NovelToon NovelToon
PERMAINAN TAKDIR

PERMAINAN TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Nourayl

Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.

Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.

Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.

Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.

Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.

Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.

Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji yang Ditepati

Sinar matahari pagi menembus jendela kamar Aluna, membangunkannya dari tidur yang semalam dipenuhi mimpi-mimpi aneh.

Ia kembali melihat sosok seorang pria.

Pria itu menggenggam tangannya erat sambil tersenyum.

Namun seperti mimpi-mimpi sebelumnya, wajah pria itu kembali memudar sebelum sempat terlihat jelas.

Aluna perlahan membuka mata.

Tangannya tanpa sadar menyentuh dada.

"Kenapa mimpi itu lagi..."

Ia menghela napas pelan sebelum bangkit dari tempat tidur.

Di meja makan, ibunya sudah menyiapkan sarapan.

"Pagi, Nak."

"Pagi, Bu."

"Kamu kelihatan capek."

Aluna hanya tersenyum kecil.

"Semalam cuma susah tidur."

Ibunya mengangguk pelan tanpa bertanya lebih jauh.

Setelah menghabiskan sarapan, Aluna berpamitan lalu berangkat menuju toko buku.

Sepanjang perjalanan, pikirannya kembali dipenuhi ucapan Niel kemarin.

"Besok... aku akan datang lagi."

Aluna menggeleng kecil sambil tertawa pelan.

"Mana mungkin."

Meski begitu...

Jauh di lubuk hatinya, ia berharap pria itu benar-benar datang.

Sesampainya di toko, Siska sudah lebih dulu sibuk menata buku-buku baru.

"Pagi, Aluna."

"Pagi."

Siska langsung menghampiri sambil memperhatikan wajah sahabatnya.

"Kamu senyum-senyum sendiri."

"Hah?"

"Jangan pura-pura."

Siska menyenggol pelan lengan Aluna.

"Masih kepikiran cowok kemarin?"

Aluna langsung menggeleng.

"Nggak."

"Oh ya?"

"Iya."

"Lalu kenapa novel romantis kamu taruh di rak ekonomi?"

Aluna spontan menoleh.

"Astaga!"

Ia buru-buru mengambil buku itu kembali.

Siska tertawa puas.

"Nah, ketahuan melamun."

Aluna hanya bisa mengembuskan napas pasrah.

"Namanya Niel, kan?"

"...Iya."

"Wah, baru kenal dua hari udah hafal nama."

"Siska!"

Tawa keduanya memenuhi ruangan, membuat suasana toko terasa hangat sejak pagi.

Sementara itu...

Di kantor pusat perusahaan milik Niel.

Rapat mingguan sedang berlangsung.

Para pimpinan divisi bergantian menjelaskan laporan mereka.

Biasanya, Niel akan memperhatikan setiap angka dan memberikan pertanyaan-pertanyaan tajam.

Namun pagi ini berbeda.

Tatapannya beberapa kali beralih ke jam tangan.

Darren yang duduk di sampingnya memperhatikan perubahan kecil itu.

"Tuan."

Niel menoleh.

"Ada janji setelah rapat?"

Niel mengangguk singkat.

"Ada."

Darren mengangkat alis.

"Kalau boleh tahu... janji penting?"

Niel terdiam sejenak.

"...Sangat penting."

Jawaban itu membuat Darren semakin penasaran.

Sejak mengenal Niel, belum pernah ada urusan yang membuat atasannya terlihat tidak sabar seperti sekarang.

Begitu rapat selesai, Niel langsung berdiri.

"Darren."

"Ya, Tuan."

"Jadwal sore."

Darren membuka tabletnya.

"Pukul tiga ada pertemuan dengan klien."

"Jadwalkan ulang."

"Pukul lima makan malam bisnis."

"Batalkan."

Darren menatap Niel beberapa detik.

"Baik, Tuan."

Dalam hati ia tersenyum kecil.

Siapa pun orang yang membuat Tuan membatalkan semua jadwalnya... pasti sangat istimewa.

Sore hari.

Bel pintu toko buku berbunyi pelan.

"Ting..."

Aluna yang sedang merapikan rak spontan menoleh.

Matanya membulat.

Niel benar-benar datang.

Pria itu berdiri di depan pintu sambil membawa senyum tipis yang hampir tak terlihat.

"Aku datang."

Aluna tanpa sadar ikut tersenyum.

"Kamu benar-benar menepati janji."

"Aku tidak suka membuat janji yang tidak bisa kutepati."

Entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat hati Aluna terasa hangat.

"Silakan masuk."

