Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.
Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.
Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 KEBENARAN DAN TANTANGAN
Cahaya keemasan samar memancar lembut namun berwibawa dari tubuh Lin Mo, menerangi setiap sudut aula utama yang luas dan megah itu. Seluruh ruangan yang tadinya riuh rendah seketika berubah menjadi senyap total. Ratusan murid sekte yang memenuhi ruangan itu menahan napas serentak, menatap pemuda yang berdiri tenang di tengah aula dengan mata terbelalak penuh takjub sekaligus ketakutan. Cahaya itu bukanlah cahaya energi biasa yang dipelajari di sekte. Cahaya itu memancarkan wibawa kuno yang tak terlukiskan, seakan sosok yang berdiri di bawah sana bukanlah seorang pemuda yang pernah mereka kenal dan hina, melainkan makhluk agung yang baru saja turun dari kahyangan. Tekanan berat yang menyertai pancaran itu menindih dada setiap orang yang hadir, membuat mereka merasa seakan sedang ditatap langsung oleh langit sendiri.
Di atas panggung utama, Lin Tian duduk kaku di kursi pewaris yang dirampas itu. Wajahnya yang tadi tampak pucat kini perlahan berubah menjadi merah padam karena campuran rasa takut, malu, dan amarah yang meluap-luap. Di sampingnya, Xu Yao berdiri gemetar hebat, kedua tangannya saling meremas erat di depan perut, matanya tak berani menatap lurus ke arah Lin Mo. Ia seakan melihat bayangan sosok yang jauh lebih tua dan lebih agung melayang di belakang punggung Lin Mo, membuat kakinya terasa lemas seketika.
Seorang tetua sekte yang berwajah serius dan berambut putih panjang akhirnya berdiri perlahan dari kursinya. Ia adalah Tetua Qing, orang yang paling dihormati dan paling bijaksana di seluruh sekte. Tetua Qing menatap Lin Mo lekat-lekat dengan pandangan yang dalam dan penuh tanda tanya. Setelah terdiam sejenak, barulah suaranya terdengar berat dan perlahan menyebar ke seluruh penjuru aula.
"Lin Mo... Kau dikabarkan telah tewas jatuh ke jurang Lembah Kematian. Namun kini kau berdiri di hadapan kami dengan keadaan yang... sungguh tak terduga," ucap Tetua Qing pelan namun jelas terdengar. "Cahaya yang memancar dari tubuhmu itu bukanlah seni bela diri yang diajarkan di sekte ini. Dari mana asal kekuatanmu? Dan apa maksud ucapanmu tadi... tentang tuntutan pembalasan atas pengkhianatan?"
Lin Mo menatap Tetua Qing dengan pandangan yang hormat namun tetap tegas dan tak tunduk sedikit pun. Ia tahu bahwa Tetua Qing adalah orang yang jujur dan adil, namun ia juga tahu bahwa keadilan harus ditegakkan dengan bukti dan kekuatan, bukan sekadar harapan belas kasihan.
"Yang terhormat Tetua Qing... dan seluruh hadirin yang berkumpul di sini..." suara Lin Mo terdengar tenang namun bergema kuat di setiap telinga. "Aku tidak mati karena takdir belum mengizinkanku binasa di tangan pengkhianat. Aku kembali bukan untuk mencari pujian maupun rasa iba. Aku kembali untuk menuntut keadilan atas apa yang telah dilakukan kepadaku secara diam-diam."
Lin Mo melirik tajam ke arah Lin Tian dan Xu Yao yang masih terdiam kaku di atas panggung.
"Beberapa bulan belakangan ini, aku perlahan kehilangan kekuatanku. Aku merasa tubuhku melemah tanpa sebab yang jelas. Dan kemarin... tepat di puncak tebing tempat aku berdiri... dua orang yang paling aku percaya seumur hidupku meracuni minumanku, mencuri inti sari kekuatan darahku, lalu melemparku ke jurang maut agar tak ada saksi yang tersisa. Mereka mengira aku akan hancur berantakan dan tak akan pernah kembali. Mereka bahkan sudah menyebarkan berita kematianku dan membagi-bagi apa yang menjadi hakku seakan itu adalah milik mereka sejak semula."
Suara Lin Mo tenang namun setiap kata yang terucap bagaikan palu besar yang menghantam panggung tempat Lin Tian dan Xu Yao berdiri. Seluruh aula mendadak gempar. Ratusan murid saling berbisik-bisik dengan wajah penuh keterkejutan. Mereka tak menyangka bahwa di balik kemegahan sekte dan keramahan yang ditunjukkan Lin Tian selama ini, tersembunyi kejahatan yang begitu kejam dan mengerikan.
