tau kamu marah, tapi izinkan aku untuk bertemu anak-anak.'' Ucap Arya saat mobilnya memasuki apartemen.
Dhea menghela napas panjang.
''Aku akan pikirkan lagi Mas, aku kecewa sama kamu, dan aku harap kamu tidak menganggu kehidupanku lagi.''
Arya hanya bisa mengangguk, karena ia pun tak ingin mengusik kebahagiaan Dhea bersama kedua putrinya.
''Mas,'' sebelum turun Dhea menoleh menatap wajah Arya.
''Tolong jangan katakan apapun pada yang lain, aku takut ini akan menjadi masalah nantinya.''
Lagi lagi, Arya hanya menganggukkan kepalanya tanpa suara.
Baru saja Arya memutar balik mobilnya ke arah depan gerbang, Reina dan Rania nampak jelas keluar dari rumahnya, dan itu membuat Arya tak tega jika tak menyapa keduanya, terpaksa Arya turun dan menghampiri mereka.
Sedangkan Dhea memilih langsung masuk setelah mencium kening kedua putrinya, karena untuk saat ini hatinya tak bisa bersahabat dengan yang lain.
''Kakak dari mana saja?'' tanya Restu.
Arya menggendong Reina dan Rania yang memang sudah merentangkan tangan kearahnya.
''Aku hanya menawarkan pekerjaan untuk Dhea,'' ucap Arya asal. Membawa Reina dan Rania masuk.
Apa yang di ucapkan kak Arya benar, Kayaknya Dhea habis nangis, apa Kak Arya yang sudah membuatnya menangis, bukankah Dhea baru mengenal kak Arya, Masa iya mereka sudah membicarakan pekerjaan.
Restu mengikuti langkah Arya dari belakang.
''Makanannya sudah siap.'' Teriak Yesi yang ada di ruang makan.
''Reina, Rania, mama Yesi suapi ya.'' Yesi membawakan dua mangkuk sup untuk Reina dan Rania.
''Biar aku yang suapi,'' Arya mengambil satu mangkuk sup yang di bawa Yesi, begitu juga dengan Restu.
Ini para lelaki idaman banget, udah tampan, mapan, pinter, sayang anak, kapan ya aku dapat yang beginian.
Tak mau mengganggu keduanya yang sedang sibuk dengan pekerjaan masing masing, Yesi kembali menuju kamar Dhea.
''Dhe,'' panggil Yesi pelan.
''Masuk saja Yes, nggak di kunci.'' sahut Dhea dari dalam.
Dengan perlahan Yesi membuka pintu dan menghampiri Dhea yang duduk di tepi ranjang.
''Kamu kenapa, Dhe?'' Yesi memegang kedua lengan Dhea saat wanita itu masih saja terisak.
Dhea berhamburan memeluk sahabatnya, mencari sumber kekuatan untuk tetap tegar menghadapi masalahnya.
''Kamu tenang Dhe, sekarang kamu cerita, apa yang membuatmu menangis seperti ini?''
Aku memang ingin cerita, karena aku nggak atau sama siapa lagi aku berbagi luka ini.
''Yes, Sekarang aku sudah tau siapa ayah dari Reina dan Rania.''
Yesi tak kalah terkejut, kerongkongannya tiba tiba saja menyempit dan tak bisa menelan ludahnya.
''Si... siapa?'' Tanya Yesi tergagap.
''Mas Arya, dia yang waktu itu memaksaku untuk melayaninya, karena dia mengira aku wanita malam yang di belinya.''
Panjang lebar Dhea menjelaskan, karena sekarang tak ada yang perlu ditutupi mengenai status ayah dari Anaknya.
''Tuan Arya, lalu sekarang apa yang mau kamu lakukan?''
Dhea menggeleng, karena saat ini pun pikirannya masih kacau dan belum menemukan jalan yang terang. ''Aku belum tau, dan aku juga nggak tau bagaimana mengatakan ini semua sama Mas Restu.''
Yesi kembali memeluk Dhea, wanita itu tau bagaimana susahnya Dhea saat di terpa perkara.
''Yang sabar, ikuti alurnya, bagaimanapun juga Reina dan Rania yang terpenting, dan aku akan dukung apapun keputusan kamu.''
''Terima kasih ya Yes, kamu selalu ada untuk aku, dan aku tidak akan melupakan kebaikan kamu.''
Kalau seperti ini, aku pun dukung kamu sama Tuan Arya, dari pada dia harus menikah sama Maya, mendingan kalian bersatu demi anak anak, lalu bagaimana dengan nasib Mas Restu?
typo ya thor,yg paling aneh di apartemen tapi denger klakson dan deru mobil 🙈
kok di klakson mobilnya naik keatas 🙈😛
terharu biru 💕
makasih Thor 🙏
cerita ny keren 👌👍
Arya vs Dhea wkwkwkwk
cocok nih Restu sama Yesi 🤔 akhirnya Restu menemui tambatan hatinya yaitu sahabatny Dhea c Yesi 🤔
terus Maya sama siapa nih 🤔