Niel berjalan pelan menyusuri rak-rak buku.

Hari ini ia tidak langsung mengambil buku.

Ia justru berhenti di samping Aluna.

"Hari ini ramai?"

"Cukup."

"Kamu selalu bekerja sampai sore?"

"Iya."

"Nggak capek?"

Aluna tertawa kecil.

"Capek, tapi aku suka pekerjaanku."

"Kenapa?"

Aluna memandang rak-rak buku di hadapannya.

"Karena buku bisa membawa seseorang ke dunia yang berbeda."

"Kalau lagi sedih, aku tinggal baca buku."

"Kalau lagi bingung, aku juga baca buku."

"Rasanya... semua jadi lebih tenang."

Niel memperhatikan wajah Aluna yang berbinar saat bercerita.

Tanpa sadar, ia ikut tersenyum.

"Berarti buku memang cocok untukmu."

Aluna mengangguk.

"Lalu kamu?"

"Aku?"

"Iya."

"Apa yang membuatmu tenang?"

Pertanyaan itu membuat Niel terdiam.

Ia belum sempat memikirkan jawabannya.

Namun setelah beberapa detik...

Tatapannya jatuh kepada Aluna.

"Lagi mencari jawabannya."

Aluna tersenyum bingung.

"Semoga cepat ketemu."

Niel membalas senyum itu.

"Kurasa... sudah."

Aluna tidak menyadari maksud ucapan tersebut.

Namun pipinya kembali memerah.

Menjelang toko tutup, hujan turun cukup deras.

Beberapa pelanggan memilih menunggu hingga hujan reda.

Aluna berdiri di depan pintu sambil memandangi rintik air yang membasahi jalan.

"Aku suka hujan," ucapnya pelan.

Niel ikut berdiri di sampingnya.

"Kenapa?"

"Entahlah."

"Setiap lihat hujan..."

"...rasanya seperti pernah ada seseorang yang selalu menemaniku."

Niel membeku.

Kalimat itu membuat kepalanya kembali berdenyut.

Sekilas...

Ia melihat bayangan seorang gadis tertawa di bawah payung.

Suara lembut memanggil namanya.

"Niel..."

"Ngh..."

Refleks, Niel memegang pelipisnya.

"Niel!"

Aluna buru-buru menopang lengannya.

"Kamu pusing lagi?"

Niel mengangguk pelan.

"Sebentar saja..."

Kilasan itu menghilang secepat datangnya.

Namun kali ini...

Ada satu hal yang berhasil ia ingat.

Suara gadis dalam ingatannya...

Sangat mirip dengan suara Aluna.

Di seberang jalan, sebuah mobil berwarna hitam berhenti tanpa menarik perhatian.

Seorang pria berjaket gelap menatap lurus ke arah toko buku.

Tatapannya dingin.

"Ternyata benar..."

"Niel mulai tersenyum lagi."

Sudut bibir pria itu terangkat perlahan.

"Kalau begitu..."

"Aku akan menghancurkan kebahagiaan itu sebelum semuanya terlambat."

Mobil tersebut kembali melaju, menghilang bersama derasnya hujan.

Sementara di dalam toko...

Niel dan Aluna sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang telah mulai mengincar kehidupan mereka sekali lagi.

_________________________________________

Lanjutan

Hujan masih turun dengan deras, memantulkan cahaya lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Suasana toko buku menjadi lebih lengang. Beberapa pelanggan yang tadi berteduh telah pergi, menyisakan keheningan yang justru terasa nyaman.

Aluna menutup pintu toko setelah pelanggan terakhir keluar.

"Akhirnya sepi juga."

Ia mengembuskan napas lega sambil merapikan beberapa buku yang masih berserakan di atas meja.

Niel belum beranjak.

Ia masih berdiri di dekat rak novel, sesekali memijat pelipisnya yang kini sudah jauh lebih baik.

"Sudah nggak pusing?" tanya Aluna pelan.

Niel menoleh dan mengangguk.

"Sudah."

"Syukurlah. Tadi aku sempat khawatir."

Ucapan itu terdengar begitu tulus hingga membuat Niel terdiam beberapa saat.

"Kenapa?"

Aluna terlihat bingung.

"Kamu khawatir padahal kita baru saling kenal."

Aluna tersenyum kecil.

"Kalau ada orang tiba-tiba kesakitan di depanku, ya pasti khawatir."

"Begitu?"

"Iya."

Niel mengangguk pelan.

Jawaban sederhana itu entah mengapa membuat dadanya terasa hangat.

Di sudut lain, Siska yang sejak tadi berpura-pura merapikan rak buku diam-diam memperhatikan keduanya.

