Di balik suami yang posesif, menyimpan sebuah rahasia besar!
Alan akan selalu melempar benda-benda yang terdekat dengannya ketika ia kecewa dengan Nesa, ia memang tidak pernah memukul istrinya—pria itu akan menumpahkan kekesalannya pada barang-barang di rumahnya.
Nesa sebenarnya tidak tahan lagi, tapi hanya demi Ribi—putri semata wayangnya dirinya bersabar menghadapi perangai buruk suaminya yang tempra mental. Tapi bencana itu datang, saat Nesa mengetahui jika sang suami tidur dengan wanita lain hanya satu kalimat yang terucap.
"Mari kita cerai!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi wu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 29
Bagian 29
Nesa kembali ke tugasnya, mendandani Citra Klien hari ini dengan riasan adat Bugis sesuai permintaannya. Setelah selesai, kini tempat pemotretan itu berada di kolam renang yang sering dibuat lalu lalang orang. Nendra sadar foto ini rawan bocor. Tapi inilah permintaan dari Citra, ia ingin seolah fotonya natural dengan background orang-orang di belakangnya.
Saat tengah asyik menyaksikan prosesi pemotretan, tiba-tiba turun hujan, tanpa awan mendung—memang matahari sudah ditutupi awan berwarna abu sejak tadi.
"Hujan, Nes!" pekik Nendra, mencoba meraih tangan Nesa. Wanita itu langsung menjauhkan diri dari Nendra dan berlari mencari perlindungan di bawah atap restoran tak jauh dari kolam renang.
Saat keduanya tengah menunggu hujan reda, Nendra melirik ke arah Nesa yang memang lebih pendek darinya.
"Kenapa kamu nggak mau kupegang? Apakah aku najis, Nes? Karena kita beda keyakinan?" Tiba-tiba Nendra melontarkan tanya yang membuat Nesa terkejut.
"Bukan, Mas Nendra. Bukan karena itu." Nesa menjawab dengan lembut, pertanyaan dari bosnya itu.
"Lalu apa?" Nendra kembali mengulang, kali ini dia mengecek telapak tangannya, apakah kotor atau mungkin ada noda hingga wanita yang tingginya sebatas pundak Nendra itu tidak mau disentuh.
"Karena wanita muslim itu haram, disentuh oleh pria yang bukan mahramnya, Mas."
"Lalu siapa yang bisa menyentuhmu, Nes?" tanyanya lagi, seolah ingin mengerti tentang aturan islam.
"Suami, ayah, adik kandung, putra kandung, misalnya, mas."
"Jadi kalau aku pengen nyentuh kamu, aku harus nikahi kamu dulu?"
Nesa mengangguk lembut, matanya masih memperhatikan rinai air hujan yang membasahi kawasan itu. Tentunya hujan kali ini sedikit menghambat pekerjaan mereka, dan akan membuat Nesa pulang terlambat.
"Kalau begitu aku mau nikahi kamu, Nes!" celetuk pria di samping Nesa, hingga membuat semua orang menoleh pada keduanya.
"Mas... di sini banyak orang, lihat di sekelilingmu!" tegur wanita itu, agar Nendra sadar dengan ucapannya, Nesa tidak marah tapi hanya tersenyum mendengar kalimat Nendra.
"Aku serius!" jawab pria itu.
"Aku belum resmi bercerai, Mas. Lagi pula kita hanya sebatas bos dan bawahan, kan? Nggak ada yang lain." Nesa kembali terkekeh.
Tidak bisa dipungkiri, wanita itu masih trauma dengan apa yang ia alami selama enam tahun pernikahannya. Dia juga takut melangkah lebih jauh—di benaknya ia selalu ingin hidup sendiri, hanya berdua dengan Ribi tanpa menikah kembali.
"Kalau aku serius?" cecar pria itu lagi.
"Kita baru saja ketemu, Mas. Kamu cuma kagum sama aku, bukan cinta, Mas. Jangan aneh-aneh," canda Wanita itu, ingin mengalihkan pembicaraan keduannya.
Nendra terdiam sesaat, lalu menatap Citra dari jauh yang tengah sibuk mencari tempat yang cocok untuk sesi pemotretan kedua meski hujan.
"Kalau wanita muslim cerai, bisa kembali menikah harus nunggu berapa tahun?" Nendra kembali menanyakan pertanyaan konyolnya.
"Masa iddah? Masa iddah untuk perempuan yang nggak hamil dan ditinggal meninggal oleh sang suami yakni empat bulan sepuluh hari. Masa iddah untuk perempuan yang masih mengalami siklus haid, masa iddah-nya yakni sebanyak tiga kali siklus haidnya. Masa iddah untuk perempuan yang masih kecil atau menopause yakni tiga bulan," jawab Nesa memberi penjelasan pada pria yang berbeda keyakinan padanya itu.
"Masa Iddah? Apa itu, Nes?" Nendra benar-benar membuat Nesa jengah dengan berbagai pertanyaan, tapi karena Nesa tipe wanita yang lemah lembut, meskipun ia sedikit kesal dia tetap menjelaskan dengan jawaban yang sopan.
"Masa iddah merupakan waktu tunggu untuk perempuan sebelum menikah lagi. Artinya, dalam masa iddah tersebut dilarang untuk menikah kembali hingga masa tersebut selesai. Masa iddah adalah waktu terhitung di mana wanita mengetahui kosongnya rahim yang diketahui dengan kelahiran, hitungan bulan, atau perhitungan quru."
"Jadi aku harus nunggu cuma tiga bulan ya, Nes?" pungkas Nendra, menggoda karyawannya.
"Aku nggak bisa bedain Mas Nendra bercanda atau lagi serius." Nesa menutup senyuman di bibirnya karena merasa lucu mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan Nendra.
Bersambung~
Jangan lupa klik tanda jempol setelah membaca, tinggalkan juga kesan dan pesan tentang Salah Nikah di kolom komentar.
Like dan komen kalian bisa membangkitkan imunku, semangatku. Ea...
suka bgt
mudah2 Han author nya GX lama2 up ny