Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.
Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.
Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu Yang Ditarik Kembali
Ruang sidang Pengadilan Agama pagi itu terasa begitu mencekam. Ketukan palu Hakim Ketua terdengar sebanyak tiga kali, menggema di langit-langit ruangan yang sunyi.
*Tok... Tok... Tok...*
"Memutuskan, mengabulkan gugatan cerai penggugat secara keseluruhan, dan menyatakan putusnya hubungan perkawinan antara Adila Arrena dengan Revan Aditya..."
Suara hakim membacakan putusan akhir itu terdengar seperti vonis mati di telinga Revan. Pria itu terduduk lemas di kursi pesakitan, kedua tangannya mencengkeram lututnya yang gemetar. Di belakangnya, Meisya langsung menutup mulutnya, air matanya menetes bukan karena sedih kehilangan Revan, melainkan karena bayangan hidup mewah yang selama ini ia impikan dari Revan kini resmi sirna. Berdasarkan perjanjian pra-nikah yang tidak bisa diganggu gugat, Revan keluar dari pernikahan ini tanpa membawa aset satu rupiah pun. Rumah mewah sudah dijual ke dr. Adrian, dan Revan hanya disisakan sebidang tanah investasi milik ibunya yang kini terjerat hutang bank dalam jumlah besar.
Adila berdiri dari kursinya. Tidak ada air mata. Wajahnya begitu bersih, cantik, dan memancarkan aura kebebasan yang mutlak. Ia menjabat tangan pengacaranya, Pak Baskoro, dengan senyuman tenang.
"Terima kasih, Pak. Tugas kita di sini selesai," ucap Adila mantap.
Saat Adila membalikkan badan untuk berjalan keluar, Mama Revan langsung menghadang jalannya di koridor pengadilan. Wajah wanita tua itu merah padam, dipenuhi amarah yang meluap-luap. Di sampingnya, Tiara menatap Adila dengan pandangan penuh dendam.
"Kamu puas, Adila?! Kamu sudah memiskinkan anakku! Kamu egois, tidak punya hati! Kamu tega membiarkan mantan suamimu terlilit hutang sementara kamu bersenang-senang!" teriak Mama Revan tanpa tahu malu, membuat beberapa orang di koridor menoleh.
Adila berhenti, menatap mantan mertuanya itu dengan pandangan dingin. "Hutang itu dibuat oleh tangan Mama sendiri dengan memalsukan tanda tangan kami. Dan soal Revan... dia yang memilih jalan ini saat dia membawa benalu itu masuk ke hidup kami. Nikmati saja hasil pilihan kalian."
"Mbak Adila jangan sombong ya!" Tiara menimpali dengan suara melengking. "Mbak itu cuma dokter muda miskin yang nggak punya keluarga! Tanpa Mas Revan sepuluh tahun lalu, Mbak Adila itu bukan apa-apa! Jangan sok merasa jadi pemenang!"
Adila baru saja akan membalas ucapan Tiara, ketika tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari arah pintu gerbang luar Pengadilan Agama. Suara deru mesin mobil yang sangat halus namun bertenaga besar memecah keheningan jalanan.
Beberapa orang di lobi berhamburan melihat ke luar. Di area parkir pengadilan yang biasanya diisi oleh mobil-mobil kelas menengah, tiba-tiba masuk sebuah iring-iringan mobil mewah berwarna hitam legam. Tidak tanggung-tanggung, ada tiga unit Rolls-Royce Phantom dan dua unit Bentley Mulsanne yang berjalan beriringan dengan sangat anggun, dikawal oleh beberapa motor besar petugas keamanan swasta.
Mobil-mobil itu berhenti tepat di depan lobi, menutup jalan utama seolah-olah mereka adalah pemilik tempat tersebut. Revan, Meisya, Mama Revan, dan Tiara yang ikut berjalan ke luar seketika terbelalak. Wajah mereka melongo melihat kemewahan yang begitu pekat di depan mata mereka.
"Mobil siapa itu...? Plat nomornya... dinas konglomerat?" bisik Tiara dengan mata berbinar kaget.
Pintu tengah mobil Rolls-Royce paling depan terbuka. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas custom-made abu-abu gelap turun dengan langkah yang sangat tegap. Wajahnya tegas, rambutnya yang memutih di pelipis justru menambah kesan berkuasa. Di sampingnya, seorang wanita paruh baya anggun mengenakan kebaya sutra modern dengan kalung berlian yang berkilau di lehernya ikut turun.
Mereka adalah Hadi Wijaya dan Ratna Wijaya pemilik dari Wijaya Group, salah satu gurita bisnis terbesar di negeri ini.
Tak lama kemudian, dari mobil di belakangnya, turun dua orang dewasa muda. Pria tampan bertubuh atletis dengan setelan jas rapi bernama Ardi Wijaya, kakak tertua Adila yang menjabat sebagai CEO operasional, dan Siska Wijaya, kakak perempuan Adila yang merupakan seorang maestro fesyen ternama.