Ia menyenggol pelan lengan salah satu rekan kerjanya.

"Lihat deh."

"Apa?"

"Kayaknya Aluna mulai dekat sama cowok itu."

Rekan kerjanya melirik sekilas.

"Cocok juga."

Siska tersenyum puas.

Semoga saja cowok itu benar-benar orang baik.

Tak lama kemudian, Darren masuk ke dalam toko sambil membawa payung hitam.

"Tuan."

Niel menoleh.

"Mobil sudah siap."

"Terima kasih."

Darren kemudian mengangguk sopan kepada Aluna.

"Selamat malam."

"Selamat malam."

Aluna membalas dengan senyum ramah.

Sebelum pergi, Niel melangkah mendekati meja kasir.

"Aku pulang."

"Iya."

"Hujannya masih deras."

"Nanti juga reda."

Niel tampak ragu.

"Kalau pulang terlalu malam?"

"Aku biasa kok."

"Tetap saja."

Aluna tersenyum geli.

"Kamu khawatir?"

Kini giliran Niel yang terdiam.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menghela napas pelan.

"...Iya."

Jawaban jujur itu membuat Aluna tidak bisa berkata apa-apa.

Baru dua hari mengenal pria ini.

Namun perhatian yang diberikan terasa begitu alami.

Bukan berlebihan.

Bukan dibuat-buat.

Seolah memang sudah menjadi kebiasaan.

"Tuan."

Suara Darren kembali terdengar.

Niel akhirnya mengangguk.

"Kalau begitu... sampai besok."

Aluna ikut mengangguk.

"Sampai besok."

Niel berbalik menuju pintu.

Namun baru beberapa langkah, ia kembali berhenti.

"Aluna."

"Ya?"

"Besok... jangan lupa sarapan."

Aluna membulatkan mata.

"Loh?"

"Kamu tadi bilang sering lupa makan kalau toko sedang ramai."

Aluna baru teringat bahwa ia memang sempat bercerita tentang kebiasaannya itu beberapa menit yang lalu.

Ia tersenyum hangat.

"Kamu ingat?"

Niel mengangguk singkat.

"Aku mengingat hal-hal yang menurutku penting."

Jantung Aluna kembali berdebar.

"Baik."

"Aku akan sarapan."

Barulah Niel benar-benar keluar dari toko.

Di dalam mobil, Darren menutup payung sebelum duduk di kursi depan.

Mobil perlahan meninggalkan area toko buku.

Suasana di dalam mobil hening selama beberapa menit.

Hingga akhirnya Darren membuka percakapan.

"Tuan."

"Hm?"

"Sudah lama saya bekerja dengan Anda."

Niel menatap keluar jendela.

"Lalu?"

"Saya baru kali ini melihat Anda membatalkan rapat hanya untuk menemui seseorang."

Niel tersenyum tipis.

"Bukankah aku tetap menyelesaikan semua pekerjaanku?"

"Benar."

"Tapi biasanya setelah itu Anda langsung pulang."

Niel kembali terdiam.

Ia sendiri tidak mengerti mengapa setiap langkahnya hari ini seolah selalu mengarah kepada Aluna.

Seolah ada sesuatu yang terus menariknya.

Bukan paksaan.

Melainkan... kerinduan yang tak memiliki alasan.

Sementara itu, setelah toko benar-benar tutup, Aluna berjalan menuju halte bus dengan membawa payung kecil.

Hujan mulai mereda.

Langkahnya terasa lebih ringan dibanding biasanya.

Tanpa sadar, senyum tipis terus menghiasi wajahnya.

"Aku mengingat hal-hal yang menurutku penting."

Kalimat Niel terus terngiang di kepalanya.

Belum pernah ada pria yang memperhatikan hal-hal kecil seperti itu.

Saat sedang berjalan, ponselnya bergetar.

Sebuah pesan dari nomor yang belum tersimpan muncul di layar.

"Sudah sampai rumah, kabari aku."

Aluna berhenti melangkah.

Matanya membulat.

"Nomor siapa ini?"

Namun beberapa detik kemudian...

Senyumnya perlahan muncul.

Ia sudah tahu siapa pengirimnya.

Di balik layar ponsel lain, Niel menatap percakapan yang masih kosong sambil menunggu balasan.

Tanpa ia sadari...

Seseorang yang berada tidak jauh dari halte memotret keduanya dari kejauhan.

Kilatan kamera itu hanya berlangsung sesaat.

Lalu sosok misterius tersebut menghilang ditelan gelapnya malam.

— Bersambung —

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!