Ling Jin. Seorang pemuda yang diasuh oleh dua leluhur dewa semenjak masih bayi di dalam sebuah jurang dan diangkat menjadi cucu mereka.
Semua orang mengira dia tidak memiliki dantian sehingga membuatnya merasa tidak berguna. Namun dia memiliki tekad yang kuat serta semangat yang besar demi menggapai apa yang dia inginkan. Cerita kehidupannya berubah setelah segel dantiannya terbuka.
Dia berjalan pada dua sisi yang berbeda. Di satu sisi dia adalah rajanya kegelapan dan di sisi lain dia juga menjadi cahaya.
Ling Jin mengarungi lautan darah demi mencapai puncak kekuatan kultivator. Bahkan jika langit menentangpun dia akan melawannya.
"Aku tidak tunduk pada takdir, takdirlah yang harus tunduk padaku."
"Aku tidak bergantung pada keberuntungan, karena akulah keberuntungan itu."
-Ling Jin.
Bagaimanakah kisahnya?
Ikuti perjalanannya dalam novel God Emperor (Ling Jin).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ling Jin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Buronan I
Di dalam sebuah kamar di sekte Pedang Langit.
“Keparaaattt!!”
PRAAANGGGG!!
PYYAAARRRR!!!
“Akan aku balas perlakuan orang bertopeng itu berkali-kali lipat!!”
“Akan aku buat dia menyesali perbuatannya kepada Feng’er!”
“Aaaaarrghhh!!!”
Patriak Mu Bai mengamuk karena tidak terima anak satu-satunya kini telah benar-benar menjadi sampah. Bukan hanya fisiknya yang cacat, namun dantiannya juga hancur.
Saat ini patriak Mu Bai telah sembuh total akibat peristiwa lima tahun yang lalu. Bahkan, kekuatannya kini meningkat pesat dan berada di tingkat pendekar pertapa tahap awal hanya dalam waktu yang singkat setelah kesembuhannya.
Banyak yang beranggapan jika patriak Mu Bai mempraktekkan suatu jurus terlarang hingga mencapai tingkat pendekar pertapa tahap awal dengan singkat. Hal yang bahkan tetua agung sekte Pedang Langit sendiripun tidak bisa melakukannya. Namun tidak ada yang berani menanyakan hal tersebut.
“Tetua Li, panggil semua tetua utama dan para tetua yang lainnya untuk berkumpul di aula sekte yang baru. Sekarang!” perintah patriak Mu Bai kepada tetua Wen Li yang juga berada di situ untuk menjaga Mu Yinfeng yang saat ini masih dalam keadaan tak sadarkan diri dengan kondisi tubuh yang sangat mengenaskan.
“Baik patriak,” jawab tetua Wen Li lalu segera beranjak untuk mengumpulkan para tetua utama dan tetua lainnya untuk segera berkumpul di aula sekte yang baru.
Setelah tetua Wen Li keluar dari dalam kamar Mu Yinfeng, sesosok misterius berjubah merah dan berkerudung muncul dari bayangan patriak Mu Bai.
Melihat sosok misterius tersebut, patriak Mu Bai segera menjatuhkan diri dan bersujud di hadapannya.
“Tuan,” kata patriak Mu Bai.
“Aku merasa orang yang telah melukai anakmu itu bukanlah orang yang sembarangan,” ucap sosok itu.
“Tuan, hamba mohon pertolongan dari tuan untuk putra hamba.” Patriak Mu Bai berkata memohon.
“Hmm. Kewajibanmu belum kau penuhi sudah meminta pertolongan lagi. Apa kau sadar posisimu!?” hardik sosok misterius tersebut.
“Mohon ampun tuan,” kata patriak Mu Bai semakin merendahkan sujudnya.
“Baiklah untuk kali ini. Aku bisa memindahkan roh anakmu ke raga orang lain. Tapi kau harus menyiapkan persyaratan untuk proses pemindahan roh anakmu. Apa kau menyanggupinya?” ucap sosok itu.
“Apapun syaratnya, hamba akan melakukannya tuan,” jawab patriak Mu Bai.
Lalu sosok misterius itu memberitahukan persyaratannya kepada patriak Mu Bai.
“Terima kasih banyak tuan. Hamba menyanggupi persyaratan itu,” kata patriak Mu Bai.
“Tuan, dalam waktu kurang dari satu bulan ini akan diadakan turnamen generasi berbakat di seluruh benua tengah. Aku bisa memanfaatkan situasi ini tuan,” imbuhnya.
“Kalau memang seperti itu, kau tidak akan bisa jika hanya bergerak sendiri. Pergilah ke sebuah sekte, mereka adalah pengikutku. Ajaklah mereka bekerja sama. Dengan ini mereka pasti akan menyanggupinya,” kata sosok misterius itu lalu melemparkan sebuah plakat di depan patriak Mu Bai.
Lalu patriak Mu Bai memungut plakat tersebut dan memperhatikannya untuk sesaat. Terdapat sebuah ukiran yang membentuk sebuah lembah berwarna hitam di plakat tersebut.
“Ingat! Kau harus memenuhi kewajiban itu. Kalau tidak, akan aku buat kau tidak bisa bereinkarnasi lagi.”
“Hahahahaha!!”
Sosok misterius itu lalu menghilang dalam sekejap.
***
Setelah beberapa waktu kemudian, di dalam aula sekte Pedang Langit yang Baru.