Selama sepuluh tahun ini, nama keluarga Adila memang tidak pernah disebut. Adila adalah anak bungsu yang sangat disayangi, namun sepuluh tahun lalu, karena egonya yang terlampau tinggi dan dibutakan oleh cinta, Adila menentang keras keputusan Papi Hadi yang menolak merestui hubungannya dengan Revan. Papi Hadi saat itu sudah tahu bahwa Revan bukanlah laki-laki yang tulus, melainkan pria plin-plan yang hanya silau oleh kasta. Namun Adila remaja saat itu dengan sangat percaya diri menantang keluarganya, mengatakan bahwa Revan akan selalu menjaganya dan membelanya. Akibat keras kepala memenuhi egonya, Adila akhirnya dicoret dari daftar ahli waris dan diusir dari keluarga Wijaya. Kedua kakaknya, Ardi dan Siska, sebenarnya tidak pernah rela adik bungsu mereka dibuang, namun mereka tidak bisa menentang keputusan tegas sang Papi.
Dan hari ini, setelah sepuluh tahun berlalu, pembuktian itu akhirnya selesai.
Papi Hadi berjalan masuk ke dalam lobi pengadilan dengan aura yang begitu mengintimidasi, diikuti oleh Mami Ratna, Ardi, dan Siska di belakangnya. Langkah kaki mereka terdengar beritme di atas lantai marmer.
Revan yang mengenali wajah Hadi Wijaya dari majalah-majalah bisnis seketika membeku. Lidahnya mendadak kelu, badannya gemetar hebat.
Namun, kejutan terbesar dalam hidup Revan terjadi saat Papi Hadi menghentikan langkahnya tepat di depan Adila. Pria penguasa bisnis itu menatap wajah anak bungsunya yang sudah sepuluh tahun tidak ia temui. Matanya yang tegas perlahan meredup, digantikan oleh binar kerinduan seorang ayah.
"Anak manis Papi..." suara Papi Hadi terdengar berat namun sangat dalam. "Sepuluh tahun kamu menyiksa diri kamu sendiri untuk membuktikan ego yang salah. Sekarang, apakah kamu sudah puas melihat bahwa tebakan Papi sepuluh tahun lalu tidak pernah meleset?"
Adila menatap wajah Papinya. Air mata yang sejak tadi ia tahan di ruang sidang akhirnya runtuh juga. "Papi... Mami..." bisik Adila dengan suara bergetar.
Mami Ratna langsung melangkah maju, memeluk tubuh Adila dengan sangat erat, menumpahkan seluruh rasa rindu yang tertahan selama satu dekade. "Anak bodoh... kenapa kamu betah sekali hidup menderita di tempat kumuh seperti ini? Siska, lihat adikmu, jas dokternya bahkan tidak menggunakan bahan sutra terbaik," ucap Mami Ratna sambil mengusap air matanya sendiri.
"Mami... Papi... Adila minta maaf," tangis Adila pecah di pelukan ibunya.
Ardi Wijaya melangkah maju, menepuk bahu Adila dengan sayang sebelum mengalihkan pandangan tajamnya ke arah Revan yang berdiri mematung seperti patung lilin di sudut lobi.
"Jadi... ini laki-laki yang dulu membuatmu berani membantah Papi?" Ardi berjalan mendekati Revan. Tubuh Ardi yang lebih tinggi membuat Revan nampak semakin kecil. Ardi menatap kemeja kusut Revan dengan pandangan sangat menghina. "Sepuluh tahun adikku memberikan hidupnya untukmu, dan kamu mencampakannya demi wanita murah seperti ini? Revan, bahkan seluruh harga dirimu dan tabungan tujuh turunan keluargamu tidak akan cukup untuk membeli satu buah roda dari mobil yang kami bawa hari ini."
Mama Revan yang tadi berteriak-teriak instan bungkam seribu bahasa. Wajahnya pucat pasi, jantungnya berdegup kencang hingga ia harus berpegangan pada lengan Tiara. Tiara sendiri menatap Adila dengan tatapan tidak percaya yang teramat sangat. Dokter muda yang mereka sebut miskin dan sebatang kara ternyata adalah putri mahkota Keluarga Wijaya?!
Siska Wijaya ikut melangkah maju, melipat tangannya di depan dada sembari menatap Meisya dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Koper merah murah yang kamu bawa dari rumah adikku kemarin, Meisya... itu bahkan lebih murah dari keset kaki di kamar mandi utama rumah kami. Kamu bangga bisa merebut pria tidak berguna ini dari adikku? Ambil saja. Laki-laki plin-plan ini memang lebih cocok hidup di lumpur bersamamu, bukan di istana Wijaya."