Lin Tian akhirnya tak mampu lagi berdiam diri. Ia meloncat berdiri sambil menunjuk Lin Mo dengan tangan gemetar karena marah dan takut yang bercampur menjadi satu. Wajahnya merah padam menahan amarah yang meledak-ledak.
"Dusta! Semua yang kau ucapkan itu adalah kebohongan belaka!" bentak Lin Tian dengan suara melengking berusaha menutupi rasa takut yang menguasai hatinya. "Kau gila karena terjatuh dari tebing! Kau meracuni dirimu sendiri dengan meminum ramuan terlarang lalu menuduh kami yang tidak bersalah! Kau iri melihatku ditetapkan sebagai pewaris sekte setelah kau kehilangan kekuatanmu! Maka kau membuat cerita bohong yang begitu kejam untuk merusak nama baikku dan Xu Yao! Tetua Qing... jangan percaya kata-kata penipu yang sudah gila ini! Dia ingin mengacaukan seluruh sekte kita!"
Xu Yao yang berdiri di samping Lin Tian pun akhirnya memberanikan diri untuk berbicara, meskipun suaranya terdengar bergetar hebat. Wajahnya tampak pucat namun ia berusaha menyembunyikan rasa bersalah di balik air mata yang dipaksakan keluar dari matanya.
"Benar... Yang dikatakan Kakak Lin Tian memang benar..." isak Xu Yao sambil menundukkan wajahnya seakan sangat sedih. "Lin Mo... Mengapa kau berkata demikian? Kami semua sangat bersedih mendengar kabar kematianmu... Kami bahkan belum sempat menguburkan jenazahmu dengan layak... Mengapa kau kembali lalu menuduh kami dengan tuduhan yang begitu kejam dan tak masuk akal? Apakah karena kau cemburu melihatku berdiri di samping Kakak Lin Tian? Lin Mo... hatimu ternyata telah tertutup oleh kecemburuan yang membutakan akal sehatmu..."
Lin Mo mendengar pembelaan mereka yang penuh kepalsuan itu justru tersenyum tipis. Senyum itu bukan senyum bahagia. Itu adalah senyum yang dingin dan penuh rasa kasihan. Lin Mo menyadari bahwa kedua orang itu sama sekali tidak merasa bersalah. Mereka justru menyalahkan Lin Mo dan berusaha memutarbalikkan fakta seakan merekalah korban dalam peristiwa ini.
"Kalian memang pandai berbicara," ucap Lin Mo pelan namun suaranya terdengar jelas menembus keributan yang mulai timbul di antara para murid. "Kalian menyalahkanku dan memutarbalikkan fakta seakan aku yang bersalah. Namun luka di tubuhku, racun yang ada di dalam darahku, dan inti sari kekuatan yang berpindah dari tubuhku ke tubuh Lin Tian... semuanya itu meninggalkan jejak yang tak dapat dihapus oleh kata-kata manis kalian."
Lin Mo menatap lurus ke arah Tetua Qing.
"Tetua Qing... Aku memohon kepada Yang Terhormat untuk memeriksa keadaan tubuh Lin Tian saat ini. Inti sari kekuatan darah keluarga Lin yang seharusnya berada di dalam tubuhku... kini telah berpindah dan menetap di dalam tubuh Lin Tian. Jika Yang Terhormat memeriksa aliran energi di dalam tubuhnya, maka Yang Terhormat akan mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Kekuatan itu bukan miliknya. Itu adalah milikku yang dirampas dengan cara yang paling keji dan kejam."
Tetua Qing terdiam sejenak. Ia menatap Lin Tian lekat-lekat dengan pandangan yang mulai berubah menjadi curiga. Lalu perlahan ia menganggukkan kepalanya.
"Baiklah... Demi kebenaran dan ketertiban sekte... Aku akan memeriksa keadaan tubuh Lin Tian. Jika apa yang dikatakan Lin Mo benar... maka keadilan pasti akan ditegakkan tanpa pandang bulu," ucap Tetua Qing dengan suara tegas dan berwibawa.
Wajah Lin Tian seketika berubah pucat pasi mendengar ucapan itu. Ia mundur selangkah dengan mata terbelalak penuh kepanikan. Jika Tetua Qing memeriksa tubuhnya, maka rahasia itu pasti akan terbongkar seketika. Ia belum mampu menyembunyikan jejak kekuatan yang dipindahkan secara paksa itu. Itu adalah jejak yang tak mungkin hilang dalam waktu sesingkat itu.
