Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#22
Sejak lima menit yang lalu, La Bonna telah terbangun dari pingsannya.
Ia hanya terdiam pasrah, menatap kosong ke arah langit-langit kamar 101 yang gelap. Tubuhnya terasa remuk redam, setiap sendi dan ototnya berdenyut ngilu seakan-akan seluruh tulang di tubuhnya telah dipatahkan satu per satu. Air matanya telah mengering di pipi karena terlalu banyak menangis semalaman. Suara Bonna pun rasanya telah habis total; tenggorokannya terasa terbakar dan tidak sanggup lagi mengeluarkan sepatah kata pun usai semalaman ia berteriak dalam siksaan.
La Bonna memang sangat takut mati. Namun saat ini, detik ini, rasanya La Bonna sangat, sangat ingin mati.
Seharusnya ia tidak usah terbangun lagi setelah pingsan. Seharusnya nyawanya melayang saja setelah dijadikan bahan hiburan dan pemuas nafsu oleh empat anak buah Nolan semalaman. Namun nyatanya, takdir berkata lain. Bonna masih bisa terbangun. Paru-parunya masih bekerja menghirup udara, meski hatinya sudah enggan untuk melanjutkan napas ini.
Jadi, ini yang dimaksud oleh Nolan ketika pria itu bersumpah akan membuat La Bonna tersiksa hingga memohon-mohon kematian dan ingin menghabisi nyawanya sendiri? Nolan benar-benar berhasil. Pria itu secara nyata telah mengirimnya ke dasar neraka yang paling dalam.
La Bonna benar-benar menginginkan kematian sekarang. Namun, di saat yang sama, ia membenci kenyataan bahwa dirinya masihlah seorang penakut. Ia masih terlalu pengecut, masih memiliki rasa takut yang teramat sangat untuk sekadar meraih vas bunga keramik di samping ranjang, memecahkannya ke lantai, dan menggunakan serpihan tajamnya untuk menyayat pergelangan tangannya sendiri atau menusuk pembuluh darah di lehernya.
Klek.
Pintu kamar 101 itu tiba-tiba terbuka pelan.
Alena muncul dari balik pintu, berlari kecil mendekat seperti seorang pahlawan kesiangan.
Tentu saja, tidak banyak yang bisa diharapkan dari gadis muda dan lugu itu. Alena sendiri kemungkinan besar disekap atau dikunci di dalam kamarnya oleh Lucifer atas perintah Nolan agar tidak bisa ikut campur dalam penyiksaan semalam.
Wajah Alena tampak sembap. Tubuhnya gemetar hebat saat melangkah mendekati tempat tidur. Air mata terus mengalir membasahi pipinya melihat kondisi Bonna yang begitu mengenaskan. Dengan tangan yang bergetar, Alena menyentuh bahu Bonna, membantunya untuk duduk bersandar di kepala ranjang, meskipun Bonna refleks meringis kesakitan akibat seluruh memar di tubuhnya.
Belum sempat Alena mengucapkan sepatah kata pun untuk menenangkan Bonna, engsel pintu kamar 101 kembali berderit keras.
Tubuh La Bonna seketika menegang hebat. Ketakutan liar kembali mencengkeram dadanya. Ia teramat takut jika orang yang melangkah masuk adalah Nolan, atau anak buahnya yang lain—entah itu Lucifer, Judas, atau siapapun yang siap menyiksanya kembali.
Namun, sosok yang melangkah masuk ternyata adalah Seraphina.
Seraphina tidak datang sendirian. Ia berjalan membusungkan dada, didampingi oleh dua teman wanitanya yang mengekor di belakang. Kedua teman Seraphina itu memasang senyum miring mengejek saat melihat keadaan La Bonna yang berantakan di atas ranjang.
Seraphina menghentikan langkahnya, melipat kedua tangannya di depan dada, lalu tertawa kecil penuh penghinaan. "Aku baru saja berniat datang untuk memberimu pelajaran hangat... tapi ternyata kau sudah semenyedihkan ini."
Cara Seraphina memandang La Bonna jelas-jelas dipenuhi oleh tatapan merendahkan, seolah Bonna tak lebih dari seekor bangkai serangga di lantai.