Patriak Mu Bai duduk di kursinya dengan angkuh. Di depannya para tetua utama dan tetua-tetua lainnya duduk di kursi mereka masing-masing.
“Aku mengumpulkan kalian semua untuk membahas hal mengenai dua penjahat yang telah melukai putraku.” Patriak Mu Bai berkata dengan lantang.
“Bagaimana pendapat kalian terhadap dua penjahat ini?” tanya patriak Mu Bai kepada para tetua.
“Patriak. Menurut keterangan saksi mata yang berada di tempat kejadian, kedua orang itu bisa menghilang. Saya rasa, mereka berdua adalah kuktivator tingkat tinggi. Seperti yang kita tahu, belum ada sejarah di dunia tengah ini seorang kultivator bisa menghilang,” kata tetua Chun Jihai.
“Patriak. Jika dilihat dari kemampuannya, alangkah baiknya jika kita bertindak dengan cerdik. Saya yakin mereka tidak akan mudah untuk ditemukan,” timpal tetua Wei Jun memberikan pendapatnya.
“Hmm. Baiklah jika memang seperti itu. Akan aku turuti permainan mereka. Akan aku buat mereka tidak bisa bergerak bebas!” ucap patriak Mu Bai dengan suara yang tinggi.
“Dengarkan baik-baik. Aku ingin kalian sebarkan pengumuman dan gambar wajah dari dua bajingan itu ke seluruh penjuru kota, baik itu kota Dongnan maupun kota-kota lainnya. Siapapun yang bisa menemukan kedua penjahat itu akan dihadiahi sepuluh juta koin emas dan sumber daya tingkat tinggi!” imbuh patriak Mu Bai dengan tegas.
Apa!???
Semua tetua yang mendengar hal itu terkejut.
Sepuluh juta koin emas dan sumber daya tingkat tinggi?
Apa yang ada di otak patriak ini?
Para tetua bergulat dengan pikiran mereka masing-masing.
“Tapi patriak, itu adalah harta pembendaharaan sekte dan bisa membuat sekte kita mengalami kerugian,” kata seorang tetua yang bertugas mengurus harta sekte Pedang Langit.
“Diaaaamm!!!”
“Kali ini aku tidak menerima bantahan! Mereka meremehkan sekte kita secara terang-terangan. Akan aku buat mereka menjadi buronan sekte dan penduduk kota dan akan kubuat mereka menyesal telah hidup di dunia ini!!” kata patriak Mu Bai dengan emosi yang berapi-api.
Tetua Yu Yin menggenggamkan tangannya dengan erat.
“Benar-benar bukan sosok pemimpin yang baik. Menggunakan kedudukan untuk bertindak semena-mena,” ucap tetua Yu Yin yang menahan emosinya dalam hati.
Suasana hening untuk sesaat.
“Tunggu apa lagi! Segera kalian laksanakan tugas ini sekarang juga!!” Patriak Mu Bai berteriak.
“Baik patriak,” ucap semua tetua serempak lalu membubarkan diri untuk segera menyebarkan pengumuman itu.
“Aku tidak akan membiarkan hidup kalian tenang,” gumam patriak Mu Bai dalam hati kemudian beranjak kembali ke kamar pribadinya.
Sesampainya di kamar, patriak Mu Bai menggeser lemari yang berisi buku-buku bacaannya. Terlihat sebuah pintu rahasia di balik lemari itu. Lalu patriak Mu Bai mengeluarkan sebuah kunci dan membuka pintu rahasia tersebut. Sebuah lorong jalan yang menuju ruang bawah tanah terpampang di depannya.
Patriak Mu Bai masuk dan menyusuri lorong tersebut. Selang beberapa saat, dia tiba di dasar ruangan bawah tanah.
Kini di depannya terlihat sebuah ruangan dengan pintu yang terkunci. Patriak Mu Bai membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Setelah berada di dalam ruangan yang ternyata adalah sebuah kamar, seorang gadis dalam kondisi terikat tangan dan kakinya di atas sebuah ranjang sedang melihat ke arahnya dengan wajah yang ketakutan.
“Apa yang akan tuan lakukan?”
“Tuan, tolong jangan sakiti saya. Saya masih ingin hidup.”
Gadis itu berkata memohon kepada patriak Mu Bai.
Patriak Mu Bai menutup pintu kamar tersebut dan menghampiri gadis itu secara perlahan.
“Hehe. Aku tidak akan menyakitimu anak manis. Ini hanya akan terasa sedikit sakit untuk sesaat. Setelah itu kau pasti akan sangat menyukainya.” Patriak Mu Bai berkata dengan sorot mata yang sangat liar.
Gadis itu semakin ketakutan dan tubuhnya gemetar melihat patriak Mu Bai semakin mendekat.
“Tidak. Jangan mendekat! Jangan mendekat!!” teriak gadis itu.
“Hahahaha. Ayo! Berikan aku darahmu yang itu agar aku semakin kuat!!” Patriak Mu Bai berkata dengan menggila.
“Tolooong!! Tolooong!!!” Gadis itu berteriak dengan kencang. Namun patriak Mu Bai justru semakin liar mendengar teriakan gadis itu.
“Hahahahaa!”
“Berteriaklah sepuasmu!!”
“Teriakanmu membuat semangatku semakin mendidih!!”
“Hahahahahaaa!!!”
Setelah itu, yang terdengar hanyalah suara teriakan-teriakan patriak Mu Bai dengan gadis malang tersebut.
kok ini blm sich kapan jd kuatnya