Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.
Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.
Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Sinar matahari pagi menembus kaca-kasa besar kediaman utama Carlton. Dari arah aula leluhur, pintu berderit pelan memperlihatkan sosok Jordan yang melangkah keluar dengan amat payah.
Kemejanya kusut, wajahnya pucat pasi dengan lingkaran hitam tebal di bawah mata, dan tubuhnya gemetar lemas.
Lututnya serasa mati rasa dan ngilu luar biasa akibat dipaksa bersujud semalaman tanpa tidur sedikit pun.
Perutnya melilit perih. Asam lambungnya naik akibat rasa lapar dan emosi yang membakar sejak semalam.
Namun, pemandangan di ruang makan makin membuat darahnya mendidih.
Vanessa duduk di sana dengan sangat anggun. Mengenakan gaun santai sutra berwarna krem, ia sedang menikmati sepotong roti panggang dan menyeruput teh hangat dengan tenang, seolah rumah itu sedang baik-baik saja.
Dengan langkah terseok-seok, Jordan menghampiri meja makan dan menggebrak permukaannya secara kasar.
Brak!
"Vanessa!" bentak Jordan, suaranya serak dan parau. "Kau benar-benar tidak punya hati, ya?!"
Vanessa perlahan menurunkan cangkir tehnya, menatap Jordan dengan raut wajah polos tanpa dosa.
"Ada apa, Jordan? Pagi-pagi kok sudah berteriak?"
"Pagi-pagi kau bilang?!" Jordan menunjuk wajah Vanessa dengan jari bergetar.
"Semalam aku berteriak memanggilmu dari aula leluhur! Aku memintamu membujuk Ayah! Tapi kau malah masuk kamar dan mengabaikanku begitu saja!"
Vanessa mengepalkan jemarinya pelan di bawah meja, namun senyum tipis tetap terukir di bibirnya.
"Oh, semalam? Maafkan aku, Jordan. Aku memakai headset dan mendengarkan musik dengan volume penuh semalam. Aku sama sekali tidak mendengar suaramu. Kukira kau sedang sibuk bertobat di hadapan para leluhur."
"Kau..." Jordan menggertakkan giginya, menahan umpatan yang hampir lolos dari tenggorokannya. Napasnya memburu, sementara perutnya makin melilit kesakitan.
Mengingat kondisi tubuhnya yang rapuh saat ini, Jordan terpaksa menahan kemarahannya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur intonasi suaranya walau tetap terdengar penuh perintah.
"Cepat ke dapur," suruh Jordan sambil memegangi perutnya yang melilit.
"Buatkan aku racikan obat tradisional penyembuh lambung yang biasa kau buatkan saat aku sakit. Perutku sangat perih."
Vanessa menatap Jordan datar, lalu bersandar santai di kursi makannya.
"Aku tidak bisa menyediakannya."
Dahi Jordan berkerut tajam.
"Apa maksudmu tidak bisa?! Kau biasanya selalu membuatkannya!"
"Lututku masih sangat sakit akibat ulahmu dan bodyguard-mu semalam," sahut Vanessa tenang, tatapannya menghujam lurus ke mata Jordan.
"Aku bahkan sulit berjalan, apalagi berdiri lama di dapur untuk meracik obatmu."
"Kau ini terlalu manja!" bentak Jordan, rasa kasihan sedikit pun tak bersisa di matanya. Padahal, Vanessa adalah calon istrinya.
"Lagipula, kau dihukum dan berlutut semalam itu karena ulahmu sendiri! Kau yang menyakiti Yessika sampai dia masuk rumah sakit!"
Vanessa memiringkan kepalanya sedikit.
"Kalau aku bilang... aku sama sekali tidak mendorong Yessika, apa kau akan percaya?"
Jordan tertawa sinis, tawa yang penuh penghinaan.
"Percaya padamu? Buka matamu, Vanessa! Faktanya sudah sangat jelas!"
"Fakta?" Vanessa terkekeh pelan, nada suaranya berubah menjadi sangat dingin dan menusuk.
"Hanya berdasarkan fitnah kejam dari mulut Yessika... lalu tanpa bukti apa pun, kau menyebutnya sebagai fakta?"
Jordan tersentak. Bibirnya terkatup rapat selama beberapa detik.