Suasana hati dan mental La Bonna sudah hancur lebur di titik terendah, dan kedatangan Seraphina yang tiba-tiba ini justru semakin merusak segalanya, menyulut sisa-sisa api di dalam dadanya.
"Pergi... kalian dari sini..." usir La Bonna dengan suara yang teramat serak dan pecah. Hanya untuk berusaha mengeluarkan sedikit suara saja, tenggorokan Bonna terasa sangat tercekat dan menyengat pedih.
Seraphina bukannya takut, justru semakin melangkah maju mendekati sisi ranjang Bonna. Wajah cantiknya dipenuhi oleh keangkuhan yang memuakkan.
"Kau tidak punya hak sedikit pun untuk mengusirku dari sini," ujar Seraphina dengan nada tajam. "Kau bukan siapa-siapa disini. Kau hanya seorang tahanan sampah yang menumpang hidup. Aku berhak masuk ke ruangan manapun yang kuinginkan di tempat ini. Tuan Nolan tidak pernah melarangku melakukan apa pun yang kumau."
Seraphina mendongakkan kepalanya, menyunggingkan senyum sinis yang amat menyakitkan. "Lagipula, kau harus tahu satu hal. Aku secara personal yang meminta pada anak buah Tuan Nolan untuk menyiksamu sedemikian rupa semalam. Dan aku merasa sangat puas dengan kinerja mereka setelah melihat keadaanmu yang hancur seperti sekarang."
Mata Bonna mendadak melebar sempurna. Amarah yang membakar seketika memenuhi seluruh benak dan dadanya. Rasa pening dan sakit di tubuhnya mendadak tergantikan oleh gelombang kebencian murni.
Alena yang berdiri di samping ranjang dan mendengar pengakuan kejam itu langsung tersulut emosi. Ia berdiri tegak, hendak maju menyerang Seraphina untuk membalas perbuatannya. Namun, dengan cepat Bonna menggerakkan tangannya yang gemetar, menahan lengan Alena agar gadis itu tidak bertindak gegabah.
Bonna mengangkat wajahnya yang penuh luka dan memar, menatap tajam langsung ke dalam iris mata Seraphina.
"Pantas saja..." bisik Bonna dengan suara seraknya yang berat dan patah-patah. "Pantas saja anak buah Judas terlihat begitu bernafsu menatapku semalam..."
Bonna mengusap darah kering di bibirnya dengan punggung tangan, lalu tersenyum dingin—sebuah tatapan nyalang yang membuat kedua teman Seraphina di belakangnya sedikit terkejut.
"Kalau aku tahu bahwa menjadi kesayangan Tuan Nolan artinya bisa menyuruh anak buahnya untuk menyiksa orang lain seperti ini... maka aku juga sangat menginginkan posisi tersebut," lanjut Bonna melancarkan serangan verbalnya.
"Hati-hati kau, Seraphina... pelacur tak menarik sepertiku ini bisa saja merebut posisimu kapan saja jika kau lengah. Ingat, Tuan Nolan-mu yang hebat itu sudah dua malam berturut-turut memilih untuk meniduriku. Mungkin di malam-malam selanjutnya, dia juga akan terus memilihku dibandingkan dirimu."
Mata Bonna menatap tajam tanpa berkedip, menusuk tepat ke jantung kebanggaan Seraphina.
Mendengar gertakan itu, Seraphina tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Suara tawa nyaringnya menggema di dalam kamar 101, disusul oleh tawa mengejek dari kedua teman wanita di belakangnya.
"Kau ini bodoh, gila, atau apa?" cibir Seraphina setelah tawanya mereda, menatap Bonna dengan tatapan kasihan yang dibuat-buat. "Tuan Nolan memang datang dua kali mengunjungi kamarmu, tapi pada akhirnya dia melemparmu begitu saja pada anak buahnya bagai sampah! Sedangkan aku? Tuan Nolan bahkan tidak pernah membiarkan kulitku tergores sedikit pun oleh siapa pun di rumah ini. Kau tahu kenapa?"
Seraphina maju satu langkah lagi, menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan wajah Bonna.
"Karena aku tidak pernah melakukan kesalahan!" desis Seraphina menusuk. "Lagipula, mau dengan apa kau merebut posisiku? Dengan tubuh jelekmu yang penuh bekas luka itu? Atau dengan wajahmu yang kebetulan mirip dengan mendiang Electra?"
