Ryden Vale, seorang remaja biasa yang tewas tertabrak truk, terbangun kembali di dunia yang selama ini hanya ia kenal lewat cerita — dunia One Piece. Ia mendapati dirinya menghuni tubuh baru: rambut putih, mata merah darah, dan jubah putih berlambang bulan sabit terbalik yang kelak menjadi ciri khasnya. Di sebuah pulau terpencil di East Blue, ia menemukan Rift Rift no Mi, Buah Iblis misterius yang memberinya kekuatan untuk merobek, melipat, dan berpindah lewat ruang itu sendiri — sekaligus sebuah Sistem Login Harian yang diam-diam menempanya menjadi lebih kuat, hari demi hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Malam itu, penduduk desa mengadakan perayaan kecil sebagai ungkapan terima kasih atas keberhasilan Ryden membebaskan para sandera. Meja-meja kayu sederhana dipenuhi hidangan hasil laut segar, anggur lokal, dan roti hangat yang baru dipanggang—sebuah kemewahan sederhana namun tulus dari komunitas kecil yang jarang mendapat kunjungan orang luar, apalagi seorang penyelamat sekaliber Ryden.
"Kalian berdua harus menerima ini," Kepala Desa, seorang wanita tua bijaksana bernama Marna, menyerahkan sebuah kotak kayu kecil kepada Ryden dengan kedua tangan penuh hormat. "Peninggalan keluarga kami selama beberapa generasi. Kami ingin kalian yang memilikinya sekarang, sebagai tanda terima kasih kami yang sebenarnya tak terbalas oleh apa pun."
Ryden membuka kotak itu perlahan, menemukan sebilah belati kecil dengan gagang berukir motif es dan pasir yang saling berjalin—simbol dari dua sisi ekstrem pulau mereka. Bilah belati itu memancarkan aura ganjil yang familier bagi Ryden, mengingatkannya pada perasaan saat pertama kali menemukan Rift Rift no Mi.
"Ini... benda bertenaga khusus?" tanya Ryden penasaran, memeriksa belati itu dengan saksama.
"Legenda mengatakan belati ini pernah digunakan leluhur kami untuk mengendalikan cuaca ekstrem pulau ini, meski kami sendiri tidak pernah berhasil membangkitkan kekuatannya," jelas Marna. "Mungkin di tangan seseorang seperti dirimu, rahasianya bisa terungkap."
Ryden menerima hadiah itu dengan penuh rasa hormat, menyimpannya dengan hati-hati di dalam tasnya. Sistemnya sempat memberikan notifikasi kecil saat ia menyentuh belati itu—sebuah item langka yang terdaftar namun dengan detail yang masih terkunci, menambah satu misteri lagi dalam koleksi teka-teki yang terus bertambah sepanjang perjalanannya.
[SISTEM LOGIN HARIAN — INSPEKSI ITEM]
Nama Item: Belati Es-Pasir
Jenis: Senjata Peninggalan (Relik Kuno)
Rarity: ??? (Belum Teridentifikasi Penuh)
Status Kepemilikan: Terikat pada Ryden Vale
—— ATRIBUT TERDETEKSI ——
• Resonansi Energi : TERDETEKSI (Mirip Rift Rift no Mi)
• Kekuatan Tersegel : TERKUNCI
• Syarat Pembangkitan : TIDAK DIKETAHUI
• Kompatibilitas Pengguna: TINGGI
Perayaan berlanjut hingga larut malam, diisi tawa, musik sederhana dari alat musik tradisional penduduk desa, dan cerita-cerita tentang kehidupan mereka yang keras namun penuh kehangatan di pulau terpencil ini.
Elira tampak begitu menikmati momen itu, berbaur dengan anak-anak desa yang baru saja diselamatkan, tertawa lepas untuk pertama kalinya sejak Ryden mengenalnya.
"Kau terlihat bahagia," komentar Ryden ketika akhirnya Elira duduk kembali di sampingnya, wajahnya berbinar-binar dikelilingi cahaya api unggun.
"Aku memang bahagia," jawab Elira jujur, menghela napas puas. "Untuk pertama kalinya sejak aku terdampar di dunia ini, aku merasa benar-benar berguna. Melihat anak-anak itu tertawa lagi setelah apa yang mereka alami... rasanya luar biasa."
Ryden tersenyum tipis, mengamati Elira dengan pandangan yang perlahan berubah sejak beberapa minggu terakhir kebersamaan mereka. Ia belum sepenuhnya memahami perasaan yang mulai tumbuh dalam dirinya, namun satu hal yang pasti—kehadiran Elira telah membawa warna baru dalam perjalanannya yang dulu terasa sunyi dan sepi.
"Ryden," Elira tiba-tiba menatapnya serius, "terima kasih sudah membawaku ikut denganmu. Aku tahu ini pasti bukan keputusan mudah bagimu, mengingat kau sudah terbiasa berjalan sendirian selama ini."
"Aku juga berterima kasih," jawab Ryden tulus, menatap balik mata Elira yang berkilau diterangi cahaya api unggun. "Perjalanan ini terasa berbeda sejak kau ada di sini. Lebih hidup, entah bagaimana menjelaskannya."
Momen hangat itu terinterupsi oleh Kepala Desa Marna yang mendekat dengan wajah serius, membawa selembar kertas usang di tangannya.
"Sebelum kalian melanjutkan perjalanan, ada satu hal lagi yang perlu kalian ketahui. Beberapa minggu lalu, kapal dagang yang singgah di sini membawa kabar tentang kekacauan besar terjadi di kepulauan dekat sini—sesuatu tentang seorang bocah bertopi jerami yang mengalahkan seorang kapten bajak laut badut terkenal bernama Buggy."
Telinga Ryden langsung menegang mendengar nama itu. Luffy sudah sampai sejauh ini, pikirnya, campuran rasa kagum dan sedikit kekhawatiran muncul dalam benaknya, menyadari bahwa jalur perjalanan mereka mungkin akan kembali bersinggungan tidak lama lagi.
"Terima kasih atas informasinya," ucap Ryden pada Marna, pikirannya mulai berputar memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika jalur mereka benar-benar bertemu kembali dengan kru Topi Jerami di tengah lautan Grand Line yang luas dan penuh kejutan ini.