Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.
Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin
Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.
Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya
Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebahagiaan Jason Mendengar Tina Akan Kembali
Sore harinya, sebuah mobil mewah berhenti di halaman rumah.
Kasandra turun dengan senyum puas, kedua tangannya dipenuhi tas belanja dari berbagai butik terkenal.
Hampir semua barang yang dibelinya adalah pakaian, tas, sepatu, dan beberapa kotak hadiah yang dibungkus rapi.
Di dapur, Bik Nisa yang sedang menyiapkan makan malam langsung melihat mobil itu dari balik jendela.
Wajahnya berubah panik.
"Non Agnes." Panggilnya
Agnes yang sedang beristirahat di dalam kamar menoleh.
"Iya, Bik?"
"Cepat masuk ke dapur dan bantu Bibi di sini." Ucap Bik Nisa cepat
Agnes mengernyit.
"Kenapa, Bik?"
"Mama kamu sudah pulang dan kita semua tahu sifatnya bagaimana sama kamu"
"Setiap beliau pulang dari luar, pasti yang pertama dipanggil itu kamu."
"Selalu ada saja pekerjaan baru yang diberikan."
"Kamu belum benar-benar sembuh. Biar Bibi yang hadapi dulu."
Agnes menggeleng pelan.
"Tidak bik, kalau Mama tahu aku bersembunyi, nanti Mama tambah marah."
Nisa menghela napas.
"Itu yang Bibi takutkan."
Belum sempat mereka berbicara lagi...
"AGNES!" Suara Kasandra menggema dari ruang tamu.
Nisa memejamkan mata.
"Tuh, kan... Pergilah, Sayang."
"Tapi kalau badanmu tidak kuat, bilang sama Bibi."
Agnes mengangguk pelan.
"Iya, Bik."
Ia berjalan keluar dari dapur dengan langkah pelan.
Baru saja sampai di ruang tamu... Kasandra sudah berdiri sambil menunjuk tumpukan tas belanja.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Kasandra
"Maaf, Mah." Ucap Agnes pelan
"Bawa semuanya ke kamar." Perintah Kasandra
"Iya, Mah." Ucap Agnes menurut
Tanpa membantah, Agnes mengambil satu per satu tas belanja yang ukurannya hampir lebih besar dari tubuhnya.
Tangannya masih lemas karena demam namun ia tetap memaksakan diri menaiki tangga.
Kasandra sengaja berjalan di belakang Agnes dan matanya memperhatikan setiap sudut rumah.
Lantai mengilap, ruang tamu bersih dan bunga di vas sudah diganti.
Saat melewati balkon... ia melihat pakaian-pakaiannya sudah dijemur dengan rapi.
Kasandra tersenyum tipis dan mereka masuk ke kamar.
Tatapan Kasandra langsung menyapu seluruh ruangan.
Tempat tidur tertata rapi, lemari bersih, meja rias mengilap tidak ada sedikit pun debu.
Kasandra mengangguk pelan.
"Bagus, kamu memang pekerja keras."
Ucapan itu keluar begitu saja namun tidak ada sedikit pun rasa bangga dalam suaranya.
Baginya... Semua itu memang kewajiban Agnes.
"Sudah sana, keluar dari kamarku."
"Iya, Mah." Jawab Agnes
Agnes menaruh tas-tas belanja itu di atas tempat tidur.
Tanpa sengaja matanya melihat isi beberapa kantong yang terbuka.
Ada gaun mahal, sepatu, boneka, kalung, jam tangan dan tas kecil berwarna putih.
Lalu pandangannya berhenti pada sebuah kotak hadiah berwarna biru, di atasnya tertulis sebuah kartu kecil.
**Untuk Tina.**
Agnes terdiam dadanya terasa sesak, ia tidak tahu siapa Tina namun bukan sekali ini ia melihat nama itu dan sering juga Kasandra menyebut nama Tina dalam kemarahan nya dan membandingkan dirinya dengan Tina
Di lemari Kasandra juga banyak hadiah yang masih tersimpan rapi, semuanya bertuliskan nama yang sama.
**Untuk Tina.**
Agnes menundukkan kepala dan perlahan ia keluar dari kamar.
Begitu pintu tertutup... Air matanya langsung jatuh lalu ia berjalan menuju dapur.
Melihat Agnes menangis, Bik Nisa langsung memeluknya.
"Kenapa, Sayang?"