Kata-kata Vanessa menghantamnya tepat di sasaran, membuatnya tak mampu membela diri atau menyusun alibi. Rasa gengsi dan keangkuhannya menolak untuk mengaku kalah.
"Sudahlah! Jangan mengalihkan pembicaraan!" gertak Jordan kasar, mencoba menutupi kegagapannya.
"Cepat bersiap-siap. Setelah ini kau harus ikut denganku ke rumah sakit!"
Vanessa mengangkat sebelah alisnya. "Ke rumah sakit? Untuk apa?"
"Untuk meminta maaf secara langsung pada Yessika di depan media!" tegas Jordan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Kau harus memohon ampun padanya sampai dia mau memaafkanmu!"
Vanessa menyunggingkan senyum miring yang terkesan sangat meremehkan.
"Aku menolak."
"Kau..." Mata Jordan memerah karena murka.
Dibakar oleh rasa lapar, kesakitan, dan perlawanan Vanessa yang bertubi-tubi sejak semalam, kontrol dirinya runtuh sepenuhnya.
Jordan mengangkat tangannya tinggi-tinggi, melayang di udara, siap mendaratkan tamparan keras ke wajah Vanessa.
"Dasar wanita tak tahu diri."
"Jordan! Berhenti!"
Suara bentakan menggelegar dari arah tangga memotong pergerakan Jordan. Tangannya membeku di udara.
Arthur Carlton melangkah turun dengan cepat, mengenakan setelan jas resmi lengkap dengan koper kecil di tangannya.
Wajah sang Ayah dipenuhi kemarahan yang amat nyata saat melihat tangan putranya terangkat hendak memukul Vanessa.
Jordan dengan panik menurunkan tangannya. Ia menarik napas berat.
"A-Ayah... ini tidak seperti yang Ayah lihat, Vanessa tad..."
"Tutup mulutmu!" potong Arthur tajam.
Ia melangkah mendekati meja makan dan berdiri menengahi Jordan dan Vanessa.
Arthur menatap Jordan dengan tatapan penuh peringatan yang sangat berat.
"Pagi ini aku harus berangkat dinas luar kota selama dua hari untuk mengurus proyek luar negeri."
Arthur maju satu langkah, menunjuk dada Jordan dengan jari telunjuknya.
"Dengarkan aku baik-baik, Jordan. Selama aku tidak ada di rumah ini, jangan pernah coba-coba bertindak macam-macam pada Vanessa. Jangan berani menyentuhnya atau memperlakukannya dengan kasar!"
"Tapi Ayah, Vanessa..."
"Jika sampai terjadi sesuatu pada Vanessa selama aku pergi, atau jika aku mendengar kau membuatnya menderita lagi..." suara Arthur merendah, sangat dingin dan penuh ancaman mutlak, "...aku akan memastikan kau kehilangan seluruh akses fasilitasmu dan akan kumarahi kau lebih besar dari semalam! Kau paham?!"
Jordan mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Rasa tidak puas dan dendam bergejolak di dadanya, namun ancaman sang Ayah bukanlah hal yang bisa ia remehkan saat ini.
"Paham, Ayah..." bisik Jordan terpaksa, menundukkan kepalanya.
Arthur menghela napas, lalu berbalik menatap Vanessa dengan raut wajah yang dilunakkan.
"Vanessa, Paman pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik."
Vanessa mengangguk pelan dengan senyuman yang sangat santun.
"Hati-hati di jalan, Paman Arthur."
Begitu langkah kaki Arthur menghilang di balik pintu depan, suasana di ruang makan kembali hening dan mencekam.
Jordan menatap Vanessa dengan tatapan membunuh yang sarat akan kebencian.
Sementara itu, di balik senyuman tipisnya, Vanessa berbisik dalam hati.
"Dua hari tanpa Paman Arthur di rumah ini... Apa aku akan baik-baik saja?"
Matanya berkilat dingin. Dia tahu, tanpa kehadiran Paman Arthur, maka posisinya sama saja dengan domba yang sedang dikepung Serigala.
makin kesini makin seruuuuuuu ,,
penasaran kak ,,
lanjuut kak ,,
pgen liat si Jordan Dan yessika keluar dr keluarga Carlton dg kaos oblong Dan daster ,,
😏😏😏