Mo Tianxia pernah berdiri di puncak dunia.
Sebagai seorang kultivator yang telah mencapai Absolute Realm, tidak ada lagi lawan yang mampu menandinginya dan tidak ada lagi batas yang mampu menghalanginya. Namun, setelah mencapai segala sesuatu yang bisa dicapai, yang tersisa baginya hanyalah kebosanan.
Dalam sebuah keputusan yang tidak masuk akal bagi siapa pun, Mo Tianxia menghancurkan jiwanya sendiri dan memulai kembali kehidupannya dari nol.
Kini, ia terbangun dalam tubuh yang lemah dengan kultivasi paling dasar.
Tidak ada kekuatan absolut. Tidak ada kedudukan tinggi. Tidak ada nama besar.
Hanya pengetahuan tentang jalan yang pernah ia tempuh.
Dengan sikap tenang dan pengalaman yang jauh melampaui usianya, Mo Tianxia kembali melangkah di jalan kultivasi. Sekte, turnamen, dunia rahasia, para jenius, dan berbagai ancaman mulai muncul di hadapannya.
Namun kali ini, tujuannya bukan menjadi yang terkuat. Ia hanya ingin menikmati kembali perjalanannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Perjalanan kembali menuju kompleks sekte berlangsung dengan kewaspadaan tinggi, seluruh anggota tim tetap siaga terhadap kemungkinan serangan.
Mo Tianxia sengaja memperlambat langkahnya sedikit, menciptakan jarak kecil antara dirinya dan rombongan utama—cukup untuk terlihat wajar, namun cukup untuk memberinya ruang mengamati keberadaan yang ia rasakan sejak tadi.
'Masih di sana,' pikirnya, merasakan kehadiran itu bergerak paralel dengan rombongan mereka, tetap dalam jarak aman namun jelas mengawasi setiap gerakan mereka.
Ia melirik ke arah Wang Dazhi dan Zhao Kuang, yang kebetulan turut serta dalam tim karena berada di dekat lokasi saat pengumuman pencarian tim tambahan disampaikan pagi tadi.
'Aku tidak bisa membiarkan mereka dalam bahaya,' pikirnya, mempertimbangkan berbagai kemungkinan skenario dalam benaknya dengan kecepatan yang jauh melampaui kemampuan berpikir normal seorang anak tujuh tahun.
...-----...
Mereka mencari sampai sore hari, rombongan hampir mencapai batas wilayah aman sekte, keberadaan yang mengawasi mereka tiba-tiba bergerak lebih dekat—cukup dekat hingga bahkan beberapa disciple senior lain mulai merasakan sesuatu yang tidak beres.
"Ada yang mendekat," bisik salah satu elder, tangannya sudah bersiap di gagang pedangnya.
Seluruh tim berhenti, membentuk formasi pertahanan sederhana.
Dari balik pepohonan lebat, sesosok figur berjubah hitam melangkah keluar—bukan untuk menyerang, melainkan hanya untuk menunjukkan dirinya.
Wajah sosok itu tersembunyi di balik topeng sederhana berwarna merah gelap, namun matanya yang terlihat dari balik celah topeng itu memancarkan tatapan dingin yang penuh perhitungan.
"Tian Yun Sect," kata sosok itu, suaranya berat dan serak, sengaja disamarkan. "Sudah menemukan mainan kecil kami, rupanya."
Chen Feng melangkah maju, melindungi rombongan disciple di belakangnya. "Kau dari Blood Demon Sect."
Sosok itu tidak menjawab langsung, hanya tersenyum tipis di balik topengnya—senyuman yang bisa dirasakan bahkan tanpa melihatnya secara langsung.
"Anggap ini sebagai peringatan," katanya akhirnya. "Jangan mencampuri urusan yang bukan urusan kalian. Wilayah ini, dan apa yang terjadi di dalamnya, bukan lagi milik sekte kalian untuk diatur."
"Kau menculik penduduk yang tidak bersalah," geram salah satu elder. "Itu jelas urusan kami."
Sosok itu mengangkat bahu, seolah tidak peduli dengan kemarahan yang ditunjukkan. "Korban selalu ada di mana-mana. Kalian hanya belum cukup lama hidup untuk memahami bahwa dunia ini berjalan berdasarkan kekuatan, bukan moralitas kosong."
Mo Tianxia, yang berdiri di belakang rombongan, mengamati sosok itu dengan seksama.
'Kultivasi Foundation Establishment tahap akhir,' pikirnya, menganalisis aliran Qi gelap dan pekat yang terasa dari tubuh sosok itu—jauh berbeda dari Qi murni yang biasa ia rasakan dari kultivator normal. 'Cukup kuat untuk level ini. Tapi jelas menggunakan metode kultivasi yang merusak dirinya sendiri secara perlahan.'
Sosok itu, seolah merasakan sesuatu, tiba-tiba ia mengalihkan pandangannya—melewati para elder dan disciple senior, langsung tertuju ke arah Mo Tianxia yang berdiri di bagian belakang rombongan.
Keheningan sejenak menyelimuti hutan.
"Menarik," gumam sosok itu, suaranya berubah sedikit—nada penasaran yang tidak disembunyikan sepenuhnya. "Anak kecil di belakang sana... kenapa aura di sekitarnya terasa berbeda dari yang lain?"
Seluruh anggota tim menoleh terkejut ke arah Mo Tianxia, yang tetap mempertahankan wajah tenangnya meski di dalam hati sedikit terkejut bahwa sosok itu mampu merasakan sesuatu yang bahkan Chen Feng belum sepenuhnya pastikan.
'Ups,' pikir Mo Tianxia, mempertahankan ekspresi datarnya. 'Sepertinya aku harus lebih berhati-hati dari sekarang.'
Chen Feng segera bergerak, memposisikan dirinya di antara Mo Tianxia dan sosok berjubah itu. "Itu bukan urusanmu."
Sosok itu tertawa pelan, suara tawanya dingin dan mengerikan. "Aku hanya penasaran. Tapi baiklah, aku sudah menyampaikan peringatanku."
Ia melangkah mundur, mulai menghilang ke dalam bayangan pepohonan.
"Sampai jumpa lagi," katanya, suaranya semakin memudar bersamaan dengan tubuhnya yang larut ke dalam kegelapan hutan. "Aku yakin kita akan bertemu lagi—terutama kau, anak kecil yang menarik."
Kata-kata terakhir itu menggantung di udara, meninggalkan seluruh rombongan dalam keheningan yang tegang.
Chen Feng menoleh cepat ke arah Mo Tianxia, matanya penuh kekhawatiran dan kecurigaan yang kini bercampur menjadi satu.
"Tianxia," katanya, suaranya serius. "Kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, Elder Chen," jawab Mo Tianxia tenang, meski di dalam hati, ia menyadari bahwa perhatian yang tidak diinginkan kini telah tertuju kepadanya dari pihak yang jauh lebih berbahaya dari sekadar rasa ingin tahu seorang elder sekte.
'Blood Demon Sect kini tahu namaku,' pikirnya, saat rombongan mulai bergerak kembali menuju kompleks sekte dengan langkah yang jauh lebih waspada dari sebelumnya. 'Ini akan menjadi masalah yang lebih besar dari yang kuduga.'