Agnes menangis di pelukan wanita itu.
"Segitunya Mama sama Agnes, Bik."
Nisa mengusap punggungnya.
"Ada apa lagi?"
"Mama tidak pernah membelikan Agnes baju."
"Tidak pernah memberi hadiah ulang tahun."
"Tidak pernah memberi pelukan."
"Tapi..."
"Di lemari Mama banyak sekali hadiah untuk Tina."
"Tadi Mama juga membeli kotak hadiah baru."
"Di atasnya tertulis nama Tina."
Air mata Agnes semakin deras.
"Sebenarnya siapa Tina, Bik? Kenapa Mama lebih sayang sama Tina daripada Agnes?"
"Padahal Agnes anak Mama." Isak Agnes
Nisa langsung membeku dan pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak.
Tanpa sadar...
Pikirannya kembali mengingat kejadian bertahun-tahun lalu.
Saat itu Agnes baru berusia lima tahun dan tubuh kecilnya penuh luka.
Nisa sudah tidak sanggup melihat penderitaan gadis itu.
Ia akhirnya memberanikan diri menghubungi Fisya.
<("Bu... Saya ingin bertemu.")>
Hari itu Fisya datang diam-diam, begitu melihat Agnes kecil...
Hati Fisya langsung hancur, tubuh mungil itu dipenuhi bekas lebam, wajahnya pucat dan pakaiannya lusuh.
Fisya berjongkok di depan Agnes namun sebelum berbicara...
Nisa lebih dulu menceritakan semuanya.
<("Bu...")>
<("Saya pernah mendengar Bu Kasandra berkata kalau Agnes adalah putri Ibu dan beliau juga mengatakan Tina adalah anak kandungnya.")> Ucap bik Nisa
Fisya langsung menarik napas panjang.
<("Itu hanya kekeliruan.")>
Nisa memandangnya bingung.
<("Maksud Ibu?")>
<("Kasandra salah mengenali anaknya sendiri.")> Ucap Fisya
Kalimat itu membuat Nisa benar-benar terdiam.
<("Kenapa Ibu tidak menjelaskan semuanya kepada Bu Kasandra?")> tanya Bik Nisa heran
Fisya tersenyum pahit.
<("Aku sudah berkali-kali mengatakan agar dia menyayangi Agnes dan jangan sampai menyesal di kemudian hari")>
<("Tapi dia tidak pernah mau mendengarkan, dia terlalu yakin bahwa Agnes adalah putriku dan dia ingin menyiksa gadis malang ini agar aku hancur")> Fisya menjelaskan
Nisa menundukkan kepala.
<("Karena itu beliau selalu membenci Agnes.")>
Fisya mengangguk pelan.
<("Ini semua akibat permainan mereka sendiri.")>
<("Dan suatu hari nanti... Aku akan mengakhiri semuanya tapi untuk sekarang aku tidak bisa membantu banyak")>
Nisa kembali bertanya.
<("Jadi ibu telah mengetahui semuanya dan apakah Ibu membenci Agnes?")>
Tanpa berpikir lama Fisya menggeleng.
<("Tidak... Aku tidak pernah membenci gadis kecil ini")>
Fisya kemudian mendekati Agnes kecil dan ia tersenyum lembut.
<("Halo, Sayang.")>
Agnes kecil hanya menatap malu-malu.
Fisya mengusap kepalanya.
<("Suatu hari nanti... Tante akan membawamu keluar dari rumah ini.")>
<("Tunggu Tante, ya.")>
Air mata Nisa langsung jatuh karena mendengar ucapan Fisya
Fisya kembali berkata.
<("Tolong jaga Agnes baik-baik walaupun dia bukan anak kandungku... Aku tidak akan pernah membiarkan seorang anak hidup dalam penyiksaan dan penderitaan")>
<("Mulai hari ini... Semua kebutuhan Agnes akan menjadi tanggung jawabku, jangan biarkan dia kekurangan apa pun dan jangan sampai Kasandra mengetahui hal ini")>
Nisa mengangguk sambil menangis.
<("Terima kasih, Bu.")>
"Bik..." Suara Agnes membuyarkan lamunan Nisa.
Nisa langsung tersadar.
"Ya, Sayang."
Ia kembali memeluk Agnes.
Di dalam hati ia berdoa.