Revan perlahan melangkah maju dengan bibir bergetar, mencoba meraih baju Adila. "Dila... kamu... kamu anak Hadi Wijaya? Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku selama sepuluh tahun ini?! Kenapa kamu menyembunyikannya?!"
Sebelum tangan Revan bisa menyentuh Adila, dua orang pengawal berbadan besar dengan sigap langsung menghadang Revan, mendorongnya mundur dengan kasar hingga pria itu hampir terjatuh.
Papi Hadi menatap Revan dengan pandangan paling dingin yang pernah ada. "Jika dia mengatakannya sejak awal, kamu hanya akan memanfaatkan kekayaan keluarga kami untuk memuaskan keserakanmu, Revan. Adila menyembunyikannya karena dia ingin melihat ketulusanmu. Dan terbukti, kamu gagal total. Kamu membuang berlian demi segumpal tanah liat."
Mami Ratna menoleh ke arah Mama Revan yang sedang gemetar ketakutan. "Kamu... wanita tua yang tempo hari berani meneriaki anakku di rumah sakit dengan sebutan tanah tandus? Dengar baik-baik. Rahim anakku mungkin belum melahirkan anak untuk pria tidak tahu diri seperti anakmu, tapi otaknya dan tangannya akan melahirkan sejarah sebagai Dokter Spesialis terbaik di negeri ini. Sedangkan wanita yang katanya teman masa kecil anakmu itu... dia hanya melahirkan benalu baru yang akan menambah beban hutang bank kalian."
Skak! Kata-kata Mami Ratna terasa seperti tamparan fisik yang tak kasat mata, membuat wajah Mama Revan memerah menahan malu yang luar biasa di depan umum.
Revan jatuh berlutut di lantai pengadilan, air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Penyesalan terbesar dalam hidupnya menghantam dadanya hingga rasanya sesak luar biasa. Ia menyadari satu hal yang teramat terlambat: jika saja ia setia, jika saja ia tidak tergoda oleh rintihan palsu Meisya, ia bukan hanya akan memiliki Adila yang cantik dan cerdas, tetapi ia juga akan menjadi menantu dari kerajaan bisnis terbesar di negara ini. Kehidupan mewahnya yang ia impikan selama ini sebenarnya sudah berada di genggamannya, namun ia sendiri yang menghancurkannya berkeping-keping demi wanita seperti Meisya.
"Dila... aku mohon, Dila... aku salah! Beri aku kesempatan lagi! Aku mencintaimu, Dila! Aku akan mengusir Meisya sekarang juga, aku janji!" teriak Revan histeris, mencoba merangkak mendekati Adila.
Meisya yang mendengar itu berteriak histeris, "Revan! Kamu tega?!"
Adila sama sekali tidak menengok ke arah Revan. Ia menghapus sisa air matanya, lalu menatap Papi Hadi dengan senyuman yang sangat tulus. Kehangatan keluarga yang selama sepuluh tahun ini hilang kini telah kembali sepenuhnya ke dalam dekapannya. Mereka tidak pernah benar-benar membencinya; mereka hanya menunggunya sadar dan pulang.
"Ayo pulang, Adila," ucap Papi Hadi lembut, merangkul pundak anak bungsunya. "Mami sudah menyiapkan kamar barumu di rumah utama. Dan Ardi sudah menyiapkan dokumen pengembalian hak ahli warismu ke posisi semula. Rumah sakit baru untuk tempatmu praktik setelah lulus spesialisasi nanti juga sudah mulai dibangun di Jakarta Selatan."
"Terima kasih, Papi... Mami..." ucap Adila penuh rasa syukur.
Ardi dan Siska berjalan di sisi kiri dan kanan Adila, melindungi adik bungsu mereka dengan penuh kebanggaan. Saat rombongan keluarga Wijaya berjalan keluar menuju iring-iringan mobil mewah, seluruh orang di lobi pengadilan memberikan jalan dengan penuh rasa hormat.
Adila masuk ke dalam mobil Rolls-Royce bersama Papi dan Maminya. Dari balik kaca mobil yang gelap, ia melihat untuk terakhir kalinya ke arah koridor pengadilan. Di sana, Revan masih terduduk di lantai sambil menangis meraung-raung, diperebutkan oleh Meisya yang marah dan Mama Revan yang jatuh pingsan karena syok.
Mobil mewah itu perlahan bergerak membelah jalanan kota, meninggalkan masa lalu Adila yang kelam di belakang. Hari ini, Adila tidak hanya memenangkan kebebasan hukumnya dari Revan, tetapi ia telah kembali ke tempat yang seharusnya: sebagai seorang dokter muda yang cerdas, mandiri, dan sebagai Putri Mahkota Keluarga Wijaya yang tak tertandingi. Masa depannya baru saja dimulai, dan kali ini, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menginjak-injak harganya dirinya lagi.