Seraphina mendecak pelan, menggelengkan kepalanya berpura-pura simpati. "Jadi wanita kesayangan Tuan Nolan itu bukan didapat hanya dengan cara membuat Tuan Nolan menidurimu berkali-kali! Posisi itu dinilai dari seberapa bergunanya dirimu bagi organisasinya! Aku tidak pernah melakukan kesalahan. Akulah wanita yang paling banyak membawa keuntungan bagi Tuan Nolan di sini. Aku yang mengorek informasi rahasia dari para musuh dengan cara menggoda mereka. Aku bukan wanita tak berguna sepertimu, dan kau tidak akan pernah bisa menjadi seperti diriku!"
Seraphina menatap Bonna dengan intensitas yang makin menekan.
"Jika kau pikir kau bisa mendapatkan perhatian Tuan Nolan dengan membuatnya jatuh cinta padamu—karena jelas saja tubuh rusaknya itu tidak akan pernah berguna untuk dipakai menggali informasi dari lawan—maka kau terlalu naif, Bonna!" lanjut Seraphina penuh penekanan.
"Kau tidak sedang berada di dalam buku novel romansa picisan di mana ketua mafianya bisa dengan mudah kau buat jatuh cinta dan tunduk bersimpuh di kaki kotormu!"
Seraphina tersenyum sangat dingin, menyampaikan sebuah kebenaran pahit yang merengkuh ruangan itu.
"Kalau pun Tuan Nolan pada akhirnya sampai jatuh cinta padamu... Tuan Nolan pasti akan langsung membunuhmu dengan tangannya sendiri, persis seperti saat dia membunuh mantan kekasihnya, Electra. Karena Tuan Nolan tidak pernah suka memiliki kelemahan. Dan cinta... adalah kelemahan terbesar baginya. Ingat baik-baik kata-kataku ini: kau akan mati mengenaskan sama seperti wanita yang wajahnya mirip denganmu itu!"
Setelah melampiaskan seluruh racun dari mulutnya, Seraphina berbalik dengan penuh kebanggaan. Dengan langkah anggun dan kepala terangkat tinggi, ia berjalan meninggalkan La Bonna dan Alena.
Namun, tepat sebelum tubuhnya benar-benar melewati ambang pintu kamar 101, Seraphina menghentikan langkahnya. Ia kembali menoleh ke belakang, tapi kali ini pandangan tajamnya tertuju lurus pada Alena yang berdiri menegang.
"Dan kau, Alena..." ujar Seraphina dengan suara dingin memperingatkan. "Sebaiknya kau jangan terlalu sering ikut campur dalam urusan Tuan Nolan. Kalau kau terus-terusan membuat keributan dan bertingkah sok pahlawan, mungkin nanti Tuan Nolan akan hilang kesabaran dan membuangmu sepenuhnya pada Lucifer. Kau tentu tidak ingin, bukan, jika dipaksa menikah dengan Lucifer dan dibawa pergi jauh dari tempat ini?"
Alena mengetatkan rahangnya, namun tak mampu membalas.
"Kalau kau tidak mau hal itu terjadi, maka perhatikan sikap dan langkahmu," lanjut Seraphina tajam. "Jangan mempertaruhkan nasibmu sendiri hanya demi membela seorang wanita yang bahkan bukan siapa-siapa bagimu!"
BAM!
Seraphina keluar dan membanting pintu kamar 101 dengan amat kencang hingga getarannya terasa di seluruh ruangan.
Keheningan kembali melingkupi kamar itu. La Bonna dan Alena terdiam dalam posisinya masing-masing, tak ada yang bersuara.
Namun di dalam kegelapan hatinya yang paling dalam, di balik rasa sakit dan kehancuran fisiknya, La Bonna mengepalkan jemarinya erat-erat hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri.
Ia benar-benar bersumpah dari dasar jiwanya... suatu hari nanti, ia akan membungkam mulut sombong wanita seperti Seraphina—seorang wanita kejam yang sama sekali tidak pantas untuk tetap bernapas dan hidup di dunia ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lucifer
Shalena Ashford
Dr.Dorsila
Dr.Adrian
Seraphina
Ezequiel Nolan Ashford