*"Bu Fisya... semoga Ibu segera datang."*
*"Bawalah gadis malang ini pergi dari rumah neraka ini."*
Agnes mengusap air matanya.
"Bik..."
"Kenapa Bibi ikut menangis?" Tanya Agnes dengan polosnya
"Bibi belum menjawab pertanyaan Agnes tadi"
"Apa hubungan Tina dengan Mama?"
Nisa terdiam beberapa detik.
Ia tidak mungkin membuka rahasia itu sekarang.
"Sayang... Tina adalah anak sahabat Mama kamu." Jawab bik Nisa
Bik Nisa menarik napas panjang untuk melanjutkan
"Bibi juga tidak tahu kenapa Mama sangat menyayanginya, hanya itu saja yang Bibi tahu."
Agnes mengangguk pelan.
Meski begitu... Jawaban itu tidak membuat rasa penasarannya hilang.
Justru semakin banyak pertanyaan muncul di kepalanya.
*"Kenapa Mama memperlakukan Tina seperti putrinya?"*
*"Kenapa hadiah-hadiah itu tidak pernah diberikan kepadaku?"*
*"Kenapa Mama begitu membenciku?"*
*"Apa sebenarnya yang disembunyikan selama ini?"*
Dalam hati Agnes mengepalkan tangan.
*"Aku akan mencari tahu, Aku tidak mau terus hidup tanpa mengetahui alasan Mama membenciku dan Aku harus menemukan jawaban itu sendiri."*
***
Di tempat lain...
Jason kembali lagi ke kantor karena ingin mengambil barangnya yang ketinggalan, kantor sudah sepi karena karyawan sudah pada pulang semua..
Pada saat Ia hendak melewati ruang kerja Fisya namun langkahnya tiba-tiba berhenti.
Pintu ruang kerja itu tidak tertutup rapat dari celah pintu...
Ia mendengar Sebastian sedang berbicara melalui telepon.
("Baik, Bu, besok pagi saya akan menjemput Ibu di bandara.") Ucap Sebastian
Akan tetapi Jason tidak mendengar suara Fisya dari sambungan telpon
("Baik, Bu.")
("Jam berapa pesawat Ibu dari Swiss mendarat?")
Jason langsung mengernyit.
Swiss?
Ia tanpa sadar mendekat.
Sebastian kembali berbicara
("Baik, Bu. Saya juga senang akhirnya bisa berkenalan langsung dengan Non Tina."(
Mata Jason langsung membelalak dan dadanya berdegup keras.
Sebastian menutup telepon.
Sementara Jason buru-buru menjauh sebelum ketahuan.
Ia masuk ke ruangannya sendiri lalu menutup pintu dengan keras.
Brak!
Jason berjalan mondar-mandir.
Otaknya bekerja cepat.
"Jadi begitu... Selama ini Fisya bolak-balik ke Swiss."
"Pantas setiap akhir pekan dia sering menghilang."
"Ternyata... Dia menyembunyikan Tina di Swiss."
Jason mengepalkan kedua tangannya.
"Kalau begitu... Tina pasti tinggal di rumah Tante Isabel."
Sudut bibir Jason perlahan terangkat.
Senyumnya penuh kelicikan.
"Bagus sekali, Fisya akhirnya kamu membawa anak kembali"
Ia tertawa pelan.
"Seberapa pun kamu menjauhkan aku dari Tina"
"Tina tetap putriku dengan Kasandra, dia pasti akan kembali padaku dan menuruti semua keinginan ku" Ucap Jason sambil tersenyum licik
"Aku akan mengambil hati Tina dan aku akan membuatnya percaya kalau aku adalah ayah terbaik."
"Dan pada saat itu aku juga akan membuatnya membenci kamu."
Jason terdiam sejenak, tatapannya berubah semakin dingin sebelum akhirnya ia dengan cepat mengambil barang-barangnya yang tertinggal.
Tanpa mau berlama-lama lagi ia berbalik dan meninggalkan kantor.
Sebastian yang sejak awal menyadari bahwa Jason menguping pembicaraan mereka hanya tersenyum tipis.
Setelah memastikan Jason benar-benar pergi, ia segera mengirim pesan kepada Fisya.
Tak lama kemudian, balasan dari Fisya pun masuk.
**"Bagus."**
Hanya satu kata disertai sebuah emot senyum tipis, tetapi itu sudah cukup membuat Sebastian memahami maksud Fisya.