Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Batas dan Telpon di Halaman Tengah
Suasana malam di Asrama St. Margaret terasa hangat berkat perapian tua yang menyala di ruang komunal. Bau roti panggang bercampur teh mint memenuhi udara.
Gemma duduk bersilak di atas kasur Rory, memangku laptop dengan draf lukisannya, sementara kakinya yang terbebat gips tipis disandarkan di tumpukan bantal.
"Rory, kamu beneran mau datang ke sesi diskusi Kamis malam nanti?" tanya Gemma sambil mengunyah biskuit. "Anak-anak asrama lain pada heboh, lho. Katanya sesi diskusi itu terkenal killer. Julian Radcliffe itu kalau membantai argumen orang pas presentasi enggak pakai perasaan!"
Rory yang sedang duduk di meja belajar dengan buku tebal Biokimia Molekular mendongak tipis. Tangannya tetap sibuk menyoroti kalimat penting dengan stabilo kuning.
"Bagus dong," jawab Rory tenang. "Berarti argumen yang lolos di sana memang punya dasar ilmiah yang kuat. Lagipula, ini kesempatan bagus buat nambah poin portofolio riset."
"Kamu itu ya, otak sama hatinya kayak terbuat dari baja," desah Gemma geleng-geleng kepala, walau matanya memancarkan rasa kagum. "Oiya, tadi Leo maksudku Senior Leo sms aku. Dia nanyain keadaan kakiku."
Rory menghentikan garisan stabilonya, menoleh dengan sudut bibir terangkat sedikit. "Oh ya? Cuma nanyain kaki?"
Pipi Gemma seketika memerah. "Iya! Terus dia nanya besok Sabtu aku ada acara enggak, katanya mau nemenin cari bahan cat di kota. Itu... kencan bukan sih, Rory?"
"Secara fungsional, itu bantuan logistik," goda Rory dengan nada lempeng khasnya. "Tapi secara sosial, iya, itu kencan. Selamat, Gem."
"Roryyy!" jerit Gemma pelan sambil melempar bantal kecil ke arah Rory, yang berhasil ditangkap Rory dengan mudah sambil terkekeh pelan.
Di tengah tawa kecil itu, ponsel tua milik Rory bergetar di atas meja. Layarnya menampilkan nama yang membuat binar mata Rory seketika melunak: Adik - Ethan.
"Aku angkat telepon sebentar di luar ya," kata Rory pada Gemma.
Rory menyambar kardigan rajutnya yang longgar dan melangkah keluar menuju pelataran dalam (Courtyard) asrama. Udara malam cukup dingin, tapi suasana taman kecil dengan bangku kayu dan kolam batu tua itu selalu sepi di atas jam delapan.
"Halo, Ethan?" suara Rory berubah jauh lebih lembut dari biasanya.
"Kak Rory!" suara remaja pria di ujung telepon terdengar riang. "Gimana Oxford? Maksudku, St. Jude’s? Gedungnya beneran kayak di film-film yang pernah kita tonton?"
Rory tersenyum tipis, menyandarkan punggungnya pada pilar batu yang dingin. "Lebih besar dan lebih dingin, Tan. Tapi makanannya enak. Kamu gimana? Obat minggu ini sudah dibeli Ibu?"
Dada Rory sedikit berdesir menanti jawaban adiknya. Ethan memiliki kondisi kelainan fungsi ginjal yang membutuhkan terapi rutin. Alasan utama Rory mengejar beasiswa penuh dan menghemat setiap penny uang sakunya adalah agar sebagian uang kiriman kecil dari orang tuanya bisa difokuskan sepenuhnya untuk pengobatan Ethan.
"Sudah kok, Kak. Ibu dapat shift lembur di rumah sakit minggu ini, jadi biayanya aman," jawab Ethan, mencoba terdengar sekuat mungkin. "Kakak jangan terlalu irit makan ya di sana. Ibu bilang Kakak harus sehat."
"Kakak aman, Tan. Di sini Kakak dapat voucher makan asrama," bohong Rory halus. Katanya 'voucher makan' itu sebenarnya adalah jatah makanan hemat yang ia kelola dengan perhitungan kalori ketat. "Kamu yang harus disiplin minum air putih dan istirahat."
Rory terkekeh pelan mendengar adiknya mulai menceritakan tentang sekolahnya. Senyuman di wajah Rory malam itu begitu tulus, menghilangkan sejenak raut tegas dan logis yang selalu ia pakai sebagai perisai di kampus.
Tanpa Rory sadari, di lantai dua gedung administrasi yang membingkai taman tersebut, seorang pria berdiri di balik jendela kaca yang remang.
Julian Radcliffe.
Julian baru saja selesai memproses dokumen pengajuan dana laboratorium bersama dosen. Saat ia berdiri di dekat jendela untuk merenggangkan otot lehernya, matanya menangkap sosok gadis bersweater kebesaran di taman bawah.