"Jangan!" seru Lin Tian meledak tanpa sadar. Wajahnya kini tampak ketakutan luar biasa. "Aku tidak perlu diperiksa! Aku tidak bersalah! Mengapa harus diperiksa?! Lin Mo hanyalah penipu yang ingin menghancurkan sekte kita! Tangkap dia! Tangkap dia sekarang juga!"
Reaksi Lin Tian yang berlebihan dan penuh kepanikan itu justru memperkuat kecurigaan semua orang yang hadir. Tetua Qing mengerutkan keningnya semakin dalam. Ia berdiri perlahan dan hendak melangkah turun dari panggung untuk memeriksa sendiri kebenaran yang sedang diperdebatkan itu.
Namun tiba-tiba, Lin Tian melesat mundur dengan kecepatan luar biasa sambil menarik lengan Xu Yao bersamanya. Ia menatap Tetua Qing dengan mata yang memancarkan kilat kebencian dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.
"Jangan mendekat! Siapa pun yang berani melangkah maju... jangan salahkan aku karena bersikap kasar!" teriak Lin Tian sambil memancarkan gelombang energi yang berwarna gelap dan tak stabil dari tubuhnya. Cahaya itu berwarna kelabu kehitaman, berputar liar dan memancarkan aura yang tidak berasal dari ajaran sekte. Energi itu kasar, gelap, dan penuh dengan kekuatan yang dipaksakan untuk tumbuh dengan cara yang tidak wajar.
Lin Mo menatap energi gelap yang memancar dari tubuh Lin Tian itu dengan pandangan yang dingin dan penuh pemahaman. Ia menyadari satu hal yang sangat jelas. Kekuatan yang dirampas itu ternyata belum sepenuhnya dapat dikuasai oleh Lin Tian. Energi itu terus memberontak dan mencari jalan kembali ke pemilik aslinya. Dan ketidaksabaran serta keserakahan Lin Tian justru membuatnya kehilangan kendali atas kekuatan yang dicurinya itu.
"Lin Tian... Kekuatan yang kau curi itu bukanlah milikmu," ucap Lin Mo pelan namun suaranya terdengar menembus kegelisahan yang melanda seluruh aula. "Ia tidak akan pernah tunduk kepadamu. Dan saat kau kehilangan kendali atas kekuatan itu... saat itulah kau akan hancur oleh kejahatanmu sendiri."
Lin Tian melotot tajam ke arah Lin Mo. Matanya kini tampak merah menyala karena amarah dan ketakutan yang meluap-luap.
"Diam kau! Jangan berpikir kau sudah menang begitu saja! Aku tidak akan membiarkan siapa pun merampas apa yang telah menjadi milikku! Bahkan jika itu berarti aku harus menghancurkan seluruh Sekte Cahaya ini!" Lin Tian meledak seketika. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas dan dengan teriakan mengerikan ia melepaskan gelombang kekuatan yang dahsyat ke segala arah. Energi gelap itu meledak seketika mengguncang seluruh aula utama.
Debu beterbangan ke mana-mana. Batu-batu di lantai retak dan hancur berkeping-keping. Para murid yang berdiri di barisan depan terpental jatuh ke tanah. Tetua Qing berteriak kencang menyuruh semua orang mundur menjauh. Dan di tengah kekacauan yang tiba-tiba melanda itu, Lin Mo berdiri tegak di tempatnya tanpa terguncang sedikit pun. Cahaya keemasan dari tubuhnya memancar perlahan semakin terang, membentuk perisai tak kasat mata yang melindunginya dari ledakan energi gelap itu. Lin Mo menatap Lin Tian yang kini tampak kehilangan kewarasan sambil terus meledakkan kekuatan yang tak dapat ia kendalikan.
"Lin Tian... Kau sudah tidak memiliki jalan kembali..." ucap Lin Mo pelan suaranya terdengar jelas meskipun ditelan suara ledakan yang menggelegar. "Kau memilih jalan kejahatan dengan tanganmu sendiri. Dan sekarang... terimalah akibat dari pilihanmu itu."
Lin Mo melangkah maju perlahan menembus kepungan debu dan energi gelap yang berputar liar di sekelilingnya. Setiap langkah kakinya jatuh dengan tenang namun membuat tanah di bawahnya bergetar seiring dengan denyut kekuatan yang mengalir di dalam darahnya. Dan di saat itu juga, semua orang yang hadir menyadari satu hal yang tak terbantahkan. Perang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan kali ini, bukan lagi tentang siapa yang berhak menjadi pewaris sekte. Melainkan tentang siapa yang akan berdiri tegak di atas puing-puing kebencian dan keserakahan yang menghancurkan segalanya.