Dari kejauhan, Julian memperhatikan Rory. Gadis yang biasanya selalu tampak rasional, tidak tersentuh, dan berbicara seolah segala hal adalah deretan angka dan teori, kini sedang tertawa pelan sambil mengusap air mata kecil di sudut matanya campuran rasa rindu dan keharuan saat mendengar suara adiknya.
Ada kehangatan yang sangat manusiawi pada diri Rory malam itu.
Julian menatap sosok itu tanpa berkedip. Di dunianya yang dipenuhi oleh orang-orang berpura-pura, politik kekuasaan keluarga Radcliffe, dan relasi palsu demi status sosial, melihat ketulusan murni dari Aurora Vance terasa seperti menemukan cermin yang sangat jernih.
"Siapa sebenarnya kamu, Aurora?" gumam Julian pelan.
Kamis malam, pukul sembilan tepat. Ruang Diskusi Senior di Perpustakaan Coldwell.
Ruangan itu sangat eksklusif. Dindingnya dilapisi kayu mahoni, terdapat perapian batu yang menyala hangat, dan meja bundar besar di tengah ruangan yang menampung lima mahasiswa terpilih dari angkatan baru, serta tiga mahasiswa senior tingkat atas.
Julian duduk di kursi utama sebagai moderator. Pria itu mengenakan kemeja kerah tinggi berwarna hitam yang dipadukan dengan jas santai berwarna abu-abu gelap. Penampilannya sangat tajam, dominan, dan karismatik.
Di depannya, lima mahasiswa baru termasuk Rory duduk dengan berkas riset masing-masing.
"Materi malam ini adalah efisiensi penghambatan enzim pada sel kanker melalui sintesis senyawa sintetis," kata Julian, suaranya tenang namun mengintimidasi. "Saya sudah membaca ringkasan argumen kalian. Siapa yang mau memulai pertahanan tesisnya?"
Seorang mahasiswa pria dari latar belakang keluarga dokter terkenal di London mengangkat tangan dan mulai menyampaikan analisanya dengan bahasa yang sangat rumit dan terkesan memamerkan istilah Latin.
Julian mendengarkan tanpa ekspresi. Ketika mahasiswa itu selesai, Julian hanya menatapnya datar.
"Analisis yang bertele-tele," kritik Julian tajam tanpa ragu. "Kamu menggunakan sepuluh istilah akademis hanya untuk menjelaskan mekanisme dasar kompetitif. Di dunia riset nyata, kompleksitas kata tidak menutupi kelemahan logika metodemu. B minus."
Mahasiswa itu seketika bungkam dan wajahnya memerah padam. Tiga mahasiswa baru lainnya makin tegang dan menunduk.
Julian kemudian memindahkan pandangan hazel-nya tepat ke arah Rory. "Miss Vance. Berikan analisa versi kamu."
Rory menyusun kertasnya dengan tenang. Tidak ada raut panik di wajahnya.
"Sederhana saja, Senior," suara Rory terdengar jernih dan berartikulasi pasti. "Mekanisme yang ditawarkan rekan saya tadi memiliki rasio toksisitas yang terlalu tinggi untuk sel sehat. Berdasarkan data uji klinis tahun lalu, kita tidak membutuhkan sintesis senyawa baru yang mahal. Kita hanya perlu memodifikasi gugus samping dari senyawa dasar yang sudah ada untuk menekan biaya produksi hingga tujuh puluh persen tanpa mengurangi efektivitasnya."
Seluruh ruangan mendadak hening.
Rory melanjutkan penjelasannya selama lima menit lancar, sistematis, sangat rasional, dan berfokus pada efisiensi biaya serta keselamatan pasien. Ia tidak memakai kata-kata berbunga-bunga, tapi setiap kalimatnya ditopang oleh data yang tak terbantahkan.
Julian menatap Rory. Di balik wajah dinginnya, jantung Julian berdesir bangga.
"Modifikasi gugus samping," ulang Julian pelan. "Pendekatan yang sangat pragmatis. Mengutamakan aksesibilitas pasien dibanding pamer teknologi mahal."
"Sains yang tidak bisa dijangkau oleh masyarakat yang membutuhkan adalah sains yang gagal, Senior Radcliffe," balas Rory tegas, menatap lurus ke mata Julian.
Julian terdiam sejenak. Kalimat Rory menghantam dinding pemikirannya dengan sangat indah.
"Sangat baik, Miss Vance," kata Julian, dan untuk pertama kalinya malam itu, sebuah senyuman tipis yang sangat menawan terukir di wajah tegas pria itu. "A tambah untuk analisamu."
Empat mahasiswa baru lainnya saling berpandangan terkaget-kaget. Mendapatkan nilai A dari Julian Radcliffe dalam sesi diskusi adalah hal yang hampir mustahil.
Saat sesi diskusi berakhir jam sepuluh malam dan mahasiswa lain mulai membereskan tas mereka untuk keluar, Julian memanggil pelan.
"Miss Vance, tinggal sebentar. Ada berkas riset kelanjutan yang perlu kamu tandatangani."
Rory menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Julian yang masih duduk tenang di